Cerpen, Kompas, Rida K Liamsi

Perempuan yang Menunggu Hujan

Perempuan yang Menunggu Hujan - Cerpen Rida K Liamsi

Perempuan yang Menunggu Hujan ilustrasi Yusuf Susilo Hartono/Kompas

4.3
(7)

Cerpen Rida K Liamsi (Kompas, 27 November 2022)

SETIAP langit mendung dan tebal, perempuan itu pergi ke ujung pelantar rumahnya. Dia duduk menatap langit, menunggu hujan turun sambil mendengar suara gemuruh ombak.

Dia berharap hujan segera turun dan ingin merasakan tajamnya jarum air menerpa kepalanya, tubuhnya. Jarum air hujan yang membangkitkan endapan memori di kepalanya. Begitu jarum hujan itu menyentak akar rambutnya, pikirannya seperti mesin akan membangkitkan sensasi kenangannya.

Tubuhnya terasa berdenyar dan seperti ada geliat halus merayapi energi hidupnya. Dia akan segera memejam matanya, dan merasakan sensasi jarum hujan itu menjelajah pembuluh darahnya.

Malamnya dia akan demam dan mengigau. Tapi besok pagi, dia akan bangun dengan penuh ceria. Bernyanyi di kamar mandi dan di meja makan. Dan di jalanan menuju tempat kerjanya.

Dulu, dulu sekali, saat hujan sore, jarum hujan itulah yang mempertemukannya dengan lelaki itu. Lelaki yang dia tak pernah tahu namanya, kecuali lelaki itu adalah seorang guru di sebuah sekolah swasta. Lelaki yang senyum dan tatapan matanya teduh, yang menurutnya, satu-satunya lelaki yang pernah menggetarkan hatinya.

Lelaki itu sedikit lebih tua darinya, tapi sangat tampan. Mereka selalu berpapasan di jalan. Lelaki itu selalu tersenyum. Melambaikan tangannya. Dan entah mengapa, setelah beberapa kali berpapasan dan berbalas senyum, dia merasa ingin terus bertemu, tiap hari. Ingin menyapanya meski dia takut jika sapaannya diabaikan. Dia takut nanti akan ditertawakan. Karena itu, dia membiarkan saja wajah tampan berwibawa itu mengendap di hatinya. Membiarkannya jadi mimpi-mimpi dalam tidur. Membiarkan jadi semacam gairah yang tersembunyi, yang bangkit dari senyum, anggukan kepala, dan lambaian tangan.

Satu ketika perempuan itu berjalan dalam hujan, hujan sore. Renyai. Rambutnya basah. Baju dan celana jinsnya juga sudah mulai lembap. Tiba-tiba lelaki itu berada dan berjalan di sisinya. Rambut dan tas punggungnya juga basah. Perempuan itu menoleh, menatap mata teduh lelaki itu, dan tersenyum.

“Mengapa tidak pakai payung?” lelaki itu menyapanya. Perempuan itu terkejut dan lelaki itu menatapnya. “Tidak takut sakit?”

“Lupa bawa payung…. Gak apa-apa, nanti di rumah juga mandi.”

“Tapi hujan bisa bikin masuk angin.”

“Masuk angin? Saya suka. Soalnya ada kesempatan tidak masuk kerja, alasan sakit. Bosan juga kerja sepanjang hari, sepanjang minggu. Berdiri lagi.”

“Hemm kamu pramuniaga di mal seberang jalan raya itu kan. Seberang sekolah swasta itu kan?”

“Memangnya kenapa? Kamu gak suka sama pramuniaga?” perempuan itu mendelik dan terkikik.

“Siapa bilang gak suka. Saya suka kok. Pramuniaga itu murah senyum. Sepanjang hari tersenyum dan sabar. Bayangkan ada yang mau belanja, sudah bongkar-bongkar semua barang yang dipajang, lalu gak jadi beli. Tapi pramuniaga tetap aja tersenyum. Malah masih menyarankan untuk melihat lainnya,” kata lelaki itu sambil memeragakan gaya dan kelakuan si calon pembeli yang asyik memilih dan menawar.

Perempuan itu tersenyum. Terkikik lagi. Air menetes dari rambut dan bulu matanya. Dia mengelap tetesan air hujan itu dengan punggung tangannya sambil tetap terus berjalan. Dan lelaki itu juga terus berjalan di sampingnya.

Dari jalan aspal sampai ke jalan tanah, mereka bercakap-cakap. Tersenyum. Terkikik. Dan tak sadar kalau sudah tiba di ujung jalan tanah. Di sisi sebuah lapangan sepak bola yang sudah dipenuhi rumput. Alang-alang hijau yang ujung daunnya runcing dengan bunga-bunga putih yang berombak.

Baca juga  Godlob

“Ok, kita sudah di ujung jalan. Mau ke mana lagi? Ini kan sudah di ujung kampung….” Lelaki itu bertanya sambil menatap mata perempuan itu. Perempuan itu tersenyum. Mengibas rambutnya yang basah dan menjuntai di bahunya.

“Entah. Tapi saya kepingin duduk dalam hujan di lapangan bola itu. Kamu mau ikut duduk dan menikmati hujan? Atau mau pulang? Silakan. Saya masih mau berhujan, supaya masuk angin. Supaya besok tidak kerja.” Perempuan itu tertawa memamerkan baris gigi putihnya. Sementara lipstiknya mulai luntur.

“Oh ya? Kalau begitu saya mau juga berhujan-hujan di lapangan ini. Ikut kamulah. Tapi, kamu harus cerita ya supaya hujannya gak terasa dinginnya.”

“Cerita? Tentang apa? Tentang pramuniaga?”

“Tentang apa saja. Asalkan tentang kamu.”

“Iiih, emang cerita tentang apa yang menarik dari perempuan yang sekolahnya cuma sampai SMA? Kamulah yang cerita. Kan punya pengalaman jadi guru. Kan katanya Sarjana Pendidikan juga? Katanya, perantau dari Jawa?”

Mereka duduk di rerumputan lapang bola itu. Sesekali di langit tampak kilat dan suara petir.

“Lapangan terbuka, dalam hujan, ada kilat, berbahaya. Bisa disambar petir,” kata lelaki itu.

“Ada tiang gawang. Lebih tinggi dari kita. Ada besi penghubung siku-sikunya. Petirnya akan menyambar besinya, bukan kita.”

Mereka tertawa. Dan terus berbicara. Tentang apa saja. Meski sesekali perempuan itu menggeletuk. Perempuan itu mulai kedinginan. Kemudian dia menggosok-gosok telapak tangannya, mencari rasa hangat. Dan meniup-niup genggaman tangannya. Membuka telapak tangan dan mengusap mukanya untuk mengurangi rasa dingin.

“Kenapa? Dingin?” Lelaki itu kembali menatap perempuan itu. Tiba-tiba lelaki itu menyorongkan tangan kanannya. Menggenggam jari-jari perempuan itu. Membagi hangat tubuhnya.

Perempuan itu seperti terkejut. Menoleh dan tiba-tiba juga menggenggam jari-jari lelaki itu. Dia merasakan energi gairah menjalar melalui sentuhan dan rasa hangat yang menerobos pori-pori jarinya. Terus naik ke tubuhnya. Ke kepalanya, ke ubun-ubun. Ke helai rambut. Ke pikirannya yang mulai galau.

Lelaki itu mendekatkan tubuhnya. Merapatkan sampai bahu mereka bersentuhan. Dan perempuan itu merebahkan kepalanya ke bahu laki-laki itu. Lelaki itu memindahkan tangannya yang sebelah kiri mengganti tangannya sebelah kanan. Menggenggam jari-jari tangan perempuan itu. Kemudian lelaki itu memindahkan tangan kanannya, memeluk pinggang perempuan itu.

Tiba-tiba mendung pergi. Renyai beranjak teduh. Dan sayup-sayup terdengar suara azan magrib. Mereka terbangun. Merapikan pakaian. Berdiri. Meninggalkan lapangan sepak bola. Tanpa bicara. Saling menjeling. Saling tersenyum. Di ujung lapangan, di jalan tanah, di sebuah simpang, mereka berpisah. Saling melambai dan berjalan menyongsong malam yang turun.

Setelah itu mereka tak pernah lagi bertemu. Perempuan itu, setibanya di rumah, menggigil hebat dan jatuh sakit. Demam panjang dan mengigau. Meracau. Beberapa hari dia terkapar di tempat tidur. Setelah dua suntikan antidemam dari dokter, baru dia pulih. Dan begitu terbangun di pagi hari, dia ingat lelaki itu. Dia bergegas mandi, dan bersiap akan ke tempat kerjanya lagi. Ingin bertemu dan berpapasan lagi dengan lelaki itu.

Baca juga  Angin Kita

Di meja makan dia mendengar cerita, lelaki itu, guru SMP sekolah swasta temannya tidur di rerumputan di lapangan bola, di bawah hujan itu, tewas. Rupanya, setelah berpisah, setelah hujan teduh, ketika berjalan pulang ke rumah kostnya, sebuah sepeda motor yang dikendarai seorang lelaki yang sedang fly, menabrak lelaki itu, yang rupanya juga sedang melamun dan berjalan terlalu ke tengah.

Lelaki yang sedang fly itu mati karena terpelanting dari sepeda motornya yang dipacu kencang, tapi lelaki itu pun juga terpelanting dan tercampak ke dalam parit. Tewas karena pendarahan di kepalanya.

Perempuan itu benar-benar merasa dunianya runtuh. Dia merasa kehilangan yang sangat. Tak sempat bicara dan kembali pingsan. Kembali demam dan meracau. Mengigau.

Semenjak itu, perempuan itu selalu menyendiri, tak mau bicara dengan siapa pun. Dia berhenti bekerja. Duduk di rumah sepanjang hari. Merasakan kehilangan dan kepedihan. Keseimbangan hidupnya terganggu. Takut tidur dan diganggu mimpi buruk.

Perempuan itu menelepon temannya, perempuan, sesama pramuniaga. Dan menceritakan yang dia cemaskan, dan apa yang terjadi di lapangan bola itu.

“Biasanya, kalau kita lagi stres, tertekan perasaan, sering haid kita terganggu. Terlambat satu dua hari,” temannya memberi tahu pengalamannya.

Memang lama-lama kesadarannya pulih. Atas desakan keluarganya, dia akhirnya menikah. Dengan lelaki yang sejak lama menaksirnya. Teman sekerja. Tapi tak sampai setahun mereka bercerai, karena suaminya itu, enggan diajaknya tidur di lapangan rumput di lapangan sepak bola dan bercinta di sana, di bawah siraman hujan.

“Gila kamu. Ini kan tempat terbuka dan orang bisa melihat kita melakukan apa-apa. Kan kita punya rumah. Punya ranjang. Mengapa mesti bermesraan di sini? Di tempat terbuka dan dalam hujan pula. Aneh kamu ini!” kata suaminya itu.

Kemudian perempuan itu ditinggalkannya sendiri di padang ilalang itu. Dan perempuan itu kecewa.

Di rumah mereka bertengkar hebat. Suaminya menuduhnya tidak perawan. Dan mempraktikkan seks bebas.

“Memangnya kenapa kalau tidak perawan?”

“Kamu sendiri, memangnya bujang tingting. Dari cara kamu meniduri aku, aku tahu kamu sudah biasa. Entah perempuan ke berapa aku ini yang kau tiduri. Jangan mau enaknya sendiri,” pekik perempuan itu.

Sejak malam itu, perempuan itu tidak mau lagi tidur dengan suaminya. Dia merasa tidak ada kenikmatan hidup sebagai suami istri. Hubungan yang hambar. Dia merasa dilecehkan. Dan tak lama kemudian mereka bercerai.

Perempuan itu kembali kesepian. Kembali menunggu mendung datang dan hujan turun. Tapi keluarganya tak tega melihat dia terus bersedih dan termenung. Meski mereka tetap tidak tahu penyebab mengapa perempuan itu terus menyendiri. Mereka kembali menyuruhnya bersuami. Terutama ibunya.

“Ibu sudah tua. Menikahlah. Ibu kepingin menimang cucu. Kamu kan masih muda dan tetap cantik. Kalau bersuami, kan ada juga tempat kita menumpang hidup,” kata ibunya.

“Untuk apa menikah lagi kalau tak ada kesamaan perasaan. Tak mau menerima kita apa adanya. Kita kan semua punya masa lalu? Adillah… jangan mau enak sendiri,” perempuan itu mencoba menolak saran ibunya.

“Tapi kan tak baik terus menjanda. Jadi buah bibir orang. Digosip di mana-mana.”

“Apa salahnya menjanda, kan tidak merugikan orang lain? Hidup lebih bebas, dan mengatur apa yang kita inginkan.”

Baca juga  Resep Sambal Rahasia

“Tapi ibu tak kuat menghadapi semua itu. Ibu malu.”

“Malu? Memangnya aku ini satu-satunya janda di dunia? Zaman sekarang, tak ada pantangnya jadi janda. Dunia ini penuh janda. Kata teman-teman, menjadi janda itu adalah pemberontakan para perempuan,” perempuan itu terus berdebat dengan ibunya.

Tapi, karena ibunya terus menangis, akhirnya perempuan itu menikah lagi. Dengan lelaki pilihan ibunya. Tapi dia tetap hambar dan kecewa. Berkali-kali dia mengajak suami keduanya itu untuk pergi ke lapangan bola, saat hujan tiba. Mengajaknya berbaring, bermesraan. Dia ingin tidur dan bercinta di sana. Tapi suami keduanya ini pun menolak dan juga menuduhnya punya kelainan seks. Dan mereka bertengkar lagi, lalu bercerai lagi.

Perempuan itu kembali kesepian dan tiap sore kembali menunggu mendung datang, menunggu hujan renyai turun. Perempuan itu kembali berbasah-basah di pelantar. Tidur telentang di sana. Malamnya dia demam. Meracau. Tapi dia suka dan merasa kenikmatan yang luar biasa ketika jarum hujan itu menikam-nikam tubuhnya. Membentur ubun-ubunnya. Menggeranyangi akar-akar rambutnya yang panjang. Getaran gairahnya sampai terasa ke ujung-ujung rambut. Seperti tusukan helai-helai ilalang.

Ibunya meninggal. Perempuan itu menolak menikah lagi. Dia tetap bekerja sebagai pramuniaga. Pindah dari satu counter ke counter yang lain. Tapi tetap di mal di seberang sekolah swasta itu. Meskipun gajinya terkadang lebih rendah dari counter sebelumnya, karena produk yang dijaganya, juga berbeda.

Pulang bekerja, dia kembali berjalan menyusuri jalan yang dulu dia lalui dengan lelaki, guru sekolah swasta itu. Jika mendung dan hujan turun saat dia sedang berjalan pulang, sesekali dia akan bergegas dan setengah berlari menuju ke lapangan bola. Berbaring di atas rumpun ilalang dan tertidur di sana.

Hal yang paling sering, dia akan bergegas pulang ke rumahnya, dan berbaring di pelantar rumahnya. Tidur di bawah deraian hujan. Menikmati tikaman jarum hujan dan kemudian malamnya dia demam dan mengigau. Bermimpi seakan dia bercinta di lapangan terbuka, di bawah tikaman jarum hujan. Dan dia merasa seakan semua ilalang di padang rumput atau lantai papan di pelantarnya mengerang. ***

.

.

Rida K Liamsi, lahir 17 Juli 1943, seorang penyair, kini menetap di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Dapat dihubungi melalui e-mail: [email protected]

Yusuf Susilo Hartono, dikenal sebagai pelukis, wartawan, dan penyair. Pernah kuliah di IKIP, menjadi guru, dan pegawai negeri. Mantan wartawan Surabaya Post, Pemred Majalah Visual Arts, 10 tahun belakangan mengelola Majalah Galeri – media Galeri Nasional Indonesia. Aktif di Yayasan Seni Rupa Indonesia (1996- 2016). Tahun 2000, finalis Philip Morris Indonesia Art Awards. Buku-bukunya: kumpulan sketsa, puisi, geguritan, cerita anak, dan jurnalistik. Pergelaran syukur terbarunya, AMONG JIWO: Refleksi 40 Tahun Berkarya, di Museum Nasional.

.

Perempuan yang Menunggu Hujan. Perempuan yang Menunggu Hujan. Perempuan yang Menunggu Hujan. Perempuan yang Menunggu Hujan. Perempuan yang Menunggu Hujan.

 3,655 total views,  23 views today

Average rating 4.3 / 5. Vote count: 7

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: