Esai, Muharsyam Dwi Anantama, Pos Bali

Sumur: Kisah di Sekitar Air

Sumur Eka Kurniawan
0
(0)

Oleh Muharsyam Dwi Anantama (Pos Bali, 06 Agustus 2022)

KEHADIRAN air dalam kehidupan manusia berada pada dua sisi. Di satu sisi menjadi sukacita, namun ada kalanya juga menjadi malapetaka. Bagi orang-orang yang hidup di daerah gersang dan jarang tersentuh air, kehadiran air begitu ditunggu-tunggu. Bagi mereka, air adalah harta karun yang membawa begitu banyak sukacita. Namun, hadirnya air bisa juga menjadi sebuah bencana. Banjir adalah salah satu musibah yang bermuasal dari datangnya air. Orang-orang yang hidup di tepi sungai tentu tidak mengharapkan datangnya air yang menjelma menjadi bencana tersebut.

Air dan berbagai problematika yang ada di sekitarnya adalah hal yang begitu menarik. Begitu banyak kisah yang bisa diceritakan tentang air. Salah satu karya sastra yang menjadikan air sebagai pijakan utama cerita adalah buku cerita pendek berjudul Sumur yang ditulis oleh Eka Kurniawan. Hal-hal yang berkelindan dengan air semisal kemarau, hujan, sumur, dan sungai menjadi hal yang ditemukan di sekujur cerita dalam buku tersebut.

Sumur cukup menarik jika dilihat dari segi fisik. Buku semacam ini cukup jarang ditemui dalam khasanah perbukuan sastra di Indonesia. Buku ini hanya menyajikan sebuah cerita pendek. Di Indonesia, lazimnya, sebuah buku berisi beberapa cerita pendek, bukan hanya satu. Karena hanya berisi satu cerita, buku ini begitu kecil dan tipis, kurang lebih hanya berjumlah 50 halaman.

Cerita pendek yang cukup panjang dalam Sumur adalah cerita yang diakui secara internasional. Cerita pada buku itu adalah peraih nominasi Man Booker International Prize pada 2016 dan Prince Claus Laureate pada 2018. Selain itu, Sumur telah diterbitkan dalam Tales of Two Planets: Stories of Climate Change and Inequality in a Divided World (Penguin Books, 2020), antologi cerpen dari sejumlah negara tentang perubahan iklim.

Baca juga  Laut di Mata Beberapa Cerpenis Indonesia

Perihal ekologi, khususnya tentang air, begitu kental dalam Sumur. Buku ini menyoroti kehidupan manusia yang terlunta-lunta akibat kekeringan yang berkepanjangan, suatu hal yang lazim terjadi pada beberapa daerah di Indonesia. Di sisi lain, buku ini juga menghadirkan masalah bencana alam yang terjadi akibat hadirnya air, yakni banjir. Suatu hal lain yang lagi-lagi lazim terjadi di Indonesia.

Air dan Kesedihan

Air dan segala hal yang ada di sekitarnya menjadi metafora kesedihan dan kemurungan dalam Sumur ini. Segala sesuatu yang berkaitan dengan air menjadi hal yang memilukan bagi Toyib dan Siti, tokoh sentral dalam Sumur. Mulai dari kekeringan, kemiskinan, hingga kematian. Di awal cerita, Siti harus kehilangan ayahnya di sebuah sungai, dekat pintu air.

“Lalu suatu malam, ayah Toyib berduel dengan ayah Siti. Duel itu berakhir dengan ayah Toyib menyabetkan parang ke perut ayah Siti, membuatnya terkapar dengan usus terburai dan darah menggenang di rerumputan, di dekat pintu air.” (hlm. 1).

Muasal dari malapetaka tersebut adalah air. Kemarau yang begitu panjang menyebabkan air menjadi rebutan bagi para pemilik lahan persawahan. Pada saat semacam itu, kebijaksanaan dikalahkan oleh amarah dan kebutuhan. Hal tersebut yang membuat ayah Toyib gelap mata dan membacok ayah Siti hingga harus meregang nyawa.

Peristiwa berdarah yang disebabkan oleh air tersebut memupus persahabatan Toyib dan Siti yang telah terpintal sejak kecil. Siti merasa bahwa dalang malapetaka yang menimpa ayahnya adalah ayah Toyib. Bagi Siti, kesalahan ayah Toyib juga harus dibebankan kepada Toyib.

Senada dengan yang terjadi pada Siti, bagi Toyib air juga menjadi sumber duka. Toyib harus kehilangan ayahnya yang dilumat banjir pada sebuah sungai.

Baca juga  Menulis sama dengan Mencari Cinta

“Saat itulah ia sadar jembatan gantung itu putus, dan ia hanya bisa menyelamatkan diri jika terus memegang erat kawat bentangan dengan tangan dan lilitan kakinya, dan berusaha untuk keluar dari air. Ia melakukannya dalam pertarungan di batas kematian. Ketika ia berhasil mencapai tiang jembatan di tepi sungai, ia tak tahu di mana tas yang tadi digendongnya. Ia juga tak tahu di mana ayahnya.” (hlm. 31).

Ayah Toyib tewas terseret arus sungai ketika ia dan Toyib hendak pergi ke kota. Hal itu terjadi di sebuah jembatan yang menghubungkan dua desa. Hujan lebat yang terjadi selama beberapa hari membuat sungai di bawah jembatan itu meluap. Konstruksi jembatan yang berupa anyaman bambu tak sanggup menahan laju gelombang air yang begitu derasnya. Jembatan terputus dan menghanyutkan ayah Toyib. Kekeringan dan keberlimpahan air sama-sama mematri luka pada diri Toyib.

Kekeringan menjadi musabab tragedi yang memutus persahabatannya dengan Siti. Namun, keberlimpahan air juga membuat Toyib harus kehilangan orang tua selama-lamanya.

Puncak dari kesedihan Toyib dan Siti terjadi di sebuah sumur, tempat yang menjadi sumber utama air di desa mereka. Istri Toyib dan suami Siti meninggal di sumur itu.

“Menjelang Maghrib, mereka berhasil menemukan keduanya. Tertelungkup bersama di dasar sumur kering. Tanpa nyawa dan tanpa catatan.” (hlm. 47).

Kejadian itu menjadi puncak kesedihan bagi Toyib serta Siti yang sekaligus menutup cerita. Bagi Toyib dan Siti, air dan segala hal di sekelilingnya menyimpan dua hal, harapan dan kesedihan. Harapan akan air yang bisa mengakhiri kekeringan. Kesedihan karena air dan hal-hal di sekelilingnya memahat duka pada diri mereka. ***

Baca juga  Dramatic Reading dan Teks-teks yang Dihidupi

.

.

Muharsyam Dwi Anantama, kelahiran Banyumas. Saat ini tinggal di Bandarlampung dan menjadi dosen pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Lampung.

.

Sumur Eka Kurniawan. Sumur Eka Kurniawan.

Loading

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!