Cerpen, Kompas, Sungging Raga

Alesia

5
(4)

“Kalau ibu pergi, Alesia, berjanjilah untuk tidak bersedih terlalu lama.”

Ia dengar ibunya membisikkan kalimat itu di telinganya. Samar-samar ia rasakan napas ibunya yang lemah, semakin lemah sejak beberapa hari terakhir ini ibunya hanya bisa terbaring tanpa bisa melakukan apa-apa lagi.

Alesia, gadis berwajah pucat itu, hanya bisa duduk di sisi tempat tidur, tangan kanannya menggenggam tangan sang ibu, ada rasa dingin yang seolah menyatu sebagai pusaran takdir, sebagai rangkaian kesunyian yang telah lama menggumpal di rumah itu.

“Apa yang akan terjadi setelah kematian, ibu?” Tanya gadis itu.

Sang ibu tersenyum, matanya menyipit, sebuah tarikan napas panjang, yang barangkali tak akan ada napas yang lebih panjang lagi dari ini. Rumah seperti beku, udara menempel di gorden, cicak-cicak terdiam di langit-langit.

“Ibu juga tidak tahu, Alesia. Yang pasti, sebentar lagi akan ada malaikat yang membawa ibu ke langit.”

“Malaikat?” Alesia berpikir tentang makhluk bersayap yang suka menemani anak-anak kesepian. Namun ia ragu untuk apa malaikat itu akan membawa ibunya. “Apakah ia jahat?”

“Tidak, Alesia. Malaikat itu baik hati.”

Gadis itu barangkali tahu bahwa semua malaikat memiliki sifat baik hati. “Tapi kenapa dia mau membawa Ibu?”

“Sebab itu sudah tugasnya.”

“Ah, tidak boleh. Pokoknya tidak boleh,” gadis itu merajuk, sekarang Alesia membayangkan malaikat itu punya tanduk merah, bergigi taring, bermata menyeramkan, “apa malaikat itu bisa dibunuh?” Tanyanya lagi. Sang ibu nampak terkejut mendengar pertanyaan itu.

“Tidak bisa, Alesia. Kau pasti terlalu sering membaca dongeng. Malaikat adalah makhluk mulia, ia akan datang dengan perintah yang tidak bisa ditunda.”

Namun, gadis kecil yang memang terlalu banyak membaca buku-buku dongeng yang dikirim ayahnya dari Finlandia itu, sudah telanjur membayangkan bagaimana kedatangan malaikat yang tak dikehendakinya itu. Maka diam-diam ia pun menyiapkan sebuah rencana khusus.

Alesia beranjak keluar dari kamar kelabu itu, pergi ke dapur, menghidupkan kompor untuk memasak air. Lantas ia siapkan segelas kopi bubuk. Selanjutnya ia menjangkau sebilah pisau dapur, menyelipkannya di balik pinggangnya.

“Mungkin malaikat suka kopi. Dulu, setiap kali ayah ada tamu, pasti minta dibuatkan kopi.” Gumamnya. Setelah air mendidih, ia menuangkannya di termos, lalu ia pergi ke halaman belakang, sesaat memandangi langit biru. Begitu biru.

Baca juga  Balada Nikah Muda

Alesia bahkan nyaris lupa kalau sejak dulu langit memang punya warna biru…

Malaikat itu datang dengan sebuah lesatan yang tak bisa digambarkan kecuali seperti cahaya yang lolos dari tangkapan setiap mata. Dalam sekejap, malaikat itu sudah berada di depan pintu rumah Alesia.

Sang malaikat lantas masuk menembus pintu. Di ruang tamu, ia melihat beberapa setan kecil yang sedang berkerumun di sebuah lukisan yang terpajang di tembok bagian kiri. Lukisan itu menampakkan sesosok manusia yang berdiri memegang pedang dan perisai, memakai topi bertanduk, dengan mata berwarna merah menyala.

“Kenapa mereka suka sekali berkerumun di depan lukisan itu?” gumam si malaikat.

Lukisan itu sebenarnya adalah lukisan potret ayah Alesia sendiri, yang sedang mengenakan kostum adat Finlandia, dilukis oleh seniman yang tinggal di kampung sebelah. Bersamaan sejak lukisan ini dipajang, sejak itu pula ayah Alesia tak pernah kembali. Sudah lama ayahnya menjadi buruh kasar di kapal angkutan barang, dan suatu hari, harus pergi ke Finlandia untuk bekerja di sebuah pelabuhan dan menetap sampai waktu yang tak diketahui.

Sejak saat itu, terbalik sudah kehidupan Alesia, dari kebahagiaan minimalis, menjadi kesunyian yang berlapis-lapis, kesunyian yang terus menyambar hatinya siang dan malam. Sang ayah memang rutin mengirim uang kepada Alesia dan ibunya, sehingga kebutuhan sehari-hari mereka tetap tercukupi, bahkan gadis itu sering kali mendapat buku-buku dongeng Finlandia.

“Kapan-kapan Ayah akan mengajakmu ke Karelia.” Begitu janji ayahnya lewat surat yang dikirim bersama buku-buku tersebut. Namun Alesia tak pernah membalas satu pun surat-surat itu.

Dan hidup Alesia menjadi semakin buruk ketika tiba-tiba ia menemukan ibunya sering terjatuh di dapur, di ruang tamu, dan di halaman. Ia sering kali kesulitan untuk membantu sang ibu bangkit. Ketika seorang tabib datang untuk memeriksanya, ternyata diketahui ibunya mengalami kelumpuhan. Apakah ini karena ibunya juga merasa kesepian? Apakah kesepian bisa menyebabkan kelumpuhan? Entahlah. Ayah Alesia tak diberi kabar perihal penyakit tersebut. Hari demi hari, minggu demi minggu, penyakit ibunya semakin parah saja, sudah beberapa kali dokter dan tabib dipanggil, pada akhirnya mereka menyerah dengan alasan bahwa ini penyakit langka.

Baca juga  Tumbal

“Rumah sakit pun belum tentu bisa menyembuhkannya. Selain itu biayanya pasti mahal.” kata dokter Manisha yang datang dua minggu lalu.

Alesia, gadis sebelas tahun itu, hanya bisa menemani ibunya sepanjang hari, mengambilkan air minum kalau ibunya memanggil-manggil pada tengah malam, menuntunnya ke kamar mandi, dan juga melakukan seluruh pekerjaan rumah. Semua itu menjadi seperti rutinitas, sampai siang ini, cerita ibunya tentang malaikat dan kematian, membuatnya semakin gelisah. Dan ketika malaikat itu benar-benar datang, Alesia pun mengintip dari ruang tengah.

“Sepertinya itu,” gumam Alesia, “tapi kenapa tidak bertanduk, ya?”

Setelah mengusir setan-setan kecil dari lukisan tadi, malaikat itu lantas duduk di salah satu kursi, melihat ke arah jam dinding, barangkali waktunya belum tiba, barangkali ia datang terlalu cepat. Saat itulah, Alesia muncul dengan membawa secangkir kopi, dan pisau dapur itu masih tersembunyi di balik pinggangnya.

“Anda malaikat yang akan menemui ibu saya?”

“Oh, iya.”

Lantas gadis itu meletakkan secangkir kopi di atas meja. “Semoga Anda tidak buru-buru. Saya sudah buatkan kopi. Ini, diminum dulu.”

Sejujurnya, Alesia—dan saya sebagai penulis cerita ini—masih tak yakin apakah benar yang datang itu memang malaikat atau hanya tokoh dongeng yang salah diberi nama sebagai malaikat, tapi baiklah kita ikuti terus apa yang terjadi. Sang malaikat lantas mengangkat cangkir kopi itu, meminumnya perlahan.

“Slrrpp… Hm, pahitnya pas. Tajam. Kau pandai bikin kopi.”

Alesia mencoba tak tersenyum dengan pujian itu.

“Ini kopi apa?” Tanya si malaikat lagi.

“Kopi Lampung, diberi tetangga sewaktu lebaran. Silakan diminum lagi, ibu saya mengajarkan saya untuk berbaik hati pada tamu. Kalau kurang, nanti saya buatkan yang baru.”

“Haha, boleh saja, tapi aku sedang buru-buru…”

“Mau ke mana?”

“Menemui ibumu. Dia ada di dalam?”

Gadis itu mengangguk.

Dan ketika malaikat itu beberapa kali melihat ke arah jam dinding, saat itulah Alesia tiba-tiba mengacungkan pisau dapur itu ke udara…

Baca juga  Hujan yang Hangat

Lantas ia menusukkannya, ke arah perutnya sendiri.

Sang malaikat menoleh pada gadis itu. “Apa yang kamu lakukan?”

Ia tetap menampakkan raut yang tenang melihat gadis itu mulai terengah-engah dan darah membasahi pakaiannya.

“Se… Sekarang, kau tak punya pilihan lain, bukan? Kau terpaksa harus mengambil nyawaku terlebih dahulu sebelum bertemu ibuku.” Kata Alesia. Ia sudah tersungkur di lantai—karena pemandangan cukup mengerikan, bagian ini tidak digambarkan dengan detail.

Meski begitu, sang malaikat bergeming, “Ah, tapi ini bukan tugas saya.” Jawab malaikat itu. Ia justru berbalik masuk ke kamar tidur yang pengap, melihat sosok wanita terbalut selimut yang lusuh.

“Nalea Mendieta…” Katanya. Wanita yang berbaring itu perlahan menoleh.

“Ya? Siapa?”

“Hm. Kau tak perlu tahu siapa aku. Yang pasti, aku membawa kabar kesembuhan untukmu.”

“Kesembuhan?”

“Ya.”

“Tapi dokter bilang, tidak ada lagi obat yang bisa menyembuhkan penyakit saya.”

“Tidak. Masih ada satu obat yang tak dipikirkan oleh dokter mana pun.”

“Apa itu?”

“Doa… Anak gadismu yang setiap pagi dan petang selalu mendoakan kesembuhan ini. Anakmu yang sepanjang hari selalu berharap kau kembali seperti sedia kala. Jadi, aku dikirim untuk mengabarkan kesembuhanmu sesuai yang telah ditakdirkan. Nikmatilah…”

Wajah wanita itu pun langsung berbinar. “Terima kasih, Tuan, terima kasih.”

“Sama-sama. Sekarang cepatlah temui anakmu, sepertinya ada sedikit salah paham. Aku pamit dulu. Ada banyak kabar lain yang harus kusampaikan.”

Setelah berkata begitu, sang malaikat pun langsung pergi lewat pintu bekalang, melesat entah ke mana.

Tak lama setelah kepergian sosok misterius itu, wanita tersebut berangsur-angsur mendapatkan tenaganya kembali. Ia sudah bisa membangunkan badannya meski masih belum beranjak di atas tempat tidur. Tak ada lagi rasa ngilu yang menggerogoti setiap persendiannya.

“Alesia? Alesia?” Ia memanggil anak gadisnya.

Tak ada jawaban.

“Alesia? Kemarilah.” Katanya lagi. Tetap tak ada jawaban. ***

Average rating 5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: