Absurditas Malka, Cerpen, Kompas

Semiliar Ikan Memakan Anjing-Anjing

4
(1)

Dapur kita, rutin mengirimkan aneka limbah ke got-got, sungai-sungai, dan samudera. Sebagian kecil resap ke dalam perut bumi, mengendap. Sebagian lain, terurai dalam jutaan kali putaran jarum jam. Sebagian lagi, menjadi racun yang tumbuh sebagaimana kanker. Sebagian besar, menjadi boomerang yang pada waktunya akan berbalik menghajar. Menyerang!

Jauh di kedalaman laut yang warna birunya semakin terdegradasi menjadi hitam. Kemurungan menjadi batu karang, tidak mudah dipecahkan, keras, dan berduri-duri tajam. Kemurungan yang nyaris hadir di setiap pantai dan lautan di negeri ini. Sebut saja Teluk Buyat, Teluk Kao, Laut Buru, Tanjung Benoa, Laut Timor, dan masih banyak lagi.

“Kita harus membaca buku lebih banyak. Kita butuh profesor yang lebih jenius dari Einstein! Kehancuran ini semakin tidak terkendali dan kita semakin merana, harus ada yang menghentikan semua kegilaan ini!” Pekik Kamer, ikan kakap merah dengan tubuh bercorak hitam tua dan muda. Corak belang yang membuatnya terlihat lebih sangar.

“Ya, kita butuh ikan-ikan jenius, ilmuwan yang bisa mengatasi kehancuran.” Timpal Bara, ikan barakuda berwajah kejam. Rasa geram membuatnya terlihat semakin kejam.

“Bagaimana kita menciptakan ikan jenius? Waktu kita habis untuk berlari dan bersembunyi dari racun-racun limbah, kita tidak memiliki waktu untuk duduk di bangku sekolah. Gagasan itu kurasa terlalu besar, kawan.” Balu, ikan bawal laut berkulit pucat terdengar skeptis.

“Membaca!” pekik Kamer, antusias. “Membaca adalah satu-satunya kunci untuk menjadi jenius. Bukankah pepatah selalu bilang, ada kemauan ada jalan!” Lanjutnya.

“Membaca?” Bara tak mengerti gagasan itu, begitupun ikan-ikan yang lain, mereka hanya saling pandang, bingung. Balu terkekeh sendirian, semakin ragu dengan gagasan membara itu.

“Kenapa hukum tidak pernah bekerja? Apakah keadilan sudah tersapu gelombang, hilang?” Rapa ikan kerapu tambun dan tua renta, ikut bicara.

“Hahaha… Keadilan hanya ada di negeri dongeng, Kek. Lupakan itu, lupakanlah. Hahaha…” Bara terbahak geli, begitupun kawanan ikan lainnya.

Garis-garis cahaya matahari memanjang ke dalam laut, begitu payah untuk bisa tenggelam lebih dalam. Terhalang miliaran ganggang yang tak terkendali, sampah yang selalu menggandakan diri, dan limbah yang membawa serta tragedi.

“Kita akan pergi ke daratan, mengunjungi perpustakaan, dan maaf… Kita akan mencuri buku-buku itu!” Pekik Kamer, membahana.

“Ide gila!” ucap Bara, tak yakin, “Anjing-anjing di daratan sana akan memangsa kita.”

“Segalanya tidak mudah, kematian adalah harga yang pantas untuk semua mimpi.” Kamer menatapi kerumunan aneka macam ikan.

Hening, tidak ada ikan yang bicara. Hanya terdengar suara gelembung udara yang pecah, gema ombak dari atas sana, suara denting kaleng yang beradu dengan kaleng lain, dan deru mesin dari ponton di permukaan pantai yang sepanjang siang dan malam, menyedot pasir besi dari perut laut.

Baca juga  Milana dan Sungai Purba

“Mimpi yang sangat mahal,” ucap Balu, matanya menerawang, “Akankah kita meraih mimpi semacam itu?” keraguannya semakin membelukar.

“Aku setuju!” teriak Holi, ikan hiu mungil yang kepalanya berbentuk palu, ia sangat antusias mendukung gagasan Kamer.

“Kawan-kawan, dengan menciptakan ikan jenius, kita bisa mendapatkan tiga keuntungan. Pertama, memperlambat kehancuran. Kedua, memugar kehancuran agar kembali penuh pesona. Ketiga, memanfaatkan kemegahan teknologi untuk merekayasa diri kita menjadi lebih tahan polusi, lebih cerdas, lebih kuat!” Papar Kamer seperti sedang menguraikan filsafat transhumanisme.

***

Aneka sampah di permukaan laut, berlayar-layar arungi gelombang, tak punya tujuan. Gemuruh mesin ponton, berhardik-hardik dengan deru ombak. Selongsong pipa besar menjulang ke langit, menyemprotkan limbah. Sementara pipa-pipa yang menjulur ke dasar laut, mengisap apa saja. Mesin tidak bisa memilih, ia menghancurkan apa saja, tidak sekadar pasir, segala apa yang berada di bawah sana. Dan di kelamnya air pantai, ada banyak pipa-pipa tersembunyi, datang dari korporasi-korporasi besar yang membuang limbah industri dalam tingkat kegilaan di luar nalar.

Ribuan ikan, berenang menuju pesisir. Berkelit menghindari hantaman kaleng minuman yang dilemparkan ombak, berkelisut dari perangkap plastik yang dikutuk berumur panjang. Mereka harus kuat-kuat menahan nafas agar tak terlalu banyak mengisap limbah, minyak bumi, sabun, logam, dan aneka macam limbah lain.

“Aman, keluar sekarang…” Kamer memberi isyarat kepada teman-temannya untuk keluar dari air.

Ribuan ikan, berkecipak melompat meninggalkan pantai. Berbaris berjalan di pasir yang tak putih lagi, tak bersih lagi, sebagian besar terkubur sampah.

“Terus bergerak dan jangan biarkan seekor anjing pun mengetahui kedatangan kita.” Bisik Bara, matanya berlarian ke sekeliling mengawasi keadaan.

Ribuan ikan, berjalan mengendap-endap, memilih tempat-tempat yang aman dari tatapan anjing-anjing yang masih terjaga. Langit di atas sana menggelayutkan bulan, cahayanya bercucuran menyepuh segalanya menjadi tampak keperakan.

“Aku tidak bisa membaca, apa gunanya buku-buku itu bagiku?” gumam Rapa.

“Kakek mungkin tidak bisa membaca tapi membawakan buku itu akan sangat membantu mimpi kita. Berbahagialah, karena setiap kita adalah pahlawan, Kek!” Tria, ikan trisi melipur kesedihan Rapa.

Akhirnya, dengan segala cara, ribuan ikan berhasil menyelinap ke dalam gedung, tanpa diketahui seekor anjing pun. Mereka masuk ke ruang baca dan menemukan harta karun yang tiada terkira, ribuan buku, ribuan cahaya, ribuan jendelat dunia, ribuan ilmu pengetahuan, ribuan kecerdasan, ribuan kejeniusan!

Baca juga  Sepasang Sosok yang Menunggu

“Ambil buku apa saja semampu kalian, sang jenius harus berpengetahuan luas, harus banyak membaca!” Kamer memberi komando kemudian berlari kencang menuju rak buku terjauh di dalam perpustakaan.

“Das Kapital!” pekik Bara.

“Tuhan Tidak Bermain Dadu! Ya Tuhan, inilah Einstein yang jenius itu!” Kamer nyaris melonjak melihat buku yang kini sudah digenggamnya.

Ribuan ikan sudah menemukan bukunya masing-masing, tidak hanya satu buku. Setiap ikan setidaknya membawa tiga buah buku.

Greeetttt… Pintu berderit, langkah kaki yang ritmis terdengar mendekat. Kamer memberi  isyarat agar kawanan ikannya terdiam, bersembunyi dengan segala cara.

“Hantu yang menyebalkan! Sekarang mereka tidak hanya menakut-nakutiku dengan suara, mereka sudah berani menyalakan lampu. Kurang ajar!” Gumam seekor anjing bulldog yang membawa pentungan. Matanya menatapi lorong-lorong rak buku, tidak ada siapa pun. Ia mematikan lampu, menutup lagi pintu, ketukan sepatunya terdengar ritmis, menggema di dalam ruangan, semakin lama, semakin pudar, semakin menjauh.

“Rrrrrrhhh!!!” Anjing bulldog tadi rupanya mengelabui para ikan, ia memutar lewat belakang. Ia kini sudah berdiri jemawa di belakang ribuan ikan-ikan, mulutnya menyeringai, taringnya menyembul berkilatan memantulkan cahaya dan kemarahan.

“Diam di tempat dan menyerahlah ikan-ikan bodoh! Kalian tertangkap basah mencuri buku-buku kami!” teriaknya lagi.

Balu meringis, tidak kuasa membayangkan jika taring tajam itu merobek tubuhnya. “Jangan halangi kami anjing bodoh! Menyingkirlah!” Bara mengancam, ia berjalan mendekati anjing itu nyalinya tak sedikit pun ciut, ia punya nyali segunung.

“Kalian adalah makananku, bagaimana mungkin kalian melawanku. Hahaha…” Anjing itu terbahak jemawa.

“Hantam!” teriak Bara.

Seribu ikan di belakangnya bersamaan menerjang. Ribuan ikan memburu seekor anjing, bertumpuk-tumpuk, menggunung. Siapa yang dapat membayangkan nasib macam apa kiranya yang harus diterima sang  anjing?

***

“Kita sudah membaca ribuan buku, sang jenius yang ditunggu tak kunjung tercipta. Apa yang salah dengan buku-buku ini?” gumam Bara, wajah buasnya kini hilang diterkam muram.

“Aku tidak tahu, membacanya saja aku tidak bisa.” Rapa tertunduk murung.

“Jangan bersedih, meskipun Kakek tidak bisa membaca, kami tahu Kakeklah yang paling banyak membawa buku kesini. Aku melihat Kakek memikul sebelas buku, luar biasa!” Kamer menepuk pundak Rapa, menghiburnya.

“Kita harus berperang…” ucap Bara, murka.

“Wow, ide yang revolusioner.” Balu sepertinya tertarik dengan gagasan itu, selalu tertarik dengan segala bentuk perkelahian, sendirian atau keroyokan, “Perang jauh lebih mudah dari pada menciptakan ikan jenius. Perang adalah jalan instan untuk merebut teknologi dan menyelamatkan laut tempat kita hidup.”

“Perang?” Kamer menelan ludah.

“Anjing-anjing itu sudah melampaui batas!” Teriak Rai, ikan layur, tubuhnya yang serupa pedang panjang, bergeletar menahan dendam.

Baca juga  Kuda Emas

“Perang!!!” Semua ikan berteriak lantang, menginginkan perang. Kamer yang paling disegani semua ikan, masih terdiam, masih menimang.

“Perang!” Teriakan marah dan heroik semakin bergemuruh, tidak ada pilihan lain, Kamer pun mengangguk, “Baiklah, kita akan berperang…” ucapnya datar.

***

Gelombang laut tiba-tiba meninggi, menggulung, menyapu pesisir dan segala apa yang berdiri di atasnya. Gelombang itu tidak datang akibat gempa, tidak pula lahir dari embus angin yang dahsyat. Gelombang itu datang dari semiliar ikan yang menyerbu anjing-anjing pembuat kehancuran.

“Tsunami!” Ribuan anjing tunggang-langgang menyelamatkan diri, berlari menuju tempat-tempat tinggi. Ribuan anjing tak sempat mencari selamat, mati mengenaskan tergulung gelombang, diterjang aneka sampah, diserang semiliar ikan yang marah.

“Rasakan pembalasan kami wahai mahluk-mahluk serakah!” Pekik Balu.

Apalah artinya segala macam kejemawaan penghuni daratan, apalah juga artinya kemegahan teknologi dalam sekali sapuan tsunami? Semuanya porak-poranda, hancur menjadi puing, tak bermakna. Daratan yang megah, kota-kota yang selalu boros cahaya, segalanya, segala-galanya habis tak bersisa.

Dalam deru gelombang pasang yang masih menerjang, terus menggulung sampai ke jantung kota-kota. Dalam derak kehancuran yang tak terhindarkan, di celah jerit jutaan kematian, Kamer tertegun, menatapi bangkai anjing-anjing. Menatapi taring-taring semiliar ikan yang sudah sangat merah, berpulas darah.

Perlahan-lahan, Kamer berenang ke belakang, meninggalkan perang. “Kamer, apa yang kamu lakukan kenapa melarikan diri dari perang? Sejak kapan kamu menjadi pecundang!” teriak Balu, geram.

“Kamer, kembalilah, berperanglah bersama kami! Kita harus merebut kemerdekaan!” Teriak Reko, ikan ekor kuning.

Kamer berhenti, dia tertegun, menatap kawan-kawannya yang semiliar. Menatap amuk gelombang, reruntuhan, pohon tumbang, bangkai anjing-anjing yang mati mengenaskan, kehancuran.

“Sampai pada titik ini, apalah bedanya kita dengan anjing-anjing itu? Hanya para pembuat kehancuran di muka bumi.” Ucap Kamer, nanar.

“Tidak ada perang tanpa kehancuran, tidak ada kemerdekaan tanpa pengorbanan! Berpikir moderatlah, Kamer. Tinggalkan romantisme semacam itu!” umpat Bara.

Kamer tak peduli, ia tak lagi mau mendengar segala bujukan. Kamer berkelisut, menghindari sambaran kayu tumbang, sesekali melompat melewati papan yang menerjang, seringkali ia harus berkelit menghindari bangkai anjing-anjing yang koyak mengenaskan.

Bandung, 27 Oktober 2013

Absurditas Malka lahir di Karawang pada 29 Mei 1982, bekerja di Panglima Ikan Bakar Madu, Bandung.

Average rating 4 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

%d bloggers like this: