Cerpen, Seriosa, Sudjoko Pr

Penghuni Ruang L.10

Penghuni Ruang L. 10 - Cerpen Sudjoko Pr
5
(1)

Cerpen Sudjoko Pr (Seriosa, Th II, No. 4, Juni 1954)

AKU keluar dari ruang kantor melalui pintu gerbang muka. Secarik surat tanda izin menengok kujepit di antara jari-jari tangan. Langkahku membelok ke kanan sedikit, lalu memintas ke kiri di samping lapangan tenis. Sekeliling pintasan itu banyak pohon kenari dan bentangan tanah dan hijau rumput. Di sana-sini nampak orang gundul sedang membungkuki tanah, mengumpulkan kerikil terserak atau mencabuti rumput yang salah tumbuh. Ada yang merenung sambil menggaruki kudisnya. Ada pula yang sedang bercerita lincah di bawah cucuran atap. Dan ceritanya itu tidak perlu didengar orang. Tapi dia cerita terus. Ia dapat iseng sendiri, omong dengan capung, daun kering, kerikil atau dengan benda-benda lain di sekelilingnya. Kadang-kadang terkekeh-kekeh riang tanpa teman. Keriangannya ini membuat aku sedih melihatnya.

Aku terus melangkah menuju sebuah bangsal berlantai luas dan licin. Di situ kudapati pula manusia-manusia gundul menggelepak berbaringan. Di pinggir kanan ada tempat clompreng piring panik putih-putih. Waktu aku melaluinya, manusia yang berbaringan itu melihat semua; matanya mengikuti langkahku dengan pandang keheranan. Aku menjumpai seorang juru-rawat berpakaian putih dan menunjukkan surat izin menengok.

“Di mana aku dapat menemuinya?” tanyaku.

“Langsung saja ke ruang L. 10, Saudara!” jawabnya.

Aku memandang sekeliling. Pada tiap-tiap ruang di sekitar bangsal itu kulihat tulisan tebal-tebal. Berurutan dari ruang L. 1, L. 2, L. 3, dan selanjutnya. Aku mengikuti deretan ruang itu. Baru sekali ini aku mengetahui bagian dalam rumah sakit jiwa. Kesan pertama ialah suram!

Aku terus melangkah sambil mengerlingi kanan kiri tempat pasien-pasien. Jendela-jendela lebar menganga menghembus ke dalam kelembaban hawa kamar. Rongsongan orang gila ketakutan bercampur ringkikan ketawa menggigil, sungguh suatu paduan suara yang dapat menegangkan tengkuk.

Di hadapanku selang sebuah ruang lagi nampak tulisan L. 10. Tiba-tiba terasa kengerian meningkat. Dan mataku dihidangi bentuk ruang bertembok tebal. Semua pintu dan jendelanya dipagari terali besi kuat. Inilah sarang mereka yang paling galak!

Dan sarang ini mengingatkan pada kerangkeng penjahat dalam film The Miracle of Our Lady of Fatima. Kalau bandit-bandit itu berbaju kumal tak karuan dengan rambut tumbuh panjang macam pujangga-pujangga Yunani kuna, maka di balik pintu besi di hadapanku bercekel manusia-manusia lesu yang semuanya gundul macam serdadu Jepang telah bertahunan kena tawan, dengan baju kutung seragam lurik hitam kecil-kecil. Tapi aku melangkah juga mendekatinya.

“Ohoo….Ya datang…! Datang!” suara bagai menyentak dari dalam.

Kakiku yang sudah hampir menapak jenjang ruang L. 10, kutarik undur kembali. Mataku dibelalakkan oleh pandangan penghuni-penghuni ruang itu berjejal memenuhi pintu dan jendela besi sambil menyeringai pahit. Aku bertahan dalam kesesakan napas. Seorang juru rawat penjaga menemui datang. Aku menunjukkan kartu izin menengok.

“Saudara mau bertemu dengan pasien Ridwan?”

“Ya. Tapi…. Apa tidak mengamuk,” tanyaku cemas.

Juru rawat itu tertawa besar dengan cibiran mengejek.

“Tidak! Tidak, Saudara. Tunggu sebentar.” Ia masuk ke dalam ruangan bagian belakang dengan suaranya memanggil-manggil: “Ridwan! Ridwan!”

Terseok-seok suara orang berjalan dari dalam, muncul di sela-sela kelompok manusia-manusia yang bergantungan bagai kelelawar di terali besi. Mereka menggerumut dengan melongo heran sambil menatapi mukaku. Mungkin dikira aku mau menjemput Ridwan supaya pulang.

Baca juga  Hujan Pertama dari Kampung Kafir

“Kasihan! Suruh pulang saja dia. Di sini hanya berkaok saja kerjanya. Aku sudah muak sama kentutnya,” suara lantang dari seorang pasien nampak galak serta berkumis subur. Kepala gundul dengan kumis subur, amat lucu.

“Kalau saya sih, biar sampai ubanan di sini tak apalah. Tuan bupati perintahkan aku supaya latihan camat di sini. Lusa Bung Karno mesti datang untuk mengirimi tembakau dan kemenyan. Aku pernah bergambar bersama Bung Karno! Sayang aku hanya nampak pantatnya! Haahaa….!”

Aku tidak sempat tersenyum geli melihat kelucuan itu. Sungguh aneh pergaulan mereka. Sebuah ruang berisi 12 manusia dan semua Undang-Undang tidak berlaku bagi mereka. Satu lingkungan kecil dengan 12 pemikiran, 12 dunia dan 12 ketidakwarasan. Tiba-tiba suara mencetus lagi dari sudut bagian dalam:

“Terkampul-kampul pulau dan tenggelam bersama layar putih yang menaburi pantai. He, rupanya ini berakhir mati dipintal alun dan letusan gunung. Semua orang akan mati. Juga Tuhan mati. Kecuali aku yang telah hidup sejak sebelum ada dunia.”

“Jadi kau berpijak di mana selama itu?” dengar yang lain.

“Yah, aku berbaring di bale-bale.”

“Dan bale-balenya bertengger di atas tonggak.”

“Dan tonggaknya?”

“Hus! Percayalah kalau tak mau kukemplangi gundulmu. Kau tahu? Ini laut akan meluap dan gunung akan meletus! Hai, aku sudah mencium asap Merapi. Gugurlah meruntuhi semua orang, bencana alam! Lalu datang sokongan melimpah-limpah. Uang, baju, kutang, cawat dan segala macam. Semua mengumpul padaku, aku jadi kaya. Hahaaaa! Kurencanakan memelihara harem dengan seorang penjaga lelaki banci. He, aku sudah mengecup surga sebelum datang maut.”

Tiba-tiba seluruh mulut yang ada di situ menjeplak ketawa bersama. Dan ada suara lagi menyetil di belakang.

“He, apa guna kau memelihara 40 harem, lelaki impoten?”

Ketawa lagi mulut-mulut itu setengah bersorak.

“Siapa bilang? Siapa? Aku ada bakat untuk punya lebih dari tiga lusin anak. Kau tahu? Kalau istriku mau mengandung tiap tahun, hitung saja anaknya sejak dia kawin sampai hari kematiannya!”

Pertarungan makin memuncak, ketawa dari mulut-mulut yang jarang berkumur itu tidak henti-hentinya. Pertengkaran dua orang pasien itu menjadi tontonan paling meriah bagi pasien-pasien lainnya. Dan aku yang menyaksikan dari luar pagar besi, tak ubahnya seperti melihat badut-badut yang mengisi hidupnya untuk jadi tertawaan orang.

“Aku tahu! Itu hanya bual orang lemah syahwat.”

“Hahaai….! Mana bisa lelaki impoten punya anak!” tiba-tiba terdengar kerumunan kawan-kawannya. Juru rawat ruang itu datang memisah. Sekali bentak, dua belas manusia gundul itu tunduk takut. Dan tontonan babak itu selesai.

Aku duduk di atas bangku membelakangi ruang celaka itu. Ridwan mendekat dan melihatkan pantatnya di sampingku.

“Apa kabar, Kawan?” tanyaku.

“Beginilah keadaan! Yah, macam itu. Itulah kerja orang. Siapa yang mau tinggal di sini, pertama-tama mesti harus belajar kebal dari makian dan tahan pukulan kawan sendiri. Siapa jadi jagonya, barulah ia merasa aman.”

Ridwan berhenti bicara dan melemparkan pandang jauh-jauh. Lalu tunduk merenungi paha dan betisnya yang penuh diruyaki kudis. Rasa-rasanya malu menampakkan dadanya di mukaku. Dan ia jadi lebih menunduk lagi. Aku bingung meladeni pemikirannya. Apa yang hendak dirundingkan dengan orang sakit ingatan? Tanya tentang sakitnya? Tak mungkin. Boleh jadi ia tak tahu akan sakitnya. Atau telah maklum akan ketidakwarasannya, tapi malu mengatakan. Aku tak tahu.

Baca juga  Lidah

Tiba-tiba ia bangkit. Celananya disingkirkan. Astaga, ia kencing. Dan ia duduk lagi di sampingku.

“Kawan, kau tadi menjumpai dokter?” tanyanya.

“Ya, sebentar,” jawabku membohong.

Ia memandangi mukaku cemas-cemas. Dari sinar matanya yang sayu itu nampak ada pemikiran ruwet di baliknya.

“Mestinya dokter itu yang perlu dinasehati. Mengapa aku mesti ditawan bersama orang-orang celaka itu? Atau Jendral Sudirman yang keliru perintah.”

Ia diam memikir. Nama jendral yang sudah lama meninggal itu disebut-sebut, mungkin sekali sisa ingatan selama jadi tentara dulu.

“Kau tahu persoalannya, Kawan? Kalau orang terlalu lama dikurung macam ini kadang-kadang tak tahu apakah hari kemarin mulai hidup. Tepat seperti kalau orang terjepit di tengah-tengah pertempuran. Di muka sangkur musuh. Di balik punggung, ledakan peluru, ketika bertahan mencari kelanjutan hidup macam itu. Sampai lupa, aku pernah hidup atau baru akan hidup nanti. Lupa segala! Lupa anak. Lupa gadis!

He, kawan, aku terlanjur berkata padamu, aku punya gadis! Alaaa… kau tahu bukan? Hidup ini hanya melingkung di sekitar beberapa kerat daging dan kepulan napas. Dan pinggang dan sanggul gadis adalah letak keramaiannya. Anak istri hanya berguna untuk dimiliki sehabis lelah bertualang. Rumah tangga memang indah untuk dikenang. Tapi kalau sudah melibat, bagiku tak ubahnya seperti penjara yang banyak merampas kebebasan, soal sangkur musuh dan pinggang gadis menjadikan aku sering berpikir. Mengapa aku sudah beristeri? Mengapa “mesti” sudah beranak? Kemestian ini akan kubentak! Dan kalau kemestian ini adalah tulis Tuhan, cih! Aku dasarnya tak kenal Tuhan. He, engkau marah? Engkau santri?”

Ridwan menanya padaku sambil mengguncang-guncang tanganku. Aku diam melamisi ketakutan. Dan ia tertawa bangga.

“Tuhan tidak punya tulis. Aku pernah memutusi hidup atau mati sesukaku. He, engkau santri? Sembahyang lima kali sehari?”

Ridwan terus mendesak. Aku tetap diam mesti hatiku tersinggung. Tapi pendapatku, tak banyak gunanya menggarami cakapnya yang melambung itu.

“Sekali pernah aku menangkap serdadu Belanda. Ia tersungkur rebah di hadapanku. Kau tahu, nyawa Belanda itu terletak di ujung sangkurku. Mana lebih kuasa atas nyawa, ujung sangkur atau tulis?”

Ia ketawa lagi puas-puas. Dan aku menarik napas panjang.

“Aku ingat ajaran Jepang. Kalau menusukkan sangkur, mesti diputar dan diungkitkan sedikit. Itu darah Belanda memuncar. Aku merebahi badannya. Darahnya kekecup. Darah, asin dan amis. Sesudah itu badanku serasa mengambang ringan. Dan aku pulang dengan membawa kemenangan….”

Ia berhenti bicara dan merenung jauh. Lama ia terdiam dibelit pemikirannya. Tiba-tiba sinar matanya yang memandangi kekejauhan, dibanting ke tanah. Kelesuan datang begitu cepat sehabis dadanya ramai dipukuli tambur perang. Sambungnya lagi:

“Sangkur dan gadis seharusnya tak usah ada saja di sekitarku. Kau tahu, Kawan, kemenanganku tadi minta pembalasan, gadis yang kudapati di daerah front. Aku pulang ke markas hanya untuk menemui gadisku mati kena sangkur pula! Sangkur kawanku sendiri. Dan apa yang lebih celaka lagi? Isteriku ikut memerangi aku. Ia menyumpah-menyumpah: Lelaki keparat! Manggul bedil sambil mencumbui sundal mata-mata musuh. Ini tidak bisa. Tidak bisa. Huh hampir kutembak semua sekelilingku. Ini kehimpitan istri. Darahnya sudah memerah di depan mata. Ingin kukecup puas-puas, biar hidupku dituak rasa asin dan amis….”

Baca juga  Pasar Pintu

Ia berhenti bicara. Kelesuannya timbul lagi. Kepalanya tunduk. Lama aku menanti kelanjutan cakapnya. Tapi ia terus tunduk seperti menyerah. Pantat dan betis yang dirungaki kudis itu terkulai lemah. Ia membandingkan pahanya dengan pahaku. Lalu ia memejamkan matanya. Pantatnya mengungkit memutar punggungnya yang gepeng itu membelakangi aku. Napasku terasa sesak. Kutepuk punggungnya perlahan. Ia menoleh dengan rupa menyerak minta dikasihani.

“Betul tadi engkau menemui dokter?”

“Ya.”

“Apa dokter bilang?”

Aku berpikir sebentar dan cepat-cepat menyahut bohong.

“Katanya, kau harus beristirahat, jangan terlalu banyak pemikiran. Kau menurut bukan?” Ia tunduk kecewa. Keningnya dikerutkan tajam-tajam. Dan ia menggumam lemah.

“Ini tidak bisa. Itu sangkur dan gadis mesti selalu datang.”

Diam lagi lama sekali seperti merenungi tunas rumput di depannya. Tiba-tiba mukanya diangkat, dan berkata:

“Nah aku menemukan penyelesaian. Katakan kepada dokter, kau mau bukan? Bahwa aku akan beristirahat di rumah saja. Tidak betah tinggal di sini. Dan nanti aku pulang bersama engkau. Ada cukup uang bukan? Ya, inilah keputusan baik!” Ia berseri-seri kegirangan. Tapi aku tunduk bingung mengelak niatnya.

“Bagaimana jawabmu? Setuju bukan?”

“Tapi dokter hanya berkata, kau harus beristirahat di sini.”

Tiba seri mukanya luluh. Dan ia tunduk lagi merenungi tunas rumput. Pantatnya mengungkit memutar punggungnya membelakangi aku. Hatiku ikut tersayat melihat kesedihannya. Mungkin ia telah rindukan isterinya. Kesedihannya ditelan saja. Ia menoleh lagi dengan matanya membayang keputus-asaan.

“Kalau begini, aku jadi ingin bertanya, apakah kemarin aku telah ada di dalam ini. Atau sekarang aku sedang hidup untuk menghadapi esok harinya, tak dapat kubayangkan. Kawan, aku tidak tahan lebih lama lagi di sini. Kalau engkau mengelakkan niatku, dan betul saat ini aku hidup, maka… mati adalah jalan kedua untuk lepas dari terali besi. Dan besi itu tidak usah pusing soal kematian manusia-manusia yang dipagarinya. Ia tetap besi yang kukuh, meski telah kusumpahi setiap hari. Selamat tinggal kawan….”

Ia bangkit dari sampingku. Terseok-seok jalannya menuju ruang L.10. Di depan pintu besi ia berhenti, menengok mukaku sebentar, dan ia menyelinap di balik ruji besi.

Anganku dipenuhi soal baru. Terali besi, pasien gundul, sangkur dan gadis. Gadis adalah makluk lemah yang begitu gampang memutarbalikkan pikiran lelaki. Bentuk Ridwan yang kurus jangkung itu selalu melekat saja di kelopak mataku. Ia tentu tidak pernah mengingini akibat yang seperti itu atas dirinya. Tapi, tapi peperangan memungkinkan terjadinya hal-hal yang di luar batas keinginan manusia.

Aku melangkah meninggalkan tempat itu, sedang harapanku membubung kehadirat Tuhan, semoga mereka kembali menjadi manusia yang baik. ***

.

.

Yogya, April 1954

(Antologi Cerita Pendek Indonesia di Yogyakarta, Perempuan Bermulut Api, Balai Bahasa Yogyakarta, 2009)

.

Penghuni Ruang L.10. Penghuni Ruang L.10. Penghuni Ruang L.10. Penghuni Ruang L.10. Penghuni Ruang L.10. Penghuni Ruang L.10.

 193 total views,  11 views today

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!