Cerpen, Endang Sri Purwanti, Kaltim Post

Hanya Dia yang Aku Punya

Hanya Dia yang Aku Punya - Cerpen Endang Sri Purwanti

Hanya Dia yang Aku Punya ilustrasi Jumed/Kaltim Post

0
()

Cerpen Endang Sri Purwanti (Kaltim Post, 15 Januari 2023)

TIRAI hujan masih menyelimuti kawasan Pasar Rawa Indah. Kegirangannya ditemani ketiga sahabatnya; petir, guntur, dan angin. Gurauan petir membangunkan lelapnya Oneng, kucing peliharaan El Bara, anak laki-laki imut berusia lima tahun dengan bulu mata panjang lentik seperti bulu mata sapi. El Bara dengan sigap memeluk Oneng yang terkesiap. Nasib Oneng sama tragisnya dengan El Bara. Sama-sama terbuang, tidak diinginkan keluarga.

“Tolong, Mbak Eri peliharakan anakku,” derai air mata meluncur deras seperti air terjun Bantimurung. Eriatna ternganga dengan permintaan Rukiah teman Facebook-nya.

“Kenapa?”

“Mas Mirwan gak mau, gak sanggup membiayai. Mbak Eri kan tahu anak saya yang terakhir baru dua tahun, lagi kencang-kencangnya minum susu. Sekarang kerjaan Mas Mirwan kadang ada kadang gak ada, tergantung pesanan bikin mebel.”

Eriatna hanya menghela napas. Bagaimana mungkin perawan ting-ting, buruh di pabrik roti, harus memelihara bayi berumur lima belas hari.

“Tolong bantu saya, Mbak,” Rukiah kembali meratap ditambah drama bersimpuh.   “Sudah… sudah…, Bu. Baiklah saya rawat tapi… ada syaratnya.”

Rukiah mengangguk pasrah tanpa perlawanan, tanpa banyak bertanya. Kenangan memilukan seperti di sinetron, saat transaksi di Bandara Ahmad Yani Semarang. Rukiah harus merelakan anak ketiganya dibawa ke Bontang.

“Mom, Nenek nelpon!” teria kan El Bara membuyarkan lamunan Eriatna. Bergegas ia menyambar gawai di samping Oneng.

Assalamualaikum, Mbok.”

Waalaikumussalam. Ini Mbak Pitan, Dek. Hape Mbak dipakai Giwang belajar online,” suara lirih Pitan, kakak kedua Eriatna, bercampur isak tangis. “Kowe se sok iso mulih?”

Ono opo Mbak. Si Mbok sakit? Dirawat di mana?” cecar Eriatna setengah berteriak.

“Mbok, alhamdulillah sehat. Cuma Pak Lik Ruswandi. Parah banget, Dek, abis jatuh keluar dari kamar mandi. Kakinya patah, pembuluh darahnya beku di bagian belakang kepala.”

Baca juga  Bendera Piala Dunia

Masyaallah. Kulo ngarep mulih (saya mau saja pulang), tapi Mbak….”

“Uang gak ada?” Pitan bisa menebak apa yang mau diucapkan adiknya yang keras kepala ini.

“Mbak tahu aja. Kan belum gajian.”

“Ya, wis, nanti mbak transfer. Mbak pinjami, bukan ngasih loh.”

“Iya mbak ngerti aku. Nanti minta ganti sama si Mbok, hehe.”

“Uh kamu itu. Mbak pesankan tiket ya. Balikpapan-Semarang.”

“Ya, siap Mbak. Salam sayang buat Mbok.”

“Ayo El kita berkemas.”

Lion Air mengiringi kepergian dua beranak ini. El memasang wajah tegang saat take off.

“Mom, ke Jawanya sebentar aja ya. Kasihan Oneng sendirian di rumah penitipan.”

Eriatna mengangguk takut menyahut urusannya akan panjang kali lebar semakin banyak pertanyaan seputar Oneng, rumah, pekerjaan, Angga, dan kapan masuk sekolah.

***

Kedatangan Eriatna disambut pembacaan Surah Yasin yang dipandu ustaz.

Innalilahiwainnailaihi roji’un,” batin Eriatna bergetar saat membuka selendang penutup wajah Pak Lik Ruswandi yang meninggalkan segurat senyum.

Petakziah menatap nanar pada El Bara yang selalu mengekor pada Eriatna.

Usai subuhan, Eriatna mengajak El Bara berolahraga kecil di lapangan bermain. Baru lima tahun meninggalkan kota kelahiran namun sudah banyak perubahan. Eriatna membebaskan anaknya bermain perosotan. Di tempat lain, seorang perempuan mendekati segerombolan remaja tanggung bermain ayunan, menawarkan kue klepon yang rapi dibungkus mika.

Saat perempuan itu membalikkan badan, “Ya Allah, Rukiah…!” gerak cepat Eriatna menundukkan wajah bersembunyi di balik jilbabnya.

Setelah tawar-menawar yang cukup alot akhirnya Rukiah pergi dengan seulas senyum mengantongi selembar uang lima ribuan.

“El, ayo pulang!”

***

“Mbok, El Bara ini anak Rukiah, tetangga sebelah kampung kita. Dulu dia tinggal di Gang Wono Rame. Entah sekarang tinggal di mana. El tidak diinginkan Mas Mirwan, suami Rukiah,” tanpa diminta Eriatna membuka percakapan asal-asul El Bara di kamar ibunya.

Baca juga  Bulan di Atas Kampung

“Itu sebabnya kamu pergi tiba-tiba?”

“Nggih, Mbok. Maafkan Eri.”

“Kamu punya fotonya Rukiah?”

Eriatna mencari foto Rukiah di Facebook lalu memperlihatkan pada ibunya.

“Masyaallah, ini kan dulu pacar Masmu, Dhana. Tapi Mbok ndak suka. Orangnya pecicilan.”

“Waduh, gimana ya Mbok, tadi aku ketemu Rukiah dagang kue di taman bermain.”

“Ya, Nduk, semoga Rukiah ndak nyari-nyari anaknya kemari.”

Berbulan-bulan kekhawatiran Eriatna tidak terbukti. Si Mbok mulai bisa berjalan namun dibantu tongkat stenlis berkaki empat.

***

“Cepetan toh Nduk, udah pakai hijab langsung aja. Gak usah pakai selendang panjang gitu diputar-putar.”

“Ho-oh, buru. Tuh anakmu sampai keringatan. Lari sana-sini. Kamu belum selesai juga pakai hijab,” Pitan ikut mengomel.

Iyo yo, wis rampung.”

Halaman gedung resepsi pernikahan berjajar mobil keluaran terbaru. Maklumlah perhelatan akbar ini kepunyaan anak pertama anggota dewan Kota Salatiga. Semua harus serba-wah.

“Tuh kan udah banyak tamu yang datang,” Pitan melanjutkan omelannya.

Alunan musik Jawa mengiringi prosesi menginjak telur, membasuh kedua kaki suami, hingga merobek ayam kampung.

“Mom, El mau es krim, boleh?”

“Boleh, yuk Mom antar.”

Lumayan banyak yang mengantre minta diambilkan es krim. Satu demi satu terlayani dengan tertib hingga giliran El Bara. Eriatna seperti terserang strok tiba-tiba menjadi maneken begitu melihat sosok Rukiah yang menjaga rombong es krim. Rukiah pun sama terpana sambil memegang cone es krim rasa vanila yang sedikit meleleh.

“Eh, Mbak kok pada bengong. Banyak yang ngantre nih!” teriakan seorang bapak muda yang menggendong anak perempuan berbusana ala Elsa mencairkan kebekuan dua insan di masa lalu.

Eriatna bergegas menggendong El Bara dengan degup jantung yang tak karuan cepatnya.

“Es krimnya mana, Mom?”

“Habis.”

“Mbok, Mbak Pitan, Mas Dhana, aku pulang duluan. Ada Rukiah di sini.”

Baca juga  Maling (2)

“Hah!”

Sepatu berhak tinggi dilepas Eriatna begitu menuruni anak tangga yang jumlahnya terasa beribu-ribu. Eriatna hampir kehabisan napas. El Bara ia turunkan dari gendongan. Dan, secepat kilat Rukiah menangkap El Bara berlari mendahului Eriatna.

“Tolong… tolong… culik… culik!”

Langkah Rukiah terhenti dicegat seorang satpam.

“Siapa bilang culik, ini anakku! Lepaskan!”

El Bara meronta sembari menangis. “Bukan… itu Mom.”

“Rukiah, serahkan anakku. Kamu masih ingatkan syarat yang aku ajukan tidak ada tuntutan, tidak boleh menemui dan mengambil paksa. Kamu ingat itu!”

“Aku ingat. Tapi hanya dia yang aku punya sekarang. Mas Mirwan dipenjara seumur hidup. Kedua anakku pergi jauh.”

“Rukiah aku mohon kembalikan anakku!”

Saat Rukiah lengah, El berhasil diambil paksa dari gendongan. El Bara sementara aman di dekapan Pak Satpam.

“Tidaak! Dia anakku. Tunggu kalian semua akan aku laporkan pada polisi.”

“Silakan, Rukiah. Aku ndak takut. Kamu ndak punya bukti kalau El anakmu. Akta lahir, kartu keluarga, semua ikut aku.”

Rukiah terdiam. Tidak disangka, Rukiah membuka sepatu berhaknya dan mendaratkan pada kepala Pak Satpam. El Bara berhasil ia rampas lalu berlari ke jalan raya seperti orang kesetanan dan brakk… Honda Brio mementalkan tubuh Rukiah ke tepi jalan. Hening sesaat. Persendian Eriatna lemas. Warga sekitar sudah ramai mengerubung.

“Masih hidup. Anak Mbak selamat!”

“Alhamdulillah ya Allah, terima kasih Pak Satpam,” Eriatna bersimpuh di seberang jalan. ***

.

.

Endang Sri Purwanti. Guru MTs 2 Balikpapan.

.

.

Rubrik ini kerja sama dengan Kantor Bahasa Provinsi Kalimantan Timur.

.
Hanya Dia yang Aku Punya. Hanya Dia yang Aku Punya.

 250 total views,  7 views today

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: