Agus Dermawan T, Cerpen, Jawa Pos

Lukisan Dunia

Lukisan Dunia - Cerpen Agus Dermawan T

Lukisan Dunia ilustrasi Budiono/Jawa Pos

0
(0)

Cerpen Agus Dermawan T (Jawa Pos, 27 Agustus 2022)

SAMBIL duduk selonjor di kursi tamunya, diisapnya pipa berbentuk L itu dalam-dalam. Gandamata tetap tak berkedip. Agak berselang lama ia tak mengisap pipanya, semata-mata agar apa yang ia tatap di tembok itu tak terhalangi asap lagi. Kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya sendiri.

“Mungkin belasan miliar. Mungkin puluhan miliar…” ia bergumam sendirian. Ia lantas berdiri. Dengan tetap tidak mengisap pipanya, ia berjalan lambat menuju tembok itu. Tangan kanannya terangkat dan jari-jarinya menyentuh pigura sebuah lukisan. Kemudian ia menggosok-gosok bagian ujung lukisan itu. Dan kepalanya mengangguk-angguk lagi.

“Benar. Benar asli ciptaan Canaletto. Giovani Antonio Canaletto… katanya.” Lagi-lagi ia berbicara sendiri.

“Ini tak terhingga. Bahkan tak bisa dihitung dengan uang harganya!” Nadanya mengentak dalam sendirian.

Kemudian ia mengambil handphone. Dengan perlahan ia memencet nomor-nomor. Dan tersambung dengan seorang wartawan.

“Bung!” katanya kepada seseorang di seberang sana. “Saya telah membaca artikel yang Bung muat itu. Pada mulanya saya tak percaya bahwa lukisan Canaletto itu berharga sampai miliaran rupiah. Saya tak percaya. Tapi setelah saya pikir lama, sungguh bodoh jika saya tak percaya. Sungguh bodoh, Bung! Tetapi, masih berkait dengan itu, saya ingin tanya lagi. Benarkah yang Bung tulis bahwa lukisan Canaletto yang ada di rumah saya adalah lukisan asli? Benarkah lukisan itu semula dibawa oleh saudagar Italia yang mendirikan pabrik gula di Banyuwangi?”

Gandamata diam menunggu jawaban.

“Saya bertanggung jawab penuh atas semua yang saya tulis itu, Pak. Bapak kan tahu kredibilitas koran kami. Bapak pasti juga tahu kualifikasi semua wartawan koran kami… Dan Bapak kan tahu saya juga, yang pernah belajar seni renaisans di Italia? Saya senang jika sekiranya ada informasi baru mengenai lukisan itu.”

Selama beberapa jenak tak ada suara-suara di kedua telepon. Masing-masing seperti menunggu satu, dua, atau tiga kata dengan penuh tanda tanya.

“Saya tidak punya informasi baru, Bung. Saya sekadar ingin meyakinkan perasaan saya sendiri bahwa lukisan yang tergantung di rumah saya ini asli, seperti tulis Bung. Karya Canaletto!”

“Ya aslilah. Memang asli Canaletto… Kenapa gundah,” sahut wartawan.

Dengan tangan agak gemetar Gandamata mematikan teleponnya. Napasnya serta-merta terengah-engah. Ia lalu mengaparkan diri sesantai-santainya. Ia mendadak merasa luar biasa beruntung. Lukisan kuno berukuran besar yang dibeli di pasar loak ternyata karya seniman besar yang tiada taranya. Lukisan panorama klasik yang dibeli setengah hati ternyata karya seni yang harganya tiada terperi!

***

Sejak itu Gandamata menampilkan sikap berbeda dari hidup biasanya. Gesturnya penuh kewaspadaan. Matanya penuh kecurigaan. Hatinya penuh perkiraan. Pikirannya penuh tuduhan dan penyelidikan. Setiap kali ada tamu yang bertandang ke rumahnya selalu ia sambut dengan mata sedikit nyalang. Mereka dibikin merasa tak betah duduk lama di kursi tamunya itu. Dan segera pulang.

“Bisa saja tamu-tamu yang datang ke sini adalah mereka yang ingin mencari cara mencuri lukisan Canaletto saya. Bukankah koran sudah telanjur menyiarkan sejarahnya dan memuat reproduksinya? Bukankah menurut wartawan itu lukisan ini adalah incaran kolektor sepanjang masa?” Ia berkata dalam hati. “Saya akan menyimpannya dulu selama beberapa tahun sampai harganya di puncak tertinggi!”

Baca juga  Sepatu Kulit Ular

Dalam kesendirian ia mendadak merasa bersalah, mengapa ia tempo hari mengizinkan wartawan untuk menyiarkan bahwa dirinya punya lukisan Canaletto. “Bukankah pemuatan berita itu membuat aku jadi incaran orang?” Kata-kata itu bergumul seru dalam benaknya.

Gandamata sungguh menjadi tidak tenteram. Malam hari ia selalu tidur belakangan. Dan pagi hari, sebelum fajar menyingsing, ia bangun duluan. Kala sebelum tidur dan sesudah tidur itu Gandamata selalu duduk di kursi tamu. Menghadap tembok dan melihat lukisan yang tenang menggantung.

Ingin ia memindahkan lukisan itu ke dalam kamar tidurnya. Agar keamanan lukisan lebih terjamin dan sekaligus terhindar dari mata orang lain. Namun apa daya, dinding di kamar itu dianggap tidak setinggi martabat dinding ruang tamu sehingga diyakini tidak membuat lukisan menjadi nyaman dilihat dan terasa mapan di tempat. “Hanya kamar tamu yang layak jadi tempat lukisan ini,” kata Gandamata kepada angin.

Ketika akan berangkat ke kantor, ia selalu berpesan kepada istrinya dan kepada para pembantunya.

“Sedapat mungkin jangan ada siapa pun yang duduk di ruang tamu. Jika pun mereka harus duduk, ajak mereka di beranda.”

Istrinya yang sudah berkali-kali terperanjat kali ini semakin heran berlipat-lipat.

“Kok Bapak mendadak seperti koruptor saja, selalu menghindari kedatangan orang. Kalau ingin menghalau tamu, sekalian saja kita pasang papan Awas Ada Anjing Galak di depan rumah. Agar yang mau datang segera tergusah.”

“Ide bagus. Tapi di rumah ini tidak pernah ada suara anjing. Jadi siapa percaya? Apa kau mau bersuara seperti herder?” Istrinya terdiam.

Begitulah.

Yang mengagumkan, sejauh itu istri dan para pembantunya sama sekali tidak paham dengan sikap Gandamata yang tiba-tiba berubah itu. Setiap kali istrinya bertanya mengapa dirinya mendadak aneh, ia membantah keras. “Saya bukan aneh, tapi waspada!” Dan ketika ditanya mengapa dirinya tiba-tiba waspada, ia menjawab tegas. “Di zaman serbagila seperti sekarang, waspada adalah benteng paling utama!” Dan ketika istrinya bertanya mengapa yang diwaspadai selalu orang-orang yang akan bertamu, ia menjawab tuntas. “Tamu sering jadi musuh yang tak terduga!”

Ketidakmengertian demi ketidakmengertian merasuki rumah Gandamata. Meski begitu, Gandamata sendiri tetap tak ingin membuka persoalannya ke hadapan istri dan orang-orang serumahnya. Kewaswasannya terhadap setiap tamu dan sikap perlindungannya terhadap lukisannya tetap disimpan sebagai rahasia besar di lubuk hatinya.

Lagi-lagi ia berselonjor menghadap tembok sambil menyedot pipanya. “Canaletto numero uno Italiano,” ia berkata sendiri.

Kekagumannya atas mutu lukisan dan kepercayaannya bahwa lukisan itu asli karya Canaletto semakin menjadi-jadi. Dan ketika kekaguman dan kepercayaan itu lagi-lagi menyala, semakin besar pula kekhawatirannya. Jangan sampai lukisan itu dicuri orang. Jangan sampai karya hebat itu dirusak orang. Jangan sampai ada perampok yang memboyong ke luar ruangan dan membawanya pulang.

Baca juga  Koda

Jantungnya semakin berguncang-guncang. Jiwanya goyah. Dan kebahagiaannya serta-merta meluntur.

Sekali waktu ia pernah ingin menurunkan lukisan tersebut dari gantungannya dan memindahkannya ke tempat yang paling tersembunyi. Tapi ide sederhana itu sontak ia batalkan. Ia memperhitungkan: dengan memindahkan lukisan itu, rahasia yang ia tutupi di hadapan istri dan para pembantunya segera tersingkap. Mereka akan sadar bahwa selama ini ternyata ia hanya ingin melindungi selembar lukisan, yang tak mereka mengerti nilainya. Gandamata tak ingin rahasia itu terbuka.

Selain itu, jika lukisan tersebut diturunkan, tembok akan kelihatan kosong. Dan tamu-tamu yang dahulu pernah ke sana segera bertanya, ke mana lukisan bagus itu sekarang. Kenapa dipindahkan dan mengapa harus disimpan di tempat lain. Hal ini akan memancing tanda tanya besar. Tanda tanya akan merangsang pemikiran. Dan pemikiran akan mendorong orang untuk ingin tahu saja. Dan itu berarti malapetaka.

“Apabila mereka menyangka saya sudah menjualnya, ah betapa besarnya uang yang kuterima! Dengan begitu, para tamu itu akan meneliti di mana uangnya kusimpan dan mereka akan memburunya. Lalu tukang pajak akan datang dengan sopan, memalak.”

Akhirnya Gandamata tetap saja tak berbuat apa-apa. Sepulang dari kantor ia langsung saja duduk di situ sambil membaca koran sampai datang waktu mandi atau makan atau tidur. Sebentar-sebentar ia berdiri dan menggosok-gosokkan tangannya ke bagian bawah lukisan tempat tanda tangan Canaletto tertulis. Pekerjaan itu, tentu saja, dilakukan jika segenap orang di rumahnya tak melihat.

Ia selalu menjaga lukisan itu. Dan semua ia lakukan dengan landasan kecurigaan. Kecurigaan memang dijadikan landasan mental untuk melindungi lukisannya. Apalagi ketika ia teringat petuah seorang tukang sulap jalanan di pelataran pasar, yang sering ia tonton atraksinya 50 tahun silam. “Jika engkau tak mau tertipu oleh mainan sulapan, isilah setiap detik pikiranmu dengan air kecurigaan,” begitu tukang sulap itu berkata. Dan tukang selap sulip su’ulapan itu, dalam pikiran Gandamata, kini tidak hanya ada di pelataran pasar, tapi juga di sekeliling rumahnya.

Dari sini ia mendadak disergap oleh firasat bahwa ada orang yang segera mencuri atau bahkan merampok lukisannya. Perencanaan sudah disusun dan operasinya tinggal menunggu waktu. Ia merasa tahu benar siapa yang akan melakukan itu. Karena firasat itulah, ia lantas sengaja tak masuk bekerja.

Beberapa hari diam di rumah, ia duduk saja selonjor di kursi tamu. Tak bergeming. Setiap makhluk yang mendekati lukisan ia gusah. Cicak, lalat, laron, bahkan sampai nyamuk. Tanpa kenal ampun. Begitu juga ketika seorang pembantunya membersihkan lukisan itu dengan bulu-bulu ayam, ia kontan berteriak, “Heit. Heit. Heit! Stop!” Wajahnya berang dan garang.

Keadaan memang telah banyak berubah. Kewaspadaan, kewaswasan, dan ketegangan Gandamata merayap naik dari menit ke menit, dari jam ke jam, dari hari ke hari, sampai akhirnya masuk ke minggu dan bulan. Apalagi ketika ia membaca berita terbaru bahwa lukisan Canaletto yang berukuran 28 x 22 cm dilelang oleh Gorringe’s Auction House di Kota Lewes, Inggris, dengan harga 150 ribu pound dalam lelang di New York.

Baca juga  Lebar-an

“Hampir tiga miliar… Bayangkan. Padahal lukisan Canaletto saya dua puluh kali lebih besar!” katanya dalam hati.

Detak jantung Gandamata sudah terasa tidak normal lagi. Degup-degup yang menjotos berjuta-juta kali setiap hari menjadikan Gandamata digasak penyakit jantung. Dan benar. Hari itu tiba-tiba ia terkapar di bawah meja tamu. Tubuhnya lemas dan sosoknya mendingin. Di tengah hiruk pikuk ketidakmengertian keluarga ia dibawa ke rumah sakit. Secara bertahap ia diperiksa sampai ia akhirnya masuk sal gawat, ICCU, intensive cardiologi care unit.

Syukurlah segala kegawatan segera menyingkir hingga Gandamata tak perlu terlampau lama di ruang yang dingin dan senyap tersebut. Ia pun dipindahkan ke ruang yang lebih lepas dan lebih memiliki kehidupan. Di ruang tersebut Gandamata lantas kembali bisa bebas berpikir dan boleh beromong-omong panjang. Di sini pula si tokoh kita sempat melontarkan pertanyaan kepada dokter yang merawatnya.

“Dokter, apakah saya masih lama harus terbaring di sini?” tanyanya.

“Mungkin dua atau tiga minggu lagi. Kami perlu merawat Anda secara intensif,” jawab dokter.

Gandamata terdiam. Wajahnya agak kaget.

“Kalau begitu, bolehkah saya meminta sesuatu kepada dokter?”

“Silakan. Silakan,” sambut dokter tenang.

“Jika dokter mengizinkan, saya akan memindahkan lukisan Canaletto yang saya punya di rumah untuk saya gantung di dekat sini. Demi keamanannya!” katanya.

Dokter terkejut.

“Waduh, maaf. Di rumah sakit tak ada seorang pun yang diperbolehkan membawa benda pajangan dari luar.”

Tiba-tiba Gandamata berdiri. Wajahnya penuh kemelut. Tangannya lurus menuding sambil berteriak-teriak.

“Seperti yang saya duga, dokterlah yang mau mencuri bahkan mau merampok lukisan saya itu!!”

Dalam sekejap, seisi rumah sakit geger. Dokter-dokter lain berdatangan ke ruang itu. Suster-suster ikut menyaksikan kejadian dengan penuh tanda tanya. Sejumlah pasien yang masih kuat berdiri ikut mengintip peristiwa. Dalam suasana kalang kabut itu dokter dengan tenang membuat sebuah surat pengantar, yang isinya tertuju ke dokter jaga rumah sakit jiwa.

Esoknya wartawan yang dikenal baik oleh Gandamata menyiarkan peristiwa ini di korannya. Di rubrik kecil tersebut tertulis kalimat: “Seorang pemimpin perusahaan terguncang jiwanya setelah tahu bahwa koleksinya yang dianggap karya Canaletto ternyata palsu.” ***

.

.

AGUS DERMAWAN T. Penulis seni rupa, kebudayaan, puisi, dan cerpen. Sekumpulan puisinya terhimpun dalam buku Pantang Kabur (2022).

.

Lukisan Dunia. Lukisan Dunia. Lukisan Dunia. Lukisan Dunia. Lukisan Dunia. Lukisan Dunia. Lukisan Dunia.

Loading

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!