Cerpen, Eko Darmoko, Jawa Pos

Nusantara Abad 16

Nusantara Abad 16 - Cerpen Eko Darmoko

Nusantara Abad 16 ilustrasi Budiono/Jawa Pos

5
(1)

Cerpen Eko Darmoko (Jawa Pos, 24 September 2022)

SAYA harap kamu masih hidup ketika membaca surat ini. Supaya kelak saya bisa membunuhmu, Syahbandar Kalianak; lelaki paling jahanam di abad 16. Saya sengaja menulis surat ini dalam bahasa Melayu. Sebab saya tahu, manusia teluk macam kamu pasti hanya bisa bahasa ibu dan sedikit Melayu, mustahil menguasai bahasa Spanyol, apalagi Portugis. Saya imbau, kamu tak perlu cemas saat saya menelanjangi masa lalumu dan menggeledah dosamu.

Syahbandar Kalianak yang Terkutuk, tentunya kamu kenal dan masih ingat dengan perempuan mulia bernama Maria Anna San Jose. Kamu pasti kaget ketika saya menyebut nama itu. Tahan amuk ombak yang bergejolak dalam dirimu! Sebaiknya tuntaskan surat ini! Buang niatmu untuk merobek atau membakarnya! Setelah membacanya, jangankan merobek atau membakarnya, bahkan saya rela bila kamu memakan surat ini.

Di pengujung 1566, Maria Anna San Jose kabur dari kapal pemburu rempah-rempah berpanji Spanyol. Tentunya kamu tahu persis mengapa ia kabur dari kapal itu. Ia lebih memilih terdampar di teluk antah-berantah ketimbang menjadi budak berahi ratusan pelaut. Apalagi, kapal itu sudah dikuasai Skorbut dan Setan Columbus. Kamu pasti bergidik membacanya. Saya tahu banyak tentangmu, termasuk ketika kamu hampir mampus gara-gara diserang wabah Skorbut dan Setan Columbus; dua penyakit laknat yang mencengkeram pelaut abad 16 imbas kekurangan vitamin C dan kebanyakan main pelacur.

Sampai di sini, pasti jidatmu sudah ditumbuhi bulir-bulir keringat yang jatuh membasahi gulungan kertas yang kamu pegang. Teruskan membaca! Jangan berhenti sebelum khatam!

Maria Anna San Jose selama berbulan-bulan dalam kapal itu berhasil mempertahankan kesuciannya dari incaran para pelaut fakir berahi. Sejak kapal angkat sauh di Samboanga, ia membuat drama tentang penyakit ruam misterius di selangkangan dan kelaminnya. Drama inilah yang menyelamatkannya dari cengkeraman berahi para pelaut karena takut tertular ruam misterius. Namun, ketika kapal itu menuju perairan utara Pulau Jawa sisi timur, drama Maria Anna San Jose terbongkar. Laksana dayung bersambut, para pelaut mulai memburunya di kapal. Beruntung ia pandai dan licin dalam bersembunyi. Pekerjaannya sebagai tukang masak pun ditinggalkan. Ia sembunyi dari lorong ke lorong.

Oleh sebab tak tahan dengan perburuan yang kian gencar serta takut jadi guling bergilir para pelaut, Maria Anna San Jose memilih terjun ke laut setelah dilihatnya Pulau Jawa sudah agak dekat. Ia berenang, mengerahkan seluruh tenaganya agar bisa sampai daratan. Ketika ia sampai di Teluk Kalianak, napasnya sudah penghabisan. Nah, di sinilah, kamu datang meraihnya, lalu mengangkatnya ke atas sampan yang kamu tunggangi.

Jangan kaget membacanya, sudah saya bilang sejak awal; saya tahu banyak tentangmu. Bahkan tentang bagaimana kamu tertular dan akhirnya selamat dari Skorbut dan Setan Columbus, saya tahu sampai ke akar-akarnya. Kamu doyan main pelacur ketika bergabung dengan sindikat bajak laut Bandot Berkumis; aku punya bukti surat tagihanmu dari sejumlah rumah bordil di Kepulauan Sulu.

Baca juga  Gadis Bermahkota Tiga Kembang yang Layu

Setelah mengangkut Maria Anna San Jose, kamu membawanya masuk ke dalam pos pantau yang letaknya tak jauh dari dermaga di Teluk Kalianak. Di sebuah dipan, kamu membaringkannya dan menungguinya hingga sadar dari semaput karena lelah berenang. Bahkan saya tahu saat kamu membuatkannya air jahe serta menyuguhinya kentang rebus yang sudah dingin. Saat itu kamu masih menyandang cap lelaki mulia. Namun, tak butuh waktu lama, capmu berganti menjadi lelaki paling jahanam di abad 16. Setan!

Saya tahu persis dan hafal percakapan yang kamu buat dengan Maria Anna San Jose ketika sadar dari semaput. Kamu mengaku sebagai syahbandar kepadanya. Cuih! Syahbandar gadungan. Maria Anna San Jose pun tahu bahwa kamu hanya membual. Tapi setidaknya, ia merasa aman; menemukan suaka untuk berlindung dari ledakan berahi para pelaut. Meskipun berasal dari pedalaman Samboanga, Maria Anna San Jose sudah akrab dengan dunia kelautan sejak kanak-kanak. Dan tentunya ia tahu tentang pengertian syahbandar. Tidak mungkin Kalianak yang hanya teluk kerdil di pedalaman, jauh dari sorot peradaban, memiliki seorang syahbandar. Di masa-masa itu, berdasar jurnal perompak Venesia, jabatan syahbandar terdekat ada di Selat Kamal Perak yang memisahkan Jawa dan Madura serta Pelabuhan Tandes.

Mungkin kamu belum tahu; ketika Maria Anna San Jose berusia sekitar 12 tahun, ia sudah menjadi juru tulis, membantu Syahbandar Samboanga dalam hal surat-menyurat dengan sekutunya dari pulau-pulau yang berada di selatan Samboanga, seperti Celebes, Borneo, dan Halmahera. Bahkan, surat yang ditulisnya atas titah Syahbandar Samboanga juga dikirim ke pulau jauh; Swarnadwipa di barat Selat Melaka, Malta di Mediterania, dan Istanbul.

Saat kamu membaringkannya di sebuah dipan di Kalianak, Maria Anna San Jose berusia kira-kira 19 tahun. Sedangkan kamu hampir 30 tahun. Ia sungguh cantik. Kulitnya putih bersinar, mewarisi darah Eropa. Sedangkan rambut hitamnya warisan Sulu. Sejak awal, kamu sudah berniat untuk menidurinya. Namun kamu sungkan, setidaknya waktu itu, lebih tepatnya kamu takut menjamah perempuan berperawakan Eropa.

Tentunya kamu tahu seluk-beluk Samboanga melalui kisah-kisah yang disampaikan Maria Anna San Jose dalam bahasa Melayu. Tapi saya ingin memastikan ingatanmu segar kembali, makanya saya perlu memugarnya dalam surat ini. Ratusan tahun silam, Samboanga sudah menjalin kongsi dengan negeri-negeri di khatulistiwa Asia Tenggara, termasuk Jawa di selatan khatulistiwa.

Dari Samboanga yang terletak di utara Celebes, kapal yang ditumpangi Maria Anna San Jose berlayar ke selatan, belok tipis ke barat melewati celah perairan antara Celebes dan Borneo. Tiba di utara Kepulauan Nusa Tenggara, kapal belok ke barat menuju selatan Borneo atau utara Jawa. Selanjutnya kapal terus ke selatan hingga tiba di Selat Kamal Perak; di sini ia mulai merancang pelarian demi menghindari berahi para pelaut, sebab lelah bersembunyi.

Baca juga  Si Bangrukulu

Jatuh ke tanganmu, Maria Anna San Jose merasa dekat dengan kampung halamannya. Celoteh orang-orang di Teluk Kalianak tidak begitu asing di telinganya. Bukankah kamu menyadari bahwa antara bahasa Tagalog di Samboanga, Melayu, dan Jawa ada kemiripan; begitu penilaian Maria Anna San Jose setelah berminggu-minggu menginap di pos pantau bersamamu. Sementara itu, kapal berpanji Spanyol masih belum angkat sauh dari Kamal Perak. Konon, kapal sandar di sana sampai pertengahan tahun atau sampai lambung kapal sudah dipenuhi rempah-rempah hasil merompak.

Di awal 1567, kamu sudah berani menyentuh lengan Maria Anna San Jose, bahkan menggerayangi tubuhnya ketika ia terlelap. Tabiatmu culas, khas komplotan Bandot Berkumis. Berahi menjelma setan mengerikan dalam benak lelaki, tak peduli bangsa dan bahasa yang digunakannya. Jangan marah! Itulah tafsir perempuan kebanyakan, termasuk saya.

Pada sebuah senja, ketika kabut menyelimuti Teluk Kalianak, Maria Anna San Jose menangis di atas ranjang setelah mengetahui roknya copot serta menemukan bercak darah dan mani di sekitar kemaluannya. Sementara kamu buru-buru mengenakan celana, bersikap seolah-olah tidak terjadi sesuatu yang memalukan. Belakangan, ia tahu bahwa kamu telah menaburkan bubuk biji apel pada secawan teh yang kamu suguhkan padanya, sore harinya. Ramuan biji apel itulah yang membuatnya tersirep hingga kamu leluasa merenggut kesucian yang pernah ia pertahankan dari ancaman para pelaut.

Sejak peristiwa jahanam itu, hampir tiap malam kamu meniduri Maria Anna San Jose. Tentu saja, kamu terpaksa harus puasa berahi ketika ia datang bulan. Ia tak punya pilihan lain. Bahkan untuk sekadar menolak, ia tak berani, lebih tepatnya sungkan demi membalas budi baikmu yang sudi menampungnya. Cuih!

Budi baik? Lihatlah, betapa ia pantas menyandang cap perempuan mulia. Tidak sepertimu, cap lelaki jahanam sangat pantas untukmu. Bahkan bila ada kata bermakna mengerikan selain jahanam, kamu masih layak mengenakannya.

Sudah pasti kamu masih ingat ketika kabar kehamilan disampaikan tabib yang memeriksa Maria Anna San Jose. Saat itu kamu enteng berkata kepadanya di hadapan tabib: Saya akan menjagamu dan buah hati kita. Kita akan membesarkannya di teluk ini.

Kehamilan Maria Anna San Jose menjadi kabar gembira bagi orang-orang Teluk Kalianak. Mereka seakan sanggup memastikan bahwa anak yang kelak lahir memiliki paras rupawan, warisan dari ibu dan bapaknya. Cuih, persetan dengan si bapak. Lelaki paling jahanam di abad 16. Setan Kalianak!

Di pertengahan 1567, ketika kamu menjala ikan dari atas sampan di Teluk Kalianak, kamu didatangi dua sekoci berisi sejumlah pelaut Spanyol dan lelaki lokal sebagai juru alih bahasa. Mereka sedang mencari keberadaan perempuan Samboanga. Mereka akan menukarnya dengan sekantong keping emas dan sekotak opium dari utara Swarnadwipa. Di sinilah perangai aslimu muncul, wahai Syahbandar Kalianak gadungan.

Baca juga  Selagi Ia Menulis Cerita Pendek Ini

Kamu menyeret Maria Anna San Jose dari rumah, maksud saya pos pantau, lalu menyerahkannya kepada pelaut-pelaut itu. Sementara sampanmu sudah terisi keping emas dan opium. Saat itu Maria Anna San Jose rela berlutut di kakimu, memohon agar kamu tidak menukarnya dengan emas dan opium. Namun, harta dan candu membuatmu silau, mengingkari janji untuk menjaganya serta membesarkan anak di kandungannya. Mulai detik itu, ia menjalani hari-hari mengerikan di lambung kapal rempah-rempah selama pelayaran di Kepulauan Sulu atau oleh bangsamu disebut sebagai Nusantara sebelum kapal pulang ke Samboanga.

Ingin rasanya saya menggeledah masa lalu dan dosa-dosamu lebih panjang lagi dalam surat ini. Namun saya perlu menahannya, biar sisanya saya tuangkan langsung ke mukamu. Surat ini saya tulis ketika ziarah ke makam Maria Anna San Jose di Ujung Pandang, Celebes Selatan. Ia meninggal dunia dua tahun lalu saat pemberontakan rempah-rempah berkecamuk di pesisir.

Ada hal yang tidak kamu ketahui, Maria Anna San Jose gagal pulang ke Samboanga. Sebab ia dibuang bersama bayi perempuan yang baru dilahirkannya ketika kapal buang sauh di Celebes Selatan. Kamu pasti heran mengapa awak kapal membuangnya saat sandar sejenak. Tentunya kamu bisa membayangkannya; mana ada lelaki yang tahan meniduri perempuan hamil yang jiwa dan raganya sudah bobrok, seperti mayat hidup dan terlihat gila, akibat kenestapaan. Kenestapaan yang kamu ciptakan, Setan Kalianak!

Beruntung dalam masa pembuangan itu Maria Anna San Jose dan bayi perempuannya dipungut oleh kelompok nelayan. Lambat laun kenestapaan pada dirinya lenyap, berganti kobaran semangat untuk melanjutkan hidup. Ia mengabdikan diri pada rutinitas pesisir hingga akhir hayat. Sedangkan bayi perempuan itu kini tumbuh menjadi gadis cantik pujaan Celebes.

Perlu kamu catat, beberapa minggu setelah kamu membaca surat ini, saya sudah tiba di Teluk Kalianak dan berdiri di hadapanmu. Tak sabar saya untuk membunuh lelaki paling jahanam di abad ini. Jaga dirimu baik-baik! Saya akan datang untuk mengeluarkan jantungmu. Demikian sumpah saya.

Celebes, 4 Juli 1586, Caroline Putri Maria Anna San Jose. ***

.

.

EKO DARMOKO. Prosais kelahiran Surabaya. Masuk daftar 10 Penulis Emerging Indonesia dalam Ubud Writers and Readers Festival 2022. Buku kumpulan cerpennya Revolusi Nuklir (Basabasi, 2021) masuk 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2021. Bergiat di Komunitas Sastra Cak Die Rezim Surabaya.

.

Nusantara Abad 16. Nusantara Abad 16. Nusantara Abad 16. Nusantara Abad 16. Nusantara Abad 16.

 673 total views,  8 views today

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!