Cerpen, Indra Tranggono, Kompas

Perempuan Hujan

Perempuan Hujan - Cerpen Indra Tranggono

Perempuan Hujan ilustrasi Nasirun/Kompas

3.8
(12)

Cerpen Indra Tranggono (Kompas, 29 Januari 2023)

KAMI tak tahu siapa nama perempuan itu. Kami lebih suka menyebutnya Perempuan Hujan. Sebab, ia selalu datang ke kota kami setiap bulan yang penuh hujan. Ia selalu membawa cerita. Atau kisah-kisah apa saja yang membuat hati kami tergetar.

Alat musik dari logam, kayu, dan bambu tak pernah lepas dari dirinya. Juga gendang dan rebana. Suaranya yang merdu berpadu dengan nada yang mengalir berirama menimbulkan getaran yang merayap ke dalam sukma kami.

Sambil menari dan menyanyi, perempuan berwajah tirus, berhidung mancung, dan tinggi semampai, dengan rambut sebahu, itu mendaras baris-baris kalimat yang mengiris: Kami tak pernah punya piring, sendok, dan garpu/Jari-jari kami membajak gundukan nasi aking yang disengat matahari, tumpah di bak sampah dari truk-truk yang hilir mudik di jalan-jalan perumahan. Kami pun sering berkelahi dengan kucing dan anjing, sekadar berebut kepala ikan asin…. Tak hanya sekali tangan kami digigit atau dicakar. Kami menangis karena terpaksa tega menendang perut anjing dan kucing yang sama laparnya dengan kami…. Air mata kami sederas hujan senja yang memutih, memucat. Kami menggigil. Namun, mendadak ada yang menyentuh pundak kami. Sangat ajaib. Ada kehangatan mengalir. Kami pun menoleh. Seorang lelaki berambut sebahu dan penuh luka tersenyum. Tatapan matanya teduh. Dia memeluk kami. Membawa kami terbang, menembus gumpalan mega-mega, menuju ruang penuh cahaya.

Suara rebana dan bilah-bilah besi bertalu. Mengentak-entak. Disertai lengkingan panjang. Perempuan itu terus menggerakkan tangannya, tubuhnya, rambutnya. Kakinya berderap-derap menghantam Bumi. Ia lalu mengejang dan menumbangkan diri di tanah.

Baca juga  Matinya Seorang Pemain Sepakbola

Para penonton tepuk tangan. Dada kami mengembang. Tubuh kami yang terasa ringan seperti diayun. Di kepala kami tepercik api. Kami yang selama ini tidur mendadak terenyak dan terbangun. Bangkit. Melihat luka-luka yang terpahat dalam tubuh dan jiwa kami. Mendadak rasa perih rata merajam sukma kami.

Sosok Perempuan Hujan itu diam-diam menyusup ke rongga dada kami, mendetakkan jantung kami. Kami sangat sadar bahwa semua orang yang diceritakan Perempuan Hujan itu adalah kami.

Selesai mendongeng, bermain musik, dan menari, perempuan itu langsung pergi. Ia tak mau menerima uang atau makanan yang kami berikan. Ia hanya tersenyum dan seperti mengatakan, “Bukankah kalian masih kekurangan gandum, roti, atau ikan asin?” Perempuan itu tersenyum. Teduh.

Siapa perempuan itu? Banyak cerita tentang dia, karena warga kami memang suka mengarang. Ada yang bilang, dia mantan guru Sejarah, tetapi dipecat karena sering menceritakan kisah-kisah yang berbeda dari versi resminya, seperti korban-korban pembantaian orang-orang yang dicap “merah”. Atau mengisahkan orang-orang yang dianggap pahlawan, tetapi menyimpan noktah-noktah hitam dalam jiwanya.

Ada juga yang bilang, perempuan itu hanya orang biasa. Janda yang ditinggal mati suaminya yang kena serangan jantung. Frustrasi. Lalu penyakit jiwa menggerayanginya. Ia pun meninggalkan rumah dan anak-anaknya. Mengembara. Mengikuti desiran angin. Meracau di sepanjang jalan.

Yang lain bilang, perempuan itu sebenarnya jelmaan dari malaikat yang ditugaskan ke Bumi untuk mewartakan kebaikan. “Malaikat sering menyamar! Guru agama saya sering bilang begitu…,” ujarnya.

Mana yang benar? Kami pun membiarkan kisah-kisah liar itu beredar.

***

Bulan penuh hujan kembali datang. Memandikan kota kami yang kotor dan lusuh. Kami sangat mencintai hujan meskipun udara dingin selalu memompa perut kami memberontak. Juga membikin kerinduan kami pada segelas kopi meronta-ronta. Namun, hujan pula yang menghibur kami. Kami pun semakin berani berkelahi melawan haus dan lapar.

Baca juga  Sore Bersama Ibu

Hujan sederas apa pun tak menyurutkan semangat kami untuk menanti kedatangan perempuan berwajah tirus itu. Dialah orang satu-satunya yang bisa menghibur kami. Menerbitkan harapan kami. Kami selalu menunggunya.

Namun, dia tak kunjung datang. Kami terus menunggu, tapi yang datang hanya bayangan sosoknya. Semua warga kota kami gelisah, cemas. Kami pun mencari di mana dia berada. Kami sisir kota-kota demi kota, tapi hasilnya sia-sia.

Kami pun berkumpul di alun-alun kota. Para polisi menatap kami penuh curiga. Namun, kami tetap saja mengadakan upacara untuk mendoakan keselamatan perempuan yang kami puja itu.

Ketika upacara hampir selesai, mendadak datang mobil yang langsung memasuki arena upacara kami. Mereka turun sambil memapah jasad perempuan yang selalu kami tunggu itu. Kami melihat, tubuh perempuan itu penuh luka, penuh bercak darah.

“Ada gerombolan yang telah memerkosa dan membunuh dia,” ucap salah satu pembawa jasad perempuan itu.

“Kamu yakin?” ujar seseorang.

“Seorang saksi bercerita kepada kami.”

“Siapa?”

“Dia,” kata orang itu sambil menunjuk seorang lelaki tua yang berdiri di sampingnya.

Laki-laki tua itu mengangguk. “Ya, aku melihatnya. Gerombolan orang itu bagai serigala mencabik-cabik dan melumat tubuh perempuan ini….”

Orang-orang diam. Wajahnya tampak tegang. Tangan-tangan mengepal. Ada kemarahan bergolak dalam dada.

“Pak Tua! Siapa mereka?” tanya salah seorang dari kami.

Pak Tua menggeleng.

“Mereka itu preman yang disewa?”

Pak Tua menggeleng.

Orang-orang melepaskan umpatan kepada para pembunuh. Ada yang ingin memburu dan membunuh mereka. Teriak-teriakan menggetarkan udara yang basah.

Mendadak terdengar sirine. Mobil polisi datang. Empat orang turun. Mereka mengacungkan senjata. Membubarkan kerumunan. Tapi, orang-orang tetap bertahan. Para polisi tetap memaksa kerumunan untuk bubar. Mereka menembakkan pistol ke udara. Berkali-kali. Kerumunan pun bubar.

Baca juga  Tanda Mata dari Sang Profesor

Di rumah, kami hanya bisa menggigit duka. Samar-samar, kami mendengar siaran berita di televisi. “Polisi telah mengamankan perempuan yang diduga jadi pengacau keamanan.”

Kami tersenyum. Getir. Suasana hening terasa mengeras dan menekan. Di luar, jarum-jarum hujan menikam Bumi. ***

.

.

Indra Tranggono, cerpenis dan esais, tinggal di Yogyakarta. Belasan cerpennya dimuat dalam buku Cerpen Pilihan Kompas. Buku cerpen yang sudah terbit: Sang Terdakwa, Menebang Pohon Silsilah, Perempuan yang Disunting Gelombang, dan Iblis Ngambek.

Nasirun, lahir di Cilacap, 1 Oktober 1965, menamatkan pendidikan di Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta pada 1994. Meraih sejumlah penghargaan, antara lain Sketsa dan Seni Lukis terbaik ISI Yogyakarta, McDonald Award pada Lustrum ISI Ke-10, dan Philip Morris Award 1997. Aktif berpartisipasi dalam berbagai pameran karya seni sejak 2004.

.

.

Loading

Average rating 3.8 / 5. Vote count: 12

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!