Cerpen, Ribut Achwandi, Suara Merdeka

Buron (2)

Buron - Cerpen Ribut Achwandi

Buron (2) ilustrasi Nugroho DS/Suara Merdeka

0
()

Cerpen Ribut Achwandi (Suara Merdeka, 10 November 2022)

SUDAH lama Semar tak muncul. Biasanya, dia nongkrong di poskamling. Ngobrol ngalor-ngidul sambil menikmati permainan gaple. Ditemani singkong rebus dan kopi yang bercangkir-cangkir. Udud klobot tak lupa ia selipkan di sela jari. Klempas-klempus! Membumbunglah asap diikuti tawa renyah dengan suara beratnya. Kadang diakhiri batuk yang sulit dilupakan.

Kalau sudah ngomong, tak ada yang membantah. Lha! Bagaimana mau membantah, wong setiap kata-katanya membuat yang lain terpingkal. Itu pula yang membuat kampung ini aman. Suara tawa dari poskamling itu membuat para maling mesti mikir berlipat-lipat. Menjalankan aksinya atau celaka ditertawai.

Ya, hanya Ki Semar yang bisa begitu.

Pernah suatu ketika, seorang maling nekat melancarkan aksinya di salah satu rumah. Tetapi, rupanya para peronda mengetahuinya. Alhasil, ditangkaplah maling itu. Dibawa ke poskamling. Di situ si maling ini disidang. Hakimnya Ki Semar.

Di hadapan Semar, maling itu jongkok. Menundukkan kepala dan menangkupkan kedua telapak tangannya sembari meminta ampun. Tetapi, itu tak digubris. Malah ditanya, “Sek… sek… sek…. Kira-kira kalau saya kasih ampun, apa sampeyan mau berhenti maling?”

“Ampun, Ki… ampun. Saya tidak punya maksud maling. Tapi, saya terpaksa, Ki,” jawab si maling.

“Lho… lho! Lha wong sampeyan maling saja terpaksa, kok malah ganti memaksa saya kasih ampun. Lhadalah…. jagat… jagat. Kok ada ya jenis manusia yang begini? Apa sampeyan dulu terpaksa diciptakan atau diciptakan karena terpaksa ya? He?!” seloroh Semar sambil terkekeh.

Yang lain pun ikut tertawa.

“Ya sudah, sekarang begini saja. Agar sampeyan tidak terus-terusan merasa dipaksa, saya persilakan maling lagi di kampung ini. Bagaimana?” tanya Semar.

Ucapan Semar barusan malah bikin bingung si maling. Tampangnya menjadi serba susah dilihat. Malah tampak makin wagu dan ndesa! Clingukan. Tengok sana, tengok sini seperti orang yang linglung.

“Lho, kok malah clingukan?! Apa sampeyan nggak seneng kalau saya suruh maling lagi. Hm?!” kata Semar.

Tampak bola mata maling ini makin lebar. Wajahnya tampak makin lebar. Otot-otot pada wajahnya ditarik ke atas dan ke bawah. Jidat menarik ke atas, sementara mulutnya yang menganga menarik otot wajahnya ke bawah.

Orang-orang yang di poskamling makin terpingkal melihat tampang maling ini.

“Lho kok diam? Apa perlu bantuan? Kalau perlu bantuan, nih saya tunjukkan pada sampeyan mana-mana saja rumah yang layak sampeyan malingi,” ucap Semar sambil memegang pundak si maling itu.

“Nah, yang itu, di pojok sana, di dalamnya banyak barang yang layak sampeyan malingi. Ada tv, laptop, juga ada sepeda bikinan Eropa yang mahal harganya. Kalau yang di sana, itu juga punya banyak simpanan perhiasan. Nah kalau yang itu, nggak bisa dimaling. Orangnya pelit. Pasti nggak ikhlas kalau sampeyan curi barangnya. Bagaimana?”

Baca juga  Bulan Ketujuh Kalender Lunar

Maling itu diam tertunduk. Merasa malu semalu-malunya sekarang.

“Lho sampeyan kok diam lagi? Apa sudah kehilangan minat? Loh, bakat sampeyan maling itu akan semakin bagus loh kalau diikuti minat yang tinggi. Jadi semangat! Ya to?” tanya Semar.

Makin tertunduk saja si maling itu di hadapan Semar.

“Sampeyan tadi pas maling pakai semangat to?”

Si maling menggeleng kecil.

“Ah, nggak mungkin. Kalau nggak semangat mana mungkin sampeyan nekat. Nah, sekarang tunjukkan semangat sampeyan. Jangan biarkan jadi bakat terpendam,” seloroh Semar kali ini disambut tawa yang tak henti-henti.

Tiba-tiba si maling berucap lirih, “Ampun, Ki… saya ngaku salah. Saya mohon ampun.”

Ucapan itu malah bikin makin terpingkal semua. Termasuk Semar.

Lai… lai… mbegegeg udelku sakdulita, mak mel… mel. Sampeyan itu lucu. Wong dari tadi tidak ada yang menyalahkan sampeyan kok malah minta dianggap salah. Itu maksa namanya. Memaksa saya menganggap sampeyan salah. Lha lucu iki bocah. Semua kok serba dipaksakan. He?! Laaai… lai. Jagat kok sudah semakin lucu. He?! Eh he he he….”

Makin menjadilah tawa yang lain.

Ngene le, sekarang aku tanya. Sampeyan masih sanggup mencuri lagi?” tanya Semar.

Maling itu menggeleng. “Saya kapok, Ki. Saya nggak mau maling lagi. Sumpah!” aku si maling.

“Loh loh loh… lha kok malah kapok. Wong saya itu nggak nyuruh kamu kapok kok. Kalau sampeyan sudah nggak mampu, bilang saja. Saya dan bapak-bapak ini siap membantu. Bila perlu, kami kawal sampeyan biar lancar. Kami siap jadi panitianya. Piye?”

“Ampun, Ki. Ampun. Saya sungguh-sungguh kapok. Saya janji, tidak akan mengulangi lagi,” ucap si maling memohon.

“Lho sampeyan ini memang aneh. Siapa yang bilang sampeyan harus mengulangi aksi sampeyan seperti tadi? Nggak ada to? He?!… Yang saya mau sampeyan membuat aksi baru, bukan mengulang. Kalau mengulang itu namanya hapalan. Jan tobaaat tobat. Iki maling kok gagal paham,” kata Semar.

“Sungguh, Ki. Saya benar-benar kapok. Saya tidak mau lagi,” ucap maling itu mengiba.

Semar kali ini menghela napas. Menepuk pundak si maling itu dengan belas kasihnya. “Ya ya ya… kalau sampeyan sudah kapok beneran, sekarang sampeyan kembalikan barang curian ini pada pemiliknya.”

Mendadak, raut muka si maling itu berubah. Tak diduganya usulan itu akan muncul dari Ki Semar. Dari wajahnya mengucur deras keringat. Seluruh badannya basah. Gemetaran dan terasa dingin sudah. Lemas sekujur tubuhnya.

Baca juga  Bulan Bergeser di Langit

Piye?” tanya Semar memastikan.

“Am… am… ampun, Ki. Saya tak berani,” jawab si maling itu gemetaran.

“Lho, lha piye…. Katanya sudah kapok?”

“Sungguh, Ki. Saya tidak sanggup. Mending hukum saya saja. Bila perlu saya dihajar. Itu lebih baik daripada saya harus mengembalikan barang ini, Ki.”

“Lai lai…. Saya itu bukan hakim. Saya nggak bisa menghukum sampeyan. Bapak-bapak di sini juga nggak ada yang jadi hakim. Juga nggak bisa kasih hukuman. Jadi, saran saya ya sampeyan kembalikan saja barang itu. Piye?”

“Tidak, Ki. Tidak. Saya tidak sanggup. Malu.”

“Ya sudah, kalau sampeyan nggak sanggup mending sampeyan maling lagi saja. Malinglah sebanyak kau mampu. Wong sampeyan nggak serius kapoknya kok. Ayo, Bapak-bapak, anak ini kita kawal rame-rame. Kasih dia kesempatan untuk maling lagi sampai dia benar-benar serius kapoknya. Bagaimana?” seketika itu, semua menyetujui usulan Ki Semar. Maling itu dibebaskan. Dilepaskan begitu saja.

Esok hari, rupanya ada pemandangan yang sama sekali berbeda di kampung itu. Semua pintu rumah terpasang sebuah papan. Ada yang terbuat dari kardus, kertas, maupun dari tripleks. Tertulis pada papan itu, “Selamat datang, wahai maling. Kami siap melayani Anda. Malinglah sepuas Anda!”

Dan entah kebetulan atau sengaja, seorang pejabat kota praja tengah mengunjungi kampung itu. Sebuah kunjungan kerja. Kunjungan dinas. Tentu, ada yang sedang ingin ia tinjau.

Sudah barang tentu pula, pemandangan yang ia saksikan itu membuatnya kaget. Terkejut! Lalu, dipanggilnya lurah desa itu.

“Apa maksud ini semua? Bisa kau jelaskan?” tanya pejabat itu dengan wajah memerah dan nada yang meninggi.

Pak Lurah yang tidak tahu apa-apa tak mampu menjelaskan. Tetapi, ia tahu apa yang disaksikan pejabat kota praja sungguh membikin tak enak hati. Dia pun merasa malu oleh ulah warganya.

“Saya kurang tahu, Pak,” jawab Lurah itu terbata-bata.

“Bagaimana mungkin seorang lurah tidak tahu perkembangan desanya? Hah?! Kau ini digaji untuk memantau perkembangan desa. Bukan untuk menjawab tidak tahu. Ngerti kamu?!” makin tinggi dan menghentak pula pernyataan Pak Pejabat ini.

Kontan, nyali Pak Lurah pun kian surut. Kian ciut pula raut mukanya.

“Sekarang, aku perintahkan bereskan semua. Cari tahu, siapa dalangnya!”

Telik sandi pun disebar. Seluruh penjuru diburu. Semua informasi dicari. Kemudian dihimpun dan diolah. Mereka tak mengalami kesulitan, sebab jelas-jelas tak ada yang perlu dimasalahkan. Warga menjawab sesuai yang ditanyakan, karena yang mereka tahu bahwa kejadian semalam bukan kejadian besar. Hanya kejadian kecil. Dan tak ada yang dianggap sebagai sebuah kesalahan.

Baca juga  Di Balik Kabut Menyulam Rindu

Walhasil, semua data yang terkumpul menjurus satu nama, Ki Semar. Lelaki tua bertubuh tambun dengan kelakar dan suara tawanya yang khas, yang kadang kala diselingi suara batuknya. Ya, dialah biangnya!

“Tangkap orang yang bernama Semar itu!” perintah sang pejabat.

Tetapi, Pak Lurah punya sikap lain. Pak Lurah tak berani mengambil keputusan agar anak buahnya segera menangkap Ki Semar. Baginya, Ki Semar adalah sosok yang sangat bijaksana. Dari Ki Semar pula Pak Lurah banyak ngangsu kawruh.

“Sebentar, Pak. Apa tidak baiknya kita kroscek dulu kebenaran informasinya sampai benar-benar valid,” usul Pak lurah.

“Lho! Untuk apa? Ini sudah jelas kok! Semar itu yang bikin ulah!”

“Maaf, Pak. Setahu saya…,” belum selesai Pak Lurah bicara, Pak Pejabat itu langsung potong kompas.

“Hukum tidak mengenal pengecualian! Kalau salah ya dihukum! Ngerti?!”

Pak Lurah tertunduk.

“Sekarang, tangkap dia!”

Pasukan pengawalan pejabat yang biasanya bertugas hanya mengawal para pejabat akhirnya digerakkan. Keputusan ini tentu keputusan sepihak. Bahkan boleh dibilang melanggar kode etik protokoler, sebab pasukan pengawalan tidak diposisikan sebagaimana mestinya. Tetapi, nyatanya tak dipermasalahkan pula.

Dan sudah barang tentu, menangkap Semar bukan perkara yang sulit. Ia tak akan melawan. Lebih-lebih jika didekati dengan cara baik-baik. Semar orang yang sangat kooperatif. Baginya, di dunia ini tak ada musuh sejati, kecuali dirinya sendiri.

Tampak dari jauh, tubuh tambun itu digiring masuk kendaraan pengawal. Di ambang pintu, Semar sempat melambaikan tangan kepada semua. Lalu, tersiar kabar, Semar akan dibawa ke istana negara. Konon, ia akan dijadikan penasihat negara.

Sejak itu, Semar tak lagi muncul.

Hanya lamat-lamat terdengar kabar. Semar dipenjara. Tetapi, semua tak pernah menjadi terang pasal apa yang membuatnya dipenjara. Kampung pun menjadi lengang. Sepi. ***

.

.

Pekalongan, 20 Oktober 2022

Ribut Achwandi, penyiar radio untuk program siaran sastra mingguan di RKB FM Pekalongan. Penyiar Batik TV untuk program siaran budaya. Mengajar di kampus di Kota Pekalongan. Bergiat di Omah Sinau SOGAN, dan kerap mengisi materi berbagai seminar dan pelatihan.

.

Buron (2) Buron (2) Buron (2) Buron (2) Buron (2) Buron (2)

 206 total views,  7 views today

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!