Puisi, Republika, Sultan Musa

SENYUMAN DI UJUNG WAKTU

SENYUMAN DI UJUNG WAKTU - Puisi-Puisi Sultan Musa

SENYUMAN DI UJUNG WAKTU ilustrasi Rendra Purnama/Republika

5
(1)

Puisi-Puisi Sultan Musa (Republika, 28 Agustus 2022)

SENYUMAN DI UJUNG WAKTU

.

Kucoba membersihkan gelas,

tempat bersemayam cahaya Ilahi

 .

;benarkah ranting yang patah…

kembali bertindak mendengarkan hati?

;adakah daun yang gugur…

kembali dekat mengalahkan ego?

.

Dan senyuman Tuhan…

tetap terikat, hingga paham

bahwa setiap “kamu” punya cerita

bahwa setiap “aku” punya kisah dan

bahwa setiap “kita” punya pesan

.

kamu, aku, dan kita

: sama-sama merebakkan senyuman di ujung waktu

 .

#2022

 .

 .

 .

TUMINDAK TUAN

.

mengapa harus takut di ujung kabut?

saat hujan merinai hitam

meski bukan tempat dingin kelam

.

mengapa harus gelisah di antara awan?

saat diri tertatah legam

meski melewati jeda waktu suram

.

…biarlah dipa menemui langkah ini

tak perlu benci atas darsa diri

.

…biarlah damar embuskan janji

tak perlu ragu buana imaji

.

apa pun itu membalut luka Tuan

senja tetap berlabuh karena bersemayam hati

yang hangatnya tak kunjung padam

.

#2022

 .

 .

 .

UCAP HATI PERIANG PATAH

.

ketika sudah lelah

karena bertarung gundah

aku hanya bisa meresah

sembari merebah…

.

namun, lukisan waktu

selalu wajah itu

tak kenal jemu

mengurai untuk merindu

lewat doa coba merangkulmu

.

teruntuk dirimu…

jangan paksa aku

merajut bayangmu

pada gelap hatiku…

 .

#2022

 .

 .

 .

TAKSA

.

Pada suatu ketika,

aku dengar sejumput nasihat

dari sang penyeru.

.

Tetapi, terdengar samar

apalagi semua gelap

atau aku yang terpuruk di kegelapan?

.

Pada cahaya yang menyapa

tersadar aku menyelam dalam gelap

.

Adakah cahaya itu sebelumnya yang melangkah pergi

atau aku yang membuatnya menjauh?

.

#2022

 .

 .

Sultan Musa berasal dari Samarinda, Kalimantan Timur. Karya-karyanya masuk dalam beberapa antologi bersama penyair nasional dan internasional. Seperti Antologi Puisi Penyair Dunia Wangian Kembang: Antologi Puisi Sempena Konvesyen Penyair Dunia – KONPEN yang digagas Persatuan Penyair Malaysia (2018), Antologi Puisi Negeri Serumpun Khas Sempena Pertemuan Dunia Melayu GAPENA & MBMKB (2020), La Antologia De Poesia Cultural Argentina – Indonesia, Antologi Puisi Budaya Argentina – Indonesia (2021). Antologi Puisi Cakerawala Islam MAIK – Majlis Agama Islam dan Adat Istiadat Melayu Kelantan –Malaysia (2022). Tercatat pula di buku Apa & Siapa Penyair Indonesia, Yayasan Hari Puisi Indonesia, Jakarta 2017. Karya tunggalnya bertajuk “TITIK KOMA” (2021) masuk nominasi Penghargaan Sastra 2021 Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur.

.

.

 495 total views,  1 views today

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: