Cerpen, Kompas, Seno Gumira Ajidarma

Wanita di Muka Cermin

Wanita di Muka Cermin - Cerpen Seno Gumira Ajidarma

Wanita di Muka Cermin ilustrasi GM Sudarta/Kompas

4.4
(5)

Cerpen Seno Gumira Ajidarma (Kompas, 22 Mei 1983)

“SIAPAKAH aku?”

Di depan cermin perempuan itu bertanya kepada dirinya sendiri.

Wajahnya bersih dan terang. Ia belum memakai make-up. Hari ini umurnya tepat mencapai 40. Mereka akan merayakannya di sebuah hotel.

Mereka, bukan dia. Ia tak pernah berniat merayakan hari ulang tahun, apalagi secara mewah di tengah beban kehidupan yang memberat bagi jutaan orang lain. Namun mereka mendesak. Suaminya, ipar-iparnya, saudara-saudaranya, anak-anaknya, kawan-kawannya.

“Ayolah, umur empatpuluh, kan, penting artinya bagi seorang perempuan.”

Apa maksudnya? Menjadi tua? Huh!

Dari ruang tengah terdengar lagu-lagu punk-rock yang ganas. Anak perempuannya yang bungsu itu asyik sekali menyetel musik dengan keras. Sudah berkali-kali ia memperingatkan bahwa telinga bisa pekak tapi anaknya itu hanya mencibir saja. Ia sudah membelikan buat dia sebuah walkman, tapi mungkin belum puas rasanya jika punk-rock itu belum menghentak pula telinga orang lain.

“Siapakah aku?”

Ia bertanya lagi di hadapan cermin yang besar dan bening itu. Aneh juga melihat wajah asli tanpa make-up. Rasanya asing melihat wajah sendiri. Sebagian besar dari hidupnya dilewatkan dalam lumuran kosmetik, jarang ia berkaca tanpa bahan-bahan kimia itu di wajahnya. Paling-paling beberapa detik sebelum berdandan dan beberapa detik setelah dihapus, kemudian tidur.

Dalam benak perempuan itu pun berkelebat tahun-tahun hidupnya yang serba tergesa. Hidup macam apakah itu!

Ia menggosokkan pelembab ke seluruh kulit wajahnya, disusul foundation, sambil melirik jam dinding lewat cermin. Waktunya cuma duapuluhlima menit. Ia tidak bersikap istimewa pada hari ulang tahunnya. Apa sih ulang tahun, pikirnya, waktu merentang tanpa henti, kita saja yang memberinya angka-angka tanggal dan nama-nama hari.

Telepon di kamarnya berdering.

“Ya. Oke. Ya. Apa? Kepala Buddha dari Borobudur? Memangnya berani bayar berapa? Susahlah kirim barang begituan. Sekali kepergok beritanya digede-gedein. Iyalah. Gue nggak main gitu-gituan lagi sekarang.”

Ia letakkan telepon.

Ade-ade aje,” pikirnya.

Perempuan itu tersenyum, menatap matanya sendiri, dan ia melihat di dalam mata itu sebuah kisah. Berpancaran tak bisa disembunyikan. Mata yang selalu takjub, berkejap penuh gairah.

Ia mengoleskan eye-shadow warna kuning emas, pada kelopak bagian atas persis di bawah alis, dan di bawah ujung mata. Lantas membubuhkan warna oranye pada kelopak mata. Perempuan memang suka kosmetik, pikirnya, tebal atau tipis, setiap hari atau saat-saat tertentu, pokoknya mereka suka.

Baca juga  Sira dan Samo

Dan laki-laki tampaknya lebih suka kalau perempuan memakai kosmetik.

“Perempuan yang tidak berdandan, bukan perempuan,” kata mereka.

O ya?

Baginya tak penting benar apakah ia perempuan kosmetik atau bukan. Ia tak mengerti kenapa perempuan mesti tidak memakai apa-apa.

***

Masih saja punk-rock di ruang tengah itu.

“Mama! Cepat sedikit dong dandannya. Papa baru saja telepon, mau jemput sendiri.”

Anak perempuannya berteriak di sela keriuhan. Ia tidak menjawab. Agak tertegun juga mendengar suaminya mau jemput sendiri. Biasanya urusan jemput menjemput begitu selalu di tangan sopir.

Hadiah ulang tahun? Bolehlah. Bukankah pesta ulang tahun mengharuskan kita bergembira?

Wajahnya lebih mendekat ke cermin, matanya dibelalakkan, begitu selalu terjadi ketika membuat garis di bagian bawah mata dengan eye-liner yang hitam kelam membentuk sebuah kedalaman.

Tiba-tiba ia berpikir, apakah yang terjadi seandainya manusia tidak berwajah? Repot juga menebak-nebak kepribadiannya. Sedangkan menatap wajah sendiri di cermin pun tak mudah mengenali diri.

Sambil menggariskan kohl pada bagian dalam mata, ia berpikir tentang mata yang mengerjap bagai kemurnian seorang gadis.

Ia tahu, mata itu juga yang bisa tiba-tiba berubah penuh kelicikan tersembunyi ketika tidak ada seorang pun melihatnya.

Mataku itukah kata hatiku? Aku yang ragu-ragu di balik penampilanku yang meyakinkan. Aku yang minta dikasihani pada saat kata-kataku tak mampu meyakinkan lagi. Aku yang merayu dan menjerat dengan lirik-lirikan kilat. Mata itukah bahasa batinku, mata itukah senjata rahasiaku?

Perempuan itu membuat bayangan pada pangkal alis dan pada sisi-sisi hidung dengan warna coklat. Wajahnya sudah mulai berubah sekarang.

Siapa yang berada di depan cermin itu?

Dahinya menyiratkan kecerdasan, hidungnya kesempurnaan perempuan. Namun mulutnya? Ia tak bernyali menebak gambarannya sendiri.

Sekali lagi ia membuat eye-shadow, kali ini hitam, di ekor mata. Garisnya membentuk dengan luwes, menyesuaikan diri dengan bentuk matanya, lantas kehitaman di ujung mata itu diperlembut dengan warna yang sama. Setelah itu alis, dibentuknya dengan pensil hitam, lalu disikat dengan sikat-alis sehingga warnanya jadi rata, dan tampak seperti alis yang tebal.

Di depan cermin ia berpikir. Jika perempuan itu bukan dirinya, lantas dirinya sebetulnya siapa? Jika dirinya bukan perempuan itu, tidakkah perempuan itu sesuatu yang palsu?

Baca juga  Sepasang Orang Mati

Hatinya berbisik tanpa henti. Apakah yang tersisa dari dirinya ketika berhadapan dengan orang lain selain senyuman yang menutupi pikiran-pikiran tersembunyi?

Bahkan ketika menangis pun perempuan itu sering ragu apakah sebenarnya yang mesti ditangisi. Menangis kadangkala juga menjadi semacam kosmetik.

Ia tersenyum getir. Kesedihan indah menguasai dirinya. Saat yang paling tepat untuk menarik napas dalam-dalam serta menghembuskannya keluar dengan suatu tekanan dramatik, sementara rohnya mengembara dalam alam kenangan yang telah jadi sayup, hilang dan muncul silih berganti.

Ia menggeleng keras, seperti mengusir sesuatu di dalam kepalanya. Namun perasaan itu semakin mengendap seperti kabut yang turun pada kesunyian bukit-bukit. Ia mencoba mengambil jarak terhadap perasaan-perasaan itu.

Inikah kenyataan diriku, batinnya, terpecah dalam keping-keping kenangan yang berubah-ubah, bergulung, menggelinding, dari detik ke detik yang terus berdetak…

Apakah aku mengenali atau tak mengenali diriku? Apakah aku tak mengenali atau mengingkari diriku?

Ia mengoleskan rouge warna merah oranye pada pipinya, kira-kira tiga atau empat sentimeter di bawah mata. Diberinya juga sedikit bayangan pada pelipis.

Aneh, tiba-tiba ia menjadi waspada pada keseluruhan wajah itu. Jangan-jangan dirinya palsu!

Bukankah aku mestinya tampak lebih tua? Rambut di atas dahiku sudah mulai rontok sedikit-sedikit, pipiku mestinya masuk lebih ke dalam dan di sudut mataku ada beberapa kerutan, juga di sudut-sudut bibirku. Bagaimana bisa orang mengatakan aku sepuluh tahun lebih muda?

Dan bibir itu …

Mendadak ia merasa udara jadi panas, membuatnya ingin melayang keluar dari tubuhnya.

Ada rasa gemetar di tangannya ketika ia mengolesi bibir itu dengan lip-conditioner, meski bibir itu betapa pun tersenyum. Berapa bibir yang telah mencium dan diciumnya, lelaki maupun perempuan, sebelum dan setelah menikah? Ia mencoba menghitung, tapi tak pernah berhasil.

Perempuan itu merasa aneh melihat dirinya di cermin itu. Perempuan macam apakah aku?

Untuk berapa detik ia merasa dirinya bagaikan pedagang yang bangkrut. Namun dirinya segera memberontak. Peduli setan! Dengan hati yang mantap dan tegas, ia mengoleskan lipstik yang merah menyala di bibirnya, meskipun dengan teknik sapuan kuas-bibir yang tetap hati-hati.

Ia sebetulnya sadar, warna merah menyala tak cocok bagi bentuk mulutnya yang lebar dan seolah-olah memberikan gambaran terlalu jelas tentang kehendak tubuhnya. Dengan kulitnya yang sawo matang, biasanya ia memakai warna oranye. Namun kali ini biar, biarlah bibirku menjadi jalang dengan terang-terangan.

Baca juga  Festival Topeng

Aku tak ingin berkosmetik dengan palsu. Bila seorang perempuan berkosmetik, maka kosmetik itu harus menunjang kepribadiannya. Biarlah bibir merah menyala yang seperti selalu minta dicium ini jadi pamfletku!

Senyumannya kini tampak menyeramkan, tetapi perempuan itu tiba-tiba merasa hatinya riang.

***

Tiada lagi punk-rock. Sunyi.

Ia melirik jam dinding, dan tersenyum dalam hati. Tak lebih dari limabelas menit ia mengurus wajahnya, masih banyak waktu untuk memasang maskara. Bagian yang paling menjemukan karena sering meleset.

Bulu matanya sendiri sebetulnya cukup panjang, hitam dan lentik. Waktu bayi dulu, ibunya menggunting bulu mata itu ketika ia sedang tidur. Kata ibunya, itulah yang membuat bulu matanya bagus dan mengundang pujian orang.

Ia mengangkat bahu teringat itu, sementara wajahnya mendekat ke cermin sambil membelalak untuk memasang maskara, bulu mata palsu, di atas dan di bawah.

“Mama! Ayo! Papa sudah datang tuh!”

Terdengar suara kecil anaknya, di susul suara sepatunya yang berlari menjauh ke luar, diseling suara klakson.

“Sialan, mestinya masih lima menit lagi toh?” Desisnya menggerutu.

Ringan sekali gerakannya ketika ia berdiri. Dengan kecepatan kilat ia telah berganti pakaian. Merah. Menyisir rambut, memasang jepit. Merah. Memakai sepatu. Merah. Menyambar tas. Merah.

Mobilnya melesat menembus malam. Dalam keheningan perjalanan, kembali semacam perasaan ragu-ragu merayap di hati perempuan itu. Benarkah aku telah mengenal diriku sendiri? Tapi ia, dan semua perempuan yang berkosmetik pada malam itu tak sempat lagi merenung. Sebuah pesta telah menunggu.

“Kamu cantik sekali,” kata suaminya.

Cahaya dari lampu-lampu jalanan menerobos ke dalam mobil sekilas-sekilas dengan irama tetap. Sekali lagi ia mencoba melihat dirinya pada cermin yang kecil, tapi wajahnya hanya tampak samar-samar. ***

.

.

Jakarta, 23 April 1983.

.

Wanita di Muka Cermin. Wanita di Muka Cermin. Wanita di Muka Cermin. Wanita di Muka Cermin.

Loading

Average rating 4.4 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d