Cerpen, Mahan Jamil Hudani, Pos Bali

Kedai Mbok Lamin

Kedai Mbok Lamin - Cerpen Mahan Jamil Hudani

Kedai Mbok Lamin ilustrasi Pos Bali

5
(6)

Cerpen Mahan Jamil Hudani (Pos Bali, 20 Agustus 2022)

KALAU kau datang ke kampungku, jangan lupa singgah di kedai Mbok Lamin. Di sana kau akan tahu banyak hal yang terjadi di kampungku, dari peristiwa yang sudah usang hingga hal yang paling hangat dan menjadi topik pembicaraan warga kampung. Di tempat lain, kau tak akan mendapatkan kabar selengkap dan seheboh di kedai Mbok Lamin, bahkan warga kampung kami sendiri akan pergi ke kedainya untuk mendengar atau mencari kabar.

Kedai Mbok Lamin terletak di pasar desa. Meski pasar kampung kami hanya buka satu minggu sekali, namun kedai Mbok Lamin sering ramai hampir setiap hari, terlebih setelah Isya’. Banyak orang datang ke sana hingga kedai itu tutup pukul 00.00 dini hari, bahkan kadang tutup pada pukul 01.00.

Kedai Mbok Lamin pada awalnya hanya menjual bakso. Setelah dagangan baksonya laku keras, Mbok Lamin kemudian melakukan ekspansi dagang dengan menjual nasi sayur plus lauk dan goreng-gorengan, selain tentu saja minuman kopi tanpa merek, bukan kopi sachet. Mbok Lamin tak mau berjualan kopi sachet, itu hanya salah satu perbedaan antara kedai Mbok Lamin dan kedai-kedai lainnya.

Mbok Lamin adalah sosok yang supel untuk tidak mengatakannya cerewet atau yang lebih negatif dari itu, genit. Bagi orang yang belum paham dirinya, mungkin akan menganggap dirinya ganjen, tapi sebenarnya itu adalah bentuk keramahan yang terlalu berlebihan. Dari kepribadiannya yang terlalu ramah itulah, kedai Mbok Lamin tetap ramai dari masa ke masa meski kini perempuan itu telah beranjak tua hingga tenaganya tak lagi gesit seperti dulu, namun begitu tak ada masalah dengan semua itu, Mbok Lamin selalu memiliki asisten kedai lebih dari satu sejak dulu.

Selain kedai Mbok Lamin berfungsi serupa posko informasi hingga aku juga sering ke sana untuk mengetahui kabar terbaru—biasanya aku memancing Mbok Lamin untuk bercerita tentang kabar Alfi ah, Susana, Lastri, atau perempuan desa lainnya, dan pasti Mbok Lamin memiliki infonya—ada satu hal yang sesungguhnya mengusik pikiranku saat itu, dan kini aku justru baru merasa tahu jawabannya.

***

Ya, satu hal yang sering mengusik pikiranku sekaligus membuatku bingung dan heran adalah kenapa Mbok Lamin tidak pernah merenovasi kedainya. Kedai Mbok lamin tetap saja seperti dulu, berdinding papan dengan lantai hanya berplester semen kasar. Kedainya tidak terlalu luas, hingga saat pembeli sedang ramai, banyak mereka duduk di luar dengan bangku dan meja panjang dari papan karena ruang dalam tak dapat menampung lagi. Memang di depan warung ada tenda bambu dengan atap terpal hingga jika hari hujan, para pembeli tetap bisa terhindar dari air hujan.

Baca juga  Hadiah Natal dari Buenos Aires

Mbok Lamin memiliki tiga orang anak. Giono, anak sulung Mbok Lamin adalah teman SD-ku. Saat di bangku SD, aku tahu betul jika ia sering tak diberi uang jajan oleh ibunya. Ia tak bisa membeli jajanan di warung-warung dekat sekolah. Aku sering merasa kasihan juga. Pernah bahkan cukup sering juga aku mentraktir Giono untuk jajan es dawet Lek Ngadi atau jajan pecel di warung Lek Siti.

Saat aku duduk di bangku SMP dan SMA, aku bersekolah di kota kabupaten. Giono dan adik-adiknya bersekolah di kampung kami yang tentu saja bisa kau bayangkan sendiri seperti apa mutu SMP dan SMA di kampung.

“Mbok, kenapa Giono kok SMA-nya tidak di kota tho?” Aku pernah melontarkan pertanyaan itu suatu ketika. Aku yakin sebenarnya Mbok Lamin mampu membiayai anaknya sekolah di kota. Aku menilai ia begitu perhitungan dan pelit pada anak-anaknya sendiri. Giono kuperhatikan sering hidup prihatin, tanpa uang jajan, tanpa seragam dan perlengkapan sekolah yang bagus, bahkan pakaian yang ia pakai berharga murah karena dibeli di pasar kampung kami.

“Lah, di sini saja ada sekolah, kenapa harus jauh-jauh ke kota, Nak.” Jawabnya singkat. Mbok Lamin terasa dingin menanggapi pertanyaanku.

“Bagaimana kabarnya Alfiah, anaknya Pak Haji Warto, Mbok?”

“Walahhh….dia sudah pacaran sama Rasmin. Nak Opik sih, kalah gesit. Tapi jangan khawatir, Nah Opik masih punya peluang…….,” Mbok Lamin bercerita panjang lebar dengan nada ringan jika topik pembicaraan pindah ke lain, bukan tentang Giono anaknya.

Aku kemudian melanjutkan kuliah di pulau seberang. Aku hanya bisa pulang kampung dua kali dalam setahun. Giono tak melanjutkan pendidikannya. Ia tetap di rumah dan membantu ibunya berjualan karena ibunya memang telah mengembangkan dagangannya dan kedai semakin ramai saja. Saat aku pulang kampung dan Giono main ke rumahku atau aku jajan di kedainya, aku sering merasa kasihan juga karena ia sering terlihat lelah, tapi ia tak pernah mengeluh.

Baca juga  20 Keping Puzzle Cerita

Saat aku selesai kuliah, aku tahu Giono menyukai adik bungsuku yang masih baru lulus SMP. Tentu ia tak berani menunjukkannya secara langsung. Ia sering datang ke rumahku, membawa bungkus bakso untuk adikku. Ia begitu perhatian pada Dina, adikku. Usia mereka terpaut tujuh tahun.

Selepas kuliah, aku bekerja di ibukota. Aku mendengar kabar jika Giono berangkat ke luar negeri menjadi seorang TKI. Hmmm… sungguh aku merasa heran juga. Memang dari penuturan beberapa teman yang bekerja di Korea, gaji di sana jauh lebih besar bahkan jika dibandingkan gaji karyawan sepertiku. Tapi yang kuherankan, selama Giono bekerja di luar negeri, tak terdengar ia membeli tanah atau membangun rumah seperti teman-teman yang lain.

***

“Aku akan berangkat lagi ke Korea, bulan depan. Sekarang aku hanya mendapat cuti kerja,” cerita Giono setelah tiga tahun bekerja di Korea.

“Berapa lama lagi kau akan bekerja di sana?” Tanyaku.

“Sama seperti yang lalu, tiga tahun. Setelah itu aku akan menikah, memiliki keluarga, anak maksudku, dan hidup normal sebagai seorang kepala rumah tangga.” Terang Giono mantap.

“Bagaimana kabar, Dina?” Tanya Giono kemudian.

“Ia sudah lulus SMA dan sedang melanjutkan pendidikan akademinya di kota.”

“Oh iya, kenapa kau tak merenovasi kedai ibumu menjadi lebih besar dan megah? Ibumu dan kau tentu memiliki banyak uang.” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan saat Giono bertanya-tanya tentang adikku. Tapi sepertinya Giono juga tak berhasrat menjawab pertanyaanku. Ia lalu mengalihkan obrolan ke hal lain.

Mbok Lamin sendiri, meski ia banyak tahu dan akan banyak bercerita tentang semua peristiwa yang terjadi di kampung ini, namun ia juga akan malas menjawab pertanyaanku seputar pendidkan atau pekerjaan Giono atau juga kedainya yang tak ia renovasi. Padahal seperti kataku sebelumnya, bukan hanya warga kampung ini yang singgah dan makan di kedainya, tetapi pendatang dan orang-orang di luar sana, dari kampung-kampung tetangga; Nyapah, Campang, Gijul, Klawas, Gunung Sadar, Tayas, hingga orang-orang Kotabumi. Seperti ada yang kurang rasanya jika orang luar datang ke kampung kami namun tak singgah di kedai Mbok Lamin.

***

Aku sangat terkejut mendengar kabar dari orangtuaku. Dina, adikku akan menikah bulan depan. Satu hal yang membuatku terkejut lagi bahwa calon suaminya adalah Giono. Temanku itu kini telah tiba kembali dari perantauannya dan seperti yang pernah ia katakan padaku dahulu, ia akan menikah sekembalinya dari rantau. Aku tahu jika Giono memang telah tertarik dan menaruh hati pada adikku sejak dulu. Hal yang sama, adikku ternyata juga menyimpan perasaan yang sama. Dina, ternyata lebih mengetahui banyak tentang Giono daripada aku sebagai teman lelaki itu sejak kecil.

Baca juga  Kematian Banowati

Sesaat setelah pernikahan Giono dan Dina, terjawablah semua yang pernah mengusik pikiranku. Giono telah membeli rumah mewah Pak Roby di kampung. Giono juga telah memiliki sawah luas di kampung sebelah. Ia juga membeli sebuah mobil baru. Ia juga membangun toko di sebelah kedai Mbok Lamin.

Mbok Lamin telah mempersiapkan semua itu sejak dahulu. Ia sadar Giono tidak memiliki kecerdasan dalam hal akademik, Mbok Lamin mendidiknya agak keras dan prihatin juga melatihnya berdagang sejak kecil karena ia paham bagaimana karakter dan kemampuan Giono. Ia juga menghitung semua uang saku dan gaji Giono selama membantu di kedainya. Mbok Lamin juga menabung dan mengembalikan semua uang kiriman Giono selama bekerja enam tahun di luar negeri.

Mbok Lamin juga sengaja tidak pernah mau merenovasi kedainya karena ia menganggap itu tak perlu. Uang renovasi ia tabung untuk masa tua dirinya dan masa depan anak-anaknya yang lain. Ia menganggap larisnya dagangan bukan karena bangunan yang megah, tapi karena pelayanan yang ramah dan menjaga kualitas, serta bagaimana memiliki, membangun, dan menjaga brand sendiri.

Kedai Mbok Lamin memang pusat orang-orang bertukar peristiwa dan bercerita, hampir semua orang tahu peristiwa yang terjadi di desa, di sana. Mbok Lamin juga hampir tahu segala dan betapa mudahnya ia membuka semua. Tapi sungguh, ternyata kedai Mbok Lamin justru menyimpan rahasia, rahasia dirinya dan keluarganya. ***

.

.

Mahan Jamil Hudani adalah nama pena dari Mahrus Prihany, lahir di Peninjauan, Lampung Utara, pada 17 April 1977. Meluluskan studi di Akademi Bahasa Asing Yogyakarta (ABAYO). Saat ini bergiat di Komunitas Sastra Indonesia Tangerang Selatan (KSI Tangsel) sebagai ketua. Kini juga sebagai kepala sekretariat Lembaga Literasi Indonesia (LLI), serta sebagai Redpel di portal sastra Litera.co.id

.

.

Loading

Average rating 5 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!