Cerpen, Karisma Fahmi Y., Media Indonesia

Tanah Negara

Tanah Negara - Cerpen Karisma Fahmi Y

Tanah Negara ilustrasi Budi Setyo Widodo (Tiyok)/Media Indonesia

4.6
(5)

Cerpen Karisma Fahmi Y (Media Indonesia, 18 September 2022)

ORANG-ORANG mengerumuni tubuh Marimin di sekitar rel. Pagi tadi, ia konon menerjang kereta jurusan Jakarta yang tengah melintas. Suara ambulans dan mobil patroli polisi menghalau warga yang menonton, berdesakan di pembatas tali kuning di sepanjang rel. Beberapa wartawan sibuk meliput, memotret, dan bertanya kepada sejumlah petugas, yang sebagian besar lebih memilih diam atau menggeleng.

“Semalam Bapak tidak pulang dari kantor. Pagi tadi saya membuatkan teh untuknya,” kata Pak Rus, petugas kebersihan. Sebentar saja kabar kematian Marimin sudah tersiar dengan judul Kepala Stasiun Mati Bunuh Diri di Rel.

Tim forensik menyisir tempat itu sebelum kereta pukul sembilan melintas. Muin menatap semuanya dari jauh. Ia tak menyangka lelaki tua itu akan senekat itu.

“Kita akan membuat jalur wisata. Sawah, sungai, dan kebun-kebun di sepanjang jalur itu akan menjadi pengantar yang bagus,” kalimat Marimin kembali mengiang di telinganya.

Di akhir masa jabatannya, lelaki tua itu bersemangat membangun jalan wisata ke gunung, satu-satunya jalur kereta ke Kota L yang penuh dengan tempat wisata alam.

“Kapan rencana itu dimulai, Pak?”

“Kapan? Ya sekarang! Kamu pikir akan dimulai lebaran gajah?”

Muin tergagap. Ia sudah hafal mati sikap Marimin. Ia tak mengira Pak Tua itu akan sedemikian ambisius. Enam bulan lagi Marimin pensiun, dan proyek itu terlihat tergesa.

“Kebun di sepanjang rel itu harus dirapikan. Sawah dan sungai itu menjadi fokus kita. Bersihkan kebun di sepanjang jalur rel supaya sawah dan sungai itu tampak sebagai wisata alam. Bukit-bukit di belakang sawah itu harus tampak sebagai jalan utama. Orang kota tak pernah melihat sawah. Itu akan menjadi pemandangan bagus bagi mereka.”

“Tapi orang-orang desa itu menanaminya, Pak. Mereka merawat….”

“Itu bukan tanah mereka. Bersihkan! Kalau dibiarkan, mereka bisa membuat rumah dan beranak pinak seperti yang sudah-sudah!”

Muin tahu, tak ada gunanya menyampaikan pendapat. Lelaki tua itu pantang mendengarkan saran orang lain.

“Kita mengirim berapa petugas lapangan untuk itu, Pak?”

“Kita punya sepuluh orang. Atau sebelas?”

“Sembilan, Pak! Pak Rohman sudah sakit-sakitan, tak mungkin ditugasi untuk pekerjaan seperti ini. Jadi, masih ada dela….”

“Ini hanya pekerjaan menebang pohon. Masukkan dia ke tim! Orang tua butuh udara segar supaya jantungnya tetap sehat. Besok pagi harus sudah dimulai. Mulai dari yang paling dekat. Minggu depan saya akan inspeksi sepanjang jalur itu. Semua harus sudah bersih,” Marimin menutup rapat kecil itu. Seperti yang sudah-sudah, rapat itu hanya berisi instruksi dan perintah.

Suara sirene meraung-raung meninggalkan stasiun. Muin mengikuti dengan tatapan mata yang susah digambarkan. Seperti apa pun, lelaki tua itu pernah menjadi atasannya. Ia juga berjasa mengajari banyak hal selama ia bekerja di sana.

Baca juga  Menebus Rindu

***

Video itu tersebar cepat seperti penyakit. Tangan cekatan Muin dan kawan-kawannya saat menebasi pohon-pohon pisang itu beredar ke seluruh penjuru dunia maya tanpa ampun. Suara perempuan tua yang memohon-mohon sambil menangis itu seolah menjadi sumber yang menuai banyak hujatan.

Muin tahu, seminggu tak akan cukup untuk menyusur dan membersihkan jalan sepanjang rel seperti keinginan Marimin tua. Ia dan timnya harus memburu waktu agar pekerjaan itu bisa segera selesai.

“Pak, apa tak ada surat terkait pembersihan itu?”

“Surat apa?”

“Surat pemberitahuan kepada warga yang menggunakan tanah itu sebagai….”

“Apa kamu pernah minta izin saat kamu mengecat tembok rumahmu?”

“Tidak, Pak.”

“Nah, untuk apa kita minta izin membersihkan tanah kita sendiri? Ini kasus tak seperti yang membangun rumah-rumah liar di bantaran yang butuh surat dan pemberitahuan. Sudahlah, itu hanya pohon pisang. Pangkas semua pohon di sepanjang rel!” Marimin menyudahi. Ia menyalakan rokoknya. “Waktumu tak banyak. Sana, cepat berangkat! Sore nanti aku menunggu laporanmu.”

Video itu telah dibagikan ratusan kali. Komentar dan hujatan terus mengalir seperti air hujan. Muin membaca satu per satu komentar. Ia tak tahu apa yang akan disemburkan Marimin tua kepadanya kali ini.

***

Semi mengambili lonjoran daun pisang yang berserakan, melipat lembar demi lembar seperti yang selama ini dilakukannya. Ia dan seluruh warga desa yang lain menanam pisang di sepanjang tanah itu. Ia menjadi saksi, tanah di bawah rel itu bukan milik siapa-siapa. Mereka menanaminya dengan pisang, jambu, mangga, atau sekadar terong dan cabai yang bisa mereka gunakan sebagai penyulut asap dapur. Tak jarang Semi dan yang lain memetik daun-daun pisang dan menyetornya kepada tukang satai di pasar. Namun, pagi itu orang-orang berseragam datang dan merusak semuanya. Mereka datang ketika Semi memadamkan api pawonan. Ia memasak seperti biasa, ontong jantung pisang dengan santan bumbu pedas dan tempe bacem. Ontong jantung pisang dipetiknya dari tanah di seberang rumah kemarin sore, saat ia memangkas daun-daun pohon pisang yang sudah tua. Cabai besar-kecil ia petik subuh tadi. Ia menanami tanah di bawah rel itu dengan aneka tanaman yang mendukung kendil kecilnya supaya tidak oleng. Pisang, cabai, terong, ubi, yang bisa dipetiknya untuk masak sehari-hari.

Suara gaduh tebasan pokok-pokok batang pisang semakin keras. Ia bergegas keluar. Suara Darsi, tetangga sebelah rumah, memohon-mohon. Orang-orang itu memotong sembarangan pokok-pokok pisang yang tertanam rapi di tanah seberang rumah.

Baca juga  Kisah Kera pada Minggu Pagi

“Ampun, Mas! Yang itu jangan dipotong! Itu pisang emas, saya beli bibitnya di pasar. Mahal, Mas! Ampun, Mas!” suara perempuan tua itu amat memelas.

“Ini tanah negara, Mak. Bukan warisan mbahmu! Kalau mau menanam, di kebunmu sendiri,” hardik seorang petugas sambil terus mengayunkan parang ke batang-batang pisang. Ia terus menebas hingga semua pohon tumbang.

Peristiwa itu terjadi tak lebih dari sepuluh menit. Petugas menebas batang-batang pisang itu hingga roboh dan meninggalkannya begitu saja. Seperti yang lain, Semi segera mengambil pisau di dapur. Ia mengambili daun-daun pisang yang masih muda, memutas, dan melipatnya.

Suara parang petugas pagi tadi masih mengiang di telinganya. Orang-orang itu berlagak seperti orang besar pemilik tanah. Padahal, tak pernah sekali pun mereka merawatnya.

Ia teringat Pak Bayan, kepala stasiun lama yang mencanangkan untuk menanami tanah di bawah rel itu. Ia membagikan tunas pisang raja agar mereka menanami tanah di bawah rel yang dekat dengan rumah mereka. Pisang pohon yang ringkas. Cukup sekali menanam bibit, ia akan tumbuh dan beranak pinak sendiri. Ia dan yang lain menurut.

Seiring dengan waktu, mereka lalu menambahkan bibit cabai, terong, dan jambu. Tak sekali-dua para petugas kereta meminta jambu atau mangga saat berbuah. Mereka memakannya di atas rel, selepas bekerja mengecek rel atau menambahkan kerikil di bantaran. Mereka, orang-orang itu, harusnya merasa beruntung, orang-orang desa masih mau menanami dan merawat tanah itu. Semi tak tahu, setan apa yang merasuki orang-orang itu hingga mereka merobohkan semua pohon pisang dan meninggalkannya begitu saja.

Semi memutuskan tak ambil pusing dengan ulah orang-orang itu. Ia akan menunggu orang-orang itu membersihkan sisa-sisa penebangan walau ia tidak yakin mereka akan menyingkirkan batang-batang pisang yang bertumpukan. Di musim hujan seperti ini, sangat mungkin nyamuk atau ular tinggal di sana.

Tanah ini milik negara, kata mereka. Dalam hati Semi tertawa. Kalau nyamuk dan ular bersarang di sana, apakah negara juga akan mengurusinya? Kalau ada yang sakit karena nyamuk, apakah mereka juga akan bertanggung jawab?

Memikirkan hal itu Semi terkekeh. Orang-orang itu berlagak seolah mereka ialah perwakilan negara, padahal mereka sama-sama orang kecil seperti dirinya.

Semi menumpuk daun-daun yang harus diantar ke tukang satai. Banyak daun yang masih muda, tak bisa digunakan untuk membuat lontong. Ia menghela napas panjang.

***

Muin masuk ke ruangan saat aku menatap layar gawaiku. Aku memutar video itu puluhan, mungkin juga ratusan kali. Muin menundukkan kepala. Dalam pandanganku, ia seperti aku dulu, saat memasuki stasiun ini kali pertama. Aku masih remaja tanggung yang hanya mengandalkan semangat dan tenaga. Belum bisa membuat keputusan.

Baca juga  Tarian Ruh

Wajahnya tampak diliputi perasaan bersalah. Tapi tidak. Lelaki muda itu hanya menjalankan instruksiku dan sama sepertiku dulu, ia menjalankan tugas dengan baik. Bibirnya mengatup rapat seolah kegelisahan begitu mampat di dalamnya. Aku hanya bisa memejamkan mata dan menghela napas panjang. Aku tahu, semua adalah salahku. Kutatap Muin dengan pasrah.

“Pak, saya….”

Kukibaskan tangan, menghentikan suaranya. Aku tahu, sebagai lelaki tua, aku tak pernah mau menggubrisnya. Tapi sungguh kali ini aku benar-benar tak ingin mendengar permintaan maafnya.

“Sudah. Semua sudah terjadi….” kataku pelan. Kutawarkan rokok, ia menggeleng. “Suratnya akan segera tiba. Mungkin hari ini, atau besok.”

“Surat?”

“Besok aku sudah tidak di sini lagi.”

Ia mematung. Matanya mulai berkaca-kaca. Kukibaskan tangan lagi, menyuruhnya keluar. Ia menutup pintu pelan. Masih kulihat punggungnya lesu terbungkuk.

Ia tidak perlu tahu, saat itu aku merasa dunia runtuh di pundakku. Sama sepertiku, ia mencintai stasiun ini, mencintai pekerjaannya. Dengan usianya, ia bisa saja melamar pekerjaan lain, atau bahkan bekerja di stasiun yang lebih besar. Tapi tidak, ia memilih bekerja di stasiun kecil ini. Stasiun yang hanya menjalankan satu keberangkatan, jalur ke Kota L. Selebihnya adalah jalur perlintasan. Aku ingin mewujudkan cita-citanya, membesarkan stasiun ini sebelum aku pensiun. Dengan tenaga dan semangatnya, aku merasa bisa melakukan itu. Tapi semua ini terjadi. Mungkin stasiun kecil ini akan ditutup. Aku mengandaskan impian semua orang di sini.

Sunyi di ruangan itu membuat jam dinding berdetak lebih keras. Ternyata sudah pagi. Pak Rus mengetuk pintu, mengantar teh. Sepertiku, ia juga menunggu masa pensiun. Bedanya, ia punya anak istri yang bisa diajaknya menghabiskan masa pensiun. Aku tidak. Anak istriku meninggal karena kecelakaan. Aku sudah tak punya siapa-siapa, tak punya apa-apa saat pensiun nanti. Stasiun ini adalah satu-satunya yang kumiliki, dan kemungkinan aku juga akan kehilangannya. Tapi tidak. Aku sudah punya rencana lain dengan kereta pukul tujuh. Aku harus segera bersiap. ***

.

.

Rumah Ladam, Maret 2022

Karisma Fahmi Y, lahir di Kota Pare, Kediri, Jawa Timur. Esai, cerpen, dan puisi-puisinya pernah dimuat di berbagai media massa. Buku kumpulan cerpennya, Pemanggil Hujan dan Pembaca Kematian, diterbitkan penerbit Basabasi dan satu cerpennya ada dalam buku Antologi Kumpulan Cerpen Koran Tempo 2016.

.

Tanah Negara. Tanah Negara. Tanah Negara. Tanah Negara.

 297 total views,  25 views today

Average rating 4.6 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!