Bernas, Cerpen, Joni Ariadinata

Keluarga Maling

Keluarga Maling - Cerpen Joni Ariadinata
0
()

Cerpen Joni Ariadinata (Bernas, 14 Juni 1998)

TAWA Eva mirip paha sapi yang kau impikan tahun lalu. Kalian toh pernah juga baca satu berita di surat kabar, halaman dua kukira, tentang seorang anak Korea Utara yang mati. Lalu dipotong dagingnya oleh bapak, ibu dan kakak semua. Jadi makanan empuk (siapa bilang mereka jahat?). Itu memang kisah yang tak lucu! Kudapat kabar itu dua minggu lalu. Tapi kabar dari Ikong di pelabuhan sungguh objektif. Ia menonjok muka Ahok seraya bilang—dengan sisa bau bacin di bajunya, tentu, kemarin ia muntah berwarna hijau seperti tahi kerbau dan fuh! Pahit sekali—: “Kau tahu bahwa semua ini brengsek? Tak ada kapal datang berisi barang. Tapi yang kulihat delapan mayat serdadu ramai mengambang.”

“Barangkali mereka memihak kita?”

“Persetan dengan barangkali! Bertempur dan terus bertempur barangkali saking lelahnya bertempur hingga harus mati sendiri.”

“Jadi masih tetap juga barangkali? Heh ….”

Entah apa yang ada di benak presiden ketika emak menggodok batu. Seperti cerita zaman purba, kata Bapak, “Kisah paling adil di dunia”; hingga saking kagumnya pada hikayat adil, jujur saja kalian katakan, bahwa anak kami paling bontot dinamakan Umar. Salahnya Umar di Jazirah Arab sudah mati. Umar yang di sini juga akhirnya pantas mati. Pada saat itulah, hari Rabu, emak mengerang galak seraya menunjuk, “Umar tak punya daging!” Astaga. Apa maksudmu, Emak? Apakah dunia di sini sudah kuwalik dan gila? Toh tak mungkin Ikong mencuil adik. Tak tega Ahok mengkhianati Emak. Juga Bapak. Hingga Bapak langsung menggambar Emak lalu bilang sangat kasar, “Sum, izinkan aku untuk maling!”

Hening. Malam kilat petir kulihat Emak sakit membengkak. Ada Guntur seperti suara bentakan Tuhan. Subuh hari Bapak tiba membawa dua gantang jagung bubuk campur tahi ayam—tengik. Pakan ayam ras, katanya jelas sambil ngakak puas. Ahok lagi-lagi yang lapor begitu, siang harinya: “Sssst, kulihat banyak pelayat berjalan kaki menuju kuburan Cina. Barangkali digorok Bapak. Aku jadi takut!”

“Kau bilang barangkali?” Ketawa. Ahok heran seraya melongo.

“Kukira sudah jelas.”

Tentang Eva. Mungkin ini justru kisah paling penting dan sempurna untuk awal sebuah paragraf novel. Eva lahir sebulan kemudian, ketika Ikong akhirnya ikut juga merampok bersama Bapak. Astaga. Apakah Tuhan tidak takut menciptakan Eva hidup pada dunia yang kuwalik? Kulit kemerahan, mata mendelik dan mulut mencucup-cucup tetek Emak yang kian peot. Garing. Dasar Tuhan memang ajaib. Padahal kulit perutku saja (yang hanya untuk keperluan sendiri, tanpa harus disedot oleh anak), nyaris lengket dengan punggung: rasanya perih lapar dan ingin mati. Tapi Eva terus hidup. Teriak-teriak keras setiap hari. Seperti sekarat. Aku ngamuk dan ingin minggat. Tak tega. Tapi apakah itu tidak cukup memalukan?

Baca juga  Ular Randu Alas

Dulu—sebelum situasi berubah sulit—aku merasa pulang paling pintar. Kubawa kisah-kisah heroik tentang perjuangan politik di pusat kota, kegigihan para kawan dan tetek-bengek wujud kepahlawanan. Kubilang, “Presiden kita pasti turun. Kamilah kelak yang akan memimpin di barisan depan. Menuju kemakmuran.” Tapi siapa nyana, waktu ternyata berjalan miring dan sial—terpaksa aku menyebut begitu. Kabar kepastian selanjutnya dari universitas partikelir yang teramat kutunggu tak juga datang—ah, mungkinkah kawan-kawan lupa? Bajingan tengik. Kudengar Bapak menendang pintu depan untuk kesekian kalinya hingga ambrol.

“Jangan sampai besok Eva jadi pelacur!” katanya. Kuulangi perkataan Bapak dalam hati. Suara Bapak memang seperti silet yang menyayat-nyayat korban PKI dalam buku sejarah SD. Pandangan Bapak yang sinis semenjak hawa panas kekacauan merembet ke tempat ini dan nasibku yang masih tetap melongo goblok di rumah, meruntuhkan lebih banyak keampuhan teori yang kupelajari dan kuperjuangkan dengan gagah. Dan akhirnya Bapak betul. Bapak tidak bodoh.

Zaman baru ditandai oleh gelombang pemikiran bertubi-tubi. Ayam-ayam kemakmuran, sapi kebangkitan, kambing hitam keadilan, babi-babi rakus, bersatu-padu orang-orang dungu—nyaris setiap hari atas nama mereka—jadi konsep yang ditebar menyertai datangnya jutaan lalat hijau di gedung MPR baru. Bau busuk. Tak terasa di pemandangan jalan ambruk, jembatan melengkung, gedung retak dan ribuan ratusan ribu makhluk ajaib paling penting serentak bangkit menyanyikan “pahlawan yang kami lupa”. Maaf demi maaf! Slogan heroism di televisi, gambar orang aneh jadi suci, tentang malaikat itu, koran, slide iklan berisi deret program seratus partai; tiba-tiba jadi jalan baru. Suara megafon dalam menari billboard selalu berkata begini. “Kalian bandit, inilah saatnya Anda bertobat menjadi guru”.

Bersama ledakan petir yang menjengkangkan seperempat milyar rakyat tiba-tiba lapar antre beras lantaran tak paham konsep republik. Aneh. Harga-harga terus melangit, bahkan pangan tetap lenyap. Demi Tuhan, untuk apa segala peristiwa dan korban darah? Padahal pembodohan adalah setan dengan tugas paling utama mencekik. Menebas moral. Menjadi maling. Dan salahnya, mereka yang dibodohi adalah mereka yang seperempat milyar itu.

Baca juga  Sapu Tangan dari Kayeli

Itulah setidaknya, kabar mendadak yang dibawa dengan mimpi kita paling jujur diterjang peluru. Seratus kawan lain seidealis kau lenyap ditelan tanah, kau tahu? Barisan kita nama Ipon, kawan seperjuangan di kelas, pacar paling cantik seantero bumi dan universitas partikelir yang tiba datang menggondol telegram semacam beledek; “Datanglah, Pacar! Pejuang yang menumbangkan keangkuhan presiden tinggi kita sendiri. Kawan-kawan lama pulang ke desa, sebagian banyak masih tersanjung pujian kemenangan dan lengah. Itulah, Pacar! Segerombolan bayangan barisan tengik yang kita terjang dulu, tiba-tiba merebut megafon. Menjadi corong, menjual konsep; menghujat sama apa yang kita hujat, memerangi kebusukan yang dulu dikangkangi, dengan menyebut diri pahlawan revolusi. Duhai, Pacar! Aku lihat kini di pojok-pojok pinggiran orang-orang mati hanya untuk mendapatkan sekepal beras campur batu. Dan itu adalah rakyat.”

Aku bergegas. Marah. Tapi kulihat Eva sekarat.

Eva. Adikku bontot yang lahir pada zaman kuwalik. Demi Tuhan aku ingin mencekik ketika pagi hari kulihat Ikong dan Ahok membawa bangkai tikus buat sarapan emak. Tak sanggup lagi aku berpikir tentang politik. Apa yang kau harap dari berkah bumi keparat yang telah habis tandas digadai buat menebus utang Negara? Kemiskinan. Kesumpekan. Demi demit, kemakmuran telah dirampok dan kini mereka kembali hadir jadi pahlawan. Demi malaikat, kau tak paham seribu turunanmu tak bakal merdeka. Hidup akan tetap jadi bui, jadi pecundang tawanan orang yang merasa paling berjasa. Mereka menyewa senjata. Para tentara dengan tank altileri yang dibeli dari pajak rakyat, digaji dari keringat buruh-buruh tambang yang menggali bumi demi harapan setiap generasi, ditumbuhkan dengan airmata petani seluruh ibu negeri; lalu apa kalian lihat? Di Pusat Kota dua pasukan serdadu sibuk saling tembak. Menembak burung, menembak kuda, menembak angsa, menembak kadal, menembak siapa dengan penuh harapan kelak ada gambar ketulusan yang bisa diabadikan—ditayangkan televisi sebagai bukti tugas mulia—bahwa: “Hari ini, sesungguhnya masih belum begitu banyak yang bisa kita tembak!” Gagah hingga penuh kesadaran setiap kepala menyimpan rasa takut.

“Lalu kekuatan itu milik siapa?” kata Ipoh. Kupandang langit garing putus asa dan semliwer kabel telepon tiang listrik patah. Gelap di luar udara rusuh. Ada bau kutuk dari gedung-gedung atap pasar mati. Air mati. Selokan busuk tempat tikus ditangkapi penduduk. Lapar.

“Lalu rakyat sesungguhnya punya siapa?” Tak penting. Di atas orang-orang penting terlalu sibuk membual lewat layar televisi, menggalang massa, melipat peta dengan mereka-reka bentuk Negara. Berbulan-bulan. Saling tuding, saling hujat menyelamatkan muka sendiri dengan garang: “Kalian pengkhianat! Seluruh keturunanmu, kelompok-kelompokmu, adalah penjahat busuk!” Menunjuk hidung. Gustiku: “Justru kaulah barisan darah perampok! Anak-anakmu juga tak lebih dari para maling.…”

Baca juga  Mesyuarat Jin Paya

Ramai. Seluruhnya buruk. Aku melolong kini ganti memandang Ahok, adikku, tokoh paling bodoh yang tiba-tiba begitu kubutuhkan: “Bapak bilang ada saatnya otak tidak begitu penting untuk menyelamatkan hidup. Apa maksudnya?”

“Engkau lelaki. Paling sulung. Mestinya paham.”

“Dia hanya bicara dengan kamu. Apa yang dilakukan Bapak kemarin pagi? Bukankah engkau ikut?”

“Bapak hanya minta lurah membagikan gabah,” begitu balas Ahok ngeri. “Itu jelas milik Logistik Negara sebelum korupsi dilarang. Tapi apa yang terjadi? Lurah itu malah bicara demokrasi, bicara kemakmuran, bicara kejujuran jabatan, bicara membentuk sebuah partai yang akan bicara kesejahteraan. Mirip persis omongan radio. Bapak bilang: bajingan tengik!”

“Lalu?”

“Setiap bicara akan selalu pasti bohong! Maka Bapak hendak membuktikan satu tindakan yang jujur dan pasti, bersama orang-orang itu. Tubuh lurah dibacok dan diseret hingga tobat kemudian mati.”

Kengerian, orang-orang yang berpikir singkat, seperti kelembutan lahar bumi di permukaan tanah yang tiba-tiba meletup. Aku akhirnya berpikir tentang sejarah, tentang kenapa kebungkaman selalu melahirkan keputusasaan. Aku berjalan meniti cahaya rentan di antara keluhan Eva yang sekarat, dengan panggilan Ipoh dari ruang masa depan seperti halaman-halaman teori buku yang kupelajari dalam impian. Bisakah? “Datanglah, Pacar! Akan kau temui kenyataan paling pahit sebagai alasan untuk kita bunuh diri. Atau menyingkir dan hidup selamat sebagai pengkhianat.”

Kuputuskan telegram Ipoh malam itu juga. Dengan perih. Di cermin wajah Bapak yang keras—melebihi batu. Aku percaya ada hukum-hukum yang tak terlawankan dalam keterbatasan. Sekali lagi kupandangi wajah emak yang pucat, mulut Eva yang sekarat. Subuh hari kami berempat—aku, Bapak, Ikong dan Ahok—mulai bergerak. Aku berjalan paling depan tak sabar, dengan celurit di tangan: mengayun tajam dan berkilat-kilat. ***

.

.

(Antologi Cerita Pendek Indonesia di Yogyakarta, Perempuan Bermulut Api, Balai Bahasa Yogyakarta, 2009)

.

Keluarga Maling. Keluarga Maling . Keluarga Maling . Keluarga Maling . Keluarga Maling . Keluarga Maling .

 246 total views,  28 views today

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!