Cerpen, Joni Ariadinata, Kompas

Lampor

Lampor - Cerpen Joni Ariadinata

Lampor ilustrasi Kompas

5
(1)

Cerpen Joni Ariadinata (Kompas, 10 Oktober 1993)

PLASTIK-PLASTIK terapung, lumpur pekat kecoklatan, perkakas penyok, bangkai anjing dengan perut gembung, lalat hijau, sampah busuk. Amat biasa bahkan bagus buat dinikmati. Manakala air Kali Comberan meluap membentuk harmoni alam yang kelewat simetris dengan ilustrasi deretan gubuk primitif mirip kandang babi. Karya fotografi modern gemilang jika bisa membidiknya secara tepat-pasti: ketika anak-anak dekil mulai mandi, perempuan-perempuan mencuci piring dan daki, pantat-pantat separuh telanjang mengeluarkan kotoran. Secara serempak dan tetap: pagi pukul delapan, sore pukul lima. Kotoran dengan larutan bakteri kental lewat campuran air mengalir, adalah hal teramat sederhana buat jadi pikiran. Teramat sepele buat jadi pertimbangan.

Rumah tukang akik. Empat kali dua meter, beratap setengah genting dengan aksesori pelengkap tujuh buah plastik bekas taplak penambal bocor ditambah potongan-potongan eternit, dinding murni gedek. Di dalamnya lima manusia bersenyawa dengan barang-barang rongsokan dan harta keseharian. Jika malam, tiga anak tidur beralaskan tikar: Tito, Rohanah, dan Rois. Sedang di atas dipan kayu lapuk bergencetan Abah Marsum dan Sumiah. Denyut kehidupan dimulai pukul enam.

Tito mencangking karung dan pengait “dinas luar”, ketika Rohanah bangun untuk antre mengambil air bersih. Setengah jam kemudian Abah Marsum menggeliat saat mendengar suara kaleng berderak serta bantingan pintu, kasar dan keras. Batuk-batuk sebentar, kemudian meludahkan dahak kental. Sepagi ini Sumiah mengumpat, berjalan-jalan gusar dengan dada naik turun, “Bajingan tengik! Anak keparat. Pagi-pagi sudah mencuri….”

“Kau masih menyimpan uang Rohanah? Sial betul anak itu. Dia pikir, makan hanya cukup dengan punya beras sekilo. Minyak sekarang sudah naik empat ratus perak. Belum gula, sabun, dan mau makan dengan apa? Paijah sudah menagih kembali. Kau dengar Pak Tua? Uang pemberian Tito dibawa anak maling kesayanganmu!”

“Lawuh kemarin aku yang bayar,” Rohanah meletakkan ember di pinggir pintu belakang acuh tak acuh. Mengambil sapu dan mulai membereskan kecentang-perenangan bekas tidur semalaman. Tugas rutin. Sesekali ia memelototi wajah abahnya yang masam, bangun pagi langsung melinting tembakau apek sambil terus-menerus meludah.

“Hari ini tidak ada kopi!” Sumiah menghempaskan badannya pada bangku kecil dengan bunyi kreot. “Kau dengar Pak Tua? Hari ini tidak ada kopi!”

“Apa mulutmu tidak bisa berhenti perempuan buruk?”

Sumiah bangkit. Menyambar handuk dan ember kecil berisi sabun klenyit, membanting pintu dan pergi bersungut-sungut. Mandi.

“Cari Si Rois, Rohanah!” Abah Marsum membuang puntung. Dipan kayu berkereot saat kakinya menginjak lantai.

“Percuma, paling sudah bablas dipake nenggak KTI.”

“Cari Si Rois!”

Rohanah membanting sapu. Menyusul emaknya ke sungai. Percuma menyusul seribu perak di tangan Rois. Tak akan ketemu.

***

BAGI komunitas kampung model Comber, yang hanya memiliki tiga puluh empat gubuk mirip rumah, parade hingar-bingar adalah hal yang biasa terjadi. Terlebih pada saat matahari menciumi bau busuk pada tepian Kali Comber yang sarat sampah. Sumpah serapah, caci maki, suara bantingan piring yang sering berakhir dengan saling cakar diiringi gemebyarnya irama transistor murahan, menjadi upacara bangun pagi yang asyik. Hingga, tak ada satu pun yang menarik untuk didengar, apalagi ditonton. Kehidupan tumpang-tindih saling bergencetan satu sama lain barangkali telah menghilangkan batasan- batasan itu. Bahwa masing-masing telah cukup memiliki persoalan sendiri, tak perlu ditambah-tambah dengan mengurusi orang lain. Bahkan untuk ukuran perasaan dan tanggung jawab tingkah laku sendiri pun tak sempat.

Baca juga  Rumah Bawah Tanah

Dulu, penghuni kompleks perumahan elit Griya Arta nun jauh di seberang dibatasi tembok tinggi, pernah mencoba pura-pura jadi pahlawan dalam satu sidang orang pintar untuk memikirkan nasib orang-orang Comber. Yang jadi omongan rama, bagaimana pertimbangan moral sebuah ruangan dua kali tiga meter, dihuni minimal lima manusia dengan tidur tumpang tindih, bisa bikin anak? Orang Comber tak perlu berpikir seperti itu. Mereka hanya perlu makanan. Makanan bisa didapat jika bisa bangun pagi dengan segar, bisa “DINAS” ke mana saja. Terbukti jagoan-jagoan itu hanya kecele karena pada akhirnya tahu bahwa “pidato” bukan jenis makanan. Hingga tak heran jika anak-anak usia tanggung semodel Tito dan Rois, dengan tingkat kepenasaran tertentu bisa mengumbar matanya lewat ibu-ibu muda yang buang air, atau gadis-gadis mandi, atau apa saja dengan tanpa harus mencuri-curi. Mereka yang ditonton pun tak perlu malu.

Seperti juga Rohanah. Usia tiga belas bagi perempuan Comber adalah usia matang. Dalam arti sudah bisa memilih dua kemungkinan besar: jadi pelacur atau jadi pengemis. Makanya ia lebih suka menemui emaknya di kali ketimbang menyusul Rois. Meski, Sumiah mendamprat sengak, “Mau apa kamu ke sini? Apa pekerjaanmu sudah rampung?”

“Abah yang menyuruhku,” Rohanah menjawab enak. Matanya melompat-lompat mencari-cari sesuatu.

“Si Tua itu heh? Mau ngasih duit?”

“Ya,” Rohanah tertawa. Ia melihat Jumri melambaikan tangan. Sumiah buru-buru memasukkan sabun ke dalam ember. “Bener Rohanah? Tidak salah dengar? Heh, Si Pelit itu ternyata lebih cepat berubah pikiran kalau tidak ada kopi. Sekarang hari apa? O ya, Rabu!”

Rohanah cekikikan, “Ambil uangnya di Si Rois, katanya!”

“Anak jadah! Sampai kapan kowe mempermainkan orangtua heh? Awas kowe Rohanah! Awas!” Sumiah beringas. Tentu Rohanah tahu, makanya ia segera lari. Emaknya akan mengambil apa saja di dekatnya untuk dilemparkan. Rohanah masih sempat melirik ke arah Jumri yang tengah menurunkan pantatnya. Buang air.

“Keparat! Kali ini kowe yang harus dinas mengerti? Hey, kowe yang harus ngemis!” Sumiah berteriak-teriak. Lantas berjingkat pulang. “Betul-betul keparat. Tak tahu diuntung.”

Sumiah menapuk pintu dan masuk. Wajahnya semrawut. Ia melihat ke dalam masih kacau balau. Abah Marsum masih duduk sambil mengutak-atik kertas. Meramal buntut. Matanya mendelik setelah menyemprotkan dahak ketika Sumiah membanting ember sabun.

“Sudah nyapu tidak becus!” ia mengehempaskan pantatnya di atas bangku, “Heh, apakah kau pikir akan makan dengan berada di rumah terus, Pak Tua? Ke pasar kek, ke mana saja. Aku sudah tidak punya minyak tanah!”

“Nguntung ke Paijah. Aku sedang menunggu Parjo untuk urusan penting.”

“Parjo, Parjo, gundul bonyok. Apa sepenting itu Parjo hingga kau harus menunggu? Dengar Pak Tua, utang sama Paijah sudah dua ribu perak, yang penting sekarang minyak, bukan Parjo.”

“Perempuan goblok, kau tahu apa tentang Merah Delima heh?” Kalau jadi… hem, kita akan lekas kaya! Aku akan bangun rumah dengan lampu yang lebih besar dari yang ada di Griya Arta sana. Biar mereka nyahok! Kemudian, aku akan….”

“Alaah sudah! Dasar pembual.”

***

TAK tahan dengan kesumpekan, terpaksa Sumiah mengambil sapu. Bertengkar dengan laki-laki ini tak akan pernah menghasilkan apa-apa. Otaknya sudah budek. Tiba-tiba, ia teringat bahwa hari ini hari Rabu. Rohanah tersenyum, “Apa kau sudah mendapatkan inpo Pak Tua?” nada suaranya tidak lagi kasar. Sumiah melipat tikar sambil melirik kerjaan suaminya yang masih anteng membayangkan rumah sehebat Griya Arta.

Baca juga  Pada Jam 3 Dini Hari

“Heeeh perempuan, kamu bilang enggak punya duit!”

“Wee lah tololnya. Kalau kamu menang kan aku juga melu senang to? Lagian, apa kamu punya duit? Beli minyak saja tidak becus,” senyum Sumiah hilang. Kembali nyerocos.

“Ya sudah, aku cuman mancing-mancing kalau kamu diam-diam masih menyembunyikan uang. Hem, kelihatannya wangsit kali ini memang benar. Coba saja bayangkan, dalam mimpi itu aku dikelilingi tiga ekor kalkun! Kalkun Arab. Setelah dikutak-kutik, ternyata kena pada tujuh delapan dengan ekor dua tujuh. Pokoknya untuk yang ini, aku harus bisa. Aku akan mengandalkan Parjo untuk setidaknya satu kupon.”

“Terserah. Mau Parjo mau Buto Ijo lethek, aku sudah tak mau tahu. Yang penting sekarang minyak! Aku tak mau kelaparan hanya karena Parjo!” Sumiah buru-buru merampungkan pekerjaannya. Bangkit.

“Aku mau ke Paijah. Akan kubilang semua utang dibayar nanti sore dengan tambahan selitar minyak kali ini. Aku tak mau tahu bagaimana caranya kau mendapatkan uang itu Pak Tua.”

Dengan bersungut-sungut Sumiah pergi. Setelah agak jauh, ia menoleh ke belakang. Hati-hati. Kemudian menyelinap. Tidak ke Paijah. Tapi ke pasar. Membeli dua lembar kupon.

***

HINGGA pukul sebelas Parjo memang tak muncul. Abah Marsum pergi setelah membanting gelas karena Rohanah membikinnya mangkel. Tidak ada makanan, juga Sumiah entah ngelayap ke mana. Tapi Rohanah datang membawa nasi bungkus dan memakannya sendiri dengan enak. Iri karena lapar, Abah Marsum mengajaknya bicara, “Tentu kau masih menyimpan uang, Rohanah. Belikan Abah sebungkus lagi, pake tahu.”

“Nyak! Enggak mau. Uangku hanya tinggal tiga ratus buat beli viva. Bedakku habis.” Rohanah buru-buru menjauh. Menjaga nasinya agar tidak terjangkau Abah.

“Heh, bukankah itu uangku? Uang dari si Rois?”

“Enak saja. Jumri yang kasih aku lima ratus.”

“Jumri? Laki-laki ndesut itu? O ya, kalau begitu tolong kamu pinjamkan saja sama Jumri. Jumri senang kamu? Bagus. Tidak apa-apa.”

“Nyak! Pergi saja sendiri.”

“Kadal!!”

Rohanah lari. Tapi tidak jauh. Ia mendengar suara krompyang gelas. Abah keluar dengan marah dan berteriak, “Rohanah! Keparat awas kamu. Awas kalau aku nyahok kowe sama Jumri!” kemudian pergi. Rohanah cekikikan, lantas menghabiskan nasinya. Ia senang jika abah tua itu tidak di rumah.

Emak tua pasti marah besar dengan gelas itu. Tapi tak penting, meski Abah tak akan mengaku. Rohanah terlentang di atas dipan. Suara kereot-kereot menandakan ia gelisah. Jumri itu gagah. Dadanya sungguh kekar jika sedang mengangkati barang rongsokan. Film di RCTI juga—yang ditonton di rumah Paijah dengan bayar dua ratus perak—badannya seperti Jumri. Adegannya sungguh mendebarkan seperti gambar-gambar di depan bioskop ujung pasar. Dan tadi, Jumri memberinya uang lima ratus. Sungguh malu ia, sampai-sampai wajahnya terasa panas. “Kalau mau, Anah akan kuajak nonton pilem. Mau kan Anah?”

Akhirnya Rohanah memang bermimpi. Ia tersentak manakala dipan di sampingnya berderak. Tito, baru saja menghempaskan tubuh setengah telanjang. Kotor dan bau. Ia memencet hidung Rohanah, “Bangun Anah. Sudah jam lima.”

“Anak keparat! Ya ampuuuun, gelas ini. Kau pikir gelas ini kowe yang beli heh? Sudah seharian ngorok. Bikin pusing saja,” suara Sumiah menggeledek. Sumiah meletakkan jerigen minyak serta tas kresek berisi tempe dan ikan asin dengan kasar, “Sana minggat Rohanah!”

Baca juga  SRI PANGGUNG

“Kucing yang kudu minggat. Besok kuganti!”

“Cukup belanjaan itu saja ya, Mak? Uangku tinggal seribu. Pilemnya bagus. Aku mau nonton sama Agus.”

“Iyo, Le, sudah sana mandi dulu. Bocah bagus masa dekil kaya begitu. Awas kalau tidak diganti Rohanah!”

“Pilem bagus. Besok saja kamu kuajak. Hayo, bantu Emak sana.”

Tito berangkat mandi. Anak yang baik, begitu pikir Sumiah. Tidak seperti yang lain kecil-kecil sudah belajar jadi bajingan. Rohanah belum-belum sudah menunjukkan bakat jadi pelacur dan tingkahnya semakin menyebalkan: pelit ndekik, dan suka menipu. Sedang Rois bolak-balik digebuki orang karena nyolong, nyopet, sudah berani mencolek pantat perempuan mandi, dan doyan KTI; itu baru sebelas tahun! Persis bapaknya. Kalau saja dari dulu ia tahu, pasti tak akan ragu-ragu untuk mencekik leher keduanya saat masih bayi.

“Isikan minyak itu ke dalam kompor! Pak tua ke mana heh?”

“Mana aku tahu,” Rohanah menjawab sengak.

Hampir ketika semua rampung Abah Marsum muncul. Merokok “bentul” yang dihisapnya dengan nikmat dan hati-hati. “Aku gagal mendapatkan kupon itu. Sayang, padahal aku yakin nomornya jitu. Tapi Parjo menjanjikan kepastian Merah Delima itu besok pagi. Aku lapar Bune,” Abah Marsum menghabiskan isapan terakhirnya pelan. Membuang sisa puntung dengan pandangan berat.

“Sudah, Pak Tua! Bosan aku mendengar bualan yang itu-itu juga. Kalau mau makan, makan saja. Jangan banyak-banyak. Leee… Tito, makan dulu, Le. Emak wadahkan yang banyak ya? Heh, kowe mau makan tidak Rohanah?”

“Rois belum pulang, Mak?” Tito menerima piring yang telah diajang.

“Tidak usah dipikirkan!”

***

LAMPU minyak telah dinyalakan. Tito keluar sedang Rohanah sudah tidak perlu ditanya lagi, jika tidak nonton TV, maka ia akan bergerombol dengan yang lain di depan warung Paijah. Tak ada yang perlu dikerjakan selain tidur. Hanya dengan tidurlah keluarga semacam itu bisa tentram dan sunyi.

Pukul sebelas Tito pulang ketika lampu sudah padam. Langsung menggeletak di tikar, seperempat jam kemudian muncul Rohanah. Rois memang tidak pulang. Keduanya sama dijejali pikiran tentang film. Terlebih Tito, ia yang tak pernah seberani kawan sebayanya, adegan-adegan itu teramat menyiksa. Pada saat itulah, setengah tidur ia mendengar lamat derit-derit dipan jauh di atas kepalanya dengan irama yang begitu ia hafal. Mata Tito menderita dan langsung terbuka. Syaraf-syarat ketegangan merayapi tubuhnya, pelan semakin meninggi. Gendang telinga Tito semakin peka menangkap hitungan demi hitungan. Naik atau turun. Ada darah mengalir, ada tenaga yang sulit dimengerti. Merasa tak tahan ia melirik ke tubuh adiknya, barangkali Rohanah juga tidak tidur dan ikut mendengarkan. Ingin rasanya berbagai rasa. Matanya tak bisa menangkap, tapi mungkin adiknya telah tidur. Setengah jam kemudian sepi. Tito menghela napas berat dan dalam. Menunggu. Lantas beringsut menghampiri Rohanah…. ***

.

.

Yogyakarta, Juni-Agustus 93

.

.

Catatan:

Lampor, adalah mahluk halus yang beranak (Depkdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989).

.

Lampor. Lampor. Lampor. Lampor. Lampor. Lampor. Lampor. Lampor. Lampor. 

 338 total views,  5 views today

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!