Aliurridha, Cerpen, Solopos

Gustavo

Gustavo - Cerpen Aliurridha

Gustavo ilustrasi Hengki Irawan/Solopos

4.8
(6)

Cerpen Aliurridha (Solopos, 22-23 Oktober 2022)

NAMANYA bukan Agus, bukan Bagus, juga bukan Gustav. Namun, orang-orang selalu memanggilnya Pak Gus—singkatan dari Bapak Gustavo. Dulu, aku mengira Gustavo memanglah namanya karena orang-orang selalu memanggilnya begitu. Ternyata bukan. Dia dipanggil Gustavo dikarenakan kata yang begitu sering terlontar dari mulutnya—Gestapu. Ya, Gestapu. Tapi karena saat itu aku masih anak-anak, kata itu terasa asing di telingaku. Aku bahkan berpikir kalau kata itu bukan berasal dari bahasa Indonesia. Baru agak lama aku mengetahui bahwa kata itu adalah kata asli Indonesia yang menyejarah dan berdarah-darah.

Pak Gus—begitu kami akrab memanggilnya—sebenarnya sudah tidak layak dipanggil Bapak, penampilannya lebih menyerupai seorang kakek-kakek ketimbang bapak-bapak. Rambut Pak Gus hampir habis. Mulai dari kepala bagian depan menuju kepala bagian belakang sudah botak. Hanya bagian pinggir dan belakang kepalanya saja yang ada rambutnya, dan itu pun telah putih semua. Bagian yang tidak ditumbuhi rambut itu kelihatan sangat licin seolah dilapisi lelehan lilin. Dari wajahnya yang dipenuhi guratan usia senja, aku menerka-nerka bahwa usianya sudah lebih enam puluh lima. Meski aku tidak benar tahu berapa tepat usianya, aku menduga-duga dia hanya sedikit lebih muda dari kakekku. Namun karena anaknya belum menikah, tiada cucu yang mengubah panggilan Bapak menjadi Kakek.

Pak Gus adalah seorang pensiunan pegawai negeri sipil. Ketika sudah tidak lagi bekerja, nyaris setiap hari kulihat dia berada di berugak dekat rumahku. Di sana dia merokok sembunyi-sembunyi dari istrinya yang melarangnya merokok karena dia divonis menderita asma kronis. Istrinya juga sangat benci asap rokok, tapi Pak Gus adalah perokok berat yang sudah tidak tahu lagi cara berhenti. Karenanya dia merokok sembunyi-sembunyi bersama bocah-bocah sok nakal yang sembunyi-sembunyi dari orang tua mereka. Aku termasuk salah satu di antara para bocah itu. Di berugak itulah aku mengenal Pak Gus dan mendengarkan segala ceritanya.

Pak Gus suka sekali bercerita. Berulangkali dia bercerita kepada kami tentang masa mudanya. Kami mendengar segala ceritanya dengan saksama. Dari segala ceritanya, cerita pembantaian komunis adalah yang paling sering kami dengar.

Sedari kecil aku telah mengenal cerita kejahatan orang-orang komunis, tapi tidak pernah sedalam dan sedetail yang diceritakan Pak Gus. Darah di kepalaku acap kali menggelegak mendengarkan Pak Gus menceritakan kejahatan mereka.

Baca juga  Dua Kepak Sayap

Setiap Pak Gus bercerita biasanya tidak pernah ada yang berani memotong. Kecuali mungkin jika Egi sedang ada di sana. Dari semua temanku, Egi adalah yang paling kritis. Dia suka bertanya perihal ini-itu kepada siapa pun, tidak terkecuali kepada Pak Gus. Hari itu, ketika Pak Gus berkata orang-orang komunis itu ateis dan darahnya halal diminum, Egi lantas memotong dan bertanya.

“Kenapa?”

Pak Gus tampak terkejut. “Ya, karena mereka itu iblis—dan iblis itu ateis. Orang-orang komunis itu hampir membakar Republik ini oleh sebab pemberontakan mereka,” jelas Pak Gus.

“Jadi karena mereka itu iblis atau karena mereka memberontak, komunis halal darahnya, Pak?” tanya Egi lagi.

“Dua-duanya. Intinya komunis itu jahat. Mereka mau mengganti ideologi negara, mereka mau mengganti Pancasila. Dasar liberal!”

Aku selalu tertegun setiap mendengar Pak Gus bercerita. Dia pandai menaik-turunkan nada bicaranya, dan gairah berceritanya itu, bahkan di depan anak-anak seperti kami, tak pernah turun. Aku dan teman-temanku selalu tertarik dengan cerita pemberontakan itu. Bukan karena kami ingin mendengar kejahatan orang-orang komunis yang membunuhi para jendral, bukan pula untuk mendengar bagaimana pemberontakan itu dipadamkan, tapi untuk mendengar kata Gestapu yang meluncur dari mulut Pak Gus. Setiap mengatakannya mata Pak Gus melotot dan mulutnya memuncratkan air liur, lalu dari lidahnya yang pendek dan suaranya yang serak becek terdengar kata Gustavo. Kami akan terkejut lalu tertawa terpingkal-pingkal. Meski salah satu dari kami harus rela kena cipratan air liurnya, kami tetap tertawa, dan dia akan melotot menatap kami; ketika kami berpikir dia akan marah, dia malah melanjutkan ceritanya.

Aku juga selalu terpukau dengan pilihan kata Pak Gus. Pilihan katanya selalu hebat, selalu saja ada kata-kata yang tidak kumengerti. Setiap kali dia mengucapkan kata-kata yang tak kumengerti, dia jadi kelihatan pintar. Dan aku merasa akan ikut pintar jika terus mendengarnya. Karenanya aku begitu kesal ketika ibu melarangku ke berugak untuk mendengarkan cerita Pak Gus. Katanya Pak Gus memberi contoh yang tidak baik, dia selalu bicara kasar dan suka memaki.

Baca juga  Kota Kantata

“Tapi kan dia memaki komunis, Bu? Komunis itu jahat?”

“Iya, komunis memang jahat. Tapi apa yang Pak Gus omongin tidak pantas didengar anak-anak.”

Aku bingung dari mana ibu bisa tahu apa yang Pak Gus ceritakan. “Memangnya ibu tahu apa yang diomongin Pak Gus?”

“Tahulah. Semua orang seusia ibu juga tahu. Bukan kalian yang pertama memanggilnya Pak Gus, tapi teman-teman ibu.”

Aku terkejut mendengar cerita ibu. Ternyata sudah hampir 30 tahun Pak Gus menceritakan hal yang sama. Lalu ibu bersikeras agar aku tidak lagi pergi ke berugak. Tapi aku tidak mendengarkan dan masih saja datang ke berugak menemui Pak Gus. Dan ternyata bukan hanya aku yang dilarang, beberapa teman-temanku juga dilarang orang tuanya. Tetapi tidak semua, banyak juga orang tua yang membiarkan anaknya ke berugak. Selama anak-anaknya mau menghabiskan waktu bermain di luar dan tidak bermain Playstation, mereka tidak mempermasalahkannya. Bahkan ada yang sampai mendukung. “Biar anak-anak sekarang sadar bahaya laten komunisme,” kata salah satu dari mereka.

Ibunya Egi adalah satu dari sedikit yang melarang anaknya untuk mendengarkan cerita Pak Gus. Tetapi Egi sepertiku, ia sudah kecanduan dengan cerita-cerita Pak Gus. Apalagi Pak Gus berencana akan mengadakan nonton bareng Film yang sudah tidak lagi disiarkan di televisi: film Pengkhianatan G30S/PKI. Dia mengajak kami menonton di rumahnya. Aku senang sekali karena aku belum pernah menonton film itu sebelumnya. Tetapi setelah menontonnya aku kecewa, filmnya tidak seperti yang kupikirkan. Filmnya tidak seru dan gambarnya buruk.

“Pak Gus ganti apa filmnya.”

“Betul nonton Fast & Furius saja! Film ini membosankan.”

“Bagaimana kalian ini, anak-anak muda penerus bangsa masa tidak mau tahu sejarahnya. Jas merah! Jangan sekali-sekali melupakan sejarah,” kata Pak Gus berapi-api.

***

Delapan tahun berlalu sejak terakhir aku nongkrong di berugak bersama Pak Gus. Kini aku telah menjadi mahasiswa. Aku mulai disibukkan dengan berbagai urusan kampus hingga tidak pernah lagi mampir di berugak dan mendengarkan Pak Gus bercerita. Telah begitu lama aku tidak mengunjungi berugak itu. Suatu hari aku tidak sengaja lewat di depan berugak dan melihat Pak Gus sedang berapi-api bercerita. Aku lantas mampir dengan semangat nostalgia.

Baca juga  Sebuah Kisah di Candipuro

“Lagi cerita-cerita ya, Pak?”

“Eh kamu, Jang. Sini duduk.”

Begitu aku duduk di berugak, Pak Gus langsung memalakku. Dia meminta rokokku.

“Lah Pak Gus masih merokok?” tanyaku tidak percaya.

“Ya masihlah, kamu pikir apa yang bikin bapak hidup sehat sampai setua ini?” katanya. Begitu kata setua ini selesai diucapkan, dia batuk dengan begitu keras sampai terdengar suara ngik-ngik di setiap tarikan napasnya. Dia langsung menyedot inheler miliknya. Beberapa menit kemudian napasnya kembali lega, dan dia kembali menagih sebatang rokok yang tidak jadi kuberikan.

“Loh jadi, Pak?”

“Ya jadi toh.”

Setelah membantunya menyalakan rokok, aku memandangi wajah anak-anak yang sedang mendengarkan cerita Pak Gus. Kulihat beberapa di antara mereka berwajah kumal, bahkan ada yang bekas ingusnya masih basah dan menempel di lengan bajunya. Aku seolah sedang melihat diriku yang dulu. Aku tertawa. Rasanya seperti nostalgia.

“Kalian lagi dengar cerita komunis ya?” tanyaku pada bocah-bocah itu.

“Komunis? Apa itu?” tanya salah seorang anak. Wajahnya kelihatan bingung. Begitu pun wajah anak-anak lainnya. Aku justru lebih bingung melihat mereka bingung. Bukannya mereka berkumpul di sini untuk mendengarkan bahaya laten komunisme? Aku menoleh ke arah Pak Gus.

“Sekarang ada yang lebih berbahaya dari komunisme, namanya radikalisme. Mereka mau mengganti ideologi negara, mereka mau mengganti Pancasila. Dasar Radikal!”

Aku terbelalak mendengarnya. Rasanya aku pernah mendengarkan kata-kata itu diucapkannya dulu, tapi dengan redaksi yang sedikit berbeda. Segera kutinggalkan berugak itu. Aku malas mendengar cerita itu, cerita yang kuyakin akan sama saja. ***

.

.

Gunungsari, 2021-2022

Aliurridha menulis esai, puisi, dan cerpen. Cerpen tersiar di pelbagai media seperti Kompas, Tempo, Jawa Pos, Republika, dll. Cerpennya “Metamorfosa Rosa” terpilih sebagai nomine cerpen pilihan Kompas 2021. Ia tinggal di Lombok Barat dan bergiat di komunitas Akarpohon.

.

Gustavo. Gustavo. Gustavo.

Loading

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

2 Comments

  1. Rml

    Tuturan aliurrida selalu menarik. Membuat pembaca merasa intim dengan ceritanya. Tetapi di cerpennya ini, kejutannya kurang “menghantam” ketimbang cerpen-cerpennya sebelumnya. Namun untuk kepentingan utama penceritaan, yaitu menyampaikan pesan perihal ketidakkonsistenan dan ketidak berarahan pemikiran tokoh Gustavo perihal komunisme dan radikalisme, saya rasa upayanya sudah berhasil. Saya pribadi sangat bisa memahami pesannya itu.

Leave a Reply

error: Content is protected !!