Cerpen, Dody Widianto, Kedaulatan Rakyat

Koin Kerokan

Koin Kerokan - Cerpen Dody Widianto

Koin Kerokan ilustrasi Joko Santoso (Jos)/Kedaulatan Rakyat

5
(2)

Cerpen Dody Widianto (Kedaulatan Rakyat, 16 September 2022)

JIKA saja koin kerokan milik Mbah Yut tidak hilang, tentu ia tak akan uring-uringan. Bagaimana mungkin koin uang logam yang sangat ia sayang hilang dari kotak penyimpanannya. Ia biasa menyimpan koin itu bersebelahan dengan bahan nginang seperti sirih, pinang, tembakau, gambir, dan cengkih.

“Kan bisa pakai uang koin yang lain, Mbah. Pakai uang koin punya saya saja.”

Aku menyarankan. Mbah Yut tetap ngotot untuk tetap mencari atau masuk anginnya tak akan sembuh-sembuh.

“Uang logam sekarang beda, Le. Aneh. Agak sakit kalau dikerokin di punggung. Kulit Mbah Yut serasa diparut malah. Bukan dikerok. Lain dengan koin uang logam tembaga punyaku yang hilang itu. Apa memang bahannya bagus zaman dulu ya? Sekarang kalau mau buat sesuatu banyak yang dikorupsi. Bahannya jadi jelek.” Tanyanya diselingi suara batuk patah-patah, ditambah sendawa dengan nada yang aneh.

“Mbah Yut lupa mungkin.”

Ora, Le. Yakin sekali. Begini-begini Mbah Yut belum pikun. Kalau kamu tanya siapa nama-nama guru SD yang ngajar Mbah Yut dulu, aku masih ingat semua. Kamu enggak coba ngumpetin ‘kan?”

Ditanya seperti itu aku langsung menelan ludah. Pelan menggeleng.

“Ya sudah. Coba nanti saya tanya bapakmu saja pas pulang dari sawah. Ibumu di pasar belum pulang?”

Aku mengangguk lagi.

Itu adalah kenangan lalu sebelum acara tujuh hari kematian Mbah Yut diadakan di bale rumahku. Orang-orang dan tetangga mengenal Mbah Yut sebagai pribadi yang ramah dan suka menolong tetangga. Sering memberi makanan ke tetangga yang membutuhkan. Padahal, keluarga kami juga dari trah biasa saja dan bukan orang punya. Memang ada dua petak sawah yang kami garap, dan itu hanya cukup untuk makan sehari-hari. Kami mencukupi kebutuhan lain dengan usaha ibuku yang dagang di pasar. Mbah Yut pernah bilang, “Memberi dengan ikhlas itu seperti menanam benih, kelak jika bukan aku atau anakku yang menikmati hasilnya, kamu yang akan memetik buahnya.”

Baca juga  Tidak untuk Jadi Pahlawan

Namun, aku masih penasaran ke mana koin uang logam itu. Bapak dan Ibu seolah tak ingin tahu, bahkan ketika hari kematiannya pun mereka seolah bersikap biasa saja. Memang sudah waktunya. Mana ada manusia yang bisa melawan malaikat. Begitu jawabnya. Aku merasa gara-gara uang koin itu, sakit Mbah Yut jadi parah dan meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

Di malam tahlil seratus hari, mendadak ada dua orang asing yang datang ke rumahku menemui Bapak dan Ibu. Aku tak ikut duduk di sebelah mereka, tetapi berusaha menguping dari balik ruang tamu. Mendengar pembicaraan yang tak begitu paham. Lalu tiga gepokan uang tergeletak di atas meja. Dahiku mengerut penasaran.

Malam selanjutnya, Mbah Yut datang dalam mimpiku. Tersenyum. Menyuruhku membuka toko daring dalam ponsel. Melihat uang koin logam milik Mbah Yut ada di sana. Aku menelan ludah. Deret angkanya tidaklah sedikit. Sejujurnya ada pesan Mbah Yut yang terbukti. Namun, tiba-tiba ada mendung tebal di kepalaku yang siap menurunkan hujan deras lewat lubang mata. Seolah aku tak rela kehilangan keduanya, koin itu dan Mbah Yut. ***

.

.

 *) Dody Widianto, lahir di Surabaya. Pegiat literasi. Karyanya banyak tersebar di berbagai antologi penerbit dan media massa nasional.

.

Koin Kerokan.

 286 total views,  41 views today

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!