Cerpen, Gamawan Fauzi, Singgalang

Laki-laki Itu

Laki-laki Itu - Cerpen Gamawan Fauzi

Laki-Laki Itu ilustrasi Singgalang

5
(1)

Cerpen Gamawan Fauzi (Singgalang, 11 September 2022)

DIA pemuda yang cerdas. Setamat sekolah menengah atas, mendaftar di berbagai universitas. Hampir semua diterima. Lantaran orang tuanya tidak punya biaya, maka dia memilih akademi kepolisian. Sebenarnya itu bukanlah cita-citanya. Dia ingin kelak menjadi insinyur tehnik perminyakan, bermimpi menjadi pengusaha minyak yang kaya.

Saat duduk di sekolah menengah atas, dia membaca sejumlah kisah raja-raja minyak dunia. Glamournya kehidupan mereka, merajut mimpinya untuk suatu saat bisa seperti itu. Saat itu dunia perminyakan memang sedang booming, sedang pesta pora. Media-media rajin mengikuti pesta-pesta mereka di Paris, Milan, New York dan kota kota mode lainnya. Pesta mereka selalu dikelilingi wanita-wanita cantik dan top model kelas dunia.

Laki-laki itu terpaksa mengubur mimpinya sejenak. Tapi asanya tak padam untuk menjadi orang sukses yang begelimang harta. Menjadi orang penting yang bisa mendapatkan banyak hal dengan uang. Jalan boleh saja berliku, menanjak, melereng atau berbatu, tapi ultimate goal-nya jelas, tujuan tak berubah, pikirnya.

Setamat akademi kepolisian, dia mulai merintis karier. Kecerdasannya yang istimewa dan kemampuannya meyakinkan setiap atasan dimana dia ditugaskan membuat kariernya moncreng, melesat bak rudal Rusia.

Hanya dalam waktu dua puluh satu tahun, satu bintang pecah di pundaknya. Dia bukan hanya perwira pertama yang pecah bintang di antara teman seangkatannya, tapi menyalip kakak-kakak angkatannya sampai dua tingkat.

Namanya pun kini mulai menghias halaman media dan juga berita berita koran elektronik. Wartawan menggadang-gadang laki-laki itu sebagai calon pimpinan tertinggi dalam organisasinya. Keberhasilannya mengungkap kasus-kasus besar yang menjadi trending topik dan issue publik yang luas, membuatnya makin bersinar bak bintang kejora. Dia memang sosok media daring. Kariernya sudah masuk jalan tol bebas hambatan. Saat bintang sudah 2 buah bertengger di bahunya, sebenarnya dia hanya menunggu saatnya tiba untuk menjadi orang nomor satu dalam kesatuannya. Secara dunia, sudah bisa diduga bahwa dia hanya menghitung hari untuk sampai ke sana, karena pengaruhnya begitu kuat, cengkraman kukunya begitu dalam dan tentakel pengaruhnya begitu luas, bak gurita besar yang bisa melilit kemana-mana dan mampu menelan ikan hiu remaja.

Baca juga  Berebut Janda Kempen

Dia membaca banyak buku. Tapi yang paling digemarinya adalah karya-karya Tsun-tzu tetang dunia yang penuh siasat atau dunia intelijen. Filosof yang paling disukainya adalah Nicolo Machiaveli. Ada kalimat yang paling diingatnya dari filosof itu, bahwa pemimpin itu harus seperti singa, sehingga tak takut dengan auman serigala, tapi juga cerdik seperti kancil.

Namun, pokesuksesan seringkali tanpa sadar membangun kesombongan. Sukses dan sombong kadangkala berbanding lurus. Ketika sukses menanjak, kesombonganpun meningkat. Sukses kadang juga membuat lepas kendali dan menghilangkan pikiran waras, karena merasa semuanya bisa diatur.

Sukses kadang menganggap semua kritik dan saran adalah pembangkangan, sementara puja dan puji adalah kesenangn dan bentuk ketaatan. Model seperti ini sudah ada sejak lama seperti di pertontonkan Firaun hingga kisahnya dinukilkan dalam Alquran. Hamman adalah sosok pembantu setia Firaun. Yang selalu memuji dan memuja apapun dilakukan Firaun.

Laki-laki itupun demikian. Kejahatan yang berulang-ulang dilakukan dengan menggunakan kekuasaannya tak satupun terungkap sebagai kesalahan karena selalu didisain dengan rapi oleh bawahannya, seolah tindakan itu benar dan tepat. Bahkan kejahatan yang dilakukan kadang dianggap sebagai sebuah prestasi karena demikian pintarnya memoles melalui kebohongan yang beranak-pinak. Dan karena itulah, kebenaran kadang bukanlah kebenaran, melainkan kekuasaan.

Di suatu hari yang cerah di bulan Juli, laki-laki itu kembali mendisain sebuah kebohongan dari kejahatan yang dilakukannya. Mulanya media mengangguk-angguk memahami penjelasannya. Media pun mengutip utuh keterangannya, seperti membenarkan, tapi kemudian masyarakat seperti mulai curiga karena ada sejumlah penggalan yang janggal dan tak masuk akal.

Hari hari berikutnya orang mulai curiga dan kecurigaan itu terus bergulir makin meluas dan membesar. Suara-suara kritis bermunculan sampai ke sisi-sisi kekuasaan yang lebih tinggi. Kebohongan menampakkan jejaknya yang hitam. Laki-laki itu mulai terpojok, dan kebenaran pelan-pelan mendekat kepada kemurniannya. Masa kejayaannya mulai goyang, skenario yang disusun bak mozaik, satu demi satu terlepas dari rangkanya hingga memperlihatkan kebusukan yang ada di dalam.

Nasib malangnya telah tiba. Orang Minang berkata, malang sakijok mato, mujua sepanjang hari. Pohon kelapa itu pun rebah, koncek-koncek makin leluasa memanjatnya.

Dalam persidangan yang dinanti seribu mata dan diikuti jutaan manusia, laki-laki itu kelihatan tegar. Jalannya masih gagah dan patah-patah. Dia melangkah ke kursi terdakwa dengan tenang dan percaya diri. Tak tampak sedikitpun wajah menyesal dan sedih dalam rautnya. Pertanyaan-pertanyaan hakim dijawab dengan lantang, tegas, to the point. Dia menjawab apa adanya dan tak berbelit-belit. Ujung ceritanya di persidangan itu iya berkata. “Saya bertanggung jawab atas semuanya. Hukumlah berapa tahun saya mau di penjarakan.”

Baca juga  Rumah Tak Berjendela

Laki-laki itu berkata kepada dirinya. Aku perwira dan karenanya aku adalah ksatria. Aku bukan manusia lemah. Perjalananku akan menjadi tontonan generasi sesudahku. Bila aku mati, aku takkan memelas meminta hiba. Laki -laki tidak menangis untuk dirinya. Laki-laki menangis buat orang lain.

“Kalau akan mati ya mati juga, bukan karena belas kasihan.” Dalam pikirannya selalu teringat penggalan-penggalan syair Chairil Anwar orang Minang itu…. //aku ini binatang jalang, dari kumpulan yang terbuang//Tak perlu sedu sedan itu…. walau peluru menembus…. aku terus berlari//.

Dan kemudian… laki- laki itu pun terbelenggu lalu dijebloskan ke Rumah Tahanan. Tuhan memberi kemulian kepada orang yang dikehedaki dan menghinakan orang yang dikehendaki. Laki- laki itu di vonis hukuman delapan tahun penjara, karena dia belum pernah dihukum sebelumnya, dia tak berbelit-belit, dia punya tanggung jawab keluarga, banyak jasa kepada negara dan banyak lagi hal yang meringankan hukumannya.

Waktu pun berjalan. Laki-laki itu sudah hilang dari radar berita. Tak ada lagi media menyebut namanya. Hari-harinya dijalani dengan sepi. Teman dan anak buah pun kini tak lagi datang. Tak ada kata setia. Yang ada hanyalah kepentingan.

Anak isterinya pun hanya sekali-sekali datang, makin lama makin jarang dan akhirnya tak pernah lagi menjenguknya. Konon isterinya yang masih cantik dan muda sudah kawin lagi dengan pengusaha kaya. Tapi, ada seorang perempuan yang tak pernah absen menjenguknya setiap minggu. Perempuan itu berkerudung, dari balik jilbabnya yang tipis, terlihat wajahnya masih muda dan cantik. Dia tak berkata ketika ditanya media. Dia selalu berlalu setelah selesai berkunjung.

Hari berganti bulan, bulan pun berganti tahun. Kini sudah empat setengah tahun dia sudah berada di sana, di balik tembok yang dingin. Sebagian rambutnya mulai berwarna putih, tapi pikirannya masih terang. Dia takluk dengan hukuman, dia panyangek siso api (tawon yang tersisa dari sarangnya yang terbakar ), matanya masih tajam, bicaranya masih tegas, wibawanya tak surut, dia tak banyak bicara, orang jadi “ragu “ menilainya. Dia jenderal di kesatuannya, kini pun dia masih jenderal di antara para warga binaan.

Baca juga  Mi-Ré-Do-Sol … Sol-Mi-Ré-Do!

Satu November tahun 2026, pukul sepuluh pagi, di musim hujan yang basah, langit sejak subuh masih mendung. Matahari seperti malas-malasan bersinar, burung-burung pengembara belum tampak di langit, mungkin masih bercengkerama di sarangnya. Laki-laki itu terlihat keluar dari gerbang utama, pintu berbesi berderik dibuka lalu segera ditutup. Dia tak membawa apa apa, hanya kain yang melekat di badan. Di depan pintu itu, perempuan yang rutin menjenguknya selama hampir 5 tahun itu berdiri di hadapannya. Dia berkacamata hitam. Dan berhijab dengan baju yang longgar. Laki-laki itu tak sedikitpun menoleh ke belakang. Saat mata mereka bertemu, perempuan itu menghadiahkan sebuah senyum yang paling manis. Tampak sebagai pancaran jiwanya. Laki-laki itu pun menyahut dengan senyum tanpa bicara. Lalu mereka berpegang tangan menuju sebuah mobil yang menunggu. Tak ada yang tahu kemana mereka setelah itu, dan juga tak ada yang meliput peristiwa itu. Dunia memang begitu. Heboh di awal, sepi di ujung dan akan semakin sepi lagi setelah berpindah ke dunia lain.

Sejak saat itu kabar tentang dia itu tak pernah lagi ada. Pemerintahan pun berganti. Orang-orang yang dulu bersamanya bertugas sudah pensiun. Generasi baru tumbuh, mereka tak tabu lagi dengan kisah laki-laki itu karena ribuan kisah baru, drama baru telah dipentaskan setelah itu. Laki- laki itu kini tinggal menjadi sebuah kisah yang menjadi sejarah kelam bagi dunia hukum tapi menjadi pahlawan bagi yang mencintainya, karena dunia tak pernah satu warna. ***

.

.

Jakarta, 6 September 2022

.

.

Loading

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!