Cerpen, Kedaulatan Rakyat, Mustofa W Hasyim

Perempuan Bermulut Api

Perempuan Bermulut Api - Cerpen Mustofa W Hasyim
1
(1)

Cerpen Mustofa W Hasyim (Kedaulatan Rakyat, 15 Januari 2006)

MULA-MULA tidak ada yang tahu kalau mulut perempuan itu mengeluarkan api saat tidur. Perempuan itu sendiri tidak tahu. Apalagi ia hidup sendiri. Tidak punya suami. Tidak anak. Tinggal di paviliun yang merupakan bagian dari rumah kuno yang besar. Adik dan kakak perempuan itu telah berumah tangga. Mereka ada yang telah sukses hidup, punya rumah sendiri, ada yang masih tinggal di rumah keluarga. Tinggal perempuan itu yang belum berkeluarga.

“Untung dia tidak punya suami dan anak-anak. Kasihan mereka kalau ada. Pasti sudah hangus wajah mereka disembur api saat tidur berdekatan dengan dia.”

“Ya, untung kakak saya dulu tidak jadi melamar dia.”

“Adik saya malahan sudah bertunangan. Untung adik saya menemukan tanda-tanda tidak baik pada diri dia kemudian membatalkan tunangannya.”

“Untung saya sendiri mendapat tugas ke luar Jawa sebelum hati saya lengket dengan dia.”

Begitu komentar mereka saat ada yang tahu perempuan itu selalu mengeluarkan api dari mulutnya saat tidur. Tidak sengaja ada yang tahu hal ini.

Satu hari keluarga besar ini berkumpul karena akan mengadakan selamatan seribu hari meninggalnya lelaki kepala keluarga, Mbah Kertodigdoyo. Semua anak, cucu, bahkan buyut Mbah Kertodigdoyo datang ke rumah besar.

Mereka menginap. Memilih kamar mereka dulu ketika kecil. Semua masih terawat rapi. Dengan sabar anak-anak mendengarkan cerita dan kisah lucu ketika orang tua mereka saat kecil mendiami kamar itu. Benda-benda pengingat kenangan masih tertata rapi. Foto-foto. Buku kesukaan. Piala atau medali. Mainan.

Ada anak Mbah Kertodigdoyo yang beranak tujuh. Anak sulung Mbah Kertodigdoyo. Kamar dia tidak muat. Ia minta izin agar dua anaknya tidur di kamar adik perempuannya yang masih hidup sendiri.

“O, silakan, silakan. Tapi banyak nyamuk lho.”

“Nanti tubuh mereka digosok dengan krim anti nyamuk.”

Dua anak itu terlelap tidur ketika mereka tiba-tiba terbangun. Mereka mendengar suara aneh. Seperti bunyi emposan api milik pande besi. Keduanya mencari sumber suara itu. Mereka terkejut ketika melihat bagaimana tante mereka yang tidur terlentang itu mulutnya mengeluarkan api. Saat napas dikeluarkan api itu menyala membesar lalu lenyap saat perempuan itu menarik napas. Begitu seterusnya.

Baca juga  Raja Terbang

Api menyala saat mengeluarkan napas. Padam saat napas ditarik dalam-dalam.

Dua anak itu berpandangan. Diam-diam membuka pintu. Kembali ke kamar ayahnya. Memberi tahu kejadian aneh itu.

“Sungguh?”

“Ya, Yah, kami berdua melihatnya.”

“Mari kita buktikan.”

Mereka mengintip dari celah pintu. Nyala api yang keluar dari mulut terlihat berkali-kali.

“Benar kan, Yah.”

Lelaki itu mengangguk. Ia memerintahkan anaknya tetap tidur di kamar paviliun itu. Disuruh pura-pura tidak tahu kejadian itu.

“Tapi pintunya jangan dikunci ya,” bisik sang ayah.

Dua anak itu mengangguk.

Anak sulung itu mengetuk kamar lain. Memberi tahu adik-adiknya yang lain. Mula-mula mereka tidak percaya. Tetapi setelah mengintip celah pintu, semua menjadi percaya. Mereka heran. Mengapa mulut saudara perempuan mereka bisa mengeluarkan api seperti itu?

Di teras depan, dengan suara lirih mereka memperbincangkan itu.

“Apakah ini kutukan?”

“Saya kurang tahu.”

“Menurut saya perlu kita selidiki dulu, apa sih yang selalu dilakukan oleh saudara kita. Jangan-jangan dia sering menyakiti hati para tetangga. Lalu ramai-ramai tetangga mendoakan yang jelek-jelek. Nah, kemudian adik kita mengalami nasib jelek, mulutnya mengandung api.”

“Tapi kita tidak punya waktu untuk melakukan penyelidikan.”

“Ada sedikit waktu yang kita miliki.”

“Kapan?”

“Saat kita melangsungkan upacara nyewu kan banyak tetangga datang. Coba kita amati bagaimana sikap dan reaksi tetangga terhadap kehadiran adik kita. Dan sebelum upacara, ditambah setelahnya kita menyebar, menyerap informasi, dan memancing-mancing tetangga, apa ada yang tahu kenapa adik kita bernasib buruk seperti itu.”

“Atau sekalian malam ini kita ramai-ramai jajan bakmi di sudut kampung. Kan banyak orang di sana. Sambil menunggu bakmi pesanan masak, kita menguping, dan ikut larut dalam obrolan. Kalau masih belum cukup, malam ini kita dolan ke gardu, ngobrol dengan teman-teman yang bertugas meronda kampung.”

Baca juga  Menyumpal Keran dengan Koran Bergambar Pahlawan

Mereka sepakat. Anak-anak Mbah Kertodigdoyo yang laki-laki malam itu keluar rumah. Nongkrong di tempat Lik Sarman menjual bakmi. Tetangga yang kebanyakan dulu teman sepermainan mereka dengan ramah mengajak ngobrol.

“Wah, Mas Agus ini berubah betul. Dulu kan kurus kering. Sekarang gemuk betul. Makan apa saja to Mas setiap hari?”

“Lima dua satu,” jawab Agus yang kemudian tertawa bersama tetangga.

Kenyang makan bakmi, rombongan bergerak ke gardu. Sudah banyak yang datang. Suasana menjadi riuh ketika mereka memancing canda. Masih ada wedang jahe separo ceret dan dua piring gorengan. Ngobrol sampai pukul tiga.

Dalam perjalanan pulang mereka merasa kecewa. Tidak ada satu pun tetangga yang tahu kalau saudara perempuan mereka mengeluarkan api saat tidur. Jadi sama sekali tidak ada yang tahu apa penyebabnya. Demikian juga hari-hari berikutnya, saat upacara dilakukan, dan setelah itu.

“Jadi keadaan adik kita itu masih menjadi rahasia keluarga kita.”

“Kalau begitu, jangan sampai bocor.”

Setelah anak-anak Mbah Kertodigdoyo pergi, pulang ke rumah masing-masing, rahasia itu bocor juga ke tengah kampung. Anak-anak menjadi penyebar berita itu. Dengan polos, anak yang pernah tidur di kamar tantenya, sebelum pulang ke rumahnya, sempat bercerita kepada seorang teman di kampung itu. Dari anak-anak kampung berita ini menyebar ke telinga orang dewasa.

Para tetangga yang tidak mempercayai berita itu, suatu malam mengintip. Dengan mengendap-endap mereka berusaha untuk melihat sendiri. Ada yang mengintip lewat lubang kunci, lewat korden yang tidak terlalu rapat ditutup dan ada yang mengintip lewat atas. Lewat ventilasi. Kamar itu gelap karena lampu dipadamkan. Ini memudahkan pengamatan mereka.

Betul, mereka melihat nyala api dari pembaringan perempuan itu.

Baca juga  KAYU LAUT

“Jadi cerita anak-anak itu betul.”

Berita pun menyebar cepat. Lengkap dengan komentar macam-macam.

“Mungkin dia mewarisi kesaktian Mbah Kertodigdoyo.”

“Tapi mungkin pula ini pertanda kutukan.”

“Kutukan?”

“Ya, Yu Sinten kan dikenal nylekit kalau omong. Banyak orang tersinggung dan telinganya merah kalau mendengar omongan dia. Karena sudah keterlaluan maka ia dikutuk Tuhan menjadi perempuan bermulut api seperti itu.”

Anehnya, perempuan itu tidak tahu kalau setiap malam mulutnya mengeluarkan api saat tidur. Ia hanya heran kenapa tidak ada lagi keponakan atau prunan yang mau tidur di kamarnya. Perempuan itu juga heran melihat tatapan mata semua tetangga yang memancarkan sinar curiga dan tanda tanya.

Ketika kampung itu heboh dilanda desas-desus mengganasnya hantu cekik, diam-diam penduduk sekitar menduga perempuan itu pelakunya. Kabarnya hantu itu ketika dikejar-kejar suka menghilang di kebun belakang rumah besar itu.

“Pasti dia ingin meningkatkan ilmunya.”

“Pasti. Sebelum korban bertambah banyak kita harus cepat bertindak.”

“Tapi kita harus cari kesempatan. Kapan dia lengah, kita sergap.”

Malam itu, Yu Sinten ingin membeli bakmi di pasar. Ia berjalan sendirian, lewat lorong kampung. Lewat dekat tembok makam. Ia heran, seperti mendengar suara-suara aneh dari dalam makam. Ia berhenti, melongok, melihat apa yang terjadi di dalam makam. Tiba-tiba orang-orang bermunculan. Meringkus dia. Menggebuki dia.

“Hantu cekik telah tertangkap.”

“Habisi dia.”

“Ayo, tusuk pakai bambu kuning runcing agar kesaktiannya hilang.” Teriakan dan tusukan membuat Yu Sinten menggelepar sejenak. Lalu malam terasa bertambah kelam. Sangat kelam. ***

.

.

(Antologi Cerita Pendek Indonesia di Yogyakarta, Perempuan Bermulut Api, Balai Bahasa Yogyakarta, 2009)

.

Perempuan Bermulut Api. Perempuan Bermulut Api.

 243 total views,  16 views today

Average rating 1 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!