Agus Noor, Bernas, Cerpen

Tokek

Tokek - Cerpen Agus Noor
3.8
(4)

Cerpen Agus Noor (Bernas, 24 Mei 1998)

SEEKOR tokek jatuh, entah dari mana, tepat mengenai ubun-ubun Mang Kosim, membuatnya tergeragap, heran. Soalnya, di dekat Mang Kosim berdiri, tak ada tembok atau pohon atau tiang listrik sekalipun. Lalu dari mana jatuhnya tokek itu? Jatuh begitu saja dari langit?

Inilah yang membuat Mang Kosim tak habis pikir, lalu melesat berbagai firasat. Ia menganggap itu sebagai peristiwa gaib. Sebuah firasat yang tak boleh diabaikan. Soalnya, bagaimana mungkin tokek itu jatuh begitu saja dengan sendirinya dari langit? Ia ingat pada keyakinan orang-orang tua dulu kalau seseorang kejatuhan cicak, itu pertanda ada kerabat yang hendak dijemput maut. Ada petaka. Lalu kalau terjatuhi tokek, apa juga itu sebuah pertanda? Entahlah, ia tiba-tiba saja menghubungkan firasat jatuhnya cicak itu dengan jatuhnya tokek yang barusan menimpanya. Mungkin karena kedua binatang itu sejenis, mirip, hingga ia menyamakan begitu saja.

“Pasti ada orang mati,” batinnya. Dan ia, sekali lagi entah kenapa, begitu percaya oleh kesimpulannya sendiri. Kalau cicak itu kecil, maka itu sebagai pertanda akan ada kerabat meninggal dunia. Artinya, itu hanya menyangkut orang-orang sekerabat dekat. Boleh dikata itu hanya firasat untuk urusan yang kecil-kecil saja, karena hanya menyangkut keluarga. Nah, kalau ini tokek, lebih besar dari cicak, apakah ini pertanda sesuatu yang lebih besar ketimbang urusan keluarga? Apakah ini pertanda akan ada orang besar meninggal dunia. Kalau bukan orang besar, setidaknya ini merupakan pertanda untuk sesuatu yang lebih besar yang tidak sekadar menyangkut hajat kerabat dekat? Mang Kosim, tergoda oleh asumsi itu. Orang besar? Siapa dia?! Pikiran itulah, yang membuat Mang Kosim tak begitu saja melupakan peristiwa jatuhnya tokek itu. Peristiwa yang selalu diceritakan pada banyak orang. Apalagi ketika ia merasa yakin, bahwa peristiwa kejatuhan itu selalu mengusik mimpi-mimpinya, seakan mendesakkan firasat yang gawat. Membuat Mang Kosim tambah yakin, bahwa memang ada orang besar yang akan meninggal dunia.

Baca juga  Kota Ingatan

“Kalau tidak meninggal, mungkin ini pertanda keruntuhan,” begitu Mang Kosim selalu mengemukakan perasaannya.

“Mang Kosim terlalu membesarkan masalah,” kataku.

“Ini memang masalah besar,” katanya, ngotot.

Saya tertawa.

“Kamu boleh tak percaya, tapi saya yakin ini firasat!”

“Firasat apa?”

“Ya, itu. Akan ada orang besar mati!”

“Orang besar itu siapa?”

“Nah, itulah misterinya. Dan misteri ini yang membuat saya penasaran. Saya jadi ingin membuktikan, apakah firasat saya ini benar atau tidak!”

“Kira-kira benar tidak?”

“Bukan soal benar atau tidak, Gus. Tapi soal kamu percaya pada firasat atau tidak.”

“Terus terang, tidak.”

“Itulah soalnya.”

“Kok bisa?”

“Kamu tak percaya, tapi saya yakin dengan firasat itu. Seakan peristiwa itu tinggal dihitung dengan hitungan suara tokek ….”

Begitulah. Mang Kosim jadi suka memburu tokek. Tidak untuk dibunuh, tetapi untuk dia tunggu tokek itu berbunyi. Mang Kosim suka lama duduk dekat rumah atau pohon yang ia anggap ada tokeknya. Begitu tokek itu berbunyi, maka Mang Kosim akan mengikuti suara tokek itu dengan gumam.

“Tokek.”

“Mati …”

“Tokek.”

“Tidak …”

“Tokek.”

“Mati …”

“Tokek.”

“Tidak …”

Dan Mang Kosim akan terlihat kecewa bila suara tokek itu berhenti pada hitungan tidak. Tapi sering juga berhenti pada hitungan mati. Dan bila suara tokek itu berhenti pada hitungan mati terlihat wajah Mang Kosim jadi sumringah, bungah dan bergairah. Seperti bunga wijaya kusuma yang perlahan-lahan merekah. Aku yang sering dipaksa Mang Kosim untuk ikut mendengar suara tokek seperti itu jadi heran juga, apa sesungguhnya yang dinikmati oleh Mang Kosim dengan firasat semacam itu. Okelah, kalau pun firasat itu betul, apa sebenarnya keuntungan langsung Mang Kosim dengan peristiwa meninggalnya orang yang disebutnya orang besar itu? Ini karena aku tahu, Mang Kosim adalah orang yang praktis. Artinya, ia hanya memikirkan segala sesuatu sejauh hal itu berkaitan langsung dengan dirinya, terlebih-lebih bila itu menguntungkannya secara konkret!

Baca juga  Mimpi Aneh Kalimance

Itulah yang membuat saya, juga beberapa orang yang mengenal Mang Kosim tambah penasaran ketika Mang Kosim jadi rajin mendengar radio, nonton televisi atau membaca koran. Kami mengenal Mang Kosim, bukanlah orang yang suka membaca koran. Apalagi mendengar berita radio. Sama televisi ia juga tak begitu ngebet. Lalu kenapa ia kini jadi rajin ikut nonton televisi di rumah tetangga?

“Menunggu berita kematian itu,” jawabnya pendek, setiap ditanya soal kebisaaan barunya itu. Lantas ia pasti akan bercerita dengan wajah serius, betapa belakangan ini ia kerap kejatuhan tokek. Katanya, sering kalau ia berjalan, tiba-tiba saja seekor tokek jatuh menimpa ubun-ubunnya. Ya, begitu saja, seakan-akan tokek itu jatuh dari langit. Pernah juga ketika ia makan di warung, mendadak seekor tokek jatuh tepat di piringnya, membuatnya tergeragap, bahkan, katanya lagi, ketika ia tidur dan bermimpi kejatuhan tokek, yang membuatnya gelagapan bangun, tahu-tahu tokek itu benar-benar merayap di wajahnya. “Bayangkan, tokek itu seakan meloncat dari dalam mimpi,” katanya yang tentu saja membuat saya geleng-geleng kepala.

“Ah, itu kan karena rumah Mang Kosim tak terurus hingga jadi sarang tokek,” kataku, sambil tertawa dan ngeloyor.

Saya kira, Mang Kosim pasti sedang bertaruh dengan seseorang, tentang kematian orang besar itu. Begitu aku mencoba menyimpulkan. Karena aku tahu Mang Kosim gemar sekali totohan, bertaruh, untuk hal-hal apa pun yang bisa dijadikan taruhan. Sepakbola, pertandingan badminton antar-RT, nomor kendaraan yang melintas, warna baju yang akan dipakai tetangga dalam sebuah resepsi dan hal remeh-remeh lainnya, selalu dijadikan objek taruhan Mang Kosim. Rasa-rasanya, Mang Kosim memang hidup dari hasil taruhan semacam itu. Karena, menurut orang-orang, Mang Kosim memang lebih sering tepat tebakannya. Apakah Mang Kosim kini sedang bertaruh soal mati tidaknya orang besar itu? Atau mungkin bertaruh jatuh atau tidaknya orang besar itu dan karenanya Mang Kosim jadi begitu terobsesi dengan pertaruhan itu? Ya, semacam obsesi akut orang yang suka berjudi dan begitu mengharap kemenangan.

Baca juga  Tiga Lingkaran

“Bukan, bukan itu,” Mang Kosim terlihat begitu tak senang, ketika aku menyinggung soal kegemarannya bertaruh itu, ketika kami bertemu di kios koran Pak Jauhati. Mang Kosim begitu serius menyimak berita halaman pertama setiap koran.

“Lalu soal tokek itu bagaimana.”

“Saya masih sering kejatuhan tokek!”

“Kenapa tidak ditangkap saja, dan dibikin pepes? Lumayan kan dalam situasi krisis semacam ini? Menghemat lauk minimal,” aku menggoda.

Tapi Mang Kosim tak terlalu terganggu dengan ejekanku. Ia malah tambah serius menatapku. “Ini jelas pertanda bahwa kematian itu makin dekat. Saya yakin!” Lantas Mang Kosim kembali begitu teliti dan khusuk membaca halaman koran. Anehnya, ia cuma membaca halaman satu.

“Memangnya siapa yang akan mati, Mang? Kok dimuat di halaman depan koran?” Mang Kosim sepertinya tak suka dengan pertanyaanku.

“Orang besar!”

“Iya, orang besar itu siapa?”

“Kamu itu pura-pura tidak tahu atau cuma menggodaku?” sungutnya. Kemudian pergi.

Aku tersenyum. Menggeleng. Kemudian, seperti biasa, numpang membaca koran di kios Pak Jauhati itu. Entah kenapa, aku seperti digoda untuk mencari berita kematian itu, seakan mencoba merasakan sensasi macam apakah yang dirasakan Mang Kosim ketika berharap berita kematian macam itu benar-benar ada.

Pada saat suntuk membaca itulah aku begitu terkejut, karena seekor tokek tiba-tiba saja jatuh tepat menimpa ubun-ubunku. Aku tergeragap, sementara tokek itu segera lari menghilang. Aku mendongak dan mendapati langit kelabu yang seakan-akan tampak seperti rahang raksasa yang menganga. Apakah tokek tadi jatuh begitu saja dari langit itu? Sesuatu mendesis dalam hati, apakah ini memang firasat …. ***

.

.

(Antologi Cerita Pendek Indonesia di Yogyakarta, Perempuan Bermulut Api, Balai Bahasa Yogyakarta, 2009)

.

.

 267 total views,  9 views today

Average rating 3.8 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!