Cerpen, Lailatul Badriyah, Suara Karya

Balada Pengecut

Balada Pengecut - Cerpen Lailatul Badriyah

Balada Pengecut ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka

0
()

Cerpen Lailatul Badriyah (Suara Merdeka, 04 November 2022)

APAKAH aku seorang pengecut, Magda?

Lihatlah Minggu pagi ini, aku sudah berada di rumah duduk di taman kecil dekat kolam ikan, membuka lebar-lebar jendela agar udara pengap keluar. Perasaan sepi dan langut yang kini kurasakan. Kemarin, aku mendengarmu berteriak bahwa aku pengecut dan pertengkaran kita terjadi, lalu kau membawa Kinara pergi, setelahnya aku mabuk sampai hilang ingatan hingga esok yang kuingat adalah hari Minggu.

Magda, mari coba kuingat hari-hari itu sebelum hari Minggu tiba.

***

Hari Senin yang kuingat,

Suara telepon genggamku berdering kencang membuatku terbangun, jarum jam yang bergerak pelan menuju pukul tujuh. Dan ketika angin dingin dari pendingin ruangan kantor menekan wajahku, suaramu yang lembut terdengar di ujung telepon. Kukira teleponmu adalah pernyataan rindu karena seminggu yang lalu aku belum mencicipi suasana rumah. Tapi sepertinya tebakanku salah, kau meminta pertemuan yang tak pernah kita bicarakan sebelumnya. Kau berbicara dan kutemukan nada kekesalan di sana.

Dari dulu sejak pertama kita menikah, aku selalu memahamimu, entah mengapa sejak kesibukan kantor menelikungku kau berubah seratus delapan puluh derajat, kau berubah sedingin kutub utara dan aku hipotermia di dalamnya.

Memang benar, hari Senin adalah hari yang menyebalkan bagi siapa saja, entah bagi anak sekolahan atau orang kantoran sepertiku. Namun, hari ini harus kuhadapi hari Senin yang menyeretku hanyut dalam ritme kesibukan tak terarah menyudutkanku pada permasalahan-permasalahan mengikat yang tak pernah benar-benar tercerabut dari akarnya.

Hari Selasa yang kuingat,

Dua hot plate rib eye saus barbeque steak bersanding dengan sayuran wortel, jagung manis dan buncis dihidangkan pramusaji. Kau mengambil pisau di sebelah kanan dan garpu di sebelah kiri, kemudian kau mulai menahan potongan daging menggunakan garpu memotong kecil-kecil lalu menyuap mulutmu.

Aku menatap wajah tenangmu pada pertemuan makan siang pada tahun kelima pernikahan kita. Kau memang bukan tipe perempuan banyak bicara, kau banyak bertindak namun sedikit bicara.

Baca juga  Labirin

Setelan blus moka dan rok motif bunga selutut sangat pas dengan wajah cantikmu, pulasan lipstik merah muda, syal hijau tosca serasi meliliti leher jenjangmu, juga flat shoes senada menghiasi kedua kakimu. Benar-benar background wanita masa kini, muda dan anggun.

Kita janjian bertemu di restoran klasik pertama kali berkencan dahulu. Kita tak banyak bicara, pertemuan ini banyak diam daripada mendiskusikan hal-hal sederhana dalam rumah tangga kita. Tak ada yang banyak berubah, aroma manis dan cat tembok warna kayu di sini masih memberikan kesan hangat sama seperti dahulu. Dan kau banyak berubah, atau mungkin saja penilaianku yang berbeda atau ini hanya persepsiku saja.

“Surat cerai sudah kulayangkan di pengadilan, kau tunggu saja surat undangan sidang itu datang.” Suaramu melengking di telingaku.

“Apa maksudmu?” tanyaku.

“Iya, kita akan segera bercerai. Ini semua salahmu.”

“Salahku? Apa salahku, Magda?”

“Iya, kau pengecut! Pengecut atas semua tanggung jawabmu padaku, pada keluarga kita,” ujarmu.

Meja makan kita hening hanya bersuara denting garpu dan pisau, alunan bait terakhir New York-New York dari Frank Sinatra mengalun lembut, namun perlahan merobek hatiku.

Hari Rabu yang kuingat,

Hari ini pukul 16 tepat. Tiga puluh lima menit yang lalu aku baru saja dipecat dari pekerjaan di kantor. Ini adalah satu dari sekian ujian terberat dari Tuhan yang kujalani. Aku dicampakkan oleh istri dan pekerjaan yang kubangun bertahun-tahun lalu. Dan aku dipaksa harus mencintai kehidupan meski kehidupan kini tak sepenuhnya berpihak padaku. Semuanya bercampur aduk, antara marah, sedih dan kecewa juga hampir putus asa.

“Bapak Reinaldi Saputra akhir-akhir ini Anda tak profesional dalam bekerja dan tidak sesuai target perusahaan,” kata atasanku di atas kursi putarnya.

“Maaf, maksudnya bagaimana, Pak?”

“Saya memantau kinerja Anda mengalami penurunan terus-menerus, saya sudah memikirkannya matang-matang bahwa posisi Anda akan digantikan dengan pegawai fresh graduate yang lebih kompeten. Untuk itu silakan Anda mencari perusahaan yang lebih baik untuk mendapatkan benefit dan mengembangkan karier Anda ke depan. Terima kasih atas kerja sama selama di perusahaan ini. Setelah dari ruangan ini, silakan ke bagian administrasi untuk mengambil uang pesangon.”

Baca juga  Rumah yang Selalu Berbau Busuk

“Maksudnya saya dipecat?”

Atasanku yang sedang duduk di kursi putarnya itu hanya mengangguk sekilas dan mengetuk lima jemarinya di atas meja kacanya. Inginku mengumpat di depan mukanya, persetan tentang pekerjaan benefit lebih baik beserta tahi kucingnya. Namun, urung kulakukan karena aku manusia yang menghindari konflik, aku sudah hancur dan percuma saja semua tak berguna.

Hari Kamis yang kuingat,

Tak ada tempat lain yang menerima apa adanya diriku selain rumah dan melupakan sejenak permasalahan yang tengah terjadi. Kini aku tak terikat lagi dengan pekerjaan dan memiliki banyak waktu luang lebih banyak di rumah, memberi makan ikan di kolam dan mengajak mereka banyak bicara.

Rembulan menggantung di antara langit malam, sedikit kroak mungkin dicuri monster penjaga langit. Bibirku bergumam tentang Ibu. Barangkali benar nasihat beliau. Kupandang dinding ruang tengah tempat potret hitam putih almarhum Ibu dipajang. Kecantikan dan nasihatnya memang tak berbanding, tapi sayang jantungnnya selalu payah mendengar kabar buruk sedikit pun dadanya ngilu.

Ada rasa rindu yang menyergap kala situasi tak berpihak kepadaku. Dalam keadaan tersudutkan, lamunanku selalu tentang Ibu dan bibirku bergetar berandai-andai. Pastilah jika Ibu masih ada dan ketika masalah menerpa seperti saat ini, tangan lembutnya akan mengusap ubun-ubunku.

“Apakah aku pengecut, Ibu? Aku memang pengecut, Bu, bahkan saat Magda memutuskan menceraikanku.”

Tak terasa sebutir air mata bergulir di pipi, pantang seorang laki-laki menangis buru-buru kuusap dengan punggung tangan.

Hari Jumat yang kuingat,

Kata orang hari Jumat yang sangat baik untuk berdoa apalagi saat akhir sore menjelang. Kulangkahkan kaki menuju masjid di sekitar kompleks perumahan, aneh rasanya karena sudah lama aku melupakan Tuhan. Dan hari ini aku mengadu pada usiaku yang memasuki 45 tahun, mengeluh mengenai gelombang ujian hidupku yang amatlah berat.

Iya, barangkali Tuhan sedang mengejekku, karena aku datang saat sedang susah saja. Masa muda yang selalu kusibukkan dengan bekerja keras untuk diriku sendiri, lalu setelah menikah juga untuk Magda dan Kinara, sehingga aku melupakan Tuhan. Aku malu dan pengecut, tetapi aku ingin berlari menemui Tuhan mengadukan semua permasalahan hidupku.

Baca juga  Selendang Bianglala

Setelah usai shalat Ashar dan shalat taubat, aku mengadukan semua permasalahanku pada Tuhan. Aku menangis menyadari segala dosa-dosaku yang menggunung, segala kekeliruan dan kelalaian yang kulakukan pada Tuhan. Aku berharap Tuhan mengubah semuanya, membuat istriku jatuh cinta lagi dan membatalkan perceraiannya.

Hujan turun dengan deras mengguyur, suara azan Magrib berkumandang, orang bilang jika hujan turun doa akan segera dikabulkan Tuhan.

Hari Sabtu dan Minggu yang kuingat,

Apakah aku seorang pengecut, Magda?

Lihatlah Minggu pagi ini, aku sudah berada di rumah duduk di taman kecil dekat kolam ikan, membuka lebar-lebar jendela agar udara pengap keluar. Hari ini kau sengaja pulang membawa Nara bersama seorang lelaki yang kudengar tak lebih sibuk dan lebih mengerti dirimu. Kudengar pembicaraanmu saat makan siang di kafe hari itu, kau telah mengenal lama lelaki itu saat kesibukan memilinku, dan bodohnya aku tanpa pernah menaruh curiga sedikit pun padamu. Kau bilang akan segera menikah dengannya setelah ketukan palu hakim berbunyi.

“Kau pengecut, pengecut tanpa meluangkan waktu berhargamu dengan keluarga kita, pengecut tanpa mengajakku berbicara, karena kau menganggap hubungan rumah tangga kita baik-baik saja. Nyatanya keadaan rumah tangga kita tidak pernah sedang baik-baik saja,” ucap Magda yang selalu terngiang-ngiang di kepala. ***

.

.

Lailatul Badriyah, alumnus Jurusan Perpustakaan dan Arsip Universitas Brawijaya 2018. Karyanya pernah dimuat di berbagai media, seperti Haluan Padang, Kompas, Radar Bojonegoro, dan Banjarmasin Post.

.

Balada Pengecut. Balada Pengecut. Balada Pengecut. Balada Pengecut. Balada Pengecut.

 198 total views,  29 views today

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!