Cerpen, Media Indonesia, Rizqi Turama

Ares dan Gajah-Gajah yang Putus Asa

Ares dan Gajah-Gajah yang Putus Asa - Cerpen Rizqi Turama

Ares dan Gajah-Gajah yang Putus Asa ilustrasi Budi Setyo Widodo (Tiyok)/Media Indonesia

3.8
(6)

Cerpen Rizqi Turama (Media Indonesia, 16 Oktober 2022)

ARES dan gajah-gajah itu seolah saling tatap dari kejauhan. Mereka sama-sama berhenti melangkah untuk beberapa detik, lalu kembali berjalan. Gajah-gajah menuju ke timur dan Ares mengarahkan kaki ke barat. Lelaki itu berpikir bahwa arah nasib mereka memang berlawanan. Dirinya menuju masa depan yang menjanjikan, sementara para gajah beranjak kepada keputusasaan.

Sang lelaki merasa bahwa dialah pemenang—entah berlomba dengan siapa. Dirinya seolah bisa membuktikan kepada semua orang yang selama ini menyepelekannya bahwa penilaian mereka salah. Pembuktian itu terutama ia tujukan kepada Salmah. Wanita muda itu pernah menolak cintanya bukan hanya sekali, melainkan tiga kali. Alasan yang diberikan berbeda-beda, tetapi Ares menduga bahwa itu tak terlepas dari kemiskinan yang tak kunjung melepaskan diri dari dirinya.

Wanita dengan bibir tipis dan leher jenjang itu kemudian menikahi Fauzi. Lelaki tersebut dikenal oleh semua orang bukan hanya karena ayahnya yang kaya, melainkan juga tampangnya yang tampan rupawan. Ares merasa kalah telak dan tertampar pipi kanan kiri. Pipi kanan mewakili kemiskinan. Pipi kiri mewakili rupanya yang seperti beruk.

Sakit hatinya bertambah-tambah melihat kebahagiaan Salmah yang berlimpah. Setahun setelah pernikahan, Fauzi membelikan mobil baru. Dua tahun kemudian rumah kedua Fauzi-Salmah telah bertingkat dua. Ares heran kenapa mereka bisa mendapatkan apa pun dalam hidup, sementara dirinya harus melakukan apa pun untuk tetap hidup.

Lahan warisan yang diolah Ares letaknya paling jauh kalau dibandingkan dengan punya warga kampung lain. Perlu melewati beberapa area tak bertuan untuk menuju tempat itu. Ares merasa bukan hanya dirinya, melainkan juga tanah garapannya pun dihindari warga sedemikian rupa. Walaupun begitu, dari lahan tersebut ia bisa mendapatkan uang yang cukup untuk bertahan hidup. Ia juga bisa menyimpan uang untuk memperbaiki rumah warisan yang mulai bocor sana-sini. Akan tetapi, kampung itu terlalu kecil untuk tidak melihat mobil Fauzi, rumah Fauzi, rumah orangtua Fauzi, mobil orangtua Fauzi, dan—yang paling menyakitkan—istri Fauzi.

Setiap kali berahinya naik, lelaki dengan usia kepala lima itu akan mengambil sabun dan merancap. Ia selalu membayangkan Salmah. Salmah yang ada di pikirannya adalah Salmah yang memohon ampun karena telah menolak Ares tiga kali. “Suatu saat kau akan benar-benar menyesal,” begitu ujarnya sebelum kemudian tertidur karena lelah: entah oleh dendam atau oleh dukana yang telah reda.

Baca juga  Meiling

***

Meskipun dikenal sebagai kampung paling ujung dan tak begitu jauh dari hutan lindung, Ares tak pernah melihat keberadaan gajah. Sungguh tak pernah, hingga suatu saat ia mendapati pohon-pohon pisang yang ia tanam di bagian terluar kebun telah rusak parah. Semula ia mengira itu ulah babi-babi hutan, tetapi hujan di malam sebelumnya telah membuat tanah cukup lembut untuk menyisakan jejak yang langsung dikenali Ares sebagai jejak gajah.

Ares tahu dari kabar yang dibawa angin bahwa sebagian hutan lindung akan ‘dibebaskan’ untuk pembangunan jalan tol. Ares juga paham bahwa pihak swasta digandeng untuk pembangunan jalan tersebut. Sebenarnya itu semua tidak menarik bagi Ares sampai ia juga mendapatkan berita bahwa orangtua Fauzi juga terlibat dalam pembangunan jalan tol tersebut. Karena itu, saat melihat pohon-pohon pisangnya dan jejak gajah di tanah, Ares langsung mengumpat. “Gajah-gajah telah kekurangan ruang jelajah karena pembangunan. Pembangunan dilakukan oleh orangtua Fauzi. Karena itu, Salmah harus menerima akibatnya suatu saat nanti. Harus.”

Ares tak menyangka bahwa sesuatu yang ia sebut sebagai ‘suatu saat nanti’ itu segera datang menghampiri. Pulang ke rumah, ia mendapati dua orang berpakaian rapi telah menantinya di beranda. Singkatnya, orang-orang yang mengaku dari perusahaan sawit itu menawarkan sejumlah uang kepadanya. Sebagai ganti, perusahaan sawit akan mengambil lahan yang selama ini digarap oleh Ares. Tidak hanya itu, mereka juga mengatakan bahwa Ares akan diangkat jadi salah satu pegawai di perusahaan sawit sehingga tidak perlu khawatir soal pendapatan tetap setelah lahan dijual.

Walau tak pernah sekolah tinggi, Ares tahu bahwa ini adalah saatnya untuk berkehendak. Ia menggelengkan kepala angkuh, “Tidak akan kujual, kecuali angka yang kalian tawarkan dinaikkan jadi dua kali lipat.”

Di luar dugaannya, kedua orang tersebut saling toleh sebelum secara serentak menganggukkan kepala. Kesepakatan dicapai. Ares menyesal dalam hati tidak menaikkan harga tanahnya hingga tiga kali lipat.

Setelah hari itu, proses pengalihan lahan segera berjalan. Sebagaimana masuknya, uang yang didapat Ares pun keluar dengan cepat dan tanpa hambatan. Ia membeli sebuah mobil yang lebih mewah daripada milik Fauzi. Rumah warisan pun telah berganti rupa tingkat tiga, lebih tinggi daripada milik Fauzi. Tidak hanya itu, seolah melengkapi kebahagiaannya, perusahaan sawit memberikan sebuah baju necis dengan tulisan ‘security’ di bagian dada kiri. Fauzi pun tak pernah punya baju sebagus itu, pikirnya.

Baca juga  Bola-Bola Grafologi

Tentu saja kampung geger. Ares yang menjadi jutawan dadakan telah menjadi trending topic di setiap perbincangan. Ada yang memuji-muji. Ada juga yang tidak setuju terhadap tindakan Ares. Ares tak ambil pusing.

“Sungguh, Salmah. Kau pasti menyesali perbuatanmu,” desis Ares di hari pertama ia melangkah menuju perusahaan sawit dengan seragam kebesarannya. Hari itulah hari pertama ia melihat gajah dari sebuah jarak yang membentang. Ares dan gajah-gajah itu seolah saling tatap dari kejauhan. Mereka sama-sama berhenti melangkah untuk beberapa detik, lalu kembali berjalan. Gajah-gajah menuju ke timur dan Ares mengarahkan kaki ke barat. Lelaki itu berpikir bahwa arah nasib mereka memang berlawanan. Dirinya menuju masa depan yang menjanjikan, sementara para gajah beranjak kepada keputusasaan.

***

Selama dua tahun bekerja, Ares menyaksikan begitu banyak perubahan terjadi di sekitar kampungnya. Pembangunan jalan tol serta kebun sawit membuat angin terasa lebih kering. Panas lebih menyengat. Pohon-pohon besar menghilang.

Sekarang, gajah-gajah juga lebih sering terlihat. Mungkin mereka lapar. Beberapa kali makhluk besar itu merusak tanaman di kebun warga. Pihak perusahaan menyebutnya sebagai ‘konflik gajah’.

Akan tetapi, bukan itu yang paling membuat hati Ares rusuh, melainkan keberhasilan Fauzi membuat Salmah bunting dan melahirkan seorang bayi cantik. Fauzi juga mengadakan pesta syukuran yang tak tanggung-tanggung. Seorang penyanyi dangdut didatangkan khusus dari ibu kota.

Ares benar-benar muntab. Apalagi ia sadar tabungannya semakin tipis, bahkan hampir habis. Untuk menyalurkan amarahnya, lelaki bertubuh tinggi dengan cambang lebat itu pun pergi ke lokalisasi yang baru muncul setahun belakangan. Dipilihnya perempuan dengan bibir tipis dan leher jenjang. Ia berpacu dalam syahwat dan dendam. “Suatu saat kau akan benar-benar menyesal,” begitu ujarnya sebelum kemudian tertidur karena lelah.

Namun, justru Ares yang kemudian dihinggapi rasa sesal ketika keesokannya ia mendapati surat pemberhentian kerja. Umur yang tak lagi muda, disebut perusahaan, membuat Ares berada di urutan paling atas daftar nama pegawai yang terkena efisiensi. Lelaki yang sesungguhnya berbadan tegap itu menjadi kuyu dan layu.

Pulang ke rumah, Ares menatap kosong pada entah apa. Ia tak bisa lagi meladang sebab lahan telah jadi milik perusahaan. Ia pun tak bisa lagi ke perusahaan karena dirinya telah dibuang—ternyata perusahaan yang berdalih melakukan efisiensi itu justru telah melakukan perluasan lahan. Beberapa warga kampung lain jadi pegawai baru di sana dan tampaknya akan mendadak kaya.

Baca juga  Api Kota Smyrna

Dalam waktu tak kalah singkat, mobil mewah dan rumah warisan Ares berpindah tangan: dibeli Fauzi. Hal tersebut membuatnya semakin terpuruk dan gemar mabuk-mabukan di rumah pelesir. Warga kampung pun kembali menjadikan Ares sebagai topik hangat.

***

Dalam kondisi mabuk, Ares mengamuk sebab wanita berbibir tipis dan berleher jenjang di rumah pelesir tak mau melayaninya. Pemilik tempat itu pun tak mau ambil pusing sebab lelaki itu tak punya uang lagi. Pria-pria berbadan besar segera mengepungnya. Melihat tulisan ‘security’ di dada para pria itu, Ares semakin mengamuk. Ia jadi gagah perkasa, tetapi hanya dalam pikirannya sebab yang terjadi berikutnya satu orang sudah lebih dari cukup untuk melumpuhkan Ares dan menendangnya hingga wajah mencium aspal jalan.

Ares menyadari kekalahannya. Ia menangis sambil berjalan menyusuri pinggiran hutan yang kini tak lagi hutan. Lelaki itu terus menangis sampai tertidur di bawah pohon sawit dan baru terbangun ketika matahari sudah tinggi. Perutnya lapar, tapi uang sudah tak ada sama sekali.

Saat itu, Ares melihat gerombolan gajah dari kejauhan. Gajah-gajah lapar itu menggasak tanaman-tanaman warga yang siap panen. Gajah-gajah yang mungkin sama lapar dengan dirinya. Sayup-sayup Ares merasa mendengar suara mereka, membisikkan sesuatu padanya. Ia pun menyeringai dan bergumam, “Baik, inilah waktunya untuk membuat ‘konflik manusia’.” ***

.

.

Bukit Siguntang, 11 Maret 2022

Rizqi Turama, dosen di FKIP, Universitas Sriwijaya. Novelnya Aku dan Jogja Pukul Dua terbit pada Desember 2021. Buku cerpennya Yang Lebih Bijak daripada Peri diterbitkan Diva Press, Januari 2022. Aktif di Sanggar EKS dan Komunitas Kota Kata Palembang.

.

Ares dan Gajah-Gajah yang Putus Asa. Ares dan Gajah-Gajah yang Putus Asa. Ares dan Gajah-Gajah yang Putus Asa.

Loading

Average rating 3.8 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!