Cerpen, Suara Merdeka, Yogi Dwi Pradana

Hidangan Terakhir Sebelum Mati

Hidangan Terakhir Sebelum Mati - Cerpen Yogi Dwi Pradana

Hidangan Terakhir Sebelum Mati ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

3.7
(3)

Cerpen Yogi Dwi Pradana (Suara Merdeka, 24 November 2022)

MANUSIA yang akan mati memiliki beberapa tanda. Adapun tanda manusia yang akan mati bisa dilihat dari segi fisik dan segi psikis. Namun, bagaimana jika tanda-tanda kematian itu ada pada sebuah hewan peliharaan. Hewan peliharaan tidak bisa berbicara. Bagaimana hewan peliharaan tersebut ingin menyampaikan permintaan terakhirnya.

Aku melihat seekor ayam kecil dengan sayap kanan yang sudah patah. Bahu ayam yang berdarah-darah. Kaki kiri sudah kehilangan 2 jarinya. Ayam itu sedang bersembunyi di bawah kandang persegi panjang. Ayam itu sangat ketakutan melihatku. Ayam itu semakin bersembunyi di pojok.

Aku tak tega melihat ayam itu. Aku mengambilnya dari bawah kandang. Meletakkan ayam itu di atas kandang. Ayam itu menunduk. Mungkin ayam itu sangat takut kepadaku atau bahkan trauma dengan kejadian yang telah membuat tubuhnya hancur itu. Ada tiga kemungkinan yang membuat ayam itu hancur. Pertama, tikus. Kedua, kucing. Ketiga, anjing.

***

“Apa yang membuatmu terluka?”

“Semalam aku bermimpi menikmati hidangan paling enak.”

“Lalu?”

“Ada bayangan hitam yang datang menyergapku, bayangan hitam itu merebut hidanganku.”

“Bayangan hitam itu yang merusak tubuhmu?”

“Entah, aku tak tahu. Yang pasti setelah terbangun dari tidur, tubuhku sudah rusak seperti ini.”

***

Aku melihat beberapa ayam di sekitarku mendekatiku. Mungkin ayam-ayam itu mengira aku sedang memberi makan ayam kecil yang terluka ini. Maka, ayam-ayam lain juga ingin meminta bagian makanan. Namun, ayam-ayam itu salah. Aku sedang mencoba memahami dari mana luka yang didapat dari ayam-ayam itu.

Jika ayam itu dapat berbicara, mungkin aku sudah bisa mengajaknya berbicara dan bertanya. Namun, ini seekor ayam, bukan seorang manusia. Aku tak punya kemampuan untuk mengetahui bahasa hewan, Namun, aku mungkin sedikit mengerti tentang bahasa isyarat yang diberikan oleh ayam.

Aku meninggalkan ayam itu sejenak. Aku masuk ke dalam rumah. Mengambil dua sendok nasi dari majikom. Kutaruh di tempat pakan. Aku membawanya keluar. Kembali mendekati ayam kecil yang terluka itu. Aku meletakkan dua sendok nasi tersebut di depan ayam yang terluka.

Baca juga  Kisah Tiga Ayah yang Dituduh Gila

***

“Terima kasih.”

“Sama-sama. Makanlah nasi itu apa adanya.”

“Ini sudah lebih dari cukup.”

“Syukurlah jika kau bisa menerima nasi itu dengan baik.”

***

Ayam kecil itu makan nasi putih yang masih panas dengan lahap. Sepertinya ayam itu lupa akan rasa sakit yang ada pada tubuhnya. Aku pun ikut senang melihat ayam itu menikmati makanan itu. Terik matahari sudah mulai terasa menyengat ubun-ubun. Ayam itu sesekali menoleh ke arahku. Mungkin ayam kecil itu memastikan bahwa aku masih menunggunya.

Karena mungkin ayam itu takut akan ada ayam lain yang menyerobot makanannya. Ayam itu diam saja menikmati makanan. Tidak seperti tadi saat pertama kali kutemukan. Ayam kecil itu tadi terlihat sangat ketakutan. Maka, aku mencoba memperlakukan ayam itu dengan baik.

Aku tak banyak menyentuh tubuh ayam itu. Karena tentu saja akan terasa sangat perih dan ayam itu akan merasakan sakit. Meskipun aku tak memiliki kemampuan untuk menyembuhkan luka yang dialami oleh hewan, tapi aku tahu bagaimana cara terbaik yang harus kulakukan sekarang. Aku akan membiarkan ayam itu beristirahat tanpa banyak menyentuhnya. Dan mungkin setelah ayam itu makan, akan kumasukkan dalam kurungan sendiri. Agar ayam itu memiliki masa pemulihan.

Terlihat nasi yang ada di depan ayam itu hanya tersisa sedikit. Aku meninggalkan ayam itu lagi. Menuju kamar mandi untuk mengambil air seperlunya. Kumasukkan dalam wadah air yang biasa kugunakan untuk memberi minum ayam. Aku tak mencampurkan vitamin ayam di dalamnya. Karena memang usia ayam itu belum layak untuk diberi vitamin.

Aku berjalan menuju ayam kecil yang terluka tadi. Ayam-ayam lain masih mengikutiku. Terlihat ayam itu menunduk. Ternyata, ada ayam lain yang mengganggu ayam kecil itu. Aku segera mengusir ayam yang mengganggu itu. Dan meletakkan wadah minum di depan ayam kecil itu.

Baca juga  Lukisan Dunia

***

“Kenapa kamu sangat baik padaku?”

“Sudah sewajarnya aku menolongmu.”

“Terima kasih kembali.”

“Ya, sama-sama.”

“Apakah kamu pernah bermimpi menikmati hidangan paling enak?”

“Kenapa?”

“Aku bertanya. Apakah kamu pernah?”

“Ya, pernah.”

“Apakah kamu tahu apa tafsir mimpi itu?”

“Aku tidak tahu. Aku bukan orang yang ahli tafsir mimpi. Sudah jangan banyak tanya. Cepat minum dan segera istirahat.”

***

Aku meninggalkan ayam kecil yang terluka itu. Ayam itu sedang minum. Aku masuk rumah mengambil satu panci yang berukuran sedang. Aku segera mengambil nasi kering dari kantong goni yang ada. Enam kali tikaman nasi kering kumasukkan dalam panci. Lalu, aku membuka karung goni di sebelahnya, aku mengambil tiga tikaman katul yang ada dan kumasukkan dalam panci. Aku menuju tempat sumber air dan menuangkan setengah gayung air di panci yang sudah berisi campuran pakan. Setelah air kutuang, aku mengaduk campuran dengan menggunakan centong kayu yang panjang. Aku sambil berjalan ke luar. Ayam-ayam itu sudah menunggu.

Aku berjalan. Ayam-ayam terus mengikutiku. Namun, aku melihat di atas kandang ayam kecil yang tubuhnya remuk itu sudah tak ada. Di atas kandang hanya ada ayam dewasa yang sedang meminum air. Aku mencari ayam kecil yang terluka. Ternyata, ayam kecil yang terluka terjatuh di belakang kandang. Ayam itu menunduk sangat ketakutan. Aku meletakkan panci di atas kandang. Aku mengambil ayam itu dan memasukkan dalam kandang kosong.

Aku memberi makan ayam-ayam yang sedari tadi sudah menunggu. Ayam-ayam itu segera berkumpul untuk berebut pakan. Aku sangat suka melihat ayam-ayam itu ketika makan. Sepertinya aku memang telat memberi makan ayam-ayam itu sehingga mereka berebut.

Baca juga  Retorika Atlantis

Setelah selesai menuangkan pakan, aku kembali menengok ayam kecil yang terluka. Ayam kecil itu sedang tertunduk. Aku mengira ayam itu sedang tertidur. Namun, ketika kudekati ternyata ayam itu membuka matanya.

***

“Istirahatlah, tak perlu risau memikirkan apa-apa.”

“Sebentar, aku ingin meminta tolong padamu.”

“Apa?”

“Bolehkah aku minta satu permintaan padamu?”

“Apa itu? Aku tak mau jika harus repot-repot.”

“Tidak. Mungkin tidak repot. Aku ingin kamu memberikan aku hidangan paling nikmat sebelum aku mati.”

“Kamu jangan menghakimi. Kamu bukan Tuhan.”

“Ya, aku memang bukan Tuhan, tapi aku sudah merasakan tanda-tanda kematian.”

“Dasar. Memangnya kamu minta apa?”

“Di mimpiku, aku menikmati hidangan yang sering dimakan oleh presiden.”

“Kau gila. Mana tahu aku hidangan yang sering dimakan presiden.”

“Tolonglah aku, carikan aku hidangan yang paling sering dinikmati presiden.”

“Dasar.”

***

Aku meraba saku dan mengambil ponsel. Tiba-tiba muncul pemberitaan yang begitu mengkagetkan. Ada sebuah berita yang baru saja muncul tentang hidangan yang paling sering dinikmati presiden adalah kritik. Ya, kritik. Presiden makan enak ia dikritik, presiden makan jajanan kampung ia dikritik. Aku mematikan ponsel dan segera melihat ayam kecil yang terluka itu. Ayam itu sudah terbujur kaku dan matanya menutup. ***

.

.

Bantul, 17 Januari 2022.

Yogi Dwi Pradana lahir di Bantul 16 Januari 2001. Mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta ini aktif di Komunitas Lampu Tidur. Beberapa karyanya pernah dimuat di media daring dan memenangi perlombaan menulis karya sastra.

.

.

 415 total views,  3 views today

Average rating 3.7 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: