Cerpen, Kompas, Timbul Nadeak

Perempuan Nasbus

3
(2)

Perempuan itu setiap hari melintas di depan rumahku. Dia datang dari arah timur sekitar jam 7 pagi dan kembali dari arah barat sekitar jam 1 siang. Langkahnya tergesa-gesa meski menjinjing ember di tangan kiri dan kanannya. Handuk kusam membungkus kepalanya. Dua ujung handuk diikat di bawah dagunya sehingga rambut dan kedua pipinya hampir tak terlihat sama sekali. Ketika kembali dari arah barat, handuk itu tetap membungkus kepalanya.

“Siapakah perempuan yang memungut kantong keresek dari pagar rumahmu?”

Napit, pemilik rumah di depan rumahku menatap tajam. Dahinya berkerut. Aku suka bercakap-cakap dengan lelaki beruban itu karena dia lebih menyenangkan bila dibandingkan dengan tetangga di kiri dan kanan rumahku. Sewaktu sedang merenovasi rumahku, dia tetap menyapa ramah meski tumpukan pasir di depan rumahku hampir menutupi gang selebar 2,5 meter itu. Sedangkan tetangga di kiri dan kanan rumahku tak dapat menyembunyikan perasaannya. Mulut mereka kulihat mencibir ketika melangkah dekat tumpukan pasir itu. Harus kutumpuk di mana pasir itu kalau tidak di gang? Rumahku tak punya halaman samping. Tak ada bedanya dengan rumah-rumah lain yang saling berdempetan. Dinding samping kiri dan kanan jadi milik bersama. Halaman depan yang kecil sudah jadi tempat tumpukan batu bata dan adukan semen pasir.

Kubeli rumah ini 4 bulan lalu. Lantainya aku tinggikan agar air dari gang tak masuk ke rumah bila hujan deras. Ruang tamu dan kamar tidur masih tetap seperti ukuran aslinya. Bagian belakang kurenovasi. Letak dapur, kamar mandi, dan jemuran kurubah. Kusen-kusen jendela depan kuganti. Teras rumah kututup dengan kanopi. “Minimalis,” kata tetanggaku. Aku tersenyum sambil mengangguk meski tak tahu seperti apa tepatnya model minimalis itu. Yang pasti, dibandingkan rumah Napit, rumah asli perumnas, rumahku terlihat mentereng.

“Maksudmu perempuan nasbus itu?”

“Nasbus?”

“Kami menyebutnya begitu. Perempuan nasi busuk. Kalau ada nasi sisa atau nasi basi di rumahmu, masukkan saja ke kantong keresek lalu sangkutkan di pagar rumahmu. Perempuan itu pasti memungutnya. Dulu ada tiga orang perempuan nasbus. Dia, seorang nenek, dan yang satunya lagi anak kecil. Tapi si nenek dan anak kecil itu sudah lama tak terlihat. Mungkin putus asa karena kalah cepat dengan perempuan itu.”

“Ia melintasi gang ini hanya untuk memungut nasbus?”

“Sebagai warga baru tentu kau merasa heran. Warga baru memang selalu begitu. Kami warga asli perumnas tak merasa keberatan memisahkan nasbus dari sampah dapur lainnya kalau memang itu berguna bagi orang lain.”

Baca juga  Parang Patah

“Berguna?”

“Ya, untuk makanan ternak. Makanan hwouk…hwouk…” katanya sambil meniruskan hidung dan mulutnya untuk menirukan suara babi.

Ketika aku melangkah masuk ke rumahku, Napit berteriak: “Perempuan nasbus itu cantik. Tapi tak cocok jadi istri bujangan tua seperti kau!”

Pada malam harinya aku nekat menanak secangkir beras di rice cooker. Air yang kumasukkan sekenanya saja. Aku tak biasa menanak nasi. Sebagai bujangan aku terbiasa makan di warung atau restoran. Meski begitu, di dapurku selalu tersedia beberapa liter beras dan beberapa bungkus mie instan sebagai persediaan bila ada famili yang berkunjung lalu menginap.

Esok harinya, sebelum perempuan itu melintas, aku memasukkan nasi itu ke kantong keresek warna hitam lalu mengaitkannya di pagar rumahku. Tanpa kusadari, aku berjalan setengah berjinjit. Lalu aku menunggu sambil mengintip dari balik gorden jendela. Jantungku berdebar.

Tak lama kemudian perempuan itu melintas. Langkahnya yang tergesa-gesa tiba-tiba terhenti seketika di dekat pagar rumahku. Ditatapnya kantong keresek itu. Lalu tatapannya berpindah ke pintu dan jendela rumahku. Jantungku semakin berdebar. Rupanya dia sedang mengamati bagian depan rumahku. Karena jarak pagar dan gorden jendela rumahku hanya 3 meter, aku dapat melihat senyum di bibirnya. Sinis. Sebelah ujung bibirnya terlihat lebih tinggi dan lebih tertarik ke dalam. Perlahan, mungkin karena ragu, diambilnya kantong keresek itu. Dibuka dan ditatapnya isi kantong itu. Bola matanya sempat terbelalak. Senyum sinis di bibirnya hilang seketika. Kedua bibirnya tiba-tiba mengkerut. Lalu dimasukkannya kantong keresek itu ke dalam ember di tangan kirinya. Dan aku bernafas lega. Meski handuk membungkus kepalanya tapi aku telah berhasil memandang wajahnya. Memandang dari depan, bukan dari samping. Perempuan nasbus itu memang cantik.

Entah magnet apa lagi yang dimiliki perempuan itu hingga aku jadi ketagihan. Setelah makan malam di warung atau restoran pada hari Jumat dan Sabtu, aku selalu minta dibungkuskan seporsi nasi putih. Itu kulakukan karena pada hari Sabtu dan Minggu perempuan itu tetap datang dari arah timur sekitar jam 7 pagi dan kembali dari arah barat sekitar jam 1 siang. Dia tak punya hari libur. Mungkin karena ternak peliharaannya harus diberi makan setiap hari.

Aku duduk di teras sambil menunggu perempuan itu melintas. Tapi kali ini tak ada kantong keresek yang kukaitkan di pagar. Itu memang kusengaja. Dan ketika perempuan itu melintas, dia tak memperlambat langkahnya. Rupanya dia sudah memperhatikan pagar-pagar rumah sejak dari mulut gang. Dia sempat menoleh ke arahku. Aku tersenyum tetapi dia berpaling. Mungkin ingin menyembunyikan senyum sinis di bibirnya. Lalu aku bangkit dan berjalan di belakangnya. Aku terpaksa mengatur jarak agar bila dia berhenti sejenak untuk memungut nasbus dari pagar rumah orang lain, aku bisa tetap berada di belakangnya.

Baca juga  Turi-Turi Tobong

Setelah beberapa belokan gang, perempuan itu tiba-tiba berhenti. “Mengapa kau mengikutiku?” katanya sambil berbalik.

Aku sempat terkejut. Kutatap wajahnya. Kulitnya ternyata lebih putih dari dugaanku. Baru kali ini aku menatap wajahnya dari jarak dekat.

“Aku ingin mengenalmu.”

“Mengapa kau ingin mengenalku?”

Apa yang harus kukatakan? Kalau kukatakan “Aku ingin jadi temanmu,” mungkin dia bertanya lagi, “Mengapa kau ingin jadi temanku?”

“Namaku Buyung,” kataku sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman.

Perempuan itu terbelalak. Dahinya berkerut. “Jangan ikuti aku!” katanya sambil berbalik, lalu melangkah lagi dengan cepat seolah khawatir ada orang lain yang akan memungut nasbus di pagar-pagar rumah yang belum dilintasinya.

“Tunggu. Aku ingin jadi temanmu!”

Perempuan itu menoleh sambil tetap melangkah. Suaranya keras setengah membentak: “Aku tak cocok jadi temanmu!”

Aku terpaksa berhenti melangkah. Suaranya membuat penghuni rumah di sebelah kiri membuka pintu depan rumahnya. Sekilas kulihat pula bentuk kepala yang mengintip dari jendela rumah di sebelah kanan. Kalau aku memaksakan diri mengikutinya, atau nekat berjalan di sampingnya, mungkin perempuan itu akan berteriak.

Lalu kuceritakan kejadian itu pada Napit. Lelaki beruban itu terbahak-bahak.

“Cantik kan perempuan itu ha…ha…Kalau sejak dulu kau agresif seperti ini, tentu kau sudah beristri lima. Bukan bujangan tua!”

“Di mana ia tinggal?”

“Di tanah garapan sana,” jawab Napit sambil menunjuk ke arah timur. “Kenapa? Kau ingin tahu alamatnya? Ha…ha…kau ingin melihatnya tanpa handuk di kepala?! Sebaiknya jangan tanya alamatnya. Di sana tak ada nomor rumah.”

Tentu aku kecewa karena perempuan itu tak mau mengenalku tapi perasaan itu tak kuperlihatkan pada Napit. Aku tak ingin dia semakin lama terbahak-bahak. Akan lebih menarik bila membiarkan orang-orang menebak isi hati kita daripada terus terang mengumbarnya dengan kata-kata.

Meski kecewa, ada juga manfaatnya mengikuti perempuan itu hingga berapa belokan gang. Aku sekarang bisa mereka-reka mengapa dia suka tersenyum sinis. Ternyata dia banyak memungut kantong keresek dari pagar rumah penghuni asli perumnas. Hanya ada 2 atau 3 rumah mentereng yang menyangkutkan nasbus di pagar mereka. Penghuni rumah-rumah mentereng lainnya rupanya tak ingin membuang waktu untuk melakukan sesuatu yang tak bermanfaat bagi dirinya. Untuk apa repot-repot memisahkan sampah dapur lalu mengaitkannya di pagar? Kalau butuh silahkan mengais sendiri di bak sampah.

Baca juga  Saia

Kenyataan lain, bak sampah rumah-rumah mentereng itu banyak yang tak bertutup. Sedangkan penghuni asli perumnas banyak yang tak punya bak sampah. Mungkin senyum sinis perempuan itu tanda kekalahan. Ia masih kalah cepat dari tikus dan kucing yang suka mengais malam hari. Tikus dan kucing di perumnas ini memang terlihat gemuk dan sehat. Pernah kulihat tikus got yang hampir sebesar kucing.

“Umumnya rumah warga asli perumnas belum direnovasi,” kata Napit pada kesempatan lain. “Biasanya bila warga asli menjual rumahnya maka pembelinya yang akan merenovasi rumah itu hingga jadi mentereng seperti rumahmu. Mungkin tanah di kota sudah semakin mahal sehingga pendatang terpaksa membeli rumah di pinggir kota seperti ini. Tapi bagi kami ada untungnya. Harga tanah di sini jadi mahal. Bisa terjual 2 atau 3 kali lipat dari harga yang tertulis di Pajak Bumi dan Bangunan,” sambung Napit menjelaskan meski aku tak menanyakannya.

Pagi ini hingga berangkat kerja jam 7.30 perempuan itu belum melintasi rumahku. Apa yang terjadi? Sakit? Sengaja melintas dari gang lain agar tak bisa kuikuti lagi? Bila hingga lusa dia masih belum melintas, masih bisakah aku bersabar menunggunya? Karena semakin banyak pertanyaan memenuhi benakku, akhirnya kuputuskan untuk mengintipnya di mulut gang. Paling tidak, aku akan tahu dari gang mana dia sekarang melintas. Meski tak ada yang tahu, niat itu membuat aku tersenyum kecut. Ada seonggok rasa malu pada diri sendiri.

Pada malam harinya aku terduduk dengan mata terbelalak menatap layar tv di depanku. Penyiar tv lokal itu berkata lantang: “Pagi ini puluhan anggota Satpol PP yang dikawal polisi melakukan razia di pemukiman tanah garapan. Warga melawan dan mempertahankan ternaknya. Sebagian ibu-ibu berteriak histeris sambil menangis. Beberapa warga bahkan menyembunyikan ternaknya ke dalam rumah. Tapi petugas bertindak tegas. Semua ternak babi peliharaan warga disita dan diangkut dengan truk.” ***

 86 total views,  2 views today

Average rating 3 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!