Baron Yudo Negoro, Cerpen, Koran Tempo

Hari-hari Menjelang Kutukan Pak Haji Umar

Hari-hari Menjelang Kutukan Pak Haji Umar - Cerpen Baron Yudo Negoro

Hari-hari Menjelang Kutukan Pak Haji Umar ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

4.5
(6)

Cerpen Baron Yudo Negoro (Koran Tempo, 22 Januari 2022)

KISAH ini dulu pernah kuceritakan, tetapi tidak berakhir karena Pak Haji Umar menggagalkannya. Dan aku menceritakannya lagi sekarang, kendati aku sedang berada di dunia lain, tempat di mana hari-hari selalu gelap dan mencekam.

Di sinilah Pak Haji Umar meninggalkanku, membiarkanku membusuk, sama seperti aku dan warga Kampung Waru pernah membiarkannya membusuk. Kau silakan membacanya. Dan sekadar saran saja, apabila kau merasa ada yang tak beres di sekitarmu, atau seandainya kau mendengar suara-suara ganjil yang menularkan ketakutan, maka berhentilah membaca.

Pak Haji Umar bukan sekadar lelaki tua dengan tutur kata lembut dan selalu tersenyum kepada siapa pun, tetapi juga selalu membungkuk setiap melintasi kerumunan orang. Selain tuan tanah, ia juragan kain yang dermawan. Ia mempunyai tempat penampungan anak-anak miskin, dan sering berderma kepada para janda dan anak yatim. Bahkan suatu saat warga kampung akhirnya mengetahui bahwa tegaknya menara masjid besar di Kampung Waru sepenuhnya dari kantong Pak Haji Umar.

Di usianya yang 72 tahun, Pak Haji Umar tampak segar seperti dedaunan seusai hujan. Kami pernah lari pagi bersama, dan ia berlari lebih kencang dan lebih jauh ketimbang aku walaupun usiaku 29 tahun.

Kau tahu, sebaik apa pun orang, ia senantiasa punya musuh kendati ia tak memusuhi siapa pun, dan tak merasa bermusuhan kepada siapa pun.

Bermula pada 3 Desember 1999, ketika hujan sangat deras, angin bertiup kencang, dan gelegar petir membuat rumah-rumah di Kampung Waru bergetar. Kebetulan malam itu aku baru sampai depan rumah sepulang dari kerja—aku seorang jurnalis, sudah dua tahun mengontrak rumah di samping TPU Waru. Saat akan memasukkan motor, aku melihat kobaran bola yang membuat kakiku gemetaran. Ia melesat di tengah hutan bambu, lantas menukik dan meledak di halaman rumah megah Pak Haji Umar hingga menimbulkan gemuruh panjang yang membuat rasa takut merayap ke dada.

Seketika aku lupa bahwa saat itu badanku basah kuyup dan menggigil. Dengan pikiran kacau, aku menoleh kian-kemari tetapi tak seorang pun warga keluar rumah. Mungkin mereka tak mau basah kuyup. Namun, tebersit juga di benakku bahwa jangan-jangan aku satu-satunya yang bisa melihat peristiwa itu. Merasa ngeri dengan pikiranku sendiri, aku bergegas masuk ke rumah.

Esoknya, aku mendapati semuanya di Kampung Waru baik-baik saja. Kehidupanku berlanjut sebagaimana hari-hari biasanya: makan, minum, bekerja, tidur, bernapas. Namun di hari lain, yaitu malam Jumat Kliwon dan bertepatan pula dengan purnama raksasa—sungguh hal ini sangat jarang—orang-orang kampung digemparkan oleh bau busuk yang berasal dari rumah megah milik Pak Haji Umar.

Kegemparan terjadi di rumah Bu RT, tempat di mana pengajian malam Jumat digelar. Ibu-ibu kalang kabut sambil memegang perut, menyepak mangkuk-mangkuk soto, teh hangat, dan membuat gorengan-gorengan berserakan di atas tikar. Mereka yang tahan berlari ke pekarangan, muntah di sana, sementara yang tak tahan mengeluarkan isi perutnya di sembarang tempat. Hoek!

Baca juga  Malam Sepasang Lampion

Tak hanya itu, orang-orang serempak keluar dari rumah masing-masing ketika koloni gagak tiba-tiba berkoak-koak dan melesat-lesat di udara. Berbondong-bondong orang memadati jalanan kampung, menengadah dan menutup hidung, juga melompat-lompat ketika beberapa gagak terbang rendah dan hampir menyambar kepala mereka.

Lalu, koloni gagak itu tumbang satu per satu, terjatuh di atap-atap rumah, di hutan, di sawah-sawah, di sungai, di mana-mana. Orang-orang seketika menjerit-jerit dan terbirit-birit pulang ke rumah. Yang tersisa setelah itu hanya kesunyian yang panjang.

Kau tahu, kisah ini tidak sepenuhnya benar. Terus terang, aku melebih-lebihkannya demi kepentingan dramatisasi. Aku selalu merasa bahwa setiap orang suka kisah drama dan kisah yang bagus perlu didramatisasi agar disukai orang-orang.

Esoknya, dengan hidung dibungkam kain, orang-orang kampung membersihkan bangkai-bangkai gagak dengan sapu. Beberapa orang duduk-duduk saja di teras masjid, tidak mengikuti kerja bakti tetapi tetap menikmati hidangan yang digelar oleh ibu-ibu—manusia semacam ini selalu ada di setiap kampung. Aku di antaranya.

Sebenarnya, aku berniat merahasiakan peristiwa yang menimpa rumah Pak Haji Umar. Bagaimanapun, Pak Haji Umar orang baik dan aku menghormatinya, dan aku juga merasa ngeri sendiri jika apa yang ada di pikiranku ternyata benar. Namun, Nur Hidayat bercerita panjang lebar, termasuk soal kondisi Pak Haji Umar dan istrinya yang memburuk.

Nur Hidayat seorang tukang kebun di rumah Pak Haji Umar. Katanya, bisul-bisul kecil kuning kehijauan bermunculan di badan Pak Haji Umar dan istrinya. Bisul-bisul itu membesar seiring waktu, kemudian meletus satu per satu, mengeluarkan nanah yang baunya busuk luar biasa. Nur Hidayat menggambarkan bau busuk itu dengan kalimat mencengangkan. Katanya, “Seperti bau neraka!”

Tak ada yang betah di rumah megah Pak Haji Umar, kecuali pemilik rumah itu sendiri, kata Nur Hidayat. Para pekerjanya minggat meskipun dengan tangan kosong karena saat itu masih pertengahan bulan. Apa yang terjadi kepada Pak Haji Umar dan istrinya, belum ada yang tahu, kecuali setelah aku tak tahan untuk menyambung cerita Nur Hidayat.

“Jadi kira-kira yang kamu lihat malam itu apa, Mas Darpo?” tanya Pak RT.

“Itu banaspati, Pak. Seseorang mengirim tenung!” jawabku.

“Manusia mana yang tega melakukan itu kepada beliau?” seorang tetangga bertanya-tanya sambil menengadah.

“Asal bapak-bapak tahu, Pak Haji Umar memiliki banyak musuh,” kata Nur Hidayat. “Saya berani disambar petir jika mengada-ada,” ujarnya menambahkan.

Semenjak pagi itu, Kampung Waru tak setenteram dulu. Kasak-kusuk mengenai tenung yang menimpa Pak Haji Umar dan istrinya menyebar ke mana-mana, bahkan hingga ke kampung tetangga. Rumah megah Pak Haji Umar tak seindah dulu. Daun-daun pepohonannya mencokelat, kemudian rontok dan berserakan di halamannya. Temboknya menguning dan retak pada beberapa bagian, dan di bagian lain catnya terkelupas. Dan pemiliknya tak pernah menampakkan diri, meskipun orang-orang tahu mereka masih di dalam rumah itu.

Baca juga  Kematian Banowati

Kian waktu, bau busuk dari rumah Pak Haji Umar kian menusuk hidung. Orang-orang tak tahan, dan jebolnya ketahanan mereka membuat mereka jarang berkeliaran di jalanan kampung. Banyak orang mengatakan bahwa, ketika malam, terdengar jeritan dari dalam rumah Pak Haji Umar. Itu menjadi alasan warung-warung buka dari pagi hingga sore saja.

Tak satu pun warga kampung berani mendekati rumah Pak Haji Umar, paling-paling mengintip-intip saja dari kejauhan. Dengan keras, para orang tua melarang anak-anaknya bermain di sekitar rumah itu, bahkan sekadar memikirkannya kalau bisa jangan. Kepada anak-anak bandel, para orang tua mengancam akan melempar mereka ke halaman rumah itu.

Tak ada orang yang tahu bagaimana cara Pak Haji Umar dan istrinya bertahan hidup. Seandainya mereka mati di dalam rumah itu, tak ada orang yang tahu pula bagaimana cara memindahkan jasad mereka dari rumah itu ke TPU Waru. Sepinya rumah itu dari pagi hingga sore seperti mengabarkan bahwa mereka telah mati, sementara jeritan-jeritan mereka pada malam hari seperti mengabarkan bahwa mereka bangkit dari kematian.

Dan suatu sore di hari Minggu, orang-orang dikejutkan oleh munculnya Pak Haji Umar di ambang pagar rumahnya, dengan raut putus asa. Ia bukan hanya telanjang dada dan awut-awutan, tetapi juga brewokan dan rambut putihnya memanjang. Badannya sekurus batang-batang bambu di hutan bambu dekat sungai. Nanah bening kehijauan meleleh di sekujur badannya, menguarkan aroma sesuai kata Nur Hidayat, “Seperti bau neraka!”

Sambil menangis terisak-isak, Pak Haji Umar menarik gerobak songkro, dengan jasad busuk istrinya tergeletak di atasnya. Langkahnya tampak lemah, sangat lemah.

“Tolong kami, Bapak-bapak!” teriaknya, ketika menelusuri jalanan kampung sambil menarik gerobaknya.

Ia terus berteriak, memohon, parau suaranya membuat hati pedih. Namun, tak seorang pun mengulurkan tangan. Mereka malah bergegas masuk ke rumah, menutup pintu dan jendela dan mengintip lelaki tua menyedihkan itu dari balik gorden.

Entah kebetulan atau apa, awan-awan hitam kemudian berkerumun di langit, menurunkan hujan disertai angin kencang. Dari balik kaca nako, aku mengintip Pak Haji Umar yang menarik songkronya melewati depan rumahku. Aku lalu berpindah ke jendela lain, melihatnya memasuki TPU Waru, memindahkan jasad busuk istrinya dari gerobak songkro ke tanah. Aku terus melihatnya dari balik jendela, dengan perut teraduk-aduk dan menahan diri agar tidak muntah.

Di tengah terpaan hujan, Pak Haji Umar menatap jasad istrinya lama sekali sambil meratap-ratap. Betapa terkejutnya aku saat ia menoleh. Aku langsung menutup gorden, bersembunyi di balik dinding dengan jantung berdebar-debar. Sore itu semakin mendebarkan ketika pintu rumahku diketuk-ketuk.

“Saya mohon, tolong saya, Mas!” Pak Haji Umar memohon-mohon di balik pintu rumahku, dengan suara yang mencabik-cabik hatiku. “Kasihanilah jasad istri saya!”

Baca juga  Meniti Sepi, Menanti yang Pergi

Aku terdiam dengan kaki gemetaran, sambil berharap semoga Pak Haji Umar menyangka bahwa aku sedang tidak di rumah, meskipun itu mustahil sebab ia telah melihatku mengintipnya dari balik jendela.

“Setidaknya pinjamkan saya alat-alat untuk mengubur jasad istri saya!” katanya lagi.

Rumah tempatku mengontrak memang menjadi tempat penitipan sekop, kayu-kayu, dan tali tambang untuk penguburan jasad di TPU Waru. Namun, aku tak bersedia meminjamkannya dan aku tak punya alasan kuat kenapa demikian.

Tak lama, isak tangis Pak Haji Umar surut. Yang tersisa hanya deru angin bercampur hujan deras. Aku kembali mengintip dari jendela setelah mendengar Pak Haji Umar mengucapkan sumpah serapah.

“Kalian semua akan menerima balasannya!” teriaknya, sambil menggali tanah untuk menguburkan istrinya dengan tangan kosong.

Ketakutan seketika merayapi sekujur badanku, membuatku loyo.

Aku terus mengamati Pak Haji Umar, hingga urusannya dengan istrinya kelar. Ia kemudian tergeletak lemas di situ, dan juga di tengah gempuran hujan. Ia terus tergeletak esoknya, selamanya, di samping kuburan istrinya. Dan semenjak itu, tak seorang pun yang menguburkan jasad di TPU Waru. Pagar tempat permakaman itu kemudian digembok, dan jasad Pak Haji Umar dibiarkan begitu saja hingga lama-kelamaan membusuk dengan sendirinya.

Setelah menceritakan apa yang aku lakukan kepada Pak Haji Umar, orang-orang Kampung Waru tak pernah membalas sapaanku. Warung-warung tak mau melayaniku. Saat seorang warga melangsungkan pernikahan, tak ada undangan terselip di bawah pintu rumahku.

Karena muak, aku pun berniat meninggalkan Kampung Waru. Pada suatu malam seusai berkemas-kemas, aku menuliskan cerita pendek, terinspirasi dari kisah Pak Haji Umar. Lalu, samar-samar aku mendengar suara seperti tanah ditumbuk batu. “Duk, duk, duk!”

Aku keluar rumah, lalu melihat sekop tertancap pada tanah di tepi jalan, dengan lubang galian di sampingnya. Seseorang seketika menyergapku, menyeret, dan membawaku terjun ke dalam tanah galian itu. Aku meronta-ronta.

“Kalian semua akan menerima balasannya!” bisik orang itu.

Barulah aku menyadari bahwa yang menyergapku bukanlah orang, melainkan hantu Pak Haji Umar. Sebelum lubang galian tertutup oleh tanah, ia sempat mengatakan akan menyelesaikan urusannya dengan warga Kampung Waru, dan setelah itu akan mendatangi kalian yang telah membaca kisah ini hingga selesai. Berhati-hatilah. ***

.

.

Baron Yudo Negoro adalah seorang buruh. Ia tinggal di Tlogosari, Semarang, Jawa Tengah. Beberapa cerpennya pernah dimuat di media massa.

.
Hari-hari Menjelang Kutukan Pak Haji Umar. Hari-hari Menjelang Kutukan Pak Haji Umar. Hari-hari Menjelang Kutukan Pak Haji Umar. Hari-hari Menjelang Kutukan Pak Haji Umar.

 527 total views,  1 views today

Average rating 4.5 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

2 Comments

  1. Estelita Zainal

    Wah, seru banget ceritanya. Dapet banget seremnya. Nggak rugi baca sampai selesai. Emang beda kalau tulisan mastqh, mah
    Dari awal sampai akhir semakin tegang, nggak bikin bosan walaupun ceritanya panjang…👍👍👍

  2. Widaningsih

    Waduh, harus siap-siap kedatangan hantu Pak Haji Umar, nih.😁

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: