Cerpen, Emha Ainun Nadjib, Sinar Harapan

Terjerembab di Bumi

Terjerembab di Bumi - Cerpen Emha Ainun Nadjib
5
(3)

Cerpen Emha Ainun Nadjib (Sinar Harapan, 22 April 1979)

KARMAN amat sibuk di depan kaca. Setelah mandi begitu lama, bersiul-siul, memilih pakaian terbaik, membuka minyak wangi dan odorono dari bungkusnya, berdiri di depan kaca tersipu-sipu.

Ini sungguh menggelikan. Laki-laki macam aki ini bersolek? Meminyaki rambut, menyemir sepatu sampai amat mengilap, menguru bau ketiak? Pikirnya. Semalam ia meluangkan waktu khusus untuk membeli perlengkapan salon itu. Karman makin keras bersiul-siul untuk mengusir rasa geli dalam dirinya sendiri. Ini kencan istimewa. Di samping, apa salahnya aku menyenangkan orang lain dengan cara ini? Aku menjadi remaja kembali.

Karman, 41 tahun, guru Bahasa Indonesia SMA, telah selesai berhias, dan siap menemui yang tercinta Kadaryati, di depan THR pukul setengah delapan. Sekali ia membenahi rambutnya. Semestinya ia beli celana jins dulu dan kaos Guruh Gips serta sepatu tinggi. Tapi sudahlah. Karman yakin Kadaryati pasti menyukai kesederhanaan seperti dua belas tahun yang lalu.

Dulu zaman mereka berpacaran, Karman ingat betul, Kadar pernah marah karena ia memakai minyak rambut luber, membasah-kuyupi rambutnya hingga membanjir ke keningnya. Kadaryati menyukai hal-hal yang bersahaja, seperti perasaan dan jiwanya. Nanti kira-kira ia pakai apa? Kain batik Pekalongan kesukaannya, kebaya warna mentah dan rambut digelung sederhana? Tapi jelas mustahil ia pakai make up yang berlebihan.

Jam tujuh tiga puluh. Sekarang musti start. Karman menengok ke luar pintu. Dilihatnya semua kawannya sudah tak ada. Pasti sudah masuk kelas. Tegang di kursi. Menghadapi meja, map-map, mendengarkan dengan seksama cuapan-cuapan si juru tatar, kemudian setengah mati menyembunyikan rasa malas dan kantuk. Karman sengaja membolos hari ini. Untuk apa pula terlalu serius. Kalau yang ditatarkan sekadar itu-itu saja ia yakin sudah cukup pintar. Dan yang penting Karman tahu acara penataran ini hanya proyek uang hangus. Menghabiskan anggaran. Ini didukung oleh sistemnya yang tidak efektif dan kurang mendasarnya materi-materi yang digarap. Jadi jelas, Kadaryati lebih penting.

.

KARMAN mengunci pintu kamarnya dari dalam. Dibukanya jendela dan meloncat keluar, kemudian menutupnya. Sungguh pintar perencana gedung ini dulu. Sebuah kompleks dengan unit-unit berhadap-hadapan. Di salah satu sisinya sawah lebar menghampar. Sehingga kalau mau keluar tanpa ketahuan penjaga, loncat saja dari jendela dan menyusur sawah. Pandai pula sekretariat penataran yang memilihkan Karman kamar yang pas di sisi sawah itu. Karman tinggal take off. Segalanya mendukung. Juga langit yang lapang dan cerah, burung-burung yang melintas, angin dan padi menghijau yang bersemi, seperti gelora hati Karman.

Hari tak banyak hujan pula. Tanah cukup kering. Sepatu Karman melintas di atas pematang tanpa khawatir akan kotor. Karman begitu bersemangat, gagah dan berdebar-debar. Beberapa menit kemudian ia sampai di jalan besar. Ia mencegat bemo. Nanti sampai di terminal. Kemudian ganti bemo lagi yang langsung ke THR. Ini bukan soal tak ada uang.

Baca juga  Rastamin Mencari Rumah

Naik becak akan terlalu lama. Kendaraan sendiri jelas tak ada, sebab ini di lain kota. Sewa taksi? Harus ke hotel besar. Pos-pos taksi juga jauh. Dan lagi ini bukan Jakarta di mana taksi-taksi berkeliaran di jalan-jalan mana pun.

Hampir sampai tempat yang dituju, Karman makin berdebar hatinya. Ia melongok-longok, mencari di mana gerangan bidadari itu. Bemo berhenti, dan itu dia! Karman turun dari bemo dengan sikap gugup. Hampir saja ia terjatuh karena terantuk kaki orang di sebelahnya. Karman berdiri minggir dan berhenti sejenak. Ia mengempaskan napas panjang sekali, tapi kemudian napasnya justru makin tersengal. Tersipu ia menyaksikan dirinya sendiri.

Sesaat ia tersadar akan petualangan kecil ini, teringat usianya, teringat istri dan empat anak-anaknya di rumah. Tapi segera diusirnya perasaan ini dan kakinya melangkah. Karman tak mau peduli dan segera mendapatkan yang dicarinya.

“Dik Kadar…!” Karman menyapa dari arah samping kanan perempuan yang menunggu itu. Keduanya tersipu.

“Saya tidak terlambat toh?”

Kadaryati tersenyum, Karman memandangnya tajam, tapi ia sendiri merasakan bahwa sikapnya masih kaku. Segera diajaknya Kadar ke warung makan.

“Saya sudah sarapan, Mas,” kata Kadar.

“Saya yang belum. Mau menemani, kan?”’

Mereka berjalan. Begitu kaku. Karman belum berani mendekat, apalagi menyentuh tangan bidadari ini dan menggandengnya. Ia hanya melirik. Fantastis. Sekian tahun tak ketemu, ia tak berbeda, tetap sederhana juga. Kebaya biru mentah. Rambut digelung. Cuma kainnya yang tidak seperti diduga Karman.

Ketika Karman mempersilakan Kadaryati untuk duduk di warung makan, tangannya sedikit menyentuh punggung perempuan itu. Tersirap darah Karman. Dalam bermacam pola seks ia pernah tenggelam, tapi lain halnya dengan sentuhan kecil saja pun antara kulit orang yang tercinta.

Karman makan hanya sedikit. Tentu saja. Saru kalau banyak-banyak. Dan Kadar, untuk menghormati Mas Karmannya, meminum segelas kopi susu. Kemudian mereka pergi. Naik becak ke kebun binatang. Ini sudah mereka putuskan dalam surat-menyurat sebelumnya. Kebun binatang hanya dihuni oleh umumnya pelancong dari desa-desa, selain binatang-binatang tentu saja. Alhasil di sini aman. Terutama, sedikit kemungkinan untuk ketemu suami Kadaryati. Ini amat penting untuk diperhitungkan.

Mereka duduk rapat di becak. Tidak bisa tidak, memang harus rapat. Becak Surabaya sempit-sempit. Tangan kiri Karman kemudian dirangkulkan ke belakang pundak Kadar, sehingga becak terasa lebih lapang. Karman makin berdebar. Bahkan terkadang ada terasa dingin panas. Tetapi ia melihat gejala yang sama pada bidadari yang disandingnya.

Baca juga  Bola

Di kebun binatang, mereka tak sempat punya rasa peduli terhadap binatang-binatang. Padahal sebenarnya kalau umpamanya melihat ada suami-istri monyet sedang berpelukan, jelas bisa dimanfaatkan untuk memancing pembicaraan yang mengasyikkan dan terarah. Tetapi baik Karman maupun Kadaryati sama-sama terpaku pada kebisuan suasana mereka. Kadar menunggu, sedang Karman sukar betul menemukan kalimat untuk memulai segalanya. Sudah barang tentu amat banyak isi perasaan yang berkecamuk, tetapi biasanya cinta yang murni itu tidak punya bentuk. Akhirnya Karman mengajak duduk di bangku semen di bawah pohon. Sepanjang perjalanan mereka tadi Karman hanya mampu mengucapkan kata-kata yang sebenarnya kurang penting. Sekitar basa-basi saja.

Sekarang musti pindah panggung. Karman menyodorkan ide, yakni ke pantai rekreasi Kenjeran. Kadaryati tidak menolak. Mereka berangkat. Tetapi setelah sampai, dan duduk-duduk di pasir tepian laut, paling jauh mereka hanya sibuk memainkan kaki-kaki mereka dengan ombak yang menerpa pasang surut. Karman tetap tak mampu menemukan apa-apa. Langit dan cerah udara amat menceriakan suasana, tetapi manusia-manusia di sekeliling amat merupakan gangguan. Karman merasa dicurigai dan Kadaryati khawatir jangan-jangan ada teman suaminya yang berkeliaran di sini. Sekuriti tidak terjamin. Lahir maupun batin. Karman akhirnya menawarkan usul yang amat berani. Dan Kadaryati menurut saja.

.

KAMAR 14 mereka sewa. Sejam, atau kalau masih mau terus, bisa bayar lagi. Tekanan darah Karman meninggi. Apalagi ketika ia melihat Kadaryati duduk di atas dipan: seprai putih, selimut, bantal. Sekali lagi Karman teringat istri dan anak-anaknya. Apa gerangan yang hendak kulakukan sebenarnya?

“AC-nya matikan saja, Mas. Saya tidak biasa,” kata Kadar.

“Saya juga,” sahut Karman.

Ia mematikan AC. Kemudian duduk. Terpaku. Untuk kesekian kalinya kata-kata demikian berjubel dan pepat untuk bisa dialirkan satu per satu. Karman gelisah.

Tapi sebenarnya ini gara-gara Kadaryati juga. Dialah yang memulai adegan-adegan yang sukar dimengerti. Wanita ini tahu, atau menduga, bahwa Karman ikut acara penataran selama sebulan ini. Maka ia bersurat dan ternyata dugaannya tak salah. Karman yang kaget menerima surat dari bekas pacarnya belasan tahun yang lalu ini, sudah barang tentu membalas. Maka selama kira-kira sepuluh hari pertama, mereka saling bersurat-suratan. Tentu saja dengan alamat yang kira-kira tak membuat ketahuan suami Kadar.

Surat-surat itu telah membangkitkan segalanya yang selama belasan tahun ini mati. Mayat percintaan mereka bangkit dari kuburnya. Percintaan yang terhalang hanya oleh halangan orangtua. Percintaan yang benar-benar percintaan, artinya, tidak seperti percintaan Karman dengan istrinya kini, serta antara Kadaryati dengan suaminya kini. Nostalgia itu bangkit kembali. Roh itu gentayangan bagai hendak kemanungsan kembali.

Baca juga  Kepala Kampung

Nostalgia itu menyentuh dasar perasaan mereka yang sesungguhnya, yang selama ini tertimbun oleh kenyataan yang lain, istri, anak-anak, kerja dan tugas, yang memang mungkin juga bisa memberi kebahagiaan yang lain. Tetapi yang ini adalah yang sesungguhnya. Karman meluap. Kadaryati meluap.

Pada keadaan itu sebenarnya masing-masing mereka tak tahu jelas apa yang hendak mereka lakukan. Saling bercerai untuk bisa kawin dan bersatu kembali? Tidak. Tidak mungkin. Dalam surat-surat mereka pun menyatakan telah saling menyadari bahwa hal itu tak mungkin. Jadi sekarang mau apa? Nostalgia ini, kerinduan yang mengguncang ini, diungkapkan cukup pada batas-batas tertentu saja. Agaknya kesimpulan ini yang ada pada Karman maupun Kadaryati. Tetapi di mana letak batas itu persisnya, ini yang mereka kurang jelas.

Di asrama penataran, seorang teman Karman yang agak keseniman-senimanan, setelah diberitahu soal ini, berpendapat: “Nostalgia kalian ini sebuah puisi. Tapi puisi harus dijaga. Jangan sampai ia vulgar. Letak puisi kalian hanya dalam jiwa, jadi tidak di badan. Kalian tak mungkin melaksanakannya secara kebudayaan. Maka peliharalah kecintaan yang alamiah dan batiniah saja!”

Karman bingung. Tiba-tiba ia berdiri dan berjalan ke arah Kadar. Kemudian duduk di sampingnya.

“Dik Kadar….”

Tiba-tiba saja tangannya mencengkam lengan perempuan itu. Dan tiba-tiba saja Kadaryati meledak. Setengah menjerit ia memeluk Karman. Bagaimanapun, hubungan cinta mereka yang bertahun-tahun dulu tak bisa dihentikan begitu saja, tanpa ada akibatnya, sekarang atau kelak.

Kadaryati menangis. Terisak-isak ia di dada Karman. Laki-laki ini memeluknya dengan muka tegang dan jantung yang berdebur. Tangan-tangan mereka saling mencengkam. Pelukan mereka makin erat dan kental. Jiwa mereka menyatu. Segala apa pun tidak bisa menghalangi.

Ketika akhirnya secara tak sengaja muka mereka ketemu, kemudian berciuman, maka suasana telah tak kuat lagi.

Beberapa menit kemudian Karman bangkit. Pedih ia melihat Kadaryati menumpahkan tangis ke bantal yang erat dipeluknya. Karman memandang ke luar. Ia merasa takut hendak membuka jendela. Karman akhirnya ke kamar mandi. Berdiri kosong lama sekali di dalamnya.

“Puisi telah hilang,” gumamnya. “Tak mampu kujaga lagi.” Ia terbanting dan terjerambab ke bumi. “Puisiku sudah mati.” ***

.
Terjerembab di Bumi. Terjerembab di Bumi. Terjerembab di Bumi. Terjerembab di Bumi. Terjerembab di Bumi.

 339 total views,  1 views today

Average rating 5 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: