Cerpen, Majalah Sastra Pusat, Seno Gumira Ajidarma

Gubrak!

Gubrak! - Cerpen Seno Gumira Ajidarma

Gubrak! ilustrasi Majalah Sastra Pusat

5
(2)

Cerpen Seno Gumira Ajidarma (Majalah Sastra Pusat, Edisi 4/2012)

IA sangat cantik, begitu cantik, bagaikan tiada lagi yang lebih cantik, sedemikian rupa cantiknya sehingga bukan saja kecantikan wajahnya membuat udara bergelombang, tetapi bahkan siapa saja yang memandangnya lantas akan jatuh pingsan.

Gubrak!

Mula-mula kecantikannya memang hanya membuat orang-orang terpesona dan ternganga. Begitu penuh pesona rupanya wajah yang cantik itu, sehingga apabila ia melangkah dengan tenang, anggun, dengan gerak yang bagai sengaja dilambatkan, mulut-mulut yang menganga itu sulit dikatupkan kembali. Hanya menganga, terus-menerus menganga, sehingga ada kalanya lalat hinggap pada lidah para penganga tiada lain selain untuk tertelan jua!

Namun rupa-rupanya kecantikan itu seiring waktu terus bertambah, sehingga tak cukup mengakibatkan keterpesonaan dan keterngangaan, tetapi bahkan meskipun seseorang tak sengaja meliriknya pun, pada saat terhenyak karena kecantikannya akan tetap pingsan juga. Bagi mereka yang mengenali dan mengerti keberadaan kecantikan tiada tara itu, mulai dari tetangga, penumpang bis kota maupun teman-teman sekantornya, maka suatu usaha terlatih agar jangan sampai melihat kecantikannya telah diusahakan dengan penuh kemahiran, yang tiada lain tiada bukan adalah melengos pada saat yang tepat, karena memang harus tepat saatnya. Melengos terlalu cepat sehingga tetap melihat wajahnya lagi atau terlalu lambat melengos sama dengan bencana. Ya, bencana pingsan nasional melanda ibukota, karena kecantikan seseorang yang tidak mungkin disaksikan manusia tanpa menjadikan pingsan sebagai risikonya.

Maklumlah, meskipun hanya melihatnya selintasan saja, dalam selintas itulah kecantikannya bagai menjerat mata dan menawannya, lantas dalam puncak keterpesonaannya seseorang akan pingsan.

Sepanjang jalan mengikuti jalur dari rumah ke kantor, semua orang sudah siap untuk melengos ketika berpapasan, beriringan, maupun mengikuti dari belakang. Ketika berpapasan orang menunduk dan melengos, ketika beriringan diusahakan tak meliriknya sama sekali, dan ketika berjalan di belakangnya harus waspada apabila ia tiba-tiba menoleh ke belakang. Begitu pula kejadiannya di dalam bis kota dan di kantornya, kalau tidak menutup mata, maka orang-orang mengangkat tangan agar menghalangi pandangan terhadap wajahnya, supaya tidak jatuh pingsan ketika berbicara dengannya. Sedangkan di rumah tempat ia indekos, semua orang sudah maklum belaka apabila semenjak orang-orang menjadi pingsan ketika melihat wajah cantiknya, ia selalu mengurung diri di dalam kamar. Keluar hanya untuk berangkat ke kantor, pulang hanya untuk masuk kamar dan tidak keluar.

“Saya tak akan terlalu sungkan jika yang pingsan adalah mereka yang menatap saya terlalu lama,” ujarnya dari balik pintu, meski ia pun tahu hanya cukup sekilas tatapan sudah membuat orang pingsan, “tetapi saya tidak bisa memaafkan diri saya sendiri jika saya membuat bapak dan ibu di rumah ini, yang sudah saya anggap sebagai orangtua saya sendiri, juga akan jatuh pingsan tak sadarkan diri.”

Namun sepanjang hayat dikandung badan, apakah manusia harus menempuh jalur yang sama, menumpang bis yang sama, dan berkelok di tikungan yang selalu sama? Seolah hidup sudah tertentukan sekali dan tak bisa berganti lagi, apalagi berganti berkali-kali? Tentu tidak dan tentu tidak juga bagi makhluk tercantik di ibukota ini, yang begitu cantik, amat sangat cantik, sehingga kecantikannya membuat udara bergelombang dan siapapun yang menatap wajahnya langsung jatuh pingsan.

Maka, pada suatu hari, setelah bertahun-tahun hidup dengan jalur tempat setiap orang telah siap mengatasi masalah yang akan ditimbulkan oleh kecantikannya, ia pun menempuh jalur yang berbeda karena memang ada urusan.

***

Itu terjadi saat ia menyeberang jalan dalam kemacetan jalanan. Pada kedua lajur yang berlawanan di bawah jembatan layang jalanan macet, begitu macet, bagaikan tiada lagi yang lebih macet, dan di antara mobil-mobil yang terhenti karena macet itulah ia melenggang dengan anggun, langkahnya tegas tapi tetap anggun, dengan pesona begitu rupa sehingga tampak melangkah dengan gerak yang sengaja dilambatkan, begitu lambat dan begitu penuh pesona sehingga pandangan mata orang-orang yang pertama kali melihatnya menancap pada wajahnya dan tiada bisa lepas lagi, untuk akhirnya pingsan tak sadarkan diri.

Baca juga  Piagam

Bagaikan peraga terindah di dunia ia berjalan di atas jalur pemisah, sehingga semua orang bisa menatap wajahnya, yang meskipun dari samping saja tetap saja begitu cantik, amat sangat cantik, bagaikan tiada lagi lebih cantik, membuat di mana-mana orang bertumbangan di jalanan, di dalam mobil, maupun sedang di atas sepeda motor karena langsung pingsan. Orang-orang jatuh terkapar di trotoar, menimpa setir di dalam mobil sehingga klakson berbunyi, dan mereka yang berada di atas sepeda motor sedang melaju kencang, ketika tak sengaja melirik dan pingsan, sepeda motornya tetap saja meluncur untuk akhirnya terhenti karena bertabrakan. Orang-orang berkaparan, terguling-guling, dan pingsan di antara banyak juga orang yang tak tahu menahu dan terheran-heran.

“Ada apa sih?”

“Tuh!”

“Apa?”

“Jangan lihat!”

Namun terlambat, sehingga yang terlanjur menengok pun terbanting pingsan, itu pun tak menghentikan usaha penengokan selanjutnya.

“Apaan sih?”

Gubrak!

“Kayak apa sih cantiknya?”

Gubrak!

“Masa’ lihat orang cantik saja pingsan?”

Gubrak!

“Ah yang bener, bisa pingsan? Coba lihat….”

Gubrak!

“Aku juga mau lihat….”

Gubrak!

“Coba lihat!”

Gubrak!

“Coba lihat!”

Gubrak!

“Coba lihat!”

Gubrak!

Gubrak!

              Gubrak!

                             Gubrak!

                                            Gubrak!

                                                         Gubrak!

                                                                       Gubrak!

Anehnya, mereka yang lantas siuman, ternyata banyak yang belum percaya dirinya pingsan karena pesona kecantikan dan berusaha melongok kembali.

“Masa’ iya ya….”

Gubrak!

Tentu saja terjadi kegemparan di sepanjang jalan yang dilalui makhluk dengan wajah tercantik ini karena setiap kali melangkah dengan tegas tetapi anggun ia menimbulkan kepingsanan di mana-mana. Lantas, manakala mereka yang pingsan karena kedahsyatan pesona ini berpenyakit jantung pula, tidak sedikit yang melanjutkan kepingsanannya dengan kematian.

Maka di antara banyak orang yang pingsan dan bangun sambil meratap-ratap terdapat pula yang tidak pernah bangun lagi dan mati. Di jalanan yang tanpa peristiwa luar biasa ini pun sudah penuh kekacauan dan ketidaknyamanan, keadaan semakin hiruk pikuk. Deretan mobil tak berjalan lagi dan sepeda motor masih terus saling bertabrakan. Semakin jauh ia melangkah, semakin panjang debu prahara yang ditimbulkannya.

Polisi setempat segera menelpon komandannya, dan komandan segera mengirimkan helikopter. Dari helikopter laporan pandangan mata tersiar langsung lewat kamera ke layar di ruang rapat tempat komandan menyaksikan kegemparan bersama para pembantunya. Dengan cepat komandan minta dihubungkan langsung dengan juru kamera.

“Jangan ambil wajahnya ya! Jangan! Nanti pingsan semua kita di sini!”

Sejak awal juru kamera kepolisian itu pun telah mendapat peringatan dari rekannya di bawah.

“Awas! Ambil dari jauh saja! Kita hanya perlu mengetahui arah perjalanannya! Awas! Kalau melihat wajahnya kamu bisa jatuh pingsan melayang ke bawah!”

“Oke! Oke! Wajah tidak diambil! Copy!”

Juru kamera ini pun tahu, begitu wajah tertangkap kamera, pada saat itu pula para penyaksi laporannya jatuh pingsan, tak ketinggalan pula dirinya sendiri. Namun para juru kamera stasiun televisi yang segera berdatangan dengan helikopter masing-masing, belum sempat menyadarinya ketika helikopter-helikopter itu berebutan terbang merendah untuk mendapatkan gambar terbaik dari prahara kecantikan wajah, yang masih terus memakan korban sepanjang langkahnya yang anggun dan menawan.

Baca juga  Bersama Ibu

Dalam siaran langsung, prahara ini jadi berlipat ganda, karena wajahnya tertayang ke seantero negeri dengan seketika. Kecantikan wajah telah membuat negeri ini nyaris lumpuh, ketika di segala kota besar, kota kecil, pelosok, bandara, kapal laut, bis malam, dan segala pojok televisi umum, pokoknya di mana saja terdapat pesawat televisi, wajah tercantik di dunia itu membuat orang menahan nafas karena sangat terpesona, tapi tak pernah menghembuskannya lagi, sehingga jatuh pingsan.

Gubrak!

                         Gubrak!

                                                  Gubrak!

                                                                          Gubrak!  

                                                                                                   Gubrak!

Gubrak!

                          Gubrak!

                                                 Gubrak!

                                                                             Gubrak!

                                                       Gubrak!

                                         Gubrak!

                     Gubrak!

Gubrak!

Komandan jadi naik pitam.

“Orang-orang tivi ini memang goblok! Berapa juta orang sudah pingsan gara-gara mereka? Bisanya cuma ikut bikin kacau saja! Usir mereka semua! Kita harus segera mengejar dan menangkap sumber prahara ini! Kecantikan! Huh! Di mana-mana bikin perkara!”

Dengan pendekatan menghadapi musuh di medan tempur, daerah itu segera dikosongkan, sehingga tidak ada lagi calon korban baru yang akan berpapasan. Orang-orang televisi diancam akan ditembak rudal kalau tidak menjauh dengan helikopternya, meski dari jauh itu sembari terbang di tempat para wartawan yang lebih bersungguh-sungguh tetap berusaha meliput peristiwa.

Lantas dari helikopter polisi itu terdengar kata-kata melalui pengeras suara.

“Pemilik wajah cantik yang kami hormati, wajah cantik Saudara telah membuat banyak orang pingsan dan sangat mengganggu ketertiban! Mohon dengan sangat menyerahlah! Berhubung wajah cantik Saudara membuat pingsan orang yang memandangnya, mohon agar Saudara mengerudungi kepala Saudara dengan karung yang akan kami lemparkan ke bawah. Demi ketenteraman kita bersama, pakailah karung tersebut dan menyerahlah!”

Namun pemilik wajah cantik ini ternyata tidak sudi menyerah.

“Heran,” pikirnya, “nengok sendiri, pingsan sendiri, eh kok jadinya gue nyang sale! Enak aje masuk-masukin karung! Emangnye gue kucing?!”

Tentu saja dengan wajah yang membuat orang tertahan nafasnya dan jadi pingsan, usaha menangkap dan memasukkannya ke dalam karung tidak menjadi mudah, karena wajah cantik yang bahkan membuat udara bergelombang ini memang memingsankan siapapun yang menatapnya tanpa pandang bulu. Pasukan yang diturunkan untuk meringkusnya di baris terdepan, menjadi korban pertama yang bergelimpangan pingsan karena belum terlalu menyadari betapa wajah seseorang memang bisa membuat orang pingsan.

Baca juga  Sihir Keluarga

“Mundur! Mundur! Mundur! Jangan lihat wajahnya! Jangan lihat wajahnya! Bikin parameter seratus meter!”

Demikianlah pasukan pengepung mundur sambil menundukkan kepala atau menoleh ke tempat lain, yang memberi peluang bagi pemilik wajah cantik itu untuk menghilang di antara deretan mobil-mobil yang berhenti karena pemiliknya pingsan, sepeda motor yang bergelimpangan, dan juga orang-orang yang berkaparan pingsan. Kadang di antara yang pingsan ada yang siuman dan tanpa sengaja menengok ke arah wajah cantik yang sedang melewatinya sehingga lagi-lagi sekali lagi jatuh pingsan.

Menyeberangi jalan, pemilik wajah cantik ini lenyap di perkampungan kumuh di tepi sungai yang segenap penghuninya beramai-ramai justru naik ke atas karena menyaksikan sasaran empuk penjarahan. Mereka berebutan menyambar dompet para pengendara sepeda motor yang bergelimpangan, memecahkan kaca jendela mobil-mobil yang pengemudinya masih pingsan, bahkan mobil-mobil yang terjebak macet dan pengemudinya tidak pingsan karena tak tahu menahu perkara wajah cantik yang memingsankan manusia itu pun tak luput dijarah setelah kaca-kacanya dipecahkan.

Lantas, entah siapa pula yang memulai, sebuah mobil tiba-tiba terbakar. Tidak jelas kenapa pula, mobil-mobil lain ikut dibakar, sehingga membentuk jalur api yang panjang sepanjang kota. Suasana jadi hiruk-pikuk, orang-orang panik berlarian sambil menjerit-jerit karena toko-toko di sekitarnya mendadak terbakar pula. Jalur terbakarnya mobil-mobil yang semakin memanjang bagaikan terbakarnya sebuah sumbu segera disusul jalur terbakarnya toko-toko. Habis deretan toko, terbakar pula perkampungan kumuh. Setelah perkampungan kumuh terbakar habis terbakar para penghuninya menyerbu kompleks perumahan mewah untuk menjarah, dan ujung-ujungnya lantas membakarnya pula. Tak lama kemudian sebuah gedung pencakar langit terbakar pula bagaikan obor raksasa.

Pada saat senja menjadi lengkap dan malam turun, ibukota telah menjadi lautan api. Dari pesawat terbang yang merendah turun ke bandara, tampaklah seluruh kota menyala-nyala. Parameter kepungan pasukan antihuruhara telah rusak tanpa pernah terbentuk karena kekacauan yang tidak terkendali lagi. Api tak dapat dipadamkan karena bahkan mobil pemadam kebakaran pun ikut dibakar. Api berkobar-kobar menjilat angkasa. Kerusuhan berlangsung di mana-mana dan di antara kekacauan itu masih saja siapapun yang sengaja atau taksengaja melihat wajah cantik tiada tara, meskipun hanya sekelebat saja, langsung jatuh pingsan untuk segera meninggalkan dunia karena terinjak-injak gelombang manusia yang merayakan kemerdekaan dari perasaan menderita untuk sementara.

***

Akhirnya ia menemukan tempat tersembunyi yang sepi, amat sangat sepi, bagaikan tiada lagi yang lebih sepi di sebuah gorong-gorong gelap yang kosong, dengan hanya ditemani sebuah lilin. Di atasnya, kota hanya gelap karena listrik mati, dan meskipun api masih menyala di berbagai puing reruntuhan dan bangkai-bangkai mobil yang hangus, kerusuhan sudah mereda. Terdengar suara-suara langkah yang diseret karena kelelahan jiwa yang terguncang, kesadaran yang mengingatkan perilaku memalukan, maupun keletihan tubuh itu sendiri setelah mengobarkan kemarahan ke segala arah tanpa pernah berhenti.

Ia tahu, jika ia muncul dari gorong-gorong itu, dan seseorang melihat wajahnya hanya untuk pingsan lagi, prahara itu akan berulang kembali.

Dari jalanan telah dipungutnya sebilah pisau, barangkali milik seorang penjarah yang tak sadar kehilangan senjatanya karena sibuk menggotong pesawat televisi.

Dalam cahaya lilin, tampak wajahnya di cermin kecil yang selalu ada di dalam tas. Hanya dirinya yang tidak pingsan melihat wajah itu.

Ia tidak lagi mengagumi kecantikan wajahnya. Memegang cermin kecil di tangan kiri, tangan kanannya memegang pisau setajam silet yang sedang bergerak, untuk menyayat-nyayat wajahnya sendiri …

Gubrak! ***

.

.

Kampung Utan, Sabtu 3 Desember 2011.

.

.

Loading

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!