Anton Kurnia, Cerpen, Koran Tempo

Aram Kesumba di Timur

Aram Kesumba di Timur - Cerpen Anton Kurnia

Aram Kesumba di Timur ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

4
(1)

Cerpen Anton Kurnia (Koran Tempo, 20 November 2022)

“MAMA, ceritakanlah sebuah kisah agar aku bisa lekas tidur,” kata seorang gadis kecil bermata biru pada satu malam di musim gugur yang dingin. Mata biru itu dia warisi dari ibunya, Anna Ivanova.

Anna bertemu dengan ayah gadis kecil itu di Moskow bertahun-tahun silam. Lelaki itu perantau yang datang dari sebuah negeri jauh di selatan. Dari tanah airnya, dia berlayar ke barat dengan tekad untuk menuntut ilmu. Dia tinggalkan tunangannya. Namun, setelah bertahun-tahun dia belajar di Leiden, sebuah kabar mengejutkan tiba. Keluarga tunangannya memutuskan tali kasih dengan alasan tak masuk akal. Mereka menuduhnya telah melenceng ke kiri dan itu dianggap sebuah dosa tak termaafkan.

Dia lalu pergi ke Moskow untuk melanjutkan pendidikan. Di sana, dia berjumpa dengan Anna yang berasal dari Ukraina. Mereka jatuh cinta, menikah, dan membuahkan si gadis kecil bermata biru. Namun, nasib berkata lain. Lelaki itu harus kembali ke tanah airnya saat sang buah hati masih bayi mungil. Bertahun-tahun mereka tak pernah berjumpa lagi.

Sang ibu menatap penuh kasih gadis kecil yang belum genap tujuh tahun itu, lalu berkata lembut, “Sayangku, Mira, akan kuceritakan kepadamu sebuah kisah pengantar tidur.”

***

Sejak usai Perang Dunia Pertama, banyak orang percaya bahwa kapitalisme terbukti menyebabkan krisis ekonomi yang parah dan tatanan dunia telah membusuk sehingga diperlukan sebuah jalan baru. Perlahan tapi pasti, kesadaran baru itu menjalar ke timur, terutama di wilayah jajahan, termasuk Hindia yang telah beratus tahun dikangkangi Belanda.

Perubahan-perubahan terjadi begitu rupa sehingga Hindia bisa dikatakan mulai memasuki zaman baru, seakan-akan aram kesumba telah mekar di langit timur. Dunia sudah berganti rupa dengan berkembangnya ide-ide kemajuan yang memengaruhi perubahan sosial. Sejumlah organisasi bermunculan.

Pada 1909, seorang pemuda flamboyan, yang meninggalkan dinas pemerintahan kolonial untuk menjadi wartawan, mendirikan organisasi Sarekat Dagang Islam di Ibu Kota Batavia. Enam tahun sebelumnya, dia membentuk surat kabar pertama yang didanai dan dijalankan sepenuhnya oleh orang-orang Hindia. Mingguan berbahasa Melayu, Soenda Berita, itu terbit di Cianjur. Dia lalu menerbitkan mingguan Medan Prijaji di Batavia. Pemuda yang kelak mati muda itu bernama Tirto.

Apakah kematian Tirto mematikan organisasi pergerakan yang dia rintis?

Ternyata tidak. Sepeninggal Tirto, organisasi yang dia dirikan kemudian malah berkembang menjadi perkumpulan besar bernama Sarekat Islam atau SI dalam pimpinan Tjokro di Surabaya dan terus meluas hingga ke luar Jawa dan ke desa-desa.

Di perdesaan, orang-orang mulai bangkit bergerak. Di Blora selatan, seorang buta huruf Latin bernama Samin memiliki banyak pengikut dari kalangan petani yang menolak segala bentuk kekuasaan dari luar. Mereka membangkang terhadap peraturan kehutanan pemerintah kolonial di kawasan hutan jati subur yang telah mereka huni sejak lama. Kaum Samin menolak membayar pajak, kerja paksa, dan sekolah-sekolah pemerintah. Karena khawatir gerakan perlawanan itu kian membesar, penguasa menangkap dan membuang Samin ke Palembang di pulau seberang hingga akhir hayat menjelang.

Baca juga  Lelaki yang Menderita bila Dipuji

Apakah pembuangan Samin membuat para pengikutnya berhenti membangkang?

Tidak. Mereka tetap melawan dengan cara mereka sendiri yang terkadang tampak ganjil. Perlawanan kaum Samin terus berlanjut di Blora dan sekitarnya.

Sementara itu, serikat-serikat buruh pun bermunculan di Hindia. Yang pertama didirikan oleh para buruh kereta api pada 1905. Tiga tahun kemudian, di Batavia dibentuk VSTP, serikat buruh kereta api dan trem.

Lima tahun setelah VSTP berdiri, seorang lelaki Belanda bernama Henk tiba di Batavia. Pada mulanya dia penganut Katolik, tetapi kemudian beralih memeluk ide-ide sosialis demokrat. Henk terlahir di Rotterdam dan awalnya bekerja sebagai buruh kereta api sebelum terjun ke politik. Dia pernah terpilih sebagai anggota dewan kota di Zwolle mewakili SDAP dan memimpin serikat buruh Belanda. Perselisihan politik membuat dia memutuskan hijrah ke tanah jajahan.

Setahun kemudian, Henk yang meninggalkan istri dan kedua putra kembarnya di Belanda mendirikan ISDV di Surabaya. Mula-mula, anggota ISDV hanyalah orang-orang Belanda. Namun, kemudian banyak orang Hindia bergabung, terutama setelah ISDV bekerja sama dengan SI. Di sisi lain, campur tangan ISDV membuat pengaruh kiri di dalam SI semakin besar.

Pada 1914, seorang pemuda jelata dari Jombang bernama Maun, yang bekerja sebagai buruh kereta api, menjadi anggota SI cabang Surabaya. Setahun kemudian, Maun pindah ke Semarang. Di sana dia bertemu Henk yang telah lebih dulu mukim di kota itu bersama istri dan kedua anaknya yang menyusul dari Belanda. Maun lalu bergabung dengan ISDV yang dipimpin Henk. Dia juga aktif di VSTP dan SI. Kala itu jumlah anggota SI di Semarang berkembang pesat hingga mencapai 20.000 orang. Dalam bimbingan Henk, Maun yang cerdas meski baru berusia belasan lekas muncul sebagai aktivis berpengaruh.

Di bawah pengaruh Maun, cabang Semarang ini mengambil garis anti-kapitalis yang keras. Mereka menentang keikutsertaan SI dalam Volksraad atau parlemen kolonial. Maun juga berani menyerang kepemimpinan pusat SI di bawah Tjokro—bekas guru dan induk semangnya.

Tjokro kemudian terseret oleh Maun dan ikut mengecam kapitalisme yang dia sebut berlumur dosa. Tjokro mengutuk modal asing dari Eropa dan Cina, tetapi menghalalkan modal yang dikuasai para haji anggota SI.

Sengketa pendapat di tubuh SI kian meruncing sehingga mereka terpecah belah. Pimpinan pusat berharap mendapat kursi di Volksraad. Sementara itu, kelompok kiri yang dipimpin cabang Semarang terus menentang. Selain Maun, di sana terdapat tokoh-tokoh revolusioner macam Ibrahim dan Darsono.

Ibrahim adalah pemuda cemerlang dari keluarga terpandang di Minang yang pernah mengikuti sekolah guru di Belanda. Dia kemudian bekerja di sebuah perkebunan di Deli. Pengalaman itu membuatnya memahami ketidakadilan yang mencekik para kuli terjajah. Dia lalu hijrah ke Semarang dan mengajar di sekolah rakyat milik SI.

Pada 1922, Ibrahim yang percaya bahwa Pan-Islam dan Gerakan Kiri dapat bersatu dalam mengalahkan kolonialisme diasingkan penguasa kolonial ke Belanda karena aktivitas politiknya yang dianggap berbahaya. Dari Belanda, dia hijrah ke Jerman, lalu masuk ke Uni Soviet. Ibrahim berkelana sebagai pelarian politik demi memperjuangkan cita-cita merdeka seratus persen dari belenggu penjajahan.

Baca juga  Kriiiingngng!!!

Darsono beda lagi. Dia ningrat Jawa dari Pati yang beruntung menikmati pendidikan tinggi meski gagal masuk sekolah dokter hewan. Biarpun berasal dari keluarga terkemuka, dia rapat bergaul dengan kalangan jelata, terutama para petani tebu yang melarat. Dia amat mengerti kesusahan rakyat. Darsono sadar bahwa satu-satunya yang bisa diberikan oleh pemerintah kolonial hanyalah kemiskinan dan sistem sosial yang buruk.

Meski bisa memilih, alih-alih menjadi pegawai pemerintah, Darsono lebih suka menjadi wartawan dan aktif dalam dunia pergerakan. Demi memperjuangkan hak-hak rakyat, Darsono masuk SI Semarang.

Darsono yang melihat keadaan rakyat terbelenggu kebodohan dan ditindas penguasa secara sewenang-wenang terpanggil untuk membantu mencerdaskan bangsanya melalui tulisan. Dia bergabung dengan surat kabar Sinar Djawa milik SI. Melalui koran itu, bersama kawan akrabnya, Marko, dia menerbitkan tulisan-tulisan yang tajam dan berani untuk menyadarkan massa rakyat.

Salah satu tulisan Darsono yang bikin heboh bertajuk Pengadilan Panah Beracun. Di dalamnya dia menyebut tentang “Setan Uang” yang merupakan celaan terhadap para pemilik modal dan pengusaha yang tamak. Saat itu pemerintah hanya mementingkan para pemilik modal dan tidak memperhatikan kehidupan rakyat yang tercekik kemiskinan.

Sementara itu, ISDV telah berhasil menghimpun sekitar 3.000 serdadu dan kelasi yang kebanyakan orang Belanda, terutama di kota pelabuhan Surabaya. Karena merasa terancam, penguasa kolonial bertindak keras dengan menangkap dan mengasingkan para pemimpin ISDV, termasuk Henk yang dibuang ke Belanda. Henk terpaksa meninggalkan anak-istrinya di Semarang.

Meskipun orang-orang Belanda yang radikal telah tiada, ISDV tak lantas mati. Organisasi itu kemudian dipimpin oleh orang-orang bumiputra yang progresif. ISDV kini berada di tangan Maun dan Darsono. Pada Mei 1920, ISDV berganti nama menjadi PKH dan makin berkembang.

Zaman terus bergerak. Antara 1918 dan 1921, serikat-serikat buruh Hindia sukses besar dalam meningkatkan upah para anggotanya. Keberhasilan ini mendorong lebih banyak orang bergabung dengan mereka.

Namun, dua tahun kemudian, Maun diasingkan penguasa kolonial ke Belanda sebagai akibat pemogokan besar-besaran yang dilakukan oleh serikat buruh kereta api dan trem di berbagai kota di Jawa yang dia pimpin. Ribuan buruh yang menuntut kenaikan gaji berhenti bekerja selama berhari-hari sehingga transportasi umum lumpuh dan pemerintah kelimpungan. Maun dituduh sebagai provokator dan ancaman ketertiban sosial.

Hampir tiga tahun di Belanda, Maun lalu menyeberang ke Moskow bersama Iwa—ayahmu—yang baru menyelesaikan pendidikannya di Leiden. Di Moskow, ayahmu bertemu denganku. Cinta dan revolusi menyatukan kami. Kami menikah [1]. Beberapa tahun kemudian Maun kawin dengan adikku, Valentina.

Kau tahu, ayahmu suka sekali dengan lagu-lagu Rusia. Menurut dia, lagu Rusia sama melankolisnya dengan lagu-lagu Sunda—kampung halamannya. Dia hafal Ochi Chornye, sebuah lagu lama yang liriknya digubah oleh seorang penyair Ukraina—negeri asalku [2]. Dia kerap menyanyikannya. Kau tahu lagu itu? Dia juga menyukai Katyusha. Lagu itu mengisahkan seorang perempuan yang menunggu kekasihnya pulang dari medan juang.

Ah, tetapi setelah kau lahir, terjadi gejolak di negeri ayahmu. Pecah pemberontakan di berbagai wilayah—dari Banten sampai Silungkang. Namun, pembangkangan prematur yang gagal itu harus dibayar mahal. Penguasa menumpasnya. Banyak orang terbunuh. Para pemimpin pergerakan dibuang ke Boven Digul yang terpencil. Ayahmu kemudian memutuskan untuk pulang ke tanah airnya. Dia harus melanjutkan perjuangan demi kemerdekaan bangsanya. Tapi kita tak bisa ikut.

Baca juga  Sang Pengintai

***

Anna berhenti bercerita. Dia terdiam lama. Sepasang mata biru si gadis kecil mengerjap.

“Sudah selesai ceritanya, Mama? Tidak ada putri raja dan kesatria berkuda?”

“Putri raja dan kesatria berkuda hanya ada di dalam dongeng. Di dunia ini yang ada hanyalah kelas penindas dan kaum tertindas. Mereka yang tertindas harus bersatu dan berani melawan. Jika tidak, mereka cuma akan menjadi keset yang terus diinjak-injak sepanjang sejarah.”

“Sejarah itu apa, Mama?”

“Sejarah adalah catatan tentang apa-apa yang pernah terjadi di dunia ini pada masa lalu. Sejarah berguna untuk mempelajari kesalahan-kesalahan di masa lalu agar tidak kita ulangi di masa kini dan di masa depan. Sejarah bermakna bagi kita sebagai cermin.”

“Cermin?”

“Cermin sejarah adalah kiasan untuk dapat melihat apa-apa yang terjadi agar kita belajar. Mereka yang tak mau belajar dari sejarah akan dikutuk mengulangi kesalahan demi kesalahan dan jatuh di lubang yang sama. Kau tahu kan makhluk apa yang begitu bodoh sehingga bisa terperosok di lubang yang sama?”

“Ya, Mama. Hanya keledai yang terperosok di lubang yang sama.”

“Kau mau menjadi bodoh seperti keledai?”

“Tidak, Mama. Aku tidak suka keledai. Aku suka kuda poni yang lucu.”

“Kalau begitu, kau harus mau belajar. Termasuk belajar dari sejarah.”

“Ya, Mama. Tapi aku ngantuk. Aku mau tidur.”

“Ya, Nak. Tidurlah yang nyenyak.”

Anna merapatkan selimut yang membalut tubuh anaknya, lalu menatap ke luar jendela. Di luar tampak langit tak berbintang. Malam musim gugur yang gelap, dingin, dan sepi menerungku. ***

.

.

Moskow, Maret 2019—Sharjah, November 2022

.

CATATAN:

[1] Cerita ini diilhami kisah cinta Iwa Kusumasumantri (1899-1971), tokoh pergerakan nasional kelahiran Ciamis, Jawa Barat, yang pernah menjadi Menteri Pertahanan pada masa Orde Lama dan Rektor Universitas Padjadjaran, Bandung. Pada 2002, Iwa ditetapkan secara resmi sebagai pahlawan nasional Indonesia.

[2] Kelak, bertahun-tahun kemudian, lagu rakyat Rusia, Ochi Chornye, itu digubah oleh komponis Ismail Marzuki menjadi lagu populer berlirik bahasa Sunda berjudul Panon Hideung sebagai persembahan untuk istrinya, biduan asal Bandung bernama Eulis Zuraidah.

.

.

Anton Kurnia menulis tiga buku kumpulan cerpen, antara lain Insomnia (2004) yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Arab, dan Spanyol. Dia juga menulis enam buku esai dan sebuah travelog, Banyak Jalan Menuju Praha (2022). Novelnya, Majnun, baru saja terbit.

.

Aram Kesumba di Timur. Aram Kesumba di Timur. Aram Kesumba di Timur. Aram Kesumba di Timur.

 206 total views,  23 views today

Average rating 4 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!