Aliurridha, Cerpen, Koran Tempo

Teori Pernikahan Bahagia

Teori Pernikahan Bahagia - Cerpen Aliurridha

Teori Pernikahan Bahagia ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

4.1
(12)

Cerpen Aliurridha (Koran Tempo, 20 November 2022)

Abstrak

HERMAWAN memiliki sebuah teori bahwa seseorang yang berasal dari keluarga bahagia dan seseorang yang berasal dari keluarga tidak bahagia punya kecenderungan gagal berumah tangga. Dua orang yang berasal dari latar belakang budaya berbeda masih bisa hidup bersama meski jurang budaya teramat lebar karena setidaknya yang menjadi pembeda berasal dari faktor eksternal; jika perbedaan itu merupakan sesuatu yang berasal dari dalam diri mereka, lebih susah untuk terus bersama. Oleh karena itu, Hermawan tidak mau sembarangan memilih pasangan hidup untuk anak-anaknya. Dia hanya menerima jika para calon itu berasal dari latar belakang keluarga yang sama dengan dirinya. Anak-anaknya menganggap apa yang dia lakukan tidak beralasan. Hermawan tidak peduli dan berkukuh bahwa teorinya benar. Tetapi, untuk membuktikan teorinya benar, harus melewati sebuah penelitian. Namun, begitu hasil uji teorinya keluar, Hermawan malah tidak mampu menyimpulkan apakah teorinya benar atau salah.

Kata kunci: teori, pernikahan, bahagia

Pendahuluan

Ketika putri sulungnya memperkenalkan calon suaminya, Hermawan tidak bisa tidak meragukan pilihan putrinya. Sebenarnya tidak ada cela pada Zefki. Dia adalah lelaki baik-baik dari keluarga baik-baik. Ayahnya adalah seorang pengusaha. Ibunya adalah anak dari pemilik salah satu pondok pesantren ternama. Hermawan seharusnya setuju seperti halnya setiap orang tua di dunia. Apalagi Raina telah mantap dengan pilihannya. Namun, Hermawan tidak percaya Zefki bisa bertahan bersama Raina.

Hermawan tidak percaya karena Zefki berasal dari keluarga utuh dan bahagia. Hermawan berpikir mereka yang tak pernah mengalami cukup coba dalam hidupnya tidak akan mampu bertahan bersama mereka yang selalu kena coba. Dia yakin lelaki itu tidak akan kuat hidup bersama Raina. Seseorang yang hidupnya diliputi kebahagiaan dengan seseorang yang selalu dirundung duka akan selalu melihat bangunan yang sama seolah-olah berbeda, dan perbedaan ini lebih dalam dan lebih luas dari sekadar jurang budaya.

Hermawan memegang teori ini sejak istrinya meninggalkan dia beserta ketiga anaknya. Terdengar personal memang. Itu tidak salah. Ini memang agak personal, tapi bukannya tak beralasan. Hermawan berasal dari keluarga dengan latar belakang rumah tangga yang berantakan, ayahnya juga berasal dari keluarga dengan latar belakang rumah tangga yang berantakan, ibu dari ayahnya juga berasal dari keluarga dengan latar belakang rumah tangga berantakan, dan hal ini membuat Hermawan menyimpulkan bahwa kegagalan rumah tangga itu seperti penyakit bawaan yang menempel pada gen dan diwariskan turun-temurun kepada generasi selanjutnya. Terdengar bodoh memang. Tetapi tidak ada yang bodoh dari seorang dosen kampus ternama.

Baca juga  Keraguan nan Membatu

Keinginan Hermawan untuk membatalkan pernikahan putrinya semakin diperkuat ketika dia mendengar cerita dari adik Raina ketika Raina dan Zefki mendatangi orang tua Zefki untuk memohon restu. Raina dipermalukan oleh orang tua Zefki. Dia dikatakan perempuan tidak tahu malu karena bukannya menunggu, dia malah mendatangi rumah lelaki untuk minta izin menikah dengan Zefki. Lalu dengan terang-terangan mereka menolak Raina. Setiap mengingat kembali peristiwa itu, dada Hermawan bergejolak. Namun, begitu lelaki yang dia sangka penakut itu mendatanginya untuk melamar putrinya, Hermawan luluh juga.

“Kamu yakin?” tanya Hermawan. “Keluargamu mungkin akan membuangmu.” Hermawan berharap lelaki yang kelihatan penakut itu akan lari mendengar ancamannya. Dia tahu lelaki seperti Zefki tidak akan punya nyali hidup jauh dari orang tuanya. Namun, Zefki tidak kelihatan gentar. Kata-katanya saat itu mampu menggetarkan Hermawan mulai dari bagian terkeras di otaknya hingga bagian terlembut pada tulang-belulangnya.

Zefki menceritakan pelbagai rencana hidup yang akan dia tempuh bersama Raina. Hermawan terpukau mendengarnya. Cetak biru rumah tangga yang dirancang Zefki terdengar begitu meyakinkan, dan Zefki pun mempresentasikannya dengan sangat baik, lebih baik dari mahasiswa-mahasiswa yang dia beri nilai A saat ujian tesis. Hermawan pun menikahkan mereka di KUA, tanpa mengundang siapa pun jua, kecuali keluarga terdekatnya.

Metodologi Penelitian

Meski akhirnya Hermawan membiarkan juga Zefki menikahi putrinya, selalu ada sepercik keraguan bahwa hubungan keduanya akan kandas. Dia tidak yakin Zefki dan Raina bisa bertahan mengarungi badai rumah tangga. Namun, rasa penasaran ketika melihat kepercayaan diri Zefki membuat dia membiarkan mereka mencobanya. Lagi pula satu-satunya cara memverifikasi kebenaran teorinya adalah mengujinya. Dan ujian paling tepat untuk mendapatkan kebenaran teoretis untuk kasus ini adalah dengan uji lapangan: membiarkan para subjek menjalani kehidupan mereka sambil terus mengumpulkan data dan melakukan analisis.

Pembahasan

Hasil uji lapangan keluar ketika ponsel miliknya berdering. Telepon datang dari lelaki itu. Hermawan langsung mengangkatnya. Belum sempat dia menyelesaikan salam, lelaki di seberang telepon memaki-maki.

“Saya minta maaf kalau semua harus jadi seperti ini,” kata Hermawan.

“Anjing, kamu tidak usah pura-pura baik.”

Hermawan menarik napas dalam-dalam. “Mari kita harapkan yang terbaik untuk anak-anak kita.”

“Sudah, kamu tidak usah pura-pura, kamu senang kan ini semua terjadi,” potong lelaki itu. “Lihat saja, saya akan urus semuanya. Pernikahan ini tidak sah. Tidak sah. Kamu sudah melakukan kejahatan.”

Baca juga  Pembunuhan

Hermawan berusaha tidak terpancing, tapi lelaki yang seharusnya dipanggilnya besan itu tiada henti meluncurkan makian. Hermawan tidak melayaninya. Dia tidak ingin menambah masalah pada pernikahan anaknya dan berharap pernikahan ini akan mematahkan teorinya, memutus mata rantai kegagalan rumah tangga yang mengutuk keluarganya. Rupanya, harapan itu kelewat tinggi.

“Saya akan bawa ini ke persidangan,” kata lelaki itu. “Saya akan tuntut kamu,” ancam lelaki itu sebelum menutup telepon.

Setelah telepon itu, Hermawan langsung menghubungi menantunya.

“Abimu baru saja telepon Bapak.”

“Saya minta maaf, Pak.”

Hermawan kaget mendengar jawaban Zefki. Dia belum menjelaskan apa yang dikatakan lelaki itu, tapi Zefki sudah lebih dulu meminta maaf. Seolah-olah dia tahu apa yang baru saja keluar dari mulut ayahnya. “Abimu sangat marah. Kenapa kamu tidak bilang ke Bapak kalau sampai hari ini kamu belum mengatakannya.”

Zefki, lagi-lagi, hanya bisa meminta maaf. Dia tidak tahu bagaimana membalas perkataan mertuanya. Dia tahu benar seberapa marah ayahnya. Tentu saja dia mengetahuinya. Dia baru saja meninggalkan bom yang meledak dengan begitu dahsyat di rumah orang tuanya.

Semua bermula pada tiga hari lalu ketika Zefki pulang ke rumah orang tuanya. Saat itu ibunya menelepon dan memintanya pulang karena, katanya, wanita itu sudah tidak kuat menahan rindu. Zefki kemudian meminta izin ke atasan dan istrinya untuk mengunjungi rumah orang tuanya. “Hanya tiga hari,” kata Zefki meyakinkan.

***

“Lihat ini, bagaimana, kamu suka tidak?” tanya ibunya bersama foto seorang wanita yang disodorkan kepadanya. Ini adalah kali kesekian wanita itu menyodorkan foto seorang wanita kepada Zefki. Telah berkali-kali Zefki menolaknya. Selalu saja ada kekurangan wanita-wanita itu di matanya: terlalu gemuk, terlalu gelap kulitnya, terlalu pesek, dan terlalu-terlalu lainnya. Namun, kali ini dia tidak bisa menyebut kata terlalu. Kecuali itu adalah terlalu cantik. Sosok di foto itu benar-benar sempurna. Kecuali rasa cintanya kepada Raina, Zefki harus mengakui bahwa wanita itu lebih cantik dari istrinya.

Melihat anaknya tidak merespons, wanita itu berkata, “Kalau kamu suka, kita langsung ke sana. Abi sudah pesan tiketnya. Kita lamar dia besok.”

Kata-kata ibunya menyambarnya seperti petir di siang bolong. Zefki sampai kelabakan menjawab. “Kenapa saya tidak ditanya dulu?”

“Sabrina itu cantik, terpelajar, dan dari keluarga baik-baik,” kata ayahnya dengan santainya.

“Tapi kenapa Abi tidak bilang-bilang dulu sama saya? Sampai pesan tiket segala.”

“Memangnya ada kekurangan Sabrina?”

Baca juga  Rahsia Separuh Abad

“Bukan. Bukan itu masalahnya. Saya…,” Zefki tercekat. Dia tidak sanggup melanjutkan perkataannya.

Malamnya, Zefki tidak bisa tidur. Keesokan paginya, tanpa pamit kepada orang tuanya, dia pergi meninggalkan rumah. Di meja kamarnya telah dia tinggalkan sesuatu yang akan menjelaskan alasan kepergiannya. Setelah tiba di bandara, dia mengirim pesan kepada ayah dan ibunya.

Abi dan Ummi, maaf kalau saya pergi tanpa pamit. Ada sesuatu yang tidak bisa saya tinggalkan lama. Maaf kalau semua harus terjadi seperti ini. Mohon untuk menengok meja di kamar saya.

Lelaki itu pun bergegas menuju kamar anaknya. Di sana dia menemukan fotokopi buku nikah beserta kartu keluarga milik anaknya. Mengetahui ini, lelaki itu tidak tahan untuk memaki sekuat-kuatnya. Makiannya membahana di seluruh penjuru rumah hingga tiba di telinga istrinya. Mengetahui anaknya sudah menikah, wanita itu pingsan seketika.

***

“Kamu bilang ke Bapak, kamu sudah memberi tahu orang tuamu. Kenapa Abimu sampai marah-marah seperti itu?” ulang Hermawan. Hening. Masih tak ada jawaban. Zefki sadar bahwa kekacauan ini disebabkan oleh kepengecutannya. Sudah hampir setengah tahun sejak dia menikah dengan Raina, tapi dia belum juga mengabarkannya ke orang tuanya sampai beberapa hari lalu.

“Terus bagaimana ini? Abimu pasti kalah, dan dia hanya akan membuat malu dirinya dan kita semua.”

“Saya tidak tahu harus bagaimana lagi, Pak,” terdengar suara Zefki terisak.

“Kalau begitu, Bapak ke sana. Sekarang Bapak pesan tiket. Paling lama besok siang Bapak sudah di sana. Kamu tenangkan istrimu. Jangan sampai dia kepikiran hal ini dan keguguran,” kata Hermawan kepada Zefki sebelum mematikan telepon.

Penutup

Setelah menutup teleponnya, Hermawan menjatuhkan diri ke sofa. Dia memijiti keningnya yang mendadak pusing. Tiba-tiba dia rasakan suara hening. Kecuali detak jam dinding, tidak ada satu suara pun di rumahnya. Mendadak kepalanya berkedut hebat dan napasnya memburu cepat. Zefki dan Raina memang masih bersama, tapi apakah mereka bahagia? ***

.

.

Blencong, 2021-2022

Aliurridha, penerjemah dan pengajar penerjemahan di suatu perguruan tinggi. Dia menulis karya fiksi dan non-fiksi. Dia tinggal di Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan bergiat di Komunitas Akarpohon.

.

Teori Pernikahan Bahagia. Teori Pernikahan Bahagia. Teori Pernikahan Bahagia. Teori Pernikahan Bahagia.

 1,070 total views,  3 views today

Average rating 4.1 / 5. Vote count: 12

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: