Cerpen, Puspa Seruni, Republika

Cara Mati

Cara Mati - Cerpen Puspa Seruni

Cara Mati ilustrasi Rendra Purnama/Republika

4.4
(11)

Cerpen Puspa Seruni (Republika, 20 November 2022)

SAAT napasku tinggal satu per satu, aku malah teringat pada kejadian puluhan tahun silam. Pada tengah malam saat tangan kanan ku menggenggam parang berdiri di tepi jurang di hadapan sepuluh orang dengan tangan terikat. Wajah tertutup kain hitam dan mulut tersumpal. Yang sembilan di antaranya tengah menangis mengiba memohon pengampunan.

Ingatan masa lalu itu timbul tenggelam dalam kepalaku, sementara mataku sudah terpejam separuh dan nyawaku sudah di pangkal tenggorokan. Dokter sudah angkat tangan terhadap penyakitku. Alat-alat yang melekat di badan sudah dicabut satu per satu. Aku akan mati. Pasti. Akan tetapi, malaikat maut sepertinya masih ingin menyiksa atau memberiku kesempatan mengingat dosa-dosa.

“Re-retno…. ”

Bukannya meniru suara talkin yang diperdengarkan anak sulungku, mulutku justru menyebut nama seorang perempuan dengan suara tergugu. Anak dan cucuku yang sejak tadi duduk berjajar di sekitar ranjang pasti terkejut karena yang kusebut bukan nama ibu atau nenek mereka yang sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Lantunan ayat suci yang mereka baca sejak tadi tiba-tiba berhenti. Aku membayangkan, mereka bertukar pandang keheranan dengan kepala dipenuhi pertanyaan.

Aku menduga—tetapi sangat yakin—bahwa kematian yang sulit itu disebabkan oleh dosaku kepada Retno, perempuan yang selalu kutunggu setiap sore di pos ronda. Usia kami waktu itu masih belasan. Bagiku dia adalah kue talam ketan srikaya buatan Biyung: manis, lembut, dan digemari banyak orang.

Retno yang berkulit seperti bulu burung kepodang itu rajin mengaji di mushala milik Ustaz Anwar. Aku yang hanya kuli angkut barang di pasar dan sesekali membantu Rama di ladang, ikut pula mengaji demi menarik perhatiannya. Aku rela datang lebih awal ke mushala untuk menyapu lantai hanya agar gadis bersuara merdu itu tahu keberadaanku. Aku juga pulang lebih akhir hanya untuk menunggunya menyetor hapalan bacaan.

Retno anak seorang juragan. Di desa ini, hanya ada tiga orang yang lulus sekolah dasar, Retno salah satunya. Keluarganya lebih berada ketimbang keluargaku. Rama hanya punya sepetak lahan, sedangkan Biyung penjual kue di pasar. Tetapi, siapa yang bisa mengarahkan gerak hati? Setiap hari bertemu membuat aku dan Retno memutuskan untuk saling mengikat janji. Janji remaja yang bagi banyak orang serupa ucapan dusta dari anak manusia yang belum genap akal dan isi otaknya.

Baca juga  Di Balik Sebuah Tawa

Hayalan indah itu memang hanya milik kami, bukan milik para orang tua. Tiga bulan setelah kedekatan itu, Retno dijodohkan dengan seorang lelaki dari kota kabupaten. Namanya Dipanegara. Dari nama saja aku kalah gagah, apalagi jika dibandingkan dengan pendidikan yang pernah dijalaninya. Dengan penampilan yang selalu rapi, rambut yang diminyaki, dan cara bicaranya yang meyakinkan, sangat terlihat dia dari golongan terpelajar.

Retno awalnya menolak, berusaha bersetia pada janji cinta kami. Tetapi, bayangan masa depan yang suram jika menikah dengan kuli panggul dan buruh tani membuat keyakinannya goyah. Orang tuanya, juga Dipanegara, berhasil membuat Retno luluh dan menyerah.

Retno dan Dipanegara menikah. Janji yang pernah kami sepakati pupus sudah. Aku nelangsa, sendirian di mushala, kehilangan gairah. Hidupku seperti roda pedati yang setiap pagi kutumpangi ke pasar, berjalan terseok-seok, kadang-kadang mandek saat sebongkah batu menghadang. Enam bulan aku terkatung-katung tak karuan, tak mau bekerja, tak mandi, tapi tak pernah lupa menyapu lantai mushala. Aku masih betah di sana, bukan untuk belajar agama dari Ustaz Anwar, melainkan karena di mushala aku seolah bisa dekat dengan Retno. Biyung dan Rama sudah berkali-kali menyodori gadis untuk dilamar, tetapi aku menolak. Cintaku masih untuk Retno.

Melihatku seperti kucing hitam yang lama tidak makan, Ustaz Anwar memintaku mendaftar keanggotaan Laskar Bela Negara. Katanya, situasi politik dan keamanan negara sedang terancam. Banyak terjadi perampasan dan perampokan pada para tuan tanah dan juragan. Pesantren-pesantren pun sering menjadi sasaran penjarahan. Saat itu, aku tak tahu-menahu perkara situasi politik dan negara, yang aku tahu pakaian seragamku akan menyaingi kegagahan Dipanegara. Itu sudah menjadi motivasi yang kuat bagiku untuk bergabung di organisasi itu.

Satu tahun tergabung dalam organisasi yang bertugas menjaga keamanan dan ketertiban desa membuatku tampak gagah. Tugas kami menertibkan warga yang tak melaksanakan perintah agama atau perintah negara dengan baik dan benar. Kami bekerja sama dengan aparat desa atau aparat keamanan untuk mengawasi tingkah laku warga. Setiap ada keramaian, kami selalu ada. Di hajatan yang berisi dangdutan, pasar malam, atau acara apa pun, kami selalu berkeliling untuk mengawasi.

Dengan seragamku yang mirip-mirip seragam tentara, banyak orang tua yang tertarik menjadikanku menantunya. Para gadis, baik secara diam-diam atau terang-terangan menyatakan perasaannya kepadaku. Aku bergeming, meski Retno sudah mengandung anak kedua tak mengikis keinginanku untuk bisa bersamanya.

Baca juga  ‘La Vita e Viaggio’

Tetapi, Dipanegara terlihat semakin sulit disaingi, pekerjaannya di kota semakin mapan, penampilannya semakin gagah, gaya bicaranya pun semakin berwibawa. Aku mendendam hingga ke jantung. Aku bersumpah akan menyingkirkannya bagaimana pun caranya agar Retno kembali.

Satu tahun setelah aku bergabung di Laskar Bela Negara, ada perintah “Bersih Diri Bersih Lingkungan” [1] yang diumumkan oleh kantor pusat. Semua anggota diminta membersihkan diri dan lingkungan dari paham-paham yang dianggap akan mengancam ketertiban negara. Aku ingat, tahun itu situasi sangat kacau, banyak warga yang dituduh terlibat dalam organisasi terlarang yang kemudian dilenyapkan begitu saja.

Mengetahui hal itu, aku merasa melihat peluang untuk menyingkirkan Dipanegara dengan mudah. Penampilan Dipanegara yang tak pernah mengenakan sarung dan kopiah membuatku mudah meniupkan kecurigaan bahwa dia memiliki paham merah. Aku jadi pemantik saja, sisanya biar angin yang menyelesaikan. Saat api membakar begitu cepat, isu sudah menggiring Dipanegara sebagai salah satu target sasaran yang harus dibersihkan.

Singkatnya, Dipanegara ditangkap pada suatu malam di rumahnya. Aku tentu saja tak mau ikut dalam penangkapan itu. Aku tidak akan tega melihat Retno yang tengah hamil tua itu menjerit-jerit meminta suaminya dilepaskan. Aku hanya menunggu anggota laskar membawa Dipanegara ke sebuah bukit di tengah hutan tak jauh dari perbatasan desa. Parang yang kuasah tajam kemarin sore sudah kugenggam erat di tangan. Aku tak akan melewatkan kesempatan itu begitu saja.

Dipanegara tiba di bukit bersama beberapa orang yang lain yang juga dituduh menjadi anggota partai politik terlarang itu. Kedua tangannya diikat, wajahnya ditutup, dan mulutnya disumpal. Dia berjalan terseok-seok dengan hanya mengenakan kaus kutang dan celana pendek. Mungkin saat ditangkap dia sedang membelai perut Retno di kamar mereka.

Tidak ada lagi tampilan Dipanegara yang gagah dan tegap. Dadanya tak lagi membusung, kepalanya menunduk, kedua bahunya melengkung ke depan. Aku tersenyum penuh kemenangan.

Orang-orang itu digiring hingga ke bibir jurang. Mereka diminta berbaris menghadap ke depan. Orang-orang itu mulai menangis meminta ampun saat aku mulai mengeluarkan parang. Ada sepuluh orang dihadapanku, semuanya mencicit seperti tikus yang ketakutan, kecuali Dipanegara. Dia memang menunduk, tapi sama sekali tak menangis apalagi memohon. Dia hanya berkali-kali menghela napas panjang.

Baca juga  Ama Tobi di Antara Konflik Batas Kampung Serumpun

Aku mendekatinya. Gejolak kebencian di dadaku meronta minta untuk segera dilampiaskan. Aku menahan diri dan memilih berbisik di telinganya.

“Matilah kau mati. Pemuda kota seharusnya mencari jodohnya di kota saja, mengurangi jatah pemuda desa saja.”

Mendengar kalimatku, Dipanegara mengangkat wajahnya. Mungkin dahinya berkerut. Namun, tentu dia tidak akan dapat melihatku karena wajahnya ditutup kain hitam. Dia mungkin juga tak pernah tahu bahwa ada laki-laki lain yang mencintai istrinya sebelum mereka menikah. Sejujurnya, aku malu sendiri mengingat perkataanku waktu itu, sama sekali tak ada gagah-gagahnya dan sangat terdengar bodoh. Akan tetapi, aku justru mendapat penghargaan karena dianggap ikut menjaga keamanan desa.

Setelah membisikkan kalimat yang aku yakin membuat Dipanegara bingung dan bertanya-tanya. Dia tak sempat menjerit, hanya lenguh pendek, lalu tubuhnya rubuh dan terjatuh ke jurang.

Setiap mengingat kejadian itu, jantungku selalu sesak. Mungkin kecurangan itu yang membuat malaikat tak mau mencabut nyawaku lekas-lekas.

Anak cucuku tak pernah tahu kejadian itu. Mereka hanya mengetahui bahwa bapak atau kakeknya adalah seorang pahlawan yang masa mudanya dihabiskan untuk menjaga ketertiban negara. Tanpa terasa, air mataku luruh. Aku ingin bertemu Retno dan mungkin juga anak keturunannya. Dendam pribadiku telah membuat mereka harus menanggung cap buruk sebagai pengkhianat sepanjang hidupnya.

Dari kelopak mata yang terbuka separuh, aku melihat si anak sulung mengusap air mataku dengan lembut. Dia membisikkan sesuatu, membacakan talkin sambil terisak. Aku tahu dia bersedih melihatku mengalami sakaratul maut yang sulit. Usiaku sudah 75, anakku tiga, cucuku sepuluh, dan aku masih disiksa karena utang masa lalu yang belum kubayar kepada Retno dan keturunannya. ***

.

.

CATATAN:

[1] Program yang dicanangkan pemerintah setelah adanya peristiwa G-30-S, sebagai bentuk pembersihan lingkungan dari orang-orang atau keturunan pelaku G-30-S.

.

Puspa Seruni, penulis kelahiran Situbondo, Jawa Timur. Saat ini menjadi pengajar di Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana, Bali. Penulis terpilih sebagai Emerging Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2022.

.

Cara Mati. Cara Mati. Cara Mati. Cara Mati. Cara Mati. Cara Mati.

 841 total views,  4 views today

Average rating 4.4 / 5. Vote count: 11

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: