Cerpen, Dody Widianto, Republika

Enam Puluh Detik

Enam Puluh Detik - Cerpen Dody Widianto

Enam Puluh Detik ilustrasi Rendra Purnama/Republika

5
(2)

Cerpen Dody Widianto (Republika, 11 September 2022)

I

LAMPU merah menyala. Laju mobil melambat. Berhenti. Angka dua puluh perlahan menghitung mundur. Di luar, ia mendengar berisik suara nyanyian cempreng dari bibir seseorang. Seumuran dengannya. Ia seakan tak peduli. Ia lebih peduli pada kuku cantiknya yang rusak. Andaikan Pak Nar, sopir keluarganya, itu tahu diri dan sigap melihat situasi, tentu hal menjengkelkan itu tak akan terjadi.

Pak Nar baru membersihkan bagasi. Ia datang tiba-tiba. Hendak menunjuk sesuatu karena dirasa kurang bersih merapikan bagasi. Jemarinya yang lentik tersambar dan terjepit tepat saat Pak Nar menutup pintu bagasi. Ia mengaduh. Pak Nar terkejut. Kemoceng masih di genggaman. Insiden yang tak sengaja itu membuat suara Pak Nar bergetar. Meminta maaf berulang. Menunduk. Melekatkan kedua tangan di dada. Seolah telah melukai seluruh badan majikannya. Ia tetap menggeleng. Marah-marah. Ujung kuku jari kanannya yang ia rawat rusak parah. Patah.

Pak Nar gegas mengambil plester luka di laci dashboard. Sejujurnya, Pak Nar ingin bilang jika kuku itu bisa tumbuh lagi. Namun, ia urungkan niatnya. Masalahnya bisa runyam. Dianggap sok tahu. Belum lagi, jika ia nanti melapor pada Tuan dan Nyonya besar, bisa panjang urusan yang sepele ini.

Bulan ini, Tuan sedang ada kunjungan kerja ke Amerika. Entah untuk apa. Ia pernah dengar tempat tujuan majikannya itu. Suatu tempat dengan pengulangan huruf “s” dan “i” yang berulang. Lidahnya bisa terjepit saat mengucapkannya. Ia dengar sendiri dari Ranti, babu termuda yang mengurus bagian makanan dan dapur. Menggantikan pegawai lama, Mbok Irah, sebab meninggal sebulan lalu.

Suara cempreng itu seolah terus mendekat ke jendelanya. Seorang pengamen perempuan dengan rona wajah yang lusuh, selusuh bajunya yang mirip langit kota ini. Ia berusaha menyodorkan kantong plastik terbuka bekas bungkus permen ke tepi jendela. Pak Nar iba. Membuka sedikit, memberikan uang koin lima ratus dari tangan kanannya.

“Terima kasih. Maaf, Pak, pakai tangan kiri.”

Perempuan itu perlahan pergi. Berlanjut ke kaca jendela mobil di belakangnya. Ia masih saja berusaha menjual suaranya yang cempreng. Pak Nar sedikit mendelik. Dari kaca spion, tangan kanan perempuan itu tidak tumbuh sempurna. Lengan hingga ujung jemari seakan tak tumbuh. Hanya bagian atas dan bahunya saja yang ada sampai lekuk siku. Pak Nar menelan ludah. Andaikan saja satu penumpang di belakangnya persis mau melihatnya, betapa beruntungnya ia masih diberi Tuhan bagian tangan yang lengkap.

Lampu hijau menyala. Deret mobil perlahan merayap, mirip deret semut rangrang yang berbaris menyusur jalan. Di belakang, suara cempreng tetiba menepi ke pinggir jalan.

Baca juga  Kau

II

“AC-nya rusak ya, Pak. Lupa benerin apa kemarin? Panas banget ih. Kapan ini sampainya?”

“Sabar sedikit, Non. Biasa, macet. Kalau jam berangkat kerja bareng, jam sekolah ya memang seperti ini.”

Mobil berhenti di perempatan kedua. Lampu merah kembali menyala. Dalam jarak tiga mobil ke depan, angka sembilan belas menyala dalam hitung mundur. Pak Nar mengungkit tuas persneling ke gigi netral. Perempatan kedua lebih padat dari tadi. Kanan kiri jalan ini adalah ruko dan area pasar tumpah. Bisa dipastikan, kalau pun lampu hijau nanti menyala, butuh waktu agak lama mobil ini harus berjalan lagi. Berbagi tempat dengan pengendara motor, sepeda, gerobak, dan becak di kanan kirinya.

Pak Nar menghela napas. Menunggu dengan sabar. Penumpang perempuan di belakang kursinya yang seumuran anaknya di kampung terus kipas-kipas. Menahan panas. Sebuah buku ia gerakkan berulang agar angin bisa menimpa leher dan wajahnya. Bedanya, anaknya di kampung yang baru masuk SMP itu ke mana-mana naik sepeda. Pernah ia tawarkan untuk dibelikan motor, anaknya malah bilang jika motor itu untuk tujuh belas tahun. Nanti saja. Pak Nar tersenyum. Masih ada juga anak lugu tersisa di negara ini.

Dalam jarak dua langkah di kirinya, sebelah kiri, seorang bapak seumuran dengannya menyeka keringat. Pak Nar melihat dalam becak yang ikut berhenti itu, ada puluhan buah kelapa yang sudah terkupas kulitnya. Pastilah berat. Ia pernah membawa sepuluh biji kelapa titipan Nyonya dari pasar. Besoknya, pinggangnya sangat sakit akibat ia terus menenteng benda itu dari pasar ke mobil. Pak Nar masih terus memperhatikan gerak-gerik pengayuh becak itu. Cuaca di luar memang sedang cerah-cerahnya. Bikin gerah. Ia terus saja mengusap-usap dahi dan wajahnya dengan kain lap dekil di pundaknya. Sebelum nada keras tiba-tiba membuyarkan lamunannya.

“Hijau tuh.”

III

Di lampu merah terakhir, mobil kembali diam. Dalam pandangan lurus ke depan, Pak Nar selalu terkagum dengan deretan gedung-gedung yang tinggi menjulang di tepi perempatan paling besar. Lima menit lagi sekolah yang dituju sampai. Banyak yang bilang itu sekolah internasional. Pak Nar tak tahu juga bedanya. Ia hanya tahu ketika mendengar gosip para sesama sopir jika sedang berkumpul dengan tetangga kompleks di pos ronda. Sekolahnya mengajarkan tiga bahasa, Inggris, Indonesia, dan satu bahasa asing pilihan siswa. Dengan biaya super mahal tentunya. Lagi-lagi, itu juga kata para sopir tetangganya.

Terkadang, ketika melihat gedung-gedung itu, pikiran usil Pak Nar membayang ke mana-mana. Ranti bilang ia belum punya pacar. Sudah pintar masak, cantik lagi. Ingin sekali-kali ia mengajaknya serta ke gedung-gedung tinggi itu yang kata orang kalau isinya tidak swalayan tempat belanja, bagian atas biasanya apartemen, kantor, atau hotel. Enak juga bisa mengajaknya berbelanja berdua saja. Atau menonton film di bioskop. Tidak seperti kesehariannya yang harus belanja besar bersamaan dengan empat pembantunya yang lain. Ribet. Tidak romantis sama sekali.

Baca juga  Kepala yang Bergasing

Pak Nar nyengir. Takut karma juga. Anak semata wayangnya perempuan. Bagaimana jika suaminya nanti akan meniru tingkahnya. Ia tak akan rela. Pelan ia mengusap dada.

“Bekalku buat makan siang Pak Nar saja ya. Bosen menunya gini-gini terus. Di sekolah kan sudah dikasih. Mama lebay.”

“Mohon maaf, Non. Kami hanya mengikuti perintah Bapak. Takut Non sakit. Makanya kami harus memasak sayur dan membawakan buah setiap hari. Bukannya Bapak meragukan makanan yang di sekolah, ini agar kesehatan Non tetap terjaga.”

Pak Nar melirik ke atas. Melihat kaca spion tengah. Rona wajah Non terlihat jengkel. Ia sudah paham jika penumpang di belakangnya memang agak susah diatur. Hidup dalam gelimang harta nyatanya tidak membuatnya bahagia. Non pernah curhat soal itu. Video call dengan papanya sendiri seolah peristiwa langka. Persis seperti menunggu anak gajah yang baru akan lahir tiap dua tahun sekali. Kesempatan itu selalu ditunggu dan kadang hanya balasan pesan suara dari papanya. Nanti saja kalau pas pulang, ia akan diajak serta melihat patung Liberty secara langsung. Sebuah janji dari papanya yang mirip bualan.

Dua puluh detik terakhir seakan lama. Pikiran Pak Nar membayang ke mana-mana. Apalagi, ketika mobilnya ikut mengantre di paling pinggir kiri. Non tetiba sudah menggeser duduk ke arah kiri. Di trotoar, seorang ibu sedang terduduk dan menyuapi anaknya dengan nasi dan kerupuk. Anaknya sekitar usia SD kelas awal. Mereka tertawa-tawa. Tak hirau dengan bau asap kendaraan, bising suara klakson dan knalpot kendaraan di seberang jalan, juga bau pesing got yang sedikit menguar ke udara.

Pak Nar sedikit menoleh ke kiri belakang. Melihat Non tetiba menyangga wajahnya dengan telapak tangan kiri. Seolah ikut memperhatikan ibu dan anak laki-laki itu. Rambut ibunya kusut. Namun, di balik kostum boneka kelinci yang dipakainya, ia terus menebar senyum. Dari tutup kepala boneka yang dibuka, bibirnya terlihat merekah sempurna. Tak sekali pun ia ingin berbagi duka. Non tiba-tiba membuka jendela. Memanggil anak kecil itu. Memberinya selembar uang yang Pak Nar tak begitu awas berapa nilainya.

“Terima kasih, Kak. Maaf ya pakai tangan kiri.”

Alis Pak Nar mengerut. Ternyata tangan kanan anak itu juga tak tumbuh sempurna. Anak itu perlahan pergi setelah mengangguk berulang kepada Non. Pak Nar pelan melajukan mobil. Lampu hijau menyala.

Baca juga  Ke Langit Bersama Azan Maghrib

Dari kaca spion tengah, Pak Nar melihat Non tiba-tiba mengusap sudut matanya dengan punggung tangan. Menerka mungkin kelilipan.

Pak Nar tahu sejak kecil hati Non sekeras batu. Ia merasa seperti dilupakan kedua orang tuanya. Padahal, ia darah dagingnya. Papa dan mamanya sibuk juga demi masa depannya. Itu alasan yang biasa ia dengar jika papa dan mamanya tak kunjung pulang. Ia yang terlahir seorang diri, seolah tak pernah dihargai. Hanya di depan para pembantunya ia merasa punya orang lain yang dekat, yang bisa dianggap kakak, teman, dan orang tuanya sendiri.

Sejujurnya, Pak Nar pernah ingin mengajaknya jalan-jalan melihat dunia luar. Dengan sepeda motor. Namun, mamanya melarang, takut jadi sakit. Kulit Non sensitif terhadap matahari. Dan ratusan alasan lain. Padahal, Pak Nar ingin mengenalkan jika hidup tak hanya seputar makan, sekolah, belajar, dan sembahyang kepada Tuhan. Betapa banyak yang terlewat setiap detik di luar sana yang barangkali, ada satu pelajaran yang bisa kita ambil di dalamnya.

“Menurut Pak Nar, bahagia itu apa?”

Pak Nar kaget mendapat pertanyaan tak terduga dari anak majikannya itu. Jarang sekali Non mau berpikir kritis. Entah, apakah kedewasaan telah membuatnya paham jika hidup memang sebuah lembaran pertanyaan yang menunggu kita menuliskan sebuah jawaban.

Pak Nar menghela napas. Melirik jarum jam tangan. Dalam satu menit, ia sebentar lagi akan sampai di gerbang sekolahnya. Ia harus memikirkan satu jawaban yang sempurna. Satu jawaban yang harus membuat Non berpikir lebih dalam lagi tentang hidup. Menghargai dan banyak belajar segala isi di dalamnya.

Sejujurnya ia bisa saja menjawab jika kebahagiaan itu kita sendiri yang menciptakan. Menerima segala sesuatu dengan hati lapang dan banyak belajar setelahnya. Namun, ia menemukan satu kalimat lain yang pantas diucapkan untuknya.

“Bahagia itu ketika saya melihat Non tersenyum. Saat Non menyadari jika Tuhan ternyata telah memberikan kelebihan dari apa yang kita anggap sebuah kekurangan.” ***

.

.

Dody Widianto lahir di Surabaya. Pegiat literasi. Karyanya banyak tersebar di berbagai antologi penerbit dan media massa nasional. Akun IG: @pa_lurah.

.

Enam Puluh Detik. Enam Puluh Detik. Enam Puluh Detik. Enam Puluh Detik. Enam Puluh Detik.

 536 total views,  4 views today

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!