Cerpen, Kompas, Seno Gumira Ajidarma

Matinya Seorang Pemain Sepakbola

Matinya Seorang Pemain Sepakbola - Cerpen Seno Gumira Ajidarma

Matinya Seorang Pemain Sepakbola ilustrasi GM Sudarta/Kompas

3.5
(4)

Cerpen Seno Gumira Ajidarma (Kompas, 04 Oktober 1981)

STADION Utama Senayan bagaikan meledak ketika bola yang ditendang Sobrat luput dari tangkapan Ronny Paslah dan menggetarkan jala Indonesia Muda. Ini berarti skor 1-0 untuk kemenangan kesebelasan Jonggring Salaka. Sulit bagi Indonesia Muda untuk menyamakan kedudukan, karena gol itu di cetak pada menit terakhir setelah perpanjangan waktu.

Tepat pada saat itu jantung Sobrat berhenti berdetak.

Mengapa tepat pada saat itu?

Mengapa begitu tepat saat ia mencetak golnya yang ke-17, tepat pada usia 30 tahun di hadapan sekitar 70.000 penonton. Mengapa tidak pada saat lain, beberapa detik sebelumnya atau beberapa detik sesudahnya.

Mengapa tepat pada saat itu. Saat bola meluncur melintasi tiang dan menggetarkan jala gawang kesebelasan lawan. Gol yang membuat ia menjadi top-scorer untuk musim kompetisi tahun ini.

Mengapa tepat pada saat itu. Pada detik ia membuktikan kemampuannya sebagai pemain sepakbola, setelah sekian tahun tersia-sia di bangku cadangan.

Mengapa tepat pada saat itu!

***

Gol itu memang sebuah gol emas, satu-satunya gol dalam pertandingan yang sangat menentukan, karena yang menang akan menjadi juara. Sisa pertandingan berikutnya sudah tidak mempengaruhi kedudukan mereka lagi.

Memang, hasil pertandingan ini sudah mengacaukan pasar taruhan yang ramai. Bagaimana mungkin, ya, bagaimana mungkin kesebelasan Jonggring Salaka yang masih berada di papan bawah pada tahun lalu, bisa melesat menjadi juara hanya karena kemujuran seorang pemain depan yang bernama Sobrat?

Kaki Sobrat tiba-tiba menjadi kaki sakti. Operannya begitu akurat dan setiap kali disambar rekannya langsung jadi gol. Sementara di daerah penalti dirinya sendiri menjadi momok, karena setiap tendangannya juga menghasilkan gol.

Padahal ia menjadi pemain depan hanya karena kebetulan. Dulu ia cadangan kiper. Ketika tiga pemain depannya telah habis dimakan back lawan, apa boleh buat, cadangan kiper pun harus menggantikannya sebagai penyerang.

Harap maklum, klub-klub Galatama papan bawah paling banter hanya punya cadangan tiga atau empat orang, tidak sebelas orang seperti Jayakarta, Warna Agung, atau Niac Mitra. Bahkan ada juga yang pas sebelas orang tanpa cadangan.

Itulah sebabnya pelatih Jonggring Salaka, Mormon, sambil mabuk bir karena kesebelasannya terlalu sering kalah, dengan santai mempersilakan Sobrat sang kiper cadangan, untuk turun ke lapangan sebagai penyerang dalam formasi 4-3-3, dan Sobrat benar-benar membuat kejutan.

Ia membuat hat-trick dengan mencetak tiga gol berturut-turut untuk menyamakan kedudukan 3-3 atas Niac Mitra, itu pun masih membuat satu gol lagi sebelum bubaran. Nama Sobrat langsung disebut-sebut oleh para wartawan olahraga, tetapi, memang, tentu saja, masih sebagai unsur kejutan, sebagai penghalusan dari istilah kebetulan.

Baca juga  Udin Kuriak

Namun ketika Jonggring Salaka kemudian menang terus melawan kesebelasan manapun, termasuk melesakkan dua gol dalam pertandingan persahabatan melawan Tottenham Hotspur yang berakhir 2-2, maka Sobrat segera menjadi pusat perhatian.

Koran dan majalah memuat foto Sobrat sebesar-besarnya dalam posisi menendang bola. Pemburu tandatangan mengerumuninya bagai lebah di mana pun ia berada. Sobrat seperti mutiara yang ditemukan terlambat, karena umurnya sudah 30 tahun, termasuk tua dalam ukuran dunia sepakbola.

Makanya, mengapa harus pada detik itu ia meninggal dunia. Saat berlangsung scrimmage di muka gawang, pada detik ketika bola muntah dan disambar Sobrat dengan tendangan volley dan bola masuk menembus pertahanan kiper Ronny Paslah dari Indonesia Muda yang belum pernah kemasukan gol.

Mengapa justru tepat pada saat ia tergeletak di rumput, tertelungkup tak bernyawa lagi. Kawan-kawannya meloncat kegirangan dan berlari memeluknya, tetapi mereka memeluk mayat, hanya mayat, dan tiada lain selain mayat. Justru setelah Sobrat mencetak golnya yang ke-17, yang berarti melewati rekor saingannya, Risdianto dari Warna Agung yang baru mencetak 16 gol.

Peluit wasit telah ditiup tanda pertandingan berakhir. Penonton hanya melihat ada seseorang digotong. Banyak juga yang kemudian tahu setelah melihat nomor 9 di punggungnya.

“Itu Sobrat! Itu Sobrat!”

“Kenapa dia? Siapa yang menggasak?”

“Ia jatuh sendiri!”

“Kok lucu?”

“Kram mungkin!”

“Atau pingsan karena terharu!”

“Terharu kok sampai pingsan.”

“Bisa saja toh?”

“Tapi, ya, tidak usah pakai pingsan gitu lho!”

“Pingsan apa?! Dia meninggal!”

“Meninggal? Mati maksudmu?”

“Apa ada arti lain dari kata meninggal?”

“Huss!”

“Lho ini betul! Kudengar tadi Mormon menangis.”

***

Pada masa kecilnya, Sobrat menendang-nendang bola plastik di gang kampungnya yang sempit. Ibunya selalu bilang lebih baik jualan pisang goreng atawa tidur siang, tetapi Sobrat tidak pernah menurut.

Namun karier Sobrat dalam sepakbola sebenarnya juga tidak gemilang. Setelah drop out dari sekolah teknik menengah jurusan listrik, ia sebetulnya tidak diterima oleh perkumpulan olahraga Macan Bola, karena tampangnya yang loyo dan tampak seperti orang sakit-sakitan. Masalahnya Sobrat terus saja datang dengan wajah yang seperti harus dikasihani. Para asisten pelatih maupun pelatihnya sendiri, bahkan memberi tambahan kerja sebagai pengambil bola kalau melayang keluar pagar atau masuk ke comberan.

Waktu itu umurnya 20 tahun dan ia tidak pernah mendapat kesempatan bertanding, dan karena itulah ia pindah ke Jonggring Salaka, sebuah kesebelasan Divisi II yang terdiri dari orang-orang asal Bali di Jakarta, meskipun boss klub itu sendiri seorang pengusaha kelas menengah dari Surakarta.

Baca juga  Martavan

Di sana ia berlatih keras meskipun mendapat tambahan tugas memijit para pemain usai bertanding. Dalam waktu tiga tahun, barulah ia bisa menduduki bangku cadangan.

Ibunya selalu bertanya.

“Kau mau menjadi apa anakku?”

“Haruskah seseorang itu menjadi apa-apa, Ibu?”

“Entahlah anakku, yang jelas waktu hamil dirimu aku ngidam nonton bola.”

“Aku bahagia kok tidak menjadi apa-apa, Ibu, jadi aku tidak perlu sukses dan tidak akan gagal.”

Sampai bertahun-tahun kemudian, pekerjaan Sobrat masih memijiti kawan-kawannya di klub Divisi II itu. Ia dianggap tidak berbakat oleh Mormon, pelatih yang berasal dari Polandia dan suka mabuk karena terlalu sering kalah itu. Ketika dicoba sebagai kiper, dalam latihan tak satu pun bola berhasil ditangkapnya. Dalam 45 menit ia kemasukan 20 gol.

Dicoba sebagai penyerang, tembakannya tidak ada yang sampai ke tujuan. Ditendang ke kanan, melenceng ke kiri. Ditendang ke kiri, bola malah balik ke belakang. Mormon sudah berkali-kali menasihatinya supaya mencari pekerjaan yang lain saja, tidak usah bermain bola, tidak ada gunanya. Lebih baik jadi tukang cat tembok, atau jualan pisang goreng, kata Mormon. Namun Sobrat tetap bertahan, bahkan menambahkan sendiri pekerjaannya dengan mengepel asrama perkumpulan.

***

Sebelum pertandingan melawan Indonesia Muda, Sobrat menghilang dari tempat latihan. Ia pergi ke Stadion Utama Senayan, dan tepat saat matahari muncul telah berada di lapangan luas yang kosong.

Di titik tengah lapangan ia duduk mencangkung. Di situlah bola diletakkan untuk ditendang. Segalanya dimulai dari sana, seperti awal kehidupan.

Dari tengah titik putih di lapangan hijau Sobrat menatap langit biru. Langit kosong.

Ia tidak melihat kalah. Ia tidak melihat menang.

“Bola itu datang begitu saja ke kakiku,” pikirnya, “bukan sebelumnya, bukan sesudahnya. Saat aku melihat ruang yang kosong antara tiang gawang, bola kutendang, meluncur masuk, dan disebut gol.”

Apalah bedanya gol dan bukan gol.

Bola dan tiang gawang, kepala kita sajalah yang menghubungkannya, pikir Sobrat.

“Salah siapa kalau bola yang masuk ke gawang begitu penting bagi seseorang, maupun bagi 145 juta orang?”

Bangku-bangku yang kosong seperti hidup dan saling berbisik. Angin berkelejatan disambar lintas pikiran Sobrat.

“Ayolah, tolong saya. Ini taruhan saya yang terakhir. Saya mempertaruhkan segala-galanya. Rumah, sawah, mobil, istri, semuanya. Soalnya saya sudah kalah terus. Saya harus tebus semua kekalahan saya. Ayolah, Mas Sobrat. Tolong saya. Mengalahlah sedikit. Toh Anda masih punya banyak kesempatan.”

“Sudah sepuluh tahun saya mengalah.”

“Tolonglah, ini menyangkut hidup saya.”

“Dan bukan hidup saya?”

“Saya tidak tahu, Mas.”

“Tapi ingin pasti memastikan dan menentukan hasil pertandingan, kan?”

Baca juga  Sumeleh

“Wah, Mas ini berbelit-belit, katakan saja berapa.”

“Apakah saya menjadi berharga ketika menentukan harga?”

“Lho, jadi Mas ingin saya yang menghargai?”

Sobrat sekali lagi menatap langit. Dilihatnya bahwa kalah dan menang sebetulnya memang tidak ada.

***

Ketika masih berlatih sebagai kiper cadangan, setiap kali bola meluncur ke arahnya, ia berdiri dengan gamang di bawah mistar.

Ia merasa seperti akan dibunuh.

Dari sebuah titik kecil, bola itu dalam pandangan matanya perlahan-lahan membesar dan membesar, mendesak dan menekannya, dan belum sempat ia bereaksi bola itu menjadi utuh dan berkelebat di sampingnya.

Gol!

Ia sangat tersiksa sebagai kiper. Apalagi menghadapi tendangan penalti.

Mula-mula hanya hamparan padang rumput menghijau yang luasnya tanpa batas. Lantas bola yang hanya diam dan sendiri dan seolah-olah mengejeknya.

Ia menanti bagaikan seorang terhukum yang akan ditembak mati.

Kemudian ia melihat bola tersebut bangkit dan melayang ke arahnya. Kehendaknya ingin menangkap bola itu.

“Itu, itu, bola itu, aku mau menangkapnya!”

“Sudahlah! Sia-sia! Lihatlah, ia begitu cepat!”

“Aku bisa mencegatnya di sini! Aku mau menangkapnya!”

Maka bola itu pun melayang bagaikan meteor melintasi langit. Sobrat bisa melihatnya meluncur, sementara bola itu sendiri berputar perlahan pada porosnya seperti planet.

Lagi-lagi jala bergetar!

Sobrat baru akan menyadarinya bila sorak sorai gemuruh menyadarkan lamunannya.

“Terlalu! Di lapangan kamu melamun! Sudah kukatakan dari dulu, pulanglah ke Klungkung jadi petani! Kamu tidak berbakat jadi apa pun di dunia sepakbola!”

Itulah yang dulu dikatakan Mormon.

“Tapi aku tidak melamun, aku tahu bola itu akan jatuh di sebelah kiri….”

“Ah, ngaco aje lu, sini pijiti saja kakiku.”

***

Di lapangan itu, ia kembali teringat, sebuah gol yang manis dan sebuah gol lagi yang lain. Sobrat tak tahu apa yang telah membawanya ke lapangan itu. Seperti juga ia tak tahu betapa ia akan meninggalkan lapangan bola selama-lamanya kelak, tepat ketika ia mencetak golnya yang ke-17, tepat pada ulang tahunnya yang ke-30, di depan 70.000 penonton. Begitu saja jantung itu berhenti berdetak.

Begitu biasa.

Seperti sebuah berita kematian, yang menyedihkan bagi seseorang, tetapi tak berarti sama sekali bagi yang lain. ***

.

.

Jakarta, 1981

.

Matinya Seorang Pemain Sepakbola. Matinya Seorang Pemain Sepakbola. Matinya Seorang Pemain Sepakbola. Matinya Seorang Pemain Sepakbola.

Loading

Average rating 3.5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d