Cerpen, Dody Widianto, Republika

Empat Puluh Hari Sebelum Mati

Empat Puluh Hari Sebelum Mati - Cerpen Dody Widianto

Empat Puluh Hari Sebelum Mati ilustrasi Rendra Purnama/Republika

4.9
(11)

Cerpen Dody Widianto (Republika, 31 Desember 2022)

SEPERTI teorema seorang filsuf yang bisa diterima sebagai kebenaran, bapak pernah berujar, “Di dunia ini yang perlu kita siapkan adalah memikirkan bagaimana nanti kita akan dikenang oleh semua orang ketika kita sudah tak ada. Tubuh yang perkasa dan sangat kita banggakan akan digerogoti belatung, tulang-tulang perlahan lapuk menjadi tanah. Pepatah bilang, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan utang. Sudah sepatutnya kita menyiapkan kematian dengan cara paling terpuji.”

“Manusia mati meninggalkan nama. Begitu yang pernah kupelajari di sekolah.”

“Cocok. Tampaknya tugas bapak untuk membuatku peka terhadap segala hal di dunia ini selesai.”

“Bapak tidak akan pergi ke mana-mana kan?”

Empat puluh hari setelah pesan bapak itu, saat kabut tipis perlahan mendera dan gerimis turun pada dentang empat senja, setelah ia selesai menyemprotkan obat penghilang kutu daun bunga anggrek di halaman depan rumah, ia diketahui ibu tengah tidur pulas di dipan teras. Ibu baru sadar itu adalah tidur panjang bapak menuju keabadian setelah ibu berkali-kali menggoyangkan tubuh bapak, berusaha mengecek denyut nadi di leher dan pergelangan tangannya, juga degup jantung di dadanya yang tetiba hilang. Namun, tetap tak ada jawab. Tetangga kemudian gempar.

Kedatanganku dua jam setelah kabar duka itu membuat ibu sedikit lega. Walau dari air muka, ibu tak akan bisa menyembunyikan dusta. Gumpalan awan hitam seolah berarak di wajah ibu yang siap menurunkan hujan lebat sewaktu-waktu. Kak Ron di Jakarta kutelepon untuk segera pulang, bilang bapak meninggal. Jawaban dari arah barat sana begitu singkat, padat, dan terdengar sibuk.

“Besok pagi-pagi sekali aku akan pulang, tiket pesawat akhir pekan sering full booked. Ada temu penting dengan komisaris. Hubungi aku dua jam lagi.”

Tiga bersaudara termasuk aku semuanya tinggal di luar kota. Aku menyempatkan ke sini jika libur tiba dalam dua jam perjalanan. Aku anak bungsu. Kakak perempuanku seorang bidan, tinggal bersama suaminya seorang polisi di Sorong, Papua Barat Daya. Ibu paham, detik yang berlalu tak akan pernah bisa dihentikan. Anak-anak yang telah ia rawat sejak kecil dalam kepayahan, mendadak begitu cepat tumbuh dewasa. Berkelana mencari rezekinya masing-masing. Ke barat, ke timur, ke utara demi menghidupi keluarganya dalam kelimpahan rezeki.

Namun, satu yang ia takutkan, di masa tuanya, jika bapak sudah tak ada, ia akan menjalani hari-hari hanya bersama bayang-bayang masa lalu dan kenangan bersama bapak. Tanpa satu pun anak yang menemaninya. Ibu perlahan akan kerepotan dalam berjalan, memasak, mencuci pakaiannya sendiri, bahkan akan kesusahan berjalan ketika hendak buang hajat, merambat pelan menyusur tembok ketika umur terus menggerogoti kesehatan tubuhnya dalam tangan dan kaki yang gemetaran.

Baca juga  ADORASI

Ibu bilang tak mau jika nanti dititipkan di panti jompo. Meninggalkan rumah mungil kami dengan begitu banyak cerita cinta dan kepedihan di dalamnya. Ibu juga tak mau ikut denganku atau memilih di antara kami bertiga, mana yang menurut ibu merasa nyaman. Ibu mencintai rumah mungil kami sama seperti ibu mencintai bapak.

“Kamu enggak pernah kirim kabar kalau bapak sakit?”

“Bapak tidak sakit, Mbak.”

Dalam kerelaan, dua saudaraku tak keberatan jika bapak lebih cepat dikebumikan tanpa menunggu kedatangan mereka. Sudah sepakat dan setuju. Malam hari, sehabis Isya, jenazah bapak akan langsung dikebumikan.

“Mas dan Mbakmu enggak bisa pulang, Le?”

Aku menggeleng. Mendadak ada sedikit nyeri di dada. Kujawab sedang diusahakan. Ibu menyandar di pundak kiriku. Aku tak bisa berucap apa-apa. Sekuat tenaga menahan tangis. Aku melihat butir bening yang terus bergelimpangan di pipi ibu bagai cendawan di musim hujan. Sudah sepatutnya hanya aku, dalam jarak terdekat yang bisa menguatkan hatinya ketika melihat kerumun orang menyiapkan kursi-kursi untuk para petakziah.

Masih jelas dalam ingatan, 40 hari yang lalu dalam masa libur panjang sekolah, dua anakku datang dan menginap di rumah ini. Bapak selalu mengajarkan kami menanam bunga anggrek jenis baru penyilangan dendrobium dengan anggrek hitam yang ia bawa dari Papua. Itu oleh-oleh dari menantunya saat bertugas di pedalaman. Anggrek jenis baru itu berhasil bapak kembang biakkan dengan kelembutan hati dan keuletan tangannya. Jujur saja, aku merasa tidak bisa setelaten bapak. Apalagi, tugas dan kerjaku seharian mengatur karyawan di toko bangunan terbesar di Kota Bakpia sudah membuatku kerepotan. Merasa tidak sempat jika harus sambil mengurus tanaman peninggalan bapak.

Kenapa bapak berikan begitu saja anggrek baru itu kepada Bulik Minah?”

Oalah, Le. Ibadah bukan hanya sembahyang, ngaji, atau ikut pertemuan majelis di masjid. Menurutmu memberi sesuatu dengan ikhlas tanpa mengharap balas bukan ibadah? Ada satu ilmu yang belum bapak berikan kepadamu. Tentang matematika keikhlasan. Memberi dan membagi apa yang kita punya tanpa mengharap imbalan dan pamrih apa pun, itu semacam membagi satu bilangan dengan angka nol. Hasilnya? Tak terdefinisi dan tak terhingga. Haha, maafkan bapak kalau menggurui kamu yang sarjana matematika. Bapak pasti kalah. Tetapi, tentang bilangan-bilangan Tuhan yang tidak bisa dijangkau logika manusia, kau pasti tak mendapatkannya di bangku kuliah.”

Baca juga  Hari Anya Jatuh Cinta

Yang diucapkan bapak kadang mirip jajaran huruf retorika yang tak butuh jawaban. Setiap kata yang didengungkannya mirip deret teorema yang keluar dari mulut seorang filsuf. Bapak tak pantas disebut tukang dagang tanaman.

Sehari setelah jenazah bapak dimakamkan, ibu menarik lenganku ke kamar. Dalam rasa duka yang masih dalam, ia memperlihatkan tagihan biaya selama perawatan melawan kanker ovarium di dalam tubuhnya yang belum dilunasi. Nominalnya tidaklah sedikit. Melihat segala kesibukan dan kerepotan kami, ibu enggan mengaku dari dulu. Aku tak bisa berucap yang seharusnya. Menjawab atau menawarkan bantuan yang selayaknya ketika tempo hari, tiga hari sebelum bapak berpulang, satu karyawan kepercayaanku membawa kabur uang ratusan juta. Sudah kulaporkan ke polisi, tetapi sampai sekarang lamban penanganan.

Kami bertiga bisa kuliah juga dari hasil kerja keras bapak dan menjual lima petak sawah. Sekarang hanya pekarangan dan rumah kami yang tersisa. Sudah selayaknya, sebagai anak kami harus membalas kebaikan mereka. Bahkan, dulu bapak pernah memarahiku ketika aku sedikit membentak ibu.

“Sampai kapan pun kamu tak akan bisa membalas air susu yang sudah masuk dalam tubuhmu. Bahkan, dengan uang. Bicarakanlah dengan kepala dingin pendapatmu.”

Kak Ron di Jakarta kembali kutelepon agar tahu keadaan ibu sekarang. Namun, Tuhan seolah memberi kami jalan pelajaran berharga agar kami pandai bersyukur. Kak Ron tertangkap tangan KPK dari skandal perbaikan gedung balai kota sebab ada selisih dana yang tidak wajar. Mba Asri, sejam setelahnya baru bisa kutelepon dan mengabarkan anak perempuannya yang kelas sepuluh SMA, baru saja kecelakaan dan patah tulang kaki kanan. Semua kejadian seolah telah dirancang Ilahi dan datang beruntun. Dengan keadaanku yang ikut terpuruk, kami malah bakal merepotkan ibu. Pikiranku makin buntu memikirkan penyakit yang diderita ibu.

Setengah jam berdiri di samping pintu, di tepi jendela tembok kanan rumah, aku terus memandangi anggrek bapak yang seolah layu di halaman. Anggrek jenis baru kesayangan bapak yang mengajarkan kami untuk mempersiapkan kematian dengan terpuji. Bunga ungu kehitaman dengan putik kekuningan lucu pernah mengajarkan kami bagaimana seharusnya sikap kami saat memberi tanpa mengharap pamrih. Sudah tak ada yang tersisa di rumah ini selain pekarangan depan dan taman bunga milik bapak setelah ibu menggadai emas dan beberapa perabot di dalam rumah. Tak ada satu pun dari kami yang ingin mencontoh atau sekadar meneruskan usaha bapak. Kami asyik dengan rutinitas dan keluarga kami.

Baca juga  Ulat Bulu dan Syekh Daun Jati

Pintu depan diketuk. Ibu yang masih terbaring di sofa ruang tamu ikut beranjak. Aku gegas membuka pintu dan dua orang yang tidak kukenal tiba-tiba tersenyum, menatap mata kami dalam pandang serius.

“Mohon maaf, Pak. Taman di depan bersama anggrek di dalamnya punya Bapak? Saya baru lihat spesies anggrek baru itu. Luar biasa. Apa itu hasil penyilangan?”

“Benar. Itu peninggalan bapak. Kenapa ya?”

Aku gegas menyilakan duduk. Istriku segera beranjak ke dapur ketika melihat ada tamu, membuat minuman. Kutanyai maksud dan tujuan mereka. Bilang ingin membeli semua jenis tanaman anggrek di halaman rumah. Nominalnya begitu besar. Sedikit tak percaya. Awalnya aku ragu, tetapi melihat kondisi ibu, aku memaksa mengiyakan keinginan mereka demi membuat ibu juga segera pulih dari sakitnya. Uang yang kami butuhkan untuk perawatan ibu tidaklah sedikit.

Atas nama kesepakatan, aku makin terhenyak ketika mereka meminta nomor rekeningku untuk transfer. Mereka berdua benar-benar berniat membelinya, saat tahu, ada satu jenis anggrek langka di halaman kami yang harganya ratusan juta per tangkai.

“Sisakan dua pot anggrek itu untukku.”

Aku memeluk pundak ibu saat truk pikap pengangkut milik mereka berdua datang. Dan tiba-tiba, Bulik Minah, datang beserta rombongan tetangga dan saudaranya. Meletakkan kardus, karung, dan kantong plastik besar berisi sembako dan bahan makanan lainnya.

“Mohon maaf Bulik. Ini apa ya?”

“Dua pembeli anggrek tadi juga mampir ke rumahku, Le. Borong semua anggrek yang bulik rawat di halaman. Kebetulan bulik punya utang banyak yang sudah jatuh tempo. Jika bukan karena bapakmu yang sering memberikan bunga anggrek ke tetangga sekitar secara sukarela, bulik tak tahu lagi bagaimana cara melunasi utang itu. Terimalah pemberian kami ini.”

Sudut mataku mengembun, rasa syukur terucap sampai ubun-ubun. Lalu bilangan-bilangan Tuhan yang pernah diajarkan bapak seolah berderet, berjajar di dalam kepala, menampilkan senyum bapak yang paling mulia. ***

.

.

Dody Widianto lahir di Surabaya. Pegiat literasi.

.

Empat Puluh Hari Sebelum Mati. Empat Puluh Hari Sebelum Mati. Empat Puluh Hari Sebelum Mati. Empat Puluh Hari Sebelum Mati.

Loading

Average rating 4.9 / 5. Vote count: 11

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. owo

    waw ini keren banget sih
    i love it which is literaly ini tuh cerita terdebest yang pernah kubaca kayak hellloowww ini bagus banget asli iiiiihhh jadi pengen baca lagi, pokoknya asik deh kyak for ril deh ini bagus banget keless

Leave a Reply

error: Content is protected !!