Cerpen, Kompas, Seno Gumira Ajidarma

Si Kupu-Kupu

Si Kupu-Kupu - Cerpen Seno Gumira Ajidarma

Si Kupu-Kupu ilustrasi Gery Tobing

2.5
(2)

Cerpen Seno Gumira Ajidarma (Kompas, 12 Agustus 1979)

 ADA sebuah perkampungan dekat pelabuhan. Kecil saja, tapi besar artinya bagi para pelaut. Tempat pertemuan kelamin berbagai bangsa yang terbuka untuk segala kenikmatan dan kesenangan hidup: minuman memabukkan, perjudian, pelacuran—yang bagi orang alim dengan cepat disebut kemaksiatan.

Kampung itu bernama Andrea. Sebuah nama yang aneh bagi sebuah kampung di Nusantara. Letaknya di pulau kecil yang kelak juga disebut seperti nama kampung tersebut, ajang persembunyian bagi para penyelundup dan pelarian dari penjara.

***

Kata orang, aku berasal dari profesi yang paling tua. Namaku Si Kupu-kupu. Aku keluar malam hari, dan menunggu di tepi jalan kalau-kalau saja kamu lewat. Di bawah lampu jalanan itulah aku dipasak bagai patung, menahan dingin dalam baju setipis ini, dalam udara sekejam ini. Tak jauh dariku, mereka yang telah berbulan-bulan ini memerasku, duduk-duduk menghirup kopinya di warung sambil tertawa-tawa. Begitulah kehidupanku sekarang, terlibat utang yang lumayan besar waktu penyakit itu akhirnya menyerangku juga.

***

Dulunya kampung itu dihuni oleh sekelompok nelayan lugu yang hanya tahu bagaimana merajut jala dan membuat ikan asin. Pada tahun 1811 mendaratlah kapal Maria, menurunkan orang-orang kulit putih bangsa Spanyol yang tersesat. Kapten kapal itulah yang bernama Andrea. Kapal itu mengangkut sekelompok pembelot yang diusir oleh Kerajaan Spanyol. Mereka mengembara, tak tahu tanah lain kecuali Spanyol.

Mereka sebenarnya bukan pelaut. Di Laut Tiongkok Selatan, setelah kelelahan mempertahankan diri dari serangan lanun Thai yang akhirnya bisa dikalahkan, mereka diserang badai. Tiga hari lamanya mereka berjuang melawan ombak yang mengombang-ambingkan kapal, sampai pada suatu pagi terdampar tanpa ujud lagi.

Atas nama segala kemurnian, letak pulau itu tak perlu dijelaskan, karena akan segera tercemar jika banyak orang terundang datang. Biarlah kampung kecil itu tetap di sana seperti semula, dengan segala peradabannya yang paling tua, menjadi milik golongan terpinggirkan yang sudah tidak punya tempat di dunia, karena segalanya telah dirampas dengan sah oleh kaum yang merasa dirinya lebih berbudaya.

Baca juga  Profesor Bermulut Runcing

***

Namaku Si Kupu-kupu. Terbang mulai senja sampai dini hari. Sayapku biru dan berbintik putih, sangat merangsang Si Kupu-Kupu lawan jenisku. Kalau saja kamu tahu perasaanku, kalau saja kamu tahu. Namun kamu tidak akan pernah mengerti. Betapa terkutuk rasanya dirazia, diciduk, dan mengalami rudapaksa. Tidak bisa berpikir tenang dan terpaksa hidup dalam dunia yang semu. Penuh kepura-puraan.

***

Andrea adalah orang yang cerdik. Baru kemudian diketahuinya bahwa pulau itu sangat strategis letaknya dalam lalu lintas pelayaran. Jika dia bisa mengaturnya, akan terjadi banyak perubahan di kampung itu. Maka ia pun segera merombaknya. Ia membangun pelabuhan dan tempat hiburan. Para penghibur segala jenis didatangkan dari segala penjuru Nusantara.

Ia benar-benar membangun pulau itu. Kisah selengkapnya bisa jadi novel sejarah. Sembari menghindari perjumpaan dengan kapal Belanda dari Batavia atau kapal Portugis dari Ambon dan Timor, ia mengembara ke seantero bumi melakukan perjalanan diplomatik. Pada tahun 1814 pulau itu secara ekonomis sudah berdiri sendiri.

Kampung yang baru dibangun itu terletak di teluk, di depan laut yang tenang. Sedang di semenanjung sebelah baratnya terdapat pelabuhan. Hanya kaum lanun dan orang-orang terbuang saja mengenal tempat itu. Suatu surga tempat penimbunan hasil penjarahan seperti gading, sutera, hasil hutan, rempah-rempah dan senjata. Namun surga itu adalah neraka bagi para pelacur, yang perempuan maupun lelaki, yang bukan perempuan maupun bukan lelaki, dari pihak perempuan maupun lelaki.

***

Namaku Si Kupu-kupu. Meskipun susah dan merana, aku mesti tetap berdandan, tampak segar, dan menggairahkan. Aku mesti bersikap betapa hidup ini bagaikan berada di sorga, biarpun kata orang alim tempatku ini adalah neraka. Aku mesti membuat tiap lelaki merasa dirinya jantan, meskipun mereka sebenarnya loyo. Aku mesti memainkan perasaan mereka, sampai mereka jatuh, dan memburuku sampai aku menghentikannya.

***

Waktu melesat seperti pesawat Concorde.

Kini tahun 3045. Segalanya tampak sudah berubah. Semuanya. Gambar pemandangan seperti gunung, pantai, dan padang rumput mewakili sesuatu yang tidak pernah tampak oleh mata lagi. Tesis tentang perjuangan fisik semasa revolusi 45 memerlukan riset yang lebih cermat, karena banyak kebohongan telanjur diterima sebagai benar. Begitu juga tentang kecurangan-kecurangan dalam pemilu. Film sejarah adalah film tentang sepakbola. Puncak Monas telah diganti dengan patung bola belang hitam putih. Sekarang tiada lagi sepakbola, karena lapangannya dipakai untuk mendirikan flat bertingkat ratusan. Orang bermain bola dengan komputer. Pertandingan sepakbola elektronik di bawah tanah dijaga oleh robot.

Baca juga  Made Segara

Orang-orang hanya sarapan pil. Pendidikan disumpalkan sejak bayi lewat getaran program yang disalurkan kabel langsung ke otak. Pemegang kekuasaan adalah suatu kamar elektro, sebuah komputer yang begitu rumit seperti lukisan abstrak. Sebut saja X-PREX. Kehidupan berjalan secara otomatis dan kering. Makhluk bernama manusia mulai tersisih dari peradaban. Semua fungsi dipegang oleh X-PREX dan sejenisnya.

Dalam kurun waktu sekian tahun itu Indonesia mengalami kemajuan ajaib yang merupakan anugerah langsung dari Tuhan. Indonesia berkembang pesat di bidang ekonomi, militer, politik, dan kesenian. Entah bagaimana bisa begitu. Orientasi dunia berpaling ke Indonesia. Negara ini menjadi salah satu kekuatan dunia, menjadi negara adidaya. Amerika Serikat mengalami dekadensi moral yang begitu gawat sehingga peradabannya hancur musnah. Uni Soviet negerinya hancur karena sabotase para seniman di pusat-pusat tenaga nuklir. Ledakannya puluhan kali letusan Gunung Krakatau. Terjadi radiasi di banyak tempat di dunia. Republik Rakyat Tiongkok sudah tidak ada. Wilayahnya dibagi rata oleh seluruh penduduk Vietnam. Penduduknya yang banyak itu menyebar ke mana-mana, menjadi mayoritas penduduk dunia. Asimilasinya menyebabkan kebangsaan seluruh dunia hampir sama saja.

Pulau Andrea menjadi pusat pelacuran sedunia. Kampungnya sekarang terdiri dari besi beton dan tidak beratap rumbia lagi. Pulau Andrea menjadi cagar budaya untuk melestarikan profesi manusia yang paling tua.

Pada gilirannya X-PREX itu sudah bisa melepaskan dirinya dari ketergantungan pada manusia. Cikal bakal mereka yang sejenis dengan kalkulator itu, gambarnya tersorot siang dan malam di tempat suci mereka yang bentuknya seperti kapsul. X-PREX sudah bisa mengurus dirinya sendiri, dan manusia menurut mereka harus disingkirkan karena tidak praktis, pelupa, dan banyak membuat kesalahan. Adapun kesalahan yang terbesar adalah mempunyai perasaan dan tepa selira. Apalagi terlalu cepat memproduksi keturunan.

Baca juga  Lengtu Lengmua

Betapa pun perkara jual beli cinta tidak pernah berubah. Begitu butuhnya manusia dengan cinta, sehingga meskipun cinta itu semu tidaklah terlalu menjadi masalah. Asal tetap seperti cinta. Si Kupu-Kupu masih hidup pada abad ini, melayani sisa-sisa manusia, dan sedang merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-1.100.

***

“Aku terpaksa, sungguh aku terpaksa,” begitu pengakuanku kepada lelaki itu.

Ia cuma tersenyum. Tentu saja tersenyum. Semua pelacur selalu mengatakan, “Karena terpaksa.” Padahal aku benar-benar terpaksa. Kau bisa membayangkan bagaimana rasanya tidur dengan lelaki yang belum pernah kita kenal.

Ketika aku telah menjadi pegawai bar, lelaki itu datang lagi, masih mengisap pipanya. Senyumannya masih seperti dulu.

“Aku tahu kau anak baik,” katanya.

Lantas ia tidak menggubrisku lagi. Dengan sebotol bir ia pergi ke meja di sudut itu. Kurasa sebetulnya ia kurang betah dengan lagu dangdut yang mengentak ruangan. Namun ketika sudah beberapa gelas diteguknya, tampak ia menemukan ketenangannya kembali.

Aku memperhatikannya. Aku tak tahu ia datang dari mana.

Manusia, dari mana sajakah ia bisa berasal? Setidaknya ia dilahirkan seorang perempuan.

Ia begitu kurus dan kecil, sehingga kadang-kadang aku ragu mungkinkah ia melakukannya. Meskipun begitu ia tak tampak rapuh. Terlihat bahwa kedatangannya tidak memiliki tujuan yang sama dengan orang-orang lain.

Ia banyak berkenalan dan mengamati setiap orang. Pada mulanya aku curiga, jangan-jangan dia intel. Atau pengarang, yang suka ngibul tentang para pelacur romantis tanpa pernah benar-benar mengenalnya.

Namun tentu saja aku tahu, betapa aku sama sekali tidak perlu tahu. ***

.

.

Jakarta 1979

.

.

Loading

Average rating 2.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!