Alimuddin, Analisa, Cerbung

Keluarga Lulu (2)

Keluarga Lulu (2) - Cerbung Alimuddin

Keluarga Lulu ilustrasi Toni Burhan/Analisa

0
(0)

Cerbung Alimuddin (Analisa, 22 Desember 2013)

DOSA nggak ya, si Lulu itu?

Kemudian Lulu bangkit menuju meja belajarnya. Diulek-ulek tasnya, cari pulpen dan buku PR Fisika. Mulailah ia mengerjakan PR.

“Terserah kamu deh, Lu! Pokoknya Mami sebagai orangtua yang baik, bijaksana juga cantik, sudah mengingatkan….”

Konsentrasi Lulu terganggu.

Kepala Lulu bersungut-sungut. PR-nya tidak susah-susah amat, melainkan amat- amat susah. Ia sudah siap berdiri di depan kelas sambil angkat tangan sebelah. Tidak cukup itu, satu tangan lagi mencet hidung. Belum habis hukuman itu, juga harus berteriak-teriak, “Bu Tunika cantik….” sebanyak seratus kali.

“Ya udah. Lulu subuhan, Mi….”

Keluarnya dan sarang, Lulu disambut senyum manis di muka Mami. Tak buang- buang waktu, Mami langsung melesatkan panah-panah gosip ke telinga Lulu.

“Tahu nggak, Lu….”

“Ca… Cepetan! Kak Lulu belum subuh nih!”

Lulu yang melihat gelagat tidak menyamankan, sengaja berteriak kencang. Mami kasian deh lo… Habis, Mami juga sih, masak gosip nggak pilih-pilih waktu.

“Tar lagi….”

“Bapak Cukro itu rupanya….” Tapi Mami bukan tipe penggosip yang pantang menyerah.

“Ca, keluar dulu deh, Kakak wudhu dulu. Kalau Kakak nggak shalat subuh, kamu yang tanggung dosanya ya?” ancam Lulu.

Cica keluar dari kamar mandi, dengan tubuh dililit handuk, dan rambut itu masih kering kerontang. Dasar Cica yang ‘darah takut akan dosa’-nya yang kental berkat turunan dari sang Mami, tergopoh keluar.

“Wow… Ada hantu lupa jalan pulang, Mi!” ngakak Cica.

Lulu memilih tak open. Hari kian terang. Jam delapan ia harus tiba di sekolah. Tidak nol bisa jam 10. Jam pertama olahraga Pak Yonk yang bisa digoda kalau telat.

“Pas kamu pulang sekolah aja kita diskusikan gosip ya Lu?”

Mami nyerah. Bukan nyerah tepatnya. Sebab suara infotainment yang berteriak sedang menayangkan kabar dari artis favorit Mami.

“Lu… Desy Ratnasari main film lagi. Judulnya Loncat Indah di Kali, hihi… Bukan, judulnya Kun Fayakun.”

“Desy Ratnasari itu siapa sih, Mi?” Cica yang masih berhanduk-ria ikut-ikutan menonton infotainment itu. Sementara Lulu tak khusyuk berdoa dalam sembahyang.

Mami lalu melotot. “Kamu nggak tahu Desy Ratnasari siapa, Ca?” Mami memang selalu antusias kalau sedang membahas artis favoritnya itu.

Dengan pasti Cica menggeleng.

“Kamu nggak liat poster-poster yang ditempel di dinding kamar Mami?”

“Liat, Mi, kan Cica sering nyari kutu Mami di kamar Mami hihi….” Cica ngikik melihat Maminya bertampang jelek itu.

“Nah, itu Desy Ratnasari. Aduh, Mami seneng banget deh! Gak sabaran nih tunggu keluar filmnya.” Muka Mami cerah cemerlang.

“Itu bukannya Mandra?”

Mata melotot Mami siap melotot lagi ke arah Cica. Ni anak memang paling bisa buat sebel orang.

Lulu sudah siap berseragam sekolah. Lalu keluar melaju ke meja makan. Cica tak ada lagi di ruang televisi. Tinggal Mami dengan mata yang tak lekang pada TV yang tengah menayangkan serial komedi.

“Desy Ratnasari main film lagi, Lu. Mami seneng banget deh!” Begitu mencium aroma Lulu, Mami langsung menancapkan kabar-kabari.

“Oya, Mi? Ya ampun, Mi….”

Lulu tidak maniak Desy Ratnasari. Di kamarnya bejibun fotonya sendiri. Pikir Lulu, ngapain juga ngefans orang lain, mending ngefans diri sendiri. Ya nggak? Hihi…

Tapi Lulu ingat sekali, hari ini tanggal 16, majalah musik favorilnya keluar edisi baru. Sementara duitnya lagi di ambang sakratul maul. Makanya Lulu harus superbaik dengan Mami saat ini.

“Ya, Lu. Tadi Mami tengok beritanya di Sergap.” Mendapat peluang yang menggembirakan dari anak sulungnya, Mami tidak buang-buang kesempatan.

Baca juga  Di Satu Titik, Kau Menghantarkan Aku

“Kok di Sergap Mi?”

“Itulah. Mami juga heran. Masak berita artis bisa masuk di Sergap ya?”

“Kali aja beritanya heboh banget, Mi, makanya sengaja ditayangin beritanya di Sergap.”

Kata-kata Lulu barusan membuat wajah Mami makin bersinar bulan purnama.

“Bisa jadi ya, Lu? Hh, nanti sore ada bola tuh di TV. Mami mau nungguin deh. Apa kabar itu masuk juga ya? Pasti masuk ya, Lu?”

“Lulu berani sumpah hidup Mi, pasti masuk.”

Lulu memang tipe penjilat sodara-sodara!

“Mi, minta duit dong!” akhirnya tibalah Lulu pada pokok pembicaraan.

Dasar Mami yang lagi happy sekali sekonyong-konyong langsung ke kamar mandi buat ngambil dompet.

“Kamu butuh berapa?”

“Dua puluh ribu aja, Mi.” Lulu senyam-senyum.

“Gak usah dua puluh, Lu.”

Lulu yang merasa aksi penipuannya telah diketahui Mami, soalnya harga majalah cuma tujuh ribu, cepat meralat nominal itu.

“Ya udah, Mi, lima belas ribu aja.”

“Gak usah, Lu. Ni ambil aja. Lima puluh ribu.”

Berjingkrak-jingkraklah Lulu sambil ngesun pipi Mami kiri-kanan.

“Jangan lupa pas pulang sekolah, singgah di warung Bu Hanoman. Beli gula empat kilo, beli deterjen ukuran besar tiga. Sabun mandi yang botol, jangan beli yang batangan. Sisanya buat kamu. Kamu pasti mau beli majalah ‘kan? Harga cuma lima ribu ’kan?”

“Tujuh ribu, Mi…” ralat Lulu cepat. Gadis itu tak dapat menyembunyikan kekecewaannya. Otaknya sudah menghitung dengan cepat. Dari jumlah 50 ribu, hanya 5 ribu yang tersisa. Itulah jatahnya.

“Ya minta kuranglah, Lu. Masa hal gitu harus Mami ajarin lagi. Colek dikit si abang jual majalah, Mami izinin kok. Asal jangan menjurus-jurus.”

Ah. Mami.

Lulu berangkat ke sekolah. Jam delapan kurang lima menit sudah.

“Pulangnya jangan kelamaan, Lu. Ingat, masih banyak gosip yang harus kita diskusikan. Kamu sih, seminggu ini sok sibuk terus. Jadinya Mami kena ledek tetangga, katanya gosip Mami sekarang sudah kurang kritis.” Sayup-sayup masih terdengar suara Mami.

Lulu sudah di jalanan berjalan kaki. Ia harus berjalan sekilar 100 meter untuk menunggu angkot di halte. Tapi Lulu merasakan hal ganjil. Jalanan betul-betul lengang. Sepi tiada terkira. Hanya ada tukang sayur yang berbusa-busa mempromosikan bahwa sayumnya hari ini langsung didapatkan dari tukang kebunnya. Jadi kehalalannya terjamin.

Apa hubungannya, coba?

Anak sekolah atau orang kantoran satu pun tidak ada. Padahal biasanya Lulu selalu punya teman. Semua mata tetangga menatapnya tak berkedip. Melihat seolah dirinya adalah sesuatu yang aneh. Namun Lulu orangnya selalu bepikir positif. Pasti orang-orang terpesona dengan muka saya. Romea memang tak pernah salah mempromosikan kosmetik bagus.

“Subhanalluh, Nak Lulu. Alhamdulillah Nak Lulu, ada kegiatan apa di sekolah? Bapak bangga sekali dengan dengan kerajinan Nak Lulu…!” Akhirnya Bapak Haji Mansur yang menyapa Lulu.

Seumur-umur Lulu yang memang paling jarang mendapat pujian kontan kembang-kempis hidungnya. Tapi gadis itu sebijaksana mungkin dalam menjawab.

“Bismillah, Pak  Haji… Qul huallahu ahad, Pak Haji, saya tetap diberi kerajinan oleh Allah. Seperti biasa Pak Haji, mau ke sekolah buat nuntut ilmu. Seperti yang Pak Haji bilang di kaset, kalau ikhlas, menuntut ilmu pun juga bisa dinilai ibadah. Bisa masuk surga….”

Kata “kaset” membuat muka Pak Haji bersemu merah. Sebulan lalu dia mengeluarkan kaset. Tentu saja girang dia mendapatkan kenyataan bahwa remaja seperti Lulu mendengarkan kaset pidato.

“Jadi Nak Lulu mendengar kaset saya?”

“Alhamdulillah, Pak Haji, kaset Pak Haji Abdullah Gymnastiar yang saya dengar. Sama saja ’kan?”

Pak Haji Mansur jelas saja tak dapat menyembunyikan kecewanya hingga selanjutnya melontarkan pernyataan yang agak memaksa.

Baca juga  Pembunuh Terbaik

“Kaset saya Nak Lulu dengar jugalah… nanti Nak Lulu saya angkat jadi mantu deh!”

Menyadari dirinya sudah banyak buang waktu dengan Pak Haji, Lulu langsung meneruskan jalan. Kali ini tergopoh-gopoh. Tak ada apa-apa sih. Lulu ingin saja jalan cepat-cepat. hehe…

Baru Lulu akan menyetop sebuah angkot ketika panggilan Pak Haji nyaring. Terpaksa Lulu tak jadi menyetop angkot. Dilirik dengan ekor mata. Tampak Pak Haji tergopoh-gopoh ke arahnya.

“Nak Lulu mau ke sekolah ya?” Pak Haji sudah di samping Lulu dengan napas ngos-ngosan.

“Iya, Pak Haji… Kan sudah dibilang tadi.”

“Mau ikutan acara tujuh belasan ya, Nak Lulu?”

“Tujuh belasan kan udah lama lewat, Pak Haji.”

“Lantas ada kegiatan apa di sekolah?”

“Kan sudah saya bilang, Pak Haji, saya mau nuntut ilmu,” sedikit kesal Lulu menjawab.

“Bukannya sedang ada kegiatan baksos, Nak Lulu?”

“Bukan, Pak Haji.”

“Ikut senam jantung mungkin?”

“Gak….”

“Nak Lulu ada rapat OS1S ya?”

“Lho, hari ini ’kan tanggal merah, Nak Lulu.”

“Whaacaaw….”

Lulu merasa tubuhnya sedang dihujani meteor. Oh, andai aku punya ilmu mcnghilang.

***

Ibu-ibu di mana-mana sama saja. Baik di dunia nyata maupun di dunia non-nyata semisal sinetron atau film. Setiap tempat pasti dijadikan kesempatan strategis.

Bukan! Kesempatan itu bukan kesempatan bisnis yang bisa mengalirkan tambahan belanja. Sekali lagi, bukan itu!

Tapi kesempatan itu adalah kesempatan bergosip-ria! Dan semua tempat menjadi sasaran strategis. Tentu saja di semua rumah ibu-ibu. Di jalanan sambil memilih sayur dari keranjang abang tukang sayur. Nah, abang tukang sayur kerap menambah bumbu gosip hingga para ibu malah asyik-masyuk bergosip.

Itu pernah terjadi di dusun perumahan Lulu.

“Sayang ya, Bu Nina, Cantik-cantik bisulan ya?” Bu Traktur yang membuka kulit gosip.

“Bu Nina sih nggak jaga kesehatan kulit,” timpal Mami Lulu semangat tahun baru.

“Ya amplop tanpa prangko, bisulan? Ih, amit-amit cucu drakula deh!” si tukang sayur mulai bereaksi.

Ada lima tukang sayur yang hilir mudik di perumahan mereka. Namun hanya tukang sayur itu yang jadi langganan para ibu. Habis, seru dan nyambung diajak gosip lho!

“Tetangga saya gara-gara bisul sampai meninggal lho!”

“Ya amplop tanpa prangko, ih amit-amit cucu drakula deh!” Mami Lulu latah ikut gaya abang tukang sayur.

“Beneran. Abis, ditabrak bus sih, hehehe…” si tukang sayur pun terkekeh.

Juga di tempat-tempat lain, seperti di lapangan sepak bola. Malah di mushalla juga menjadi tempat yang asyik buat bergosip.

Nah, hari ini sudah sore. Sudah jam empat lewat sedikit. Ibu-ibu sudah berkumpul. Sudah pada mandi semua. Rambul ditutup pakai jilbab hingga nampak rapi. Semua ibu nyaris datang di area gosip yang kali ini di rumah Bu Hening Cipta.

Kecuali Mami Lulu. Ke manakah dia?

Bu Akrobati sudah misah-misuh. Apakah tadi pagi Mami Lulu mengatakan pada dirinya ada berita heboh. Gosip sih, tapi bukan sembarang gosip. Ada sebagian ibu-ibu sudah memulai gosip sebab sudah tidak sabaran. Padahal sebenarnya itu menyalahi kode etik pergosipan yang telah bersama mereka sepakati.

Belum ada salam. Belum ada kata bersambutan dari tuan rumah. Lalu barulah gosip terjadi. Haha lengkap dengan hihi-nya.

Ibu-ibu di Dusun Sejahtera itu memang unik. Memang kompak. Apalagi dalam bergosip-ria. Tak ada lembaga apa memang. Tapi mereka punya jatah waktu seminggu. Dan mengenai lokasi, selalu akan diundi.

Mama Lulu ternyata masih di rumah, asyik menggedor pinlu kamar Lulu. Sementara Lulu di dalam kamar malah pura-pura tidak dengar.

“Lu, keluar dong! Antar adikmu bentar ke rumah temannya.”

Baca juga  Pelat Nomor Jatuh di Depan Warung Kopi

“Ini Cica udah telat nih. Nanti acaranya keburu habis….” Cica merengek-rengek sambil menarik-narik ujung baju Mami.

Cica memang cantik sekali sore ini dengan baju berkerah renda putih. Mirip banget dengan boneka yang dipeluknya. Boneka itu sudah didandan habis-habisan oleh Cica. Malah sempat dipoles lipstik milik Mami segala. Tak ketinggalan parfum segala.

“Lu… Mami kasih uang jajan deh!”

Boneka kawan Cica ada yang kawinan dengan boneka kawan Cica yang lain. Jadi boneka Cica yang memang berkawan dengan boneka yang kawinan itu tentu saja diundang. Tentu saja Cica sebagai pemiliknya harus mengantar bonekanya. Takutnya tak tahu jalan pulang kalau tak diantar.

Mendengar itu Lulu beranjak dari tempat tidur. Tapi enggan akhirnya. Ia malu dengan Pak Haji pasca kejadian kemarin. Tadi pagi nekat tidak ke sekolah. Utungnya si Mami tak masalah asal dengan syarat Lulu mau kawani Mami gosip.

Hm… Lulu bukan tak hobi bergosip. Tapi bergosip dengan Mami nggak seru. Paling gosipnya kalau nggak tetangga sini, ya tetangga situ lagi. Paling hebat cuma tahu tentang Desy Ratnasari. Ditanyai Taufik Hidayat atau Gresyia Polli yang tenar sebagai pemain bulu tangkis itu Mami malah mengajak bergosip tentang sodara jauh mereka.

“Kalo gitu Cica pergi cendiri aja, Mi.” Cica menimang-nimang boneka centilnya.

“Kamu yakin, Ca?”

Memang itu sebenarnya yang ingin didengar Mami dari tadi. Tidak menunggu anggukan Cica. Mami lantas mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu rupiah.

“Mami juga udah telat ini…”

“Iya, Mi… Cica ‘kan pergi sekolah juga sendiri naik angkot….”

Buru-buru Mami keluar dari rumah. Cica juga buru-buru keluar. Ia harus segera. Kata Titi kawan Cica yang boneka kawinan, ijab kabul akan dimulai jam lima. Sementara ini sudah setengan lima. Cica nggak boleh nggak lihat ijab kabul itu. Sebab tiga bulan depan ia berencana akan menikahkan boneka itu.

Cica yang masih kecil kok tahu ijab kabul segala sih? Kan dari sinetron, hehe…

Dari dalam kamar, Lulu yang mendengar dialog antara Mami dan Cica keluar juga akhirnya. Tebersit perasaan tak enak juga membiarkan adiknya itu jalan sendiri ke rumah temannya. Mana jauh lagi. Kalau Cica diculik gimana?

Namun sayang, rumah sudah kosong melompong. Pintu depan terkuak begitu saja. Ia tahu Mami telah pergi ke tempat gossip, entah kenapa hatinya menjadi resah.

Di rumah Bu Hening Cipta, Mami Lulu disambut mendadak sukacita. Karena hari sudah kian sore, acaranya pun dimulai. Dibuka assalamualaikum oleh Bu Akrobati yang kebagian tugas jadi pembuka. Lalu kata-kata sambutan oleh Bu Hening Surya selaku tuan rumah. Dan tiba kesempatan pada Mami Lulu yang sudah menggemborkan akan menyajikan kabar heboh.

“Tahun baru kita tinggal menghitung hari ini. Gimana kalo, bla… bla….”

“Bli…bli…bli….”

“Blu…blu….”

“Haha…hehe….”

“Hihi…hihi….”

“Hu…hu…”

Akhirnya hari sudah petang. Acara gosip pun ditutup. Dengan menyetujui usulan akan membuat lomba karaoke antar-ibu untuk menyambut tahun baru. Mengenai detail akan dibahas pada acara gosip selanjutnya. Toh ini masih bulan sepuluh. Masih tersisa waktu dua bulan lagi untuk persiapan.

Sedangkan di rumah, Lulu resah-gulana. Sudah menjelang magrib, Cica belum pulang. Kali ini penyesalan di hati Lulu menghentak-hentak. ***

.

.

(Bersambung)

.

Keluarga Lulu (2). Keluarga Lulu (2). Keluarga Lulu (2). Keluarga Lulu (2). Keluarga Lulu (2). Keluarga Lulu (2). Keluarga Lulu (2).

Loading

Average rating 0 / 5. Vote count: 0

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!