Cerpen, Kompas, Sunlie Thomas Alexander

Bulan Ketujuh Kalender Lunar

Bulan Ketujuh Kalender Lunar - Cerpen Sunlie Thomas Alexander

Bulan Ketujuh Kalender Lunar ilustrasi Tatang Bsp/Kompas

4.5
(2)

Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Kompas, 20 November 2022)

SETIAP bulan ketujuh kalender lunar, hantu-hantu akan dihidupkan lagi di kota kecil kami. Oleh adat dan keyakinan, juga bakti ala konfusian.

Maka daging babi, ayam, ikan atau udang, juga buah-buahan, kue, tiga sloki teh dan lima sloki arak pun tertata di atas meja sesajen untuk mereka yang sudah mati. Semuanya senantiasa tersaji dalam jumlah ganjil di teras atau pekarangan rumah lantaran jumlah genap hanyalah untuk yang masih bernafas saja.

Mereka yang sudah meninggal lama seperti kakek-nenekku pun bakal kembali bertandang dari alam roh. Hari baik kiranya untuk menjenguk anak-cucu yang masih berjuang di dunia fana. Tentu tak kasatmata, hanyalah asap dupa dan doa tulus keluarga semata yang mengantar mereka datang dan pergi.

Lalu setelah mereka kenyang bersantap hidangan dunia yang dirindukan, dibakarlah uang akhirat serta pakaian dan sepatu kertas dalam tempayan. Ya, agar sekembali ke alam baka nanti mereka tak kekurangan uang dan sandang. Atau anak-cucu di dunia akan mendapat malu. Dicap tak berbakti karena menelantarkan arwah orangtua dan leluhur. Akibatnya bisa saja fatal: bakal seret rezeki si anak atau cucu durhaka!

Pernah aku bertanya kepada ibuku, “Benarkah semua hidangan itu bisa disantap oleh orang mati?” dan “Apakah pakaian dan sepatu kertas yang dibakar itu sungguh-sungguh dapat diterima oleh Kakek-Nenek?”

“Apa maksud kau tanya begitu?” jawab ibuku dengan mata melebar. Namun ayahku kemudian menjelaskan sambil mengulum senyum.

“Orang-orang mati itu hanya bisa menyantap saripati makanan, Nak. Dan tentu saja barang-barang di dunia fana ini baru bisa mereka gunakan kalau sudah mengabu,” kata ayahku. “Sudahlah, kau tak usah terlalu banyak tanya. Aku juga tidak tahu kenapa begitu.”

Aku jadi membayangkan betapa semringahnya wajah arwah kakek dan nenekku dengan pakaian dan sepatu baru mereka. Kubayangkan pula mereka—yang hanya pernah kulihat dalam foto kusam hitam-putih—bersendawa keras. Panjang sekali doa yang diucapkan Ibu setiap mengajakku membakar dupa di depan meja sesajen. Dimohonnya agar arwah Kakek dan Nenek selalu memperhatikan keluarga dari alam sana, membantu kelancaran rezeki, juga menjaga diriku.

Hanya saja, aku si anak badung selalu celingak-celinguk melirik buah-buahan yang tersaji di atas meja. Apel, jeruk, pir yang besar-besar itu memang begitu menggoda kendati kotor oleh abu dupa. Rasanya tak sabaran aku menunggu sembahyang selesai untuk melahapnya.

“Hei, yang sopan kalau sedang di depan kakek-nenekmu! Kualat baru tahu rasa!” tegur ibuku galak. Memerah wajahnya setiap kali memergoki ulahku.

***

Ya, setiap bulan ketujuh kalender lunar, hantu-hantu selalu dihidupkan lagi di kota kecil kami. Di rumah kami maupun di rumah para tetangga, nama-nama mereka yang telah mati akan ditulis lagi dalam aksara Han di atas kertas merah persegi panjang yang dilekatkan pada dua batang dupa dan ditancapkan dalam guci-guci kecil atau kaleng yang dibungkus kertas merah. Tentu aku belum mengerti Hanyu kala itu. Namun Ayah yang menulisnya, dengan sabar memberi tahuku mana nama Kakek dan mana Nenek.

“Laki-laki selalu di sebelah kanan. Nah, ini huruf marga keluarga kita. Kalau marga nenekmu hurufnya seperti ini,” tunjuknya padaku lalu memintaku menancapkan kertas-kertas nama itu ke dalam dua buah kaleng mentega yang telah disusun rapi di kepala meja.

Baca juga  BANGSAL 05

Karena keluarga kami cuma menjamu arwah Kakek-Nenekku saja, kami tak menyiapkan banyak sesajen seperti para tetangga. Sebagai putra tertua, Paman Liu Kong-lah yang ketiban kewajiban sembahyangi arwah kedua buyutku. Keluarga Paman bahkan harus menyiapkan tiga pasang sesajen: untuk arwah Kakek-Nenek, kakek-nenek buyutku, dan kedua orangtua istrinya.

Alangkah beruntungnya arwah-arwah yang masih punya sanak-keluarga di dunia, pikirku. Sementara banyak arwah tak bersanak yang luntang-lantung sebagai hantu telantar. Haus dan lapar, berkeliaran tanpa tempat pulang setiap bulan ketujuh tiba. Kadang nekat mereka mencuri hidangan dari meja sesajen arwah lain, ya dari rumah ke rumah.

Karena itu, bertempat di halaman kelenteng yang luas, setiap tahun pada puncak bulan ketujuh kalender lunar, beragam sesajen akan disajikan secara berlimpah di atas lapak-lapak kayu bagi para arwah malang tak berumah tak bersanak itu. Agar mereka tak lagi menjadi arwah penasaran dan mengganggu baik yang hidup maupun yang mati.

Ya hari ke-15 bulan ketujuh: festival para hantu, hari raya orang mati. Lihatlah bagaimana orang-orang kaya berlomba-lomba bersedekah. Berebutan mereka mencari pahala dengan mendermakan uang, berton-ton beras, berkarung buah dan sayur-mayur, hingga berpeti-peti bir untuk menjamu arwah-arwah itu. Sebab, kata ibuku, tak cuma para fakir miskin, jompo, dan anak-anak yatim di dunia fana yang berhak menerima santunan, tetapi juga para arwah di alam baka!

Sebuah replika kapal layar dari kertas dan bambu pun dibuat untuk mengantar para tamu yang tak kasatmata itu pulang-pergi antara dua alam. Kapal hantu itu megah dan indah, teronggok di tengah halaman kelenteng. Tampaknya dibuat dengan telaten oleh tangan-tangan yang cukup terampil. Paling tidak, setiap diajak ayahku melihat ritual Chiong Si Ku, aku selalu terpana melihat kapal layar berukuran besar itu.

“Semoga arwah-arwah itu mengingat budi baik kita, tak lagi mengusik, justru membantu kelancaran rezeki,” tukas Paman Cen, seorang teman Ayah yang ikut menyumbang 100 kilogram beras, demikian kuingat suatu ketika. Waktu itu, ayahku hanya tersenyum saja.

Namun terkadang, kendati ritual telah digelar sampai tengah malam, ada saja arwah jahil yang masih mengganggu keseimbangan dua dunia. Itu sebabnya sebuah boneka Thai Se Ja, dewa akhirat, akan dibuat dan didirikan di tengah gelaran sesajen untuk mengawasi semua hantu yang datang ke perjamuan agar mereka tak berbuat onar. Boneka itu menjulang tinggi dengan pakaian kebesaran seorang raja. Wajahnya hitam menakutkan, dengan lidah merah terjulur panjang dan sepasang mata melotot besar. Di tangan kanannya tergenggam sebatang kuas dan di tangan kirinya terbuka sebuah buku tebal.

“Itu namanya kitab kehidupan,” jelas ayahku, “Berisi semua nama yang masih bernyawa. Kalau ajal kita sudah sampai, nama kita akan dicoretnya dari kitab itu.”

Aku terbelalak menatap wajah boneka kertas yang angker itu.

***

Ah, benarkah arwah-arwah itu memang begitu nyata berkeliaran di sekitar kita?

Kenakanlah semua pakaianmu dalam posisi serba terbalik dan duduklah di bawah tangga dengan berpayung daun keladi. Jika perlu cukur bulu alismu, niscaya kau akan melihat hantu-hantu itu dalam berbagai wujud, dari yang rupawan sampai yang paling mengerikan. Berhati-hatilah dengan yang mati berdarah, karena mereka tak cuma suka menampakkan dirinya dalam kondisi pada saat mati, namun juga suka menjamah manusia.

Itu kata Botak Ho, tetangga sebelah rumah kami yang sehari-hari berdagang buah di pasar. Tentu tak ada orang yang begitu konyol mau ikuti sarannya, apalagi sampai mencukur bulu alis. Tanpa berpakaian terbalik di bawah tangga pun, suatu malam bulan ketujuh—begitulah pengakuannya—dengan mata kepalanya sendiri ia melihat sepiring ayam sesajen melayang-layang di depan jendela kamarnya.

Baca juga  Sepotong Kaki untuk Ayah

“Sumpah! Awalnya aku juga tak percaya! Tapi setelah kuamati, itu benar-benar ayam sesajen!” ceritanya kepada para tetangga, termasuk ayahku. Aku dan beberapa anak yang menguping langsung tercengang. Ada yang percaya tapi agaknya lebih banyak yang tidak, mengingat reputasi Botak Ho yang suka omong besar.

“Dasar pembual! Kenapa ia tak mengaku ada kepala babi sesajen menguik dalam kelambunya sekalian?!” tukas ayahku sinis. Tentu saja di belakang Botak Ho.

Namun terlepas benar tidaknya kesaksian Botak Ho itu, tiga hari kemudian kompleks rumah kami benar-benar heboh. Bukan terjadi penampakan hantu, tetapi berbagai sesajen lenyap dari atas meja sembahyang di pekarangan sejumlah rumah saat sembahyang Chit Ngiat Pan sedang berlangsung! Ada yang kehilangan ayam dan daging babi, ada juga yang kehilangan buah-buahan dan kue, bahkan botol arak. Ibuku sendiri kehilangan senampan besar daging babi, padahal ia baru sepuluh menit tinggalkan meja sembahyang karena adikku menjerit-jerit minta dibuatkan susu. Kejadian ini berlangsung saat aku sudah agak besar, sudah duduk di bangku kelas satu SMP.

Ai, maling keparat dari mana yang berani-beraninya mencuri di siang bolong? Yang lebih tak masuk akal lagi: mencuri sesajen sembahyang, makanan dan minumannya hantu!

“Sudah aku bilang, belakangan ini banyak arwah penasaran gentayangan tapi kalian tidak percaya!” tukas Botak Ho dengan wajah berbinar-binar. Suaranya terdengar penuh kemenangan.

“Arwah gentayangan gundulmu!” umpat ayahku tak bisa menahan jengkel, membuat satu-dua tetangga terkekeh. Wajah Botak Ho jadi merah padam, langsung ia berbalik badan dengan mulut berkomat-kamit tanpa suara. Dan selepas itu selama beberapa waktu tak terdengar lagi ia bicarakan hal yang aneh-aneh.

Namun dua minggu kemudian ketika sejumlah tetangga kami akhirnya memutuskan memanggil thaipak dan para thung se untuk “membersihkan rumah”, Botak Ho kembali terlihat begitu sibuk. Dengan gesit ia memperkenalkan dan menghubungi para perantara dewa itu, seolah-olah dirinya yang paling tahu thaipak mana saja yang ilmunya paling masin dan siapa saja thung se yang dewanya paling ampuh di seluruh daerah Belinyu.

Tentu, seperti katanya, ia tak perlu diberi imbalan apa-apa atas bantuannya. Hanya saja orang-orang jadi tidak enak hati jika tidak membeli buah-buahan jualannya yang diperlukan untuk sesajen.

Begitulah, pada penghujung bulan ketujuh itu, dewa-dewa dan thaipak kung pun diundang ke alam fana untuk mengusir para arwah yang suka mengganggu. Ini tentunya tontonan yang amat menarik bagiku dan anak-anak sebaya lainnya, demikian pula bagi sebagian orang dewasa. Terpukau-pukau kami menyaksikan bagaimana dewa-dewa yang merasuki tubuh para thung se pengikutnya itu memainkan jurus-jurus toya, tombak, dan pedang. Dan terkikiklah kami ketika melihat para thaipak kung tertatih-tatih dengan tongkatnya menuju altar.

Baca juga  Di Satu Titik, Kau Menghantarkan Aku

Setelah air berisi mantra dewa disemburkan oleh para thaipak dan thung se, dan setelah bermacam phu ditempel di ambang pintu, apakah para arwah jahil memang berhasil dihalau dari pintu-pintu rumah dan toko?

Ah, hanya kurang-lebih seminggu usai ritual Tatung itu dilaksanakan di sejumlah kelenteng dan rumah, Kim San istri muda Botak Ho yang baru berusia 22 tahun berlari keluar ke jalan sambil menjerit-jerit histeris dengan badan berbelitkan selembar handuk.

“Di-i cermiin… Di-dia menatapku di cermin kamar mandi,” terbata-bata perempuan cantik itu menjelaskan saat ia berhasil ditenangkan oleh sejumlah ibu-ibu tetangga.

“Siapa yang menatapmu itu?” tanya ibuku sambil mengelus-elus punggungnya. Wajah Kim San tampak seputih kertas, sekujur tubuhnya gemetaran.

“Mendiang istri pertama Kakak Ho! Mulutnya hitam berbusa!” jawabnya dengan mata melebar lalu menggerung keras. ***

.

.

Yogyakarta, Juli 2012/ September 2022

.

Catatan:

Chiong Si Ku (bahasa China-Hakka): Ritual menjamu arwah-arwah tak bersanak-keluarga yang dilaksanakan pada setiap perayaan Chit Ngiat Pan (Hari ke-15 bulan ke-7 Imlek). Upacara ini diakhiri dengan perebutan sembako, sayur-mayur, buah-buahan, dan daging. Karena itu di Bangka, orang-orang Melayu sering menyebut upacara ini sebagai Sembahyang Rebut.

Thaipak (bahasa Hakka): Dapat dimaknai sebagai sejenis “dukun”. Biasanya ditujukan untuk orang-orang China yang mampu mengobati berbagai penyakit akibat gangguan makhluk halus. Tetapi sering kali mereka juga dijadikan sebagai tempat untuk meminta petunjuk judi oleh para penggila lotre. Para thaipak ini juga pelakon ritual tatung (di Bangka lebih dikenal sebagai lok thung) yang disebut sebagai thung se.

Thung Se (bahasa Hakka): Orang-orang tertentu yang dipilih oleh para dewa sebagai perantara. Pelakon ritual tatung.

Thaipak Kung (bahasa Hakka): Dewa-dewa (atau lebih tepatnya roh-roh suci) yang memilih para thaipak sebagai perantara. Disebut thaipak kung (harfiah: kakek-paman besar) karena mereka adalah para pertapa tua.

Phu (bahasa Hakka): Kertas kuning persegi panjang yang ditulisi dengan mantra dewa (bahasa Mandarin: Hu).

.

.

Sunlie Thomas Alexander lahir di Belinyu, Pulau Bangka, 7 Juni 1977. Sudah menerbitkan lima buku kumpulan cerpen. Bukunya Dari Belinyu ke Jalan Lain ke Rumbuk Randu memperoleh Penghargaan Sastra Badan Bahasa Kemendikbud RI Tahun 2020 untuk kategori Kritik Sastra/Esai. Cerpennya “Keluarga Kudus” meraih penghargaan Cerpen Terbaik Pilihan Kompas 2021.

Tatang Bsp, lahir di Tegal pada Maret 1965, kini menetap sebagai pelukis di Bali. Pernah memperoleh penghargaan The Top Ten Winners in the Phillip Morris Indonesia Art Awards V dan Finalist The Windsor and Newton Competition Indonesia. Dua kali pameran tunggal dan tak kurang dari 30 kali pameran bersama.

.

Bulan Ketujuh Kalender Lunar. Bulan Ketujuh Kalender Lunar.

 631 total views,  46 views today

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!