Cerpen, Putu Wijaya, Suara Merdeka

Banjir

Banjir - Cerpen Putu Wijaya
4
(5)

Cerpen Putu Wijaya (Suara Merdeka, 18 Februari 2007)

MELIHAT.

“Memang kenapa?”

“Sebelah kakiku kejeblos lubang, ya air comberan ketelanlah paling tidak secangkir.”

“Ada tahinya?”

Kaciran ketawa.

“Kok ketawa. Ada nggak?”

“Ada kali. Habis dua hari perut jadi mules terus. Tiap kali makan keluar lagi, keluar lagi.”

Tetangga Kaciran sekarang yang ketawa.

“Eee sekarang lhu yang ketawa.”

“Habis, kali yang kamu telan itu bekas punya kita.”

“Punya kamu?”

“Iya! Kita kan memang lagi sakit perut terus waktu banjir itu. Air comberannya rasa gulai kepala ikan nggak?”

“Gulai kepala ikan palemu!”

“Ya, pasti gulai kepala ikan kan? Nah, itu yang gua makan keluar lagi!”

Kaciran nyengir, sementara tetangganya ngakak.

Waktu itu, muncul sembilan pelajar dari sebuah sekolah bergengsi yang sedang melakukan pengamatan di mana akan membagikan bantuan untuk korban banjir. Melihat Kaciran dan temannya ketawa-ketawa terus, mereka mendekat.

“Bukannya kemarin di sini parah, Pak?”

“Bukan parah lagi, air sudah sampai di sini,” jawab Kaciran cepat menunjuk ke lehernya, “Adik-adik ini dari mana?”

“Kami dari sekolah kami, Pak. Besok kami mau membawa sumbangan yang dikumpulkan teman-teman untuk disumbangkan. Tapi maunya ke lokasi yang benar-benar membutuhkan bantuan.”

“Lho, kami di sini membutuhkan sekali. Mana sekarang?”

“Besok baru akan kami drop.”

“Sekarang aja! Semuanya sudah kelaparan di sini. Beras kan udah naik lagi! Jangan kayak pemerintah, main tunggu-main tunggu terus. Ntar kita mati semua!”

Para pelajar itu bisik-bisik sesamanya berunding. Kaciran juga main kedip-kedipan mata dengan tetangganya. Kemudian pelajar itu menggelengkan kepala.

“Kelihatannya kami mau ngedrop di tempat lain saja, Pak. Sorry.”

Kaciran terkejut.

“Lho kenapa? Kami di sini juga membutuhkan!”

“Tapi kelihatannya Bapak-bapak ini kok oke-oke saja?”

“Oke-oke bagaimana?”

“Ya seperti tidak perlu pertolongan begitu.”

“Siapa bilang. Ayo kalau mau masuk ke dalam rumahku. Mau? Nanti tanya sendiri sama nenekku. Apa punya beras untuk dimakan hari ini? Ayo!”

Para pelajar itu berunding. Kemudian seorang pelajar putri maju.

“Kalau Bapak-bapak memang perlu sekali bantuan, nanti kami laporkan pada pos lain.”

“Lho jangan hanya dilapor, berikan saja bantuannya.”

“Tapi Bapak-bapak kelihatannya seperti tidak memerlukan bantuan.”

“Siapa bilang?!”

“Habis, kan tadi ketawa-ketawa.”

Kaciran terdiam. Setelah berpikir, dia tersenyum lebar. Pelajar itu manggut-manggut.

Baca juga  Tetangga

“Orang tersenyum artinya senang! Bapak pasti bahagia karena rumah Bapak tidak kebanjiran! Tapi Bapak tidak boleh lupa, 200 ribu orang yang diberitakan di internet menjadi korban banjir 5 tahunan ini.”

Kaciran langsung tertawa.

“Adik-adik, di sini semua rata kebanjiran, tidak ada yang tidak. Kalau aku ketawa, tidak berarti senang. Orang mencoba senang-senang itu tidak berarti tidak perlu bantuan. Wah, wah, adik-adik ini pasti sudah salah kaprah. Kami ketawa bukan karena bahagia, tapi justru karena kami sedang kelaparan. Rumah, pakaian, barang-barang yang kami kumpulkan bertahun-tahun hancur dalam dua hari. Apalagi yang bisa kami lakukan kecuali ketawa. Kan cuma itu yang gratis. Kalau marah lagi, nanti tenaganya habis percuma. Ya terpaksa ketawa saja. Yang lain kan semua bayar. Betul nggak, Dul?”

Dul, tetangga Kaciran, kontan menjawab dibarengi tawa lebar.

“Bener, Dik, orang ketawa itu bukan seneng tapi susah. Kan ketawa itu sehat. Bikin awet muda lagi. Makanya meskipun tiap tahun dapat banjir kita ketawa terus, supaya awet muda terus. Pak Kaciran ini begini-begini udah tiga istrinya, sekarang udah mau kawin lagi!”

Kaciran ketawa.

“Jangan percaya, Dik. Siapa bilang bini gua tiga? Itu menghina!”

“Habis berapa?”

“Lima!”

Kaciran dan tetangganya ketawa lagi lebih seru.

Pelajar-pelajar itu bengong. Mereka tidak tahu di mana lucunya. Semua pandang-pandangan dan bisik-bisik. Yang putri kelihatannya rish sekali. Ia cepat-cepat menarik teman-temannya untuk pergi.

“Cabut yuk, ngapain di sini mereka nggak apa-apa kok! Betul juga yang di koran itu!”

Melihat gelagat mereka sudah mau bergerak, Kaciran mencoba menahan.

“Lho adik-adik mau ke mana? Katanya mau lihat korban banjir. Kan mau ke rumah melihat nenekku yang aku gendong naik ke rakit? Yang kelihatan di teve itu lho!”

Para pelajar itu tak menjawab, terus bergegas naik ke dalam mobil.

“Kita tunggu bantuannya lho! Kalau nggak ada barang, mentahannya juga boleh!”

“Dua-duanya lebih baik lagi!”

Tapi seruan itu terhapus oleh suara knalpot mobil. Kaciran dan tetangganya memandang hampa.

“Anak-anak orang kaya sok tahu semua. Berlagak mau jadi pahlawan. Kalau mau nyumbang nggak usah ngomong gede! Kalau memang ikhlas nyumbang, bawa saja kemari, pakai ngintip-ngintip segala, paling juga cuma mie seduh yang bikin perut kita rusak! Dasar! Mana dia tahu kita kelaparan! Koran udah ribut gitu, dia masih ngetes kita!”

Baca juga  Anakku Hidup dari Cinta Berbeda

“Anak-anak sekarang mana baca koran, Cir, mereka nonton televisi!”

“Apalagi nonton televisi. Mesti lihat aku gendong nenek sampai negak air comberan, dong?!”

“Tapi bukan teve kita yang ditonton, MTV atau film kartun!”

Kaciran mencibir.

“O gitu? Makanya nggak heran koran jadi teriak-teriak terus supaya yang buta, yang budek itu mau sekali-sekali lihat nasib orang di bawah! Coba rasain sebentar di sini, jangan cuma duduk di kursi tinggi. Enak nggak jadi rakyat!”

Dul mikir.

“Kenapa memang dahi lhu nekuk?”

“Habis lhu bilang, enak kagak jadi rakyat? Gua pikir ya enak juga!”

“Enaknya?”

“Bisa maki-maki kayak lhu itu. Ngomong apa juga kagak salah. Tapi coba mereka? Salah dikit juga bisa putus nyawanya. Keceplosan ngomong seperti yang lhu bilang di koran itu, jadi bahan umpatan. Ya nggak?”

“Yang mana?”

“Itu yang lhu bilang nongol kepalanya di air dan berkoar: korban masih bisa tertawa, media jangan membesar-besarkan soal banjir!”

“O yang di sampingnya ada tengkorak ketawa itu?”

“Itu dia!”

Kaciran dan Dul tertawa barengan.

“Gila, memang! Kali tengkoraknya ketawa karena lihat ada orang masih sempat-sempatnya kawin padahal air sudah selutut. Yang masak, yang kondangan, pengantennya basah semua, tapi terus aja kawin karena udah kebelet.”

“Salah! Bukan! Tengkoraknya ketawa karena airnya rasa gulai kepala ikan!”

“Sialan!”

Keduanya ketawa lagi lebih keras dari yang tadi.

Nenek Kaciran keluar dari dalam rumah. Dia memanggil Kaciran. Bujang tua itu terpaksa mengunci ketawanya, lalu berlari menghampiri satu-satunya keluarga yang masih hidup di sampingnya itu. Nenek itulah yang telah memberinya kekuatan untuk terus bertahan. Padahal seluruh keluarganya sudah ditelan oleh ombak waktu pulang ke kampung.

“Ada apa, Nek?”

“Ada kamu di televisi!”

Nenek Kaciran memberi isyarat supaya cucunya cepat masuk. Kaciran melompat masuk. Di televisi disiarkan kembali musibah banjir yang konon sudah menjadi makanan tahunan dan bonus 5 tahunan ibukota

Air naik dengan cepat dan lebih dahsyat dari banjir-banjir yang pernah terjadi sebelumnya. Banyak kawasan yang tidak pernah terjamah, kini tak berdaya. Toh banyak penduduk yang masih tetap bertahan di rumahnya. Mereka takut hartanya akan dimaling. Baru setelah air semakin mengancam dan persediaan makanan habis, orang mulai mau dievakuasi.

Baca juga  Perempuan yang Menunggu Hujan

“Tadi kamu kelihatan di situ sama Nenek,” kata orang tua itu menunjuk ke televisi.

“Gendong Nenek?”

“Ya.”

“Kalau tidak ada banjir aku tidak akan pernah masuk televisi.”

“Ya itulah gunanya banjir,” kata Kaciran melucu.

Tapi neneknya tidak tertawa.

“Kalau tidak ada banjir, aku tidak akan pernah jadi Naga Bonar.”

“Apa?”

“Kalau tidak ada banjir aku tidak akan pernah gendong Nenek,” kata Kaciram sembari ketawa.

“Kenapa kamu tertawa?”

“Emang aku tertawa?”

“Ya! Karena Nenek kentut?!”

Kaciran ketawa.

“Memang Nenek kentut waktu itu?”

“Berkali-kali. Aku memang kentut kalau takut.”

“Jadi Nenek juga takut?”

“Siapa yang tidak takut. Biar sudah tua, biar tidak punya apa-apa, aku juga takut. Emangnya cuma orang kaya yang takut? Kamu tidak takut?”

“Aku juga takut, Nek! Aku kan nggak bisa berenang.”

“O jadi kamu juga takut?”

“Ya.”

“Kalau takut kenapa ketawa?”

Kaciran tersenyum, sebab ingat hari itu. Ia sudah terminum air comberan dan diledek. Tidak ada yang percaya dia tidak bisa berenang. Hanya waktu tentara yang menolong itu bilang Kaciran adalah Naga Bonar kecemplung kali, ia tidak bisa lagi menahan diri untuk menertawai dirinya dan sekaligus membunuh rasa takutnya.

Nenek Kaciran memandangi cucunya. Satu-satunya cucur darahnya yang diharapkan akan melanjutkan keturunannya, tetapi sampai sekarang masih belum berhasil. Masih saja Kaciran belum mampu mengangkat hidupnya supaya keluar dari kawasan kecoak.

“Kamu ngetawain Nenek ya?”

“Tidak.”

“Kalau begitu kamu ketawa, karena kamu bersyukur. Walau pun kena gempa, kena banjir kamu masih tetap hidup. Begitu?”

Kaciran tak menjawab.

“Itu bagus. Kamu harus selalu mensyukuri semua karunia-Nya. Walau pun tiap tahun kena banjir, nyatanya kita masih tetap hidup. Kamu anak yang soleh, Kaciran, kamu masih bisa tertawa meskipun hidupmu tidak beruntung.”

Kaciran ketawa.

“Kok ketawa?”

“Aku nggak tahu, Nek. Mulutku udah ketawa saja duluan, sebelum aku bisa ngomong.”

“Kenapa?”

“Ya mungkin karena aku sudah terbiasa.”

“Siapa yang sudah melatihmu?”

Kaciran terkejut. ***

.

.

Jakarta 2007

.

.

 473 total views,  21 views today

Average rating 4 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: