Adi Zamzam, Cerpen, Nova

Maggiri Beraroma Merah

Maggiri Beraroma Merah - Cerpen Adi Zamzam

Maggiri Beraroma Merah ilustrasi Aries Tanjung/Nova

3.5
(2)

Cerpen Adi Zamzam (Nova 1352/XXVI 20-26 Januari 2014)

SORE terakhir di bulan September firasat mengerling kepadaku. Sehelai daun luruh tepat di atas kepala. Warnanya telah menguning.

“Lebih baik iko [1] tidak usah ikut maggiri [2],” ujar Puang Lolo [3] yang ternyata masih mengawasiku. Penciumannya benar-benar setajam asu [4]. Mungkin tersebab itulah ia menjadi tangan kanan Puang Matoa [5]. Insting dan kecerdasannya tak pernah diragukan.

“Kenapa?”

Iko masih seorang mamatra [6]. Iyya [7] belum yakin dengan iko.”

“Kalau iyya masih saja dianggap seperti anak kecil, bagaimana bisa iyya menaikkan derajat?” tukasku.

“Derajat akan sampai dengan sendirinya jika masanya sudah tiba [8],” calabai [9] paruh baya itu mulai terasa menyebalkan.

Iyya akan minta izin langsung ke Puang Matowa,” ujarku, mengeraskan hati.

Aja [10] kotori kepala dengan sampah karena baunya bisa menyumbat penciuman. Iyya mengatakan apa yang iyya lihat pada iko. Iyya tak ingin iko justru memanggil abala [11].”

***

Alangkah cepatnya hari menimbun waktu. Kau tahu? Kenangan itu bahkan masih serasa baru terjadi kemarin.

Apa kau masih ingat ketika si Andi menjajahku semena-mena? Itu adalah kenangan masa kanak paling suram. Andai ada pilihan tempat lain, pastilah aku sudah pindah sekolah ke sana. Sayangnya Bantomatene hanya punya satu itu. Sudah bangunannya buruk, masih ditambah penghuni macam si Andi pula.

Untunglah ada kau di situ. Yang meskipun tak pernah bisa membalaskan sakit hatiku, tapi kaulah satu-satunya yang mau menemani nyeriku. Itu bukanlah hal mudah. Sebab di rumah pun aku memiliki masalah yang sama.

Bagiku rumah adalah neraka, saat dapur mengabarkan benda-benda dibanting. Juga ketika hening malam pecah oleh adu mulut antara indo [12] dan ambo [13]. Kadangkala aku benar-benar tak paham dengan dunia orang dewasa. Kalau mereka tak cinta, kenapa dulu mereka menikah? Kalau mereka saling benci, kenapa aku bisa lahir ke dunia? Akhirnya mereka bahkan bermusuhan dan lalu berpisah.

Dan kau masih ada ketika hari-hariku semakin sulit. Di usia menginjak limabelas, aku masih belum bebas dari Andi. Ketika aku tumbuh dan semakin menampakkan siapa aku, kau masih seperti dulu, tak seperti mereka yang mengolok-olokku sebagai anak laki-laki setengah jadi.

Sejak saat itulah kau menjadi separuh hatiku, yang kerap menampung cerita-cerita sedihku. Kau bukan saja pendengar setia yang menyenangkan, tapi juga teman terbaik menyembuhkan sakit hati.

“Mungkin iko harus menjadi seorang bissu [14],” ujarmu saat itu.

“Sejak kapan iko tertular penyakit mereka?” balasku karena tersundut

Kau tertawa, “Aja’ salah sangka. Maksudku hanyalah supaya iko bisa membuat segan mereka.”

Baca juga  Alergi

Namun sayangnya kau sudah tak di sampingku lagi ketika aku menjalani irreba [15]. Aku harus mengusir bayang-bayangmu selama empat puluh hari empat puluh malam berpuasa. Benar-benar hampa rasanya. Serasa mayat hidup. Seperti sebutir debu yang tak tahu arah tujuan. Meski saat mattinyak [16] aku harus menguatkan niat sejadi-jadinya.

Syukurlah para bissu pattappuloe [17] memberi keringanan kepadaku dengan tanpa harus menjalani ritual wuju. Dimandikan, dibungkus kain kafan layaknya mayat, ditidurkan di lantai atas beratapkan langit, serta tidak makan minum selama genap dua hari. Aku tak yakin mampu menjalaninya. Meski aku sudah mayat sejak kau resmi dipersunting orang, tapi jujur saja dalam hati masih banyak tertinggal jejak rasa.

“Kenapa kau tak datang di acara pernikahanku?” sebuah kabar darimu ketika itu.

Mayat aku, meski ragaku masih dapat berjalan, meski mataku masih mampu melihat, meski telingaku dapat menangkap alun bebunyian, meski mulutku bisa mengucap kalimat. Kau mungkin tak tahu dan tak melihat kematianku. Pasalnya memang tak pernah kuperlihatkan apa yang terpendam dalam dada. Namun, bukankah mestinya kau sudah mencium aromanya? Karena selama ini hanya kepadamulah aku berbagi semua rasa.

Iko… menjadi bissu?” di seberang sana suaramu terdengar tak percaya.

“Hei, apa yang terjadi denganmu? Bukankah dulu iko amat terbakar jka ada yang memanggil calabai?”

“Apa seorang bissu itu menurutmu sama dengan para calabai di jalan-jalan?”

“Hei, hei, ayo ceritakanlah kepadaku, Ilyaz. Ini bukan karena gurauanku waktu itu kan?” suaramu.

Iyya tak punya masalah apa-apa. Iyya hanya merasa bahwa hidup akan lebih bermakna jika bermanfaat untuk banyak orang. Bukan tersebab ucapanmu atau ucapan orang lain,” dustaku dengan hati perih.

“Bohong. Iyya tahu iko bohong.”

Iyya sudah menjalani irreba. Apanya yang iko sebut bohong?”

“Apa iko sudah lupa, siapa yang dulu bilang ingin mencari gadis yang mau memahami kenyataanmu, yang ingin punya banyak ana’ untuk membuktikan bahwa iko….”

“Siapa gadisnya?” potongku.

“Oo… jadi ini cuma masalah siapa gadisnya? Apa mau kucarikan saja?”

Ingin kumatikan saja HP di tanganku.

“Jangan bilang kau jadi bissu karena kau tak bisa cari gadis.”

“Baiklah. Kalau ada, carikan yang bisa memahamiku. Yang bisa menghiburku saat banyak orang membuatku sedih. Yang tetap menganggapku laki-laki meski banyak orang menyebutku calabai. Apa selama ini ada? Apa aku harus jadi calabai lapuk sampai maut menjemput? Apa salah kalau kupersembahkan umur untuk sesuatu yang lebih mulia? Jangan berbicara bahwa menjadi bissu itu seolah-olah adalah pilihan yang salah,” meluncur deras tanpa jeda. Seperti darah yang mengucur dari luka yang amat nganga.

Baca juga  Saksi Mata (3)

Kau terdiam. Dan percakapan pun terhenti di titik itu.

Hari-hari berikutnya coba kukumpulkan segala daya yang tersisa. Mempelajari torilangi [18] Magguru [19] segala kemampuan sebagai sanro [20]. Juga sedikit dari kemampuan meramal yang dimiliki Puang Matowa. Itu semua juga demi mengusir bayang-bayangmu dari dalam benakku.

Kadang malah tumbuh penyesalan dalam benak. Andai sedari dulu kuakui takdirku ini, tentu takkan ada luka-luka itu. Takkan sempat rasa itu bersemi dalam dadaku. Para bissu dilarang mencinta, tidak boleh menikah, apalagi berhubungan seks. Yang menjadi pokok keprihatinan mereka hanyalah masalah kemasyarakatan.

“Mengapa baru sekarang iko ingin menjadi bissu? Umurmu sudah tiga puluh tiga kan?” Puang Lolo mencecarku kala itu.

Aku membisu. Menyembunyikan gelisah dan luka-luka tersebab kepergianmu.

“Bukan karena pelarian kan?”

Ada peperangan hebat dalam dadaku.

“Ketahuilah. Banyak anak-anak muda sepertimu, yang setelah kecewa dengan kehidupannya mereka lantas lari dengan menjadi bissu. Niat mereka tak benar-benar tulus dari hati. Kau ingin tahu apa yang kemudian terjadi? Dewata menolaknya. Mereka justru mencelakai diri sendiri.”

“Akhir-akhir ini iyya memang dirundung kegelapan dan kekosongan. Iyya ingin mengisinya dengan cahaya dan ketenangan. Izinkanlah iyya menimba ilmu dari para tetua.”

“Orangtuamu?”

“Bukankah semua keputusan ada pada iyya sendiri?”

Hingga sampailah aku pada hari ini. Hari di mana pohon cinta itu akhirnya ranggas dan mati tertimbun waktu. Ilyaz yang sekarang sudah bukan Ilyaz tiga tahun silam.

***

Aku seperti mendengar hujan. Teramat deras sekali. Hujan yang turun di musim kemarau dan bersambut gemuruh sukacita.

“Telah kuputuskan bercerai dengannya, Yaz,” suaramu terdengar sedih di seberang.

“Kenapa?”

Iyya telah salah pilih orang… salah pilih orang….” Seperti ada yang ikut tergores dalam dadaku.

Ternyata itu bukan suara hujan. Itu suara Puang Matowa yang sedang membaca mantra-mantra dalam upacara mappasabbi arajang. Ini adalah maggiri pertama yang akan aku pamerkan kepada dunia. Kulihat makemmo sokko patan rupa sudah disajikan. Nasi ketan yang diberi empat warna berdasar unsur dasar kehidupan; merah api, kuning angin, putih air, dan hitam tanah. Seluruh kenanganku seperti terkumpul di sana; amarah, kebimbangan, kepasrahan, dan kematian. Seharusnya aku sudah mati sekarang. Kau tahu? Bissu adalah orang-orang yang sudah mati keduniawiannya. Seharusnya hanya ada hening dan sepi. Lalu siapakah itu yang begitu riuh saat ada yang menangis sedih di sana? Siapakah itu yang bersorak dengan kegagalan pernikahanmu?

“Pikirkanlah nasib ana’ [21]-mu nanti. Dia masih umur satu tahun kan?”

“Apa harus menunggu sampai iyya mati?” terdengar putus asa.

Baca juga  Lempuyangan: Seraut Kenangan

“Hei, jangan begitu. Iyya benar-benar tak mengerti. Iko tak pernah cerita padaku kalau….” kalau kau tak bahagia dengan pilihanmu.

“Akan kuceritakan semuanya kepadamu. Kapan idi [22] bisa bertemu?”

Dan pohon yang telah mati itu tiba-tiba saja bertunas. Cepat sekali tumbuhnya. Terasa melebat dalam dadaku. Terasa pula ada yang mekar kemudian. Wangi sekali baunya. Hingga membuatku mabuk di tengah-tengah riuh genderang tetabuhan mappalili [23]. Pantun balasanku kepada bissu lain berubah bak racauan. Sebab telingaku terisi penuh dengan suaramu. Dan aku pun menikmati kemenangan ini. Ketika tetabuhan semakin rampak terdengar aku pun semakin kesetanan.

Aku melihat dirimu berjalan ke arahku. Tersenyum cantik. Amat sangat cantik dalam balutan gaun merah. Anehnya langit pun kemudian memerah, pohon-pohon memerah, tanah memerah, seolah-olah merah itu justru berasal dari kedua mataku sendiri.

Beberapa detik kemudian aku merasakan sengatan nyeri di perutku. Orang-orang berteriak histeris. Tubuhku roboh. Sebilah keris telah nancap di perutku. Gila, apa yang telah aku lakukan?! Oh, Dewata, aku ingin mempunyai ana’, ingin kubuktikan kepada semua orang bahwa aku lelaki sejati! Jangan seperti ini, jangan!

Buram. Lalu tiba-tiba hening. Lengang sekali. Bayangmu memudar. Di manakah kamu sekarang? ***

.

.

Note:

Sekarang bissu sudah diperbolehkan menikah demi kelangsungan keturunan

.

.

Keterangan:

[1] Kamu

[2] Atraksi pamer kekebalan dengan menusukkan keris ke perut. Prasyarat dari upacara ini adalah kebersihan hati. Jika tidak, maka akan ada risiko tertentu yang membahayakan pelaku

[3] Wakil Puang Matowa

[4] Anjing

[5] Kepala para bissu

[6] Bissu yang belum sempurna

[7] Saya

[8] Dalam komunitas bissu ada hierarkhi

[9] Waria

[10] Jangan

[11] Celaka

[12] Ibu

[13] Ayah

[14] Berasal dari kata mabessi (bhs. Bugis) yang berarti bersih/suci karena tidak memiliki payudara dan haid. Secara fisik mereka laki-laki, tapi lemah lembut. Namun tidak semua calabai (waria) bisa menjadi seorang bissu.

[15] Persyaratan yang harus dilalui untuk menjadi bissu

[16] Bernazar/menguatkan niat selama tiga hari berturut

[17] Bissu senior

[18] Bahasa bissu, bahasa lambang dari langit

[19] Bahasa bissu

[20] Dukun/tabib

[21] Anak

[22] Kita

[23] Upacara ritual yang biasa dilakukan para bissu untuk menghaturkan syukur atas nikmat setahun yang diberikan Dewata. Biasanya berlangsung tiap September

.

Maggiri Beraroma Merah. Maggiri Beraroma Merah. Maggiri Beraroma Merah. Maggiri Beraroma Merah. Maggiri Beraroma Merah.

Loading

Average rating 3.5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!