Cerpen, Republika, Zahro Syaquilla AR

Perjalanan Bapak

Perjalanan Bapak - Cerpen Zahro Syaquilla AR

Perjalanan Bapak ilustrasi Rendra Purnama/Republika

4.3
(6)

Cerpen Zahro Syaquilla AR (Republika, 04 September 2022)

AKU kembali mencium tangan bapak, sama seperti yang kulakukan saat bapak akan berangkat kerja dua hari lalu. Bapak tertunduk lesu. Ibu hanya menangis. Hening. Hanya terdengar suara sesenggukan tangisan ibu. Tak ada percakapan antara bapak, ibu, dan juga aku.

“Maafkan aku…” ucap bapak yang akhirnya memeluk ibu dan aku.

Tampak terbalik kaus yang dikenakan bapak saat itu. Logo perusahaan kebanggaan bapak samar terlihat. Kaus terbalik itu tampak sangat lusuh penuh peluh bapak dan ada bekas darah yang masih basah. Tercium bau anyir sedikit menyeruak. Namun, aku hanya terpaku.

***

Sebelumnya, tak ada firasat apa pun ketika bapak berpamitan untuk berangkat kerja, pagi dua hari lalu. Seperti biasanya, bapak menyiapkan beberapa pasang baju untuk dimasukkan ke dalam tasnya yang kusam dan sedikit berlubang. Bapak mengenakan kaus perusahaan kebanggaannya. Tak lupa, sebelum berangkat, bapak sarapan terlebih dahulu, serta meminum kopi buatan ibu. Lalu, aku pun mencium tangan bapak. Tak lupa, aku pesan dibawakan oleh-oleh. Namun tiba-tiba, terdengar suara pecahan piring dari dapur. Bapak pun segera menghampiri ibu.

Kenapa, Bu?” tanya bapak khawatir pada ibu.

Duh, ada apa ya, Pak? Kok tumben….” ucap ibu sambil gemetar.

Hush… sudah, sudah. Semoga semua baik-baik saja. Doakan Bapak berangkat dan pulang selamat, Bu,” jawab bapak meyakinkan ibu.

Akhirnya, bapak pun berangkat. Bapak bilang, perjalanan hari itu akan agak jauh. Mungkin, seminggu baru pulang. Sudah biasa bagiku, seorang anak sopir truk yang ditinggal bapak bekerja berhari-hari.

Bapak sangat mencintai pekerjaannya. Bapak senang melakukan perjalanan panjang. Bapak juga bilang, bapak merasa gagah saat mengendarai armada truk kebanggaannya. Meski truk itu bukan miliknya sendiri, bapak penuh tanggung jawab pada kendaraan milik perusahaannya itu.

Sudah sepuluh tahun bapak menjadi sopir truk barang bermuatan kapur pembersih air. Sebelumnya, bapak hanya buruh pabrik biasa. Sampai akhirnya, rezeki berpihak pada bapak, yang kala itu ibu sedang mengandungku. Kata orang-orang, rezeki anak. Bapak direkomendasikan atasannya untuk menjadi sopir truk perusahaan. Memang bapak punya keahlian berkendara. Bapak akhirnya bisa mengendarai truk tronton yang tak sembarang orang bisa mengendarai itu.

Baca juga  Gandum Palsu

Tak terhitung berapa kilometer yang telah bapak tempuh. Asam garam telah bapak rasakan di jalanan. Meski di awal-awal bapak menjadi sopir, ibu merasa keberatan dengan pekerjaan bapak yang penuh resiko itu. Namun, akhirnya ibu mengalah pada nasib. Ibu sudah sangat bersyukur bapak mempunyai pekerjaan daripada masih bingung mencari pundi-pundi dan menumpuk utang, begitu ucap ibu bangga dengan pekerjaan bapak.

Di balik ibu yang bangga pada pekerjaan bapak, tak jarang ibu mendapat cibiran. Pekerjaan bapak yang notabene berhari-hari di jalanan, sering kali dikata tetangga bahwa bapak punya simpanan wanita lain. Belum lagi, musuh jalanan yang menghantui bapak. Nyatanya, tak hanya musuh jalanan, musuh di dalam perusahaan bapak pun tak terelakkan. Ibu hanya bisa berdoa untuk keselamatan dan kesehatan bapak.

“Pak, besok waktunya Sari bayar SPP sekolahnya,” pinta ibu pada bapak yang saat itu baru pulang bekerja.

“Iya, besok Bapak bayar. Bapak tidak bawa cukup banyak uang sekarang. Belum digaji sama perusahaan, Bu. Uang yang Bapak bawa habis buat setor di jalan,” terang bapak sambil memijit-mijit pundaknya sendiri. Perjalanan bapak sepulang dari timur Pulau Jawa kala itu menyisakan letih yang menyergap sampai ke pangkal-pangkal tulangnya.

Hmm… tidak dikasih uang sendiri sama perusahaan, Pak? Kalau gitu habis buat bayar di jalan?”

“Iya, gimana lagi. Ibu seperti tidak tahu biasanya saja.”

“Tapi, Bapak masih dengerin pesan Ibu kan? Kalau jangan bawa barang banyak-banyak.”

Bapak sejurus terdiam mendengar perkataan ibu yang demikian.

Dua tahun lalu, bapak hampir celaka. Aku tahu bapak adalah sopir yang paling jujur. Namun, kejujuran bapak nyatanya tak sejalan dengan apa yang ada di lapangan. Perusahaan tak mau rugi. Kalau bapak membawa barang sesuai peraturan, barang yang dibawa tak cukup banyak dan tidak membawa keuntungan lebih untuk perusahaan. Alhasil, bapak terpaksa membawa barang yang melebihi muatan. Di jalan, petugas bisa diperdaya dengan sogokan yang akhirnya melanggengkan upaya curang perusahaan.

Tentu itu semua tidak membawa keuntungan apa-apa bagi bapak. Yang ada, hanyalah bapak selalu waswas. Dan apa yang ditakuti bapak hampir terjadi kala itu. Barang yang dimuat di truk yang bapak kendarai oleng dan hampir terguling. Tapi kuasa Tuhan, bapak dan truknya akhirnya selamat. Bapak pun bisa meneruskan perjalanan sampai kembali pulang.

Baca juga  Rambut Marlin

“Jujur itu sulit, Bu,” ucap bapak berulang kali kepada ibu.

“Lalu gimana, Pak? Kalau kita menghalalkan hal yang kecil terus-menerus, lambat laun jadi tumpukan dosa besar dan rezeki yang haram. Ibu hanya tidak ingin bapak kerjanya tidak barokah. Tidak apa-apa kita hidup pas-pasan yang penting barokah, Pak,” pinta ibu pada bapak.

Sering kudengar percakapan antara ibu dan bapak tentang hal ini. Tentang pekerjaan bapak yang semakin hari semakin susah untuk jujur. Tak cukup sekali dua kali ibu meyakinkan pada bapak tentang kejujuran untuk tidak melebihi batas muatan.

Saat bapak pulang setelah bekerja di jalanan berhari-hari, beberapa kali ibu mendapati bapak tampak mengalami kekerasan dan wajahnya juga lebam. Awalnya, bapak tidak pernah mengaku karena apa. Sampai akhirnya, bapak menangis di pangkuan ibu sembari bercerita apa yang sebenarnya terjadi. Setelah itu, ibu hanya bisa menangis mendengar cerita bapak, lalu berlanjut mengompres wajah bapak dengan air dingin.

Beberapa kali bapak berusaha menuruti pesan ibu. Pesan untuk selalu jujur dan tidak melebihi batas muatan. Namun, bapak disudutkan oleh teman-temannya. Bapak dilaporkan ke bos perusahaan. Bapak yang berusaha jujur akhirnya mendapat perlakuan yang menyebabkan wajahnya lebam dan tak jarang darah mengucur deras dari hidungnya.

Kejadian-kejadian pelik itu bapak rasakan seorang diri. Tak sekali dua kali. Bapak tidak bisa berbuat banyak. Akhirnya bapak terpaksa tidak menuruti pesan ibu.

Pernah suatu waktu saat bapak bekerja, ibu menerima telepon dari bapak. Bapak meminta ibu untuk menjual apa yang bisa dijual. Kata bapak, nanti ada teman bapak yang mengambil uangnya ke rumah. Ibu pun beringsut menuju almari kamar. Ada sebuah gelang ibu. Satu-satunya. Ibu menatapnya sebentar, lalu segera mengendarai sepeda menuju toko emas di pasar. Begitulah ibu, begitu patuhnya kepada bapak. Ibu hanya tidak ingin bapak mengalami hal-hal buruk di jalan. Jalan tempat bapak mengais rezeki.

Sesampainya di rumah, ibu segera menelepon bapak. Ibu bilang uangnya sudah ada. Bisa segera diambil.

Ternyata, saat itu bapak mendapat musibah. Truk bapak mengalami kecelakaan dan harus segera mengganti kerugian. Sekali lagi, truk bapak oleng karena kelebihan muatan. Perusahaan tidak mau menanggung biaya kecelakaan yang menurut bapak itu memang kesalahannya sendiri. Sudah risiko menjadi sopir. Ibu hanya pasrah yang terpenting bapak selamat, tidak memakan korban jiwa, dan tentunya bapak bisa kembali pulang ke rumah.

Baca juga  Setan atau Malaikat

***

Puncak kekhawatiran ibu selama ini akhirnya menjadi kenyataan. Bapak mengalami kecelakaan yang lebih parah. Tak lain karena truk yang bapak kendarai lagi-lagi kelebihan muatan. Bukan lagi kabar kecelakaan yang disampaikan langsung oleh bapak melalui telepon, melainkan dari siaran televisi. Berita di televisi mengabarkan terjadinya kecelakaan maut truk yang menabrak banyak kendaraan di persimpangan jalan. Lima orang dilaporkan meninggal dalam kecelakaan itu dan jumlah korban luka-luka masih didata petugas.

Tanpa berpikir panjang, ibu bergegas mengemasi baju-baju bapak. Tak lupa sarung, sajadah, dan tasbih yang biasa bapak gunakan saat shalat di rumah. Dengan tergesa-gesa, ibu mengajakku untuk menemui bapak di kantor polisi sebuah kota terjadinya bapak mengalami musibah.

“Pak, Ibu dan Sari ke sana, ya. Tunggu Ibu,” ucap ibu saat menelepon bapak.

“Hati-hati, Bu,” jawab bapak singkat.

Ibu begitu tegar. Selama perjalanan, ibu hanya khusyuk merapal doa untuk bapak.

Sesampainya di kantor polisi, ibu langsung menemui petugas. Disampaikanlah jati diri ibu dan maksud kedatangannya di sana.

Dari balik ruang tunggu, kulihat bapak keluar dari lorong gelap bersama seorang petugas. Bapak akhirnya menemuiku dan ibu. Tak kuasa kulihat raut wajah bapak yang muram. Kesedihan tak bisa ia sembunyikan lagi. Betapa terpukulnya bapak tak menuruti pesan ibu saat itu. Pesan yang terus menerus ibu ucapkan pada bapak untuk keselamatan perjalanan bapak.

Namun, sekali lagi bapak tak bisa apa-apa. Bapak hanyalah bawahan yang harus menuruti kemauan perusahaan. Kemauan perusahaan yang sama sekali tidak dibenarkan. Perjalanan bapak sepertinya harus berhenti untuk sementara waktu. ***

.

.

Zahro Syaquilla Ar, lahir di Pasuruan, Jawa Timur, 5 Juli 1994. Bukunya yang sudah terbit, Siwi Cinta Bahasa Daerah.

.

.

Loading

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!