Cerpen, Solopos, Yuditeha

Camat Kedungsewu

Camat Kedungsewu - Cerpen Yuditeha

Camat Kedungsewu ilustrasi Hengki Irawan/Solopos

3
(2)

Cerpen Yuditeha (Solopos, 11 September 2022)

RAPAT penentuan tender pembangunan gedung baru kantor Kecamatan Kedungsewu berjalan dengan lancar. Drajat—Camat Kedungsewu—tidak menduga keputusan dalam rapat kali itu bisa dengan cepat diambil, yaitu menentukan pemegang tender yang bersedia menjalankan proyek itu sesuai dengan anggaran yang ada. Begitu rapat selesai, Drajat bertemu dengan Rustam—pemborong yang memenangkan tender tersebut—di ruang kerjanya.

Usai pertemuan dengan Rustam, Drajat keluar dari ruang kerjanya, lantas duduk di bangku depan kantor kecamatan dengan wajah semringah. Tangannya meraih rokok yang ada di saku baju. Diambilnya sebatang, kemudian dinyalakan. Perlahan Drajat mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asapnya perlahan.

Tak lama kemudian dia beranjak dari kursi, berjalan menuju samping kantor. Di sana Drajat berdiri lama sembari menatap lahan kosong yang ada di samping kantor tersebut. Dalam hati Drajat bangga, sebentar lagi dia bisa mempersembahkan gedung baru bagi Kecamatan Kedungsewu. Seulas senyum mampir di bibirnya.

Pembangunan gedung kantor Kecamatan Kedungsewu sudah dimulai beberapa waktu lalu. Tanah kosong di samping kantor itulah tempat di mana gedung yang baru akan berdiri.

Biasanya setiap menjelang sore, di tempat itu anak-anak desa asyik bermain sepak bola plastik. Namun sore itu, mereka tidak melakukannya. Anak-anak yang biasanya bermain sepak bola duduk jejer di pagar tembok kecamatan sembari memandangi para pekerja menggali tanah yang rencananya untuk membuat pondasi.

Sudah menjadi kebiasaan, ketika Drajat pulang kerja, dia hampir selalu tidak melihat keberadaan Banu—anak ragilnya—di rumah. Setiap kali Drajat menanyakan hal itu kepada istrinya, jawabannya selalu sama. “Bermain sepak bola sama teman-temannya.” Namun sudah sekitar sepekan ini, setiap kali Drajat tiba di rumah, dia selalu melihat Banu sedang bermain sendirian di samping rumah.

Meski teman-teman Banu mengetahui bahwa ayah Banu adalah Camat, tetapi mereka tidak lantas melakukan protes kepada Banu perihal hilangnya lahan yang biasa mereka pergunakan untuk bermain sepak bola plastik. Meski masih kecil tampaknya mereka seperti mengerti bahwa lahan itu memang bukan tempat umum. Jikapun selama ini mereka pakai untuk bermain, hal itu semata karena mereka menggunakan tempat yang sementara itu tidak dipakai. Banu sendiri, setelah itu pun tidak menanyakan hal itu kepada ayahnya.

Sebenarnya bukan hanya anak-anak yang menggunakan lahan itu. Pemuda desa pun terkadang memakainya untuk acara Karang Taruna, terlebih pada saat mereka mengadakan acara perayaan Kemerdekaan RI. Kadang mereka gunakan lahan itu sebagai tempat menggelar perlombaan, dan panggung kesenian. Bapak-bapak dan ibu-ibu pun tidak mau kalah, dua kali dalam seminggu mereka menggelar senam pagi di lahan kosong itu juga.

Baca juga  Traveling ke Kota Perang

Jika tiba waktunya hari raya Idul Fitri, lahan itu juga biasa digunakan sebagai tempat untuk menjalankan Ibadah Salat Ied. Beberapa sekolah pun ada yang menggunakan lahan itu untuk menggelar upacara bendera dalam rangka memperingati HUT RI. Meski begitu, sama halnya sikap anak-anak, ketika lahan itu akan didirikan gedung kantor kecamatan, tidak ada yang merasa dirugikan. Mereka pun menyadari, lahan itu memang milik kecamatan.

Karena hal itu untuk yang terkait pembangunan gedung tersebut Drajat tidak merasa terbebani. Namun, karena tempat tinggal Drajat juga di desa itu, dia merasa perlu untuk memberitahu tentang rencana proyek pembangunan tersebut kepada warga sekitar pada saat jadwal pertemuan rutin. Dan Drajat senang karena usai dia menyampaikan rencana itu, para warga tidak ada yang mempermasalahkan. Drajat justru mendapat doa dan restu dari warga.

Dengan dana yang cukup, pemborong yang cakap, dan pekerja yang andal, akhirnya pembangunan gedung kecamatan itu dapat selesai dengan memuaskan. Dilihat dari fisiknya, bangunan itu terdiri dari dua lantai, dan terlihat megah. Bahkan ada yang mengatakan bangunan itu seperti sebuah hotel yang indah. Di beberapa bagian pada dindingnya terdapat banyak kaca hingga hal itu semakin memberi kesan mewah. Orang-orang menjadi bangga karena kecamatan mereka mempunyai gedung yang baru dan bagus. Terkait hal itu tentu saja tidak lepas dari sepak terjang Drajat sebagai camat di tempat itu.

Drajat sedang bersama Rustam berbincang di ruang kerjanya yang baru. Keduanya sama-sama memperlihatkan raut muka cerah. Mereka senang karena kerjasama dalam mewujudkan proyek pembangunan gedung telah berjalan dengan baik dan hal itu menjadi wajar jika mereka terlihat bahagia. Rustam menemui Drajat, selain mencurahkan kebahagiaan bersama, juga berkehendak untuk undur diri karena segala urusan terkait proyek telah diselesaikan dengan baik. Sebelum mereka berpisah, Drajat menyampaikan terima kasih atas kerjasamanya dalam proyek. Mungkin terpantik dari ucapan Drajat itu hingga, satu pesan dari Rustam terlontar sebelum dirinya berlalu. “Bapak Camat sekarang sudah tahu bagaimana kinerja kami, jadi jika nanti ada proyek lagi, bisalah langsung diserahkan kepada kami tanpa repot mengadakan pelelangan.”

“Bisa diatur,” sahut Drajat sembari berjabat tangan.

Kira-kira setengah tahun sejak hari itu, pagi-pagi sekali. Dua buldozer telah berada di halaman kantor kecamatan Kedungsewu. Orang-orang desa sekitar yang mengetahui hal itu bertanya-tanya, akan dipergunakan untuk apa alat berat tersebut. Sekitar jam delapan pagi, datang serombongan pekerja yang langsung bergerak, menurunkan genting-genting pada bangunan lama kecamatan. Setelah seluruh genting turun, mereka melepas kerangka kayu dari bangunan itu. Menjelang istirahat siang, pekerjaan itu selesai.

Baca juga  Menanti Temu

Setelah para pekerja makan dan sejenak istirahat, gantian dua buldozer  yang mulai bekerja. Meraung-raung bak musuh kesetanan. Menumbangkan bangunan yang sebenarnya masih kokoh. Dua buldozer cukup bekerja sehari untuk merobohkan bangunan. Seluruh bagian dari gedung bersejarah itu terhempas hingga rata dengan tanah. Menjelang sore, anak-anak yang dulu biasa bermain sepak bola plastik di tanah yang sekarang berdiri gedung baru melihat hal itu. Mereka duduk jejer di pagar tembok kecamatan. Merekalah yang menjadi saksi ketika seluruh gedung telah terhempas. Satu dari mereka ada yang bicara. “Sepertinya kita akan bisa lagi sepak bola, Cah.” Meski tanpa sahutan dari teman-temannya, namun mata mereka tertuju kepada anak yang bicara sembari bibir mereka tersenyum.

Seperti yang dilakukan dulu, untuk proyek yang kedua ini pun, Drajat menyampaikannya kepada warga pada saat jadwal pertemuan rutin warga. Dalam pengertian warga, proyek itu hanya akan sampai kepada merobohkan bangunan, dan bisa jadi akan ada lagi lahan kosong di area kantor kecamatan. Namun dugaan warga rupanya salah. Drajat menjelaskan bahwa justru proyek itu baru akan dimulai, yaitu pembangunan gedung baru yang kedua kantor kecamatan Kedungsewu. Ketika Drajat selesai mengatakan hal itu, para warga diam seribu bahasa. Benar-benar tidak ada yang menanggapi. Mungkin mereka berpikir pendapatnya nanti bukan sesuatu yang dapat dipakai, terlebih bisa mengubah keputusan.

Sesungguhnya hampir seluruh warga desa, dalam hati mereka penuh tanya, untuk apalagi gedung dibuat? Menurut mereka gedung yang baru jadi itu sudah lebih dari cukup. Kebetulan dalam pertemuan kali itu dihadiri beberapa pengurus Karang Taruna desa yang ingin menyampaikan beberapa hal terkait rencana mereka dalam memperingati Hari Ulang Tahun RI. Ketua Karang Taruna yang mendengar penjelasan Drajat, memberanikan diri bicara. Ternyata apa yang disampaikan Ketua Karang Taruna itu sejalan dengan pikiran sebagian besar warga. Ketika pemuda itu menyudahi bicaranya, orang-orang mengangguk. Sementara, Drajat yang sudah biasa mendapat tekanan lebih dari itu, dengan cekatan mampu menetralisir pemikiran tersebut. Drajat menghubungkan kemajuan teknologi dan pelayanan untuk menjawab pertanyaan mereka. Kata Drajat, kedua hal itu harus didukung banyak ruang sebagai langkah menuju efisiensi kerja.

Baca juga  Seperti Kota Mati

Kisah penting antara Drajat dan Rustam sebelum proyek pembangunan gedung kedua terjadi di restoran kota. Rustam-lah yang memberi ide proyek tersebut. Berdasarkan analisis dana proyek gedung pertama, tender pengerjaan proyek kedua diserahkan kepada Rustam. Rustam mengusulkan rencana rekayasa anggaran, dan Drajat menyepakatinya. Dari situ Drajat akan mendapat jatah sejumlah uang yang tak sedikit. Karenanya Drajat tampak bersemangat. Tawaran itu bisa membuat Drajat lupa diri, bahkan seakan tak peduli dengan penilaian warga bahwa Drajat adalah pejabat yang bersih. Penilaian itu tentu saja salah satunya berdasarkan pelaksanaan dari proyek-proyek sebelumnya yang memang berjalan dengan lancar dan baik. Pun begitu penilaian warga terhadap Rustam. Hal itu semakin membuat Drajat senang karena ada pengertian bahwa permainan itu sangat kecil terbongkar.

Pertemuan dengan warga tidak menimbulkan kecurigaan membuat hati Drajat dipenuhi kebahagiaan, hingga ketika pulang dengan perasaan berbunga-bunga. Sampai di rumah, rupanya Banu belum tidur. Sore tadi bersama teman-temannya, Banu ikut menjadi saksi runtuhnya bangunan gedung kecamatan yang lama. Alasan Banu belum tidur karena dia memang menunggu ayahnya pulang karena Banu ingin menyampaikan sesuatu.

Selesai mandi dan ganti baju, Drajat santai di ruang tengah, Banu lantas mendekatinya. Dengan sedikit keraguan, Banu mengutarakan maksudnya, dia meminta izin, jika lahan bekas bangunan itu sudah dibersihkan; semoga dia beserta teman-temannya diperbolehkan untuk kembali bermain sepak bola dengan bola plastik di tempat itu.

Kepada para warga dan beberapa pemuda dalam pertemuan rutin desa, Drajat dengan mudahnya berkelit, menjelaskan sesuatu dengan cara yang meyakinkan agar proyek yang sedang dia jalankan tidak akan dinilai sebagai proyek yang tidak sehat. Namun di hadapan Banu, anaknya yang baru kelas dua SD, Drajat yang meski seorang camat serasa mati kutu. Drajat tidak segera menemukan sesuatu yang dapat dia pakai untuk menjawab pertanyaan Banu. Tak lama kemudian datang istrinya dengan wajah cerah, lantas bertanya kepada Drajat tentang hasil dari kesepakatannya dengan Rustam. ***

.

.

Yuditeha. Penulis tinggal di Karanganyar. Pendiri Komunitas Kamar Kata.

.

Camat Kedungsewu. Camat Kedungsewu. Camat Kedungsewu. Camat Kedungsewu. Camat Kedungsewu.

Loading

Average rating 3 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

2 Comments

  1. Ma Sya Allah suka banget ceritanya. Aku masih bertanya-tanya gimana ya nulis tanpa menyinggung SARA. Tapi ternyata setelah membaca ini, Alhamdulillah bisa jadi inspirasi menyamapaikan keluh kesah tanpa menyinggung pemerintah. Ini hanya cerita

  2. Re

    Cerita ini kecamatan…pak cmat , tp seringkali disebut pertemuan dengan warga desa…. Pak lurah/kepala desanya pada kemana?

Leave a Reply

error: Content is protected !!