Cerpen, Jawa Pos, Julia F Gerhani Arungan

Shiratal Mustaqim

Shiratal Mustaqim - Cerpen Julia F Gerhani Arungan

Shiratal Mustaqim ilustrasi Budiono/Jawa Pos

3.7
(10)

Cerpen Julia F Gerhani Arungan (Jawa Pos, 26 November 2022)

“CRESS…cress…” Bunyi pencukur bergesekan dengan helai rambut. “Wah bagus ini, Ma. Bakat kamu ternyata.” Adam mengintip dari balik cermin kecil. “Ndak sia-sia beli pencukur ini. Ndak perlu ke salon lagi aku dari sekarang berarti.”

Adam senyum-senyum. Eva juga senyum-senyum.

Adam sudah bekerja keras membuat istrinya ceria belakangan ini. Tidak hanya karena Eva sudah sering mengeluh tentang banyaknya pekerjaan rumah tangga, tapi karena ia tahu mereka berdua butuh liburan sejenak. Mereka butuh kembali berbulan madu setelah rentetan promosi jabatan yang tertunda, kehadiran bayi dengan tugas mengganti popok yang tak ada habis-habisnya, dan kurangnya kualitas tidur.

Namun beberapa hari yang lalu, Adam terpaksa mengabarkan pada Eva tentang bagaimana salah satu anak buahnya di kantor kedapatan menggelapkan uang nasabah dalam jumlah besar. Eva cemas. Karena meski tidak terlibat, posisi Adam sebagai kepala area akan tetap kena imbas. Adam akan dipanggil direkturnya untuk dimintai keterangan dan pertanggungjawaban. Bukan tidak mungkin jabatannya akan diturunkan.

Jabatan diturunkan berarti uang tunjangan berpotensi hilang. Uang tunjangan hilang, maka hotel dan liburan juga hilang. Liburan yang hilang bisa berpotensi mengurangi kesabaran dan kewarasan Eva. Maka Adam perlu membuat istrinya tetap waras, tetap gembira. Termasuk membeli alat cukur listrik untuk menghemat pengeluaran ke barbershop. Lumayan untuk tambahan jajan liburan.

“Cress…cress… Brrrrtttt.” Bunyi mesin pencukur dimatikan tergesa. Adam langsung tegak duduknya.

“Ma?” tanyanya tak yakin. Istrinya cepat-cepat menaruh pencukur listrik. “Waduh kelolosan, Mas. Soriiiiiii,” katanya sambil segera mengambil sapu. Adam langsung meraba sisi kiri kepalanya. Jelas di sana ada bidang yang seharusnya tidak setipis itu. Lalu, tergesa ia meraba sisi sebelah kanan. Di sana juga ada bidang yang seharusnya tidak selicin itu.

Adam melangkah cepat ke kamar. Ada cermin yang lebih besar di kamar mereka. Ia mengenali bajunya. Ia mengenali pundaknya. Yang tak ia kenali adalah bulatan di atas pundak itu.

Ada petak-petak lurus dan tipis seperti jembatan shiratal mustaqim di kedua sisi kepalanya. Lalu jembatan itu mengerucut sebelum membentuk jambul yang terangguk-angguk seperti penjaga rel yang mengantuk.

Adam langsung teringat rapat direksi yang harus dihadirinya besok. Mukanya pias. Eva sudah menyapu sisa-sisa rambut yang berserakan di lantai dan sudah berkali-kali minta maaf, tapi Adam tidak yakin akan ketulusannya karena ia minta maaf sambil memegangi perutnya menahan tawa. Rambut yang tadi disapunya kembali berserak ke mana-mana. Sebagian jatuh di pelataran, sebagian tertiup angin dan dilupakan.

Baca juga  Dua Dunia

“Demi ribuan helai rambut yang kucukur! Katakan, salon menyedihkan mana yang sudah melakukan kejahatan terhadap rambut Abang?” seru pemilik barbershop langganannya di seberang taman kota. Pemilik barbershop itu, Joni, adalah teman kuliahnya dulu. Mahasiswa seni rupa yang menghabiskan kiriman bulanan orang tuanya dengan karcis-karcis film dan puluhan buku sastra dan politik. Ia menukar bangku kuliah dengan kursi-kursi bioskop dan mengaku menemukan kebahagiaannya di sana.

Joni memiliki filosofi yang mulia: seni tidak bisa diukur melulu dari coretan-coretan di kertas atau dinding. Begitu prinsipnya. Maka ia jadikan kepala manusia sebagai kanvasnya. Sebenarnya, ia mulai kehabisan biaya dan orang tuanya muntap dengan uang kiriman yang telah disalahgunakannya di bangku-bangku bioskop. Mereka memutuskan tidak mengiriminya uang lagi. Beruntung masih ada cukup sisa dari uang orang tuanya yang dipakainya untuk menyewa satu unit toko dan membuka barbershop.

Ia mendecak dan menggeleng-geleng. “Ini tidak bisa diterima. Apa yang dilakukan salon itu adalah kriminal murni terhadap seni cukur. Perbuatan seperti ini harus ditindak tegas. Ini hanya membawa keburukan untuk barbershop,” tambahnya lagi sambil menyorong kursi untuk Adam. Tangannya di pinggang. “Lihat ini, rambut Abang seperti Medusa dikawinkan dengan Kim Jong-un, dan keturunan mereka berakhir seperti ini,” keluhnya lagi.

“Istriku,” jawab Adam pelan.

Joni tidak jadi tertawa. Mukanya serius, tapi Adam bisa melihat sudut bibirnya melengkung.

“Santa Maria.” Joni membuat tanda salib di dadanya. “Kalau seperti itu, kau perlu keajaiban, Bang,” sahutnya.

“Tolonglah, aku ada rapat direksi besok. Tidak mungkin menghadiri rapat seperti ini.”

Joni mendesah melihat rambut Adam, dan mulai bekerja.

“Bagaimana?” tanya Adam setelah beberapa saat.

“Tidak banyak yang bisa kulakukan, Bang. Tapi setidaknya Abang bisa hadir di rapat besok.”

Adam menatap cermin. Terbayang olehnya bagaimana ia tidak hanya akan ditanyakan dan dimintai pertanggungjawaban tentang bawahannya di cabang Keruak, yang telah menipu pelanggan mereka dengan harga taksiran emas yang salah. Ia juga akan melakukan pertanggungjawaban itu dengan potongan rambut yang membuat harga dirinya bubar jalan. Di cermin, rambutnya kini adalah kisah Kim Jong-un yang telah menceraikan Medusa dan tinggal sendiri dengan merana.

Baca juga  Tuan Tanah dan Bupati

Adam menelan ludah. Ludahnya terasa pahit. Ia belum merokok sejak beberapa hari. Eva mengancam tidak akan ada lagi malam Jumat berkah bila ia tetap nekat merokok, sementara ia ingin tetap mendapat keberkahan itu.

Di kantor keesokan harinya, staf dan bawahan Adam menatapnya dengan heran dan berusaha keras menyembunyikan senyum mereka.

“Potongan rambut baru, Pak?” tanya salah satu dari mereka.

Adam menegakkan tubuhnya, berusaha tampak lebih tinggi dari biasa. “Oh ya, tentu saja. Ini salah satu strategi bisnis. Kemarin sore saya harus presentasi di polda. Begini, kita itu tidak hanya jualan produk dan servis, kita juga harus tahu kepada siapa kita jualan. Salah satunya, harus paham pangsa pasar dan bagaimana menyesuaikan diri dengan mereka. Caranya, ya bisa dengan menyesuaikan penampilan agar bisa berbaur dengan konsumen.”

Adam memandang berkeliling stafnya. Beberapa dari mereka mengangguk-angguk, menyimak dengan saksama. Beberapa lagi berusaha menutup mulut dan membunyikan batuk. Foto direktur mereka terpampang di dinding. Ia bercambang lebat dan raut wajahnya cemberut seperti ditimpa kesusahan berat. Konon direktur itu hanya pernah tersenyum sekilas saat putrinya menikah dengan seorang bakal bupati di daerah itu.

Direktur mereka datang dan seperti fotonya, bercambang lebat dan cemberut. Kali ini cemberutnya lebih dalam dan hati Adam mencelos. Ketika melihat Adam, ia berhenti melangkah. Adam menggigil. Satu dua butir keringat mengilap di dahinya, jatuh ke pelipis.

Direktur berbalik dan kembali memandang Adam. Kemudian cambangnya melengkung dramatis ke atas, bergerak-gerak pelan, lalu terdengarlah bunyi asing yang tak pernah didengar Adam dan para staf sebelumnya. Bunyi itu lebih mirip derit pintu pada awalnya, lalu tersedak dan batuk-batuk berletusan seperti cerobong kereta uap. Baru disusul gigil tubuh tak beraturan. Adam terpana.

Staf panik dan menyangka Bapak Direktur terkena stroke untuk kali kedua, sampai ketika mereka bisa mendengar bunyi tawa. Berkat cukuran baru Adam, untuk kali pertama direktur utama tidak hanya tersenyum, tapi tertawa terbahak-bahak.

“Cukuran model apa itu, Mas Adam?” tanya Pak Direktur di tengah derai tawanya.

Baca juga  TORPEDO MERAH

“Anu, Pak, ini cukuran model terbaru. Shi… shiratal mustaqim. Jalan nan lurus,” jawab Adam terbata. Wajahnya berganti-ganti warna, dari cokelat ke merah, lalu merah padam, dan berlanjut keunguan. Sementara wajah direktur utama kini nyaris terbelah dengan tawanya.

Adam menarik napas dengan berat. Ia mengutuk kecerobohannya sendiri yang tidak memeriksa baik-baik berkas-berkas dari stafnya itu. Perusahaan mereka kehilangan ratusan juta rupiah. Selanjutnya, kekhawatiran Eva terjadi. Adam benar-benar diturunkan menjadi kepala cabang.

Saat dibacakan keputusan, Adam dapat melihat bayangan istrinya. Eva berjalan perlahan sambil memegang pencukur rambut listrik yang bergetar perlahan. Ada dua tanduk menyeruak tumbuh di pelipis Eva. Tanduk itu merah saga, berkelok dan runcing di ujung-ujungnya.

Sebelum pergi, direktur utama menepuk bahu Adam. “Sebenarnya saya sudah mau menonaktifkan Mas, tapi saya juga mau berada di jalan nan lurus….” Mendengar itu, Adam menunduk. Jambul di kepalanya mengangguk gemulai, lalu merosot pasrah ke dekat alisnya.

Ia membayangkan harus menelepon Eva untuk membatalkan rencana mereka menginap tiga malam di Sheraton. Eva akan mengamuk karena mereka sudah merencanakan ini jauh-jauh hari. Tapi tidak ada lagi yang bisa dilakukannya.

Ponselnya bergetar. Satu notifikasi WhatsApp dari istrinya masuk. Sebuah foto buram karena belum terunggah sempurna, lalu perlahan mulai menjelas. Foto itu menampilkan satu gaun tidur hitam menerawang dengan renda-renda dan pita di pinggir-pinggirnya. Menyusul satu pesan istrinya di bawah foto.

“Tak sabar memakai ini untukmu di Sheraton, Mas.” Lalu cahaya di layar ponsel Adam meremang. Di layar ponsel yang redup, ia bisa melihat jambulnya makin merosot di dekat pelipis. Adam mengambil sebatang rokok milik direktur utama yang tertinggal di atas meja, lalu menyalakan dan mengisapnya dalam-dalam. ***

.

.

JULIA F GERHANI ARUNGAN. Lahir di Lombok, 1982. Menulis puisi, cerita pendek, dan naskah drama. Menyukai pembacaan sajak dan naskah lakon. Antologi puisi perdananya, Ibuku Mengajari Bagaimana Mengisi Peluru (2021), diterbitkan CV Halaman Indonesia dan Akarpohon.

.

Shiratal Mustaqim. Shiratal Mustaqim. Shiratal Mustaqim.

Loading

Average rating 3.7 / 5. Vote count: 10

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Anonymous

    Bagus, ceritanya smooth

Leave a Reply

error: Content is protected !!