Cerpen, Koran Tempo, Kurnia Effendi

Rumah Kosong Harga Mati

Rumah Kosong Harga Mati - Cerpen Kurnia Effendi

Rumah Kosong Harga Mati ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

2.8
(6)

Cerpen Kurnia Effendi (Koran Tempo, 29 Januari 2023)

DECIT ban menggerus aspal sepanjang beberapa meter menyayat telingaku. Ven menghentikan mobil mendadak, membuatku memaki spontan. Sabuk pengaman mengencang tiba-tiba. Dadaku sakit.

Sori, kelewatan!” Ven mengempas punggung ke sandaran.

Sebelum sampai di jalanan setengah basah itu, memang kulihat ada tikungan ke kiri, tersamar oleh perdu. Ven memundurkan mobilnya. Yakin di belakang kosong—sejak sepuluh menit yang lalu, kami memasuki kawasan sepi setelah hampir 5 kilometer melewati jalan menanjak dan berkelok di kawasan Landgoed Nijenburg—ia menekan gas pol dan sekali lagi mengerem tajam. Aku memaki dengan sejumlah jenis binatang piaraan, termasuk kelinci yang banyak berkeliaran di hutan. Secara bersamaan, kemudian, kami menoleh ke kiri.

“Itu dia!” Ven menyeru. Di papan kusam yang sebagian tertutup untaian daun tertera tulisan: “Rumah Kosong Harga Mati”.

Apa maksud kalimat aneh itu? Sejenis iklan atau ancaman? Heran, belum apa-apa aku sudah tertarik sekaligus terkesiap. Resolusi yang kupaparkan kepada teman-teman, bahwa pada 2023 bakal kucari hal-hal tidak biasa, ditanggapi serius oleh Ven. Pemuda itu kukenal karena kesialan. Dia memergoki saat kusadap leher Monique di lorong kafe menuju gudang bir. Itu terjadi di Gouda pada pertengahan musim panas—meski keju tidak meleleh oleh mentari yang lebih panjang bersinar.

“Aku akan pegang rahasia kalau perbuatan kalian ingin disembunyikan. Aku Ven. Ibuku, bukan ayahku, memberiku nama Ventilatie. Sungguh tidak seksi. Menepilah, aku mau kencing.”

Aku tergeragap. “Seharusnya kamu belok kanan.”

Monique sudah meloloskan diri dari pelukanku. Sembari menutupi wajah, ia kembali ke bar yang mulai ingar. Pertanda langit petang kian gelap. Sepuluh menit kemudian, Ven … Til … Atie … atau siapa pun panggilannya membawa gelas birnya ke mejaku. Harum parfum Monique, blonde Prancis, masih melekat di hidungku. Banyak perempuan menyemprotkan wewangian di dekat nadi leher. Berulang-ulang aku membuktikannya.

“Aku Antum.” Kujabat tangan Ven. Dingin. Dia baru saja menggenggam gelas minuman berisi es batu. “Sendiri?”

“Sama sepertimu. Sedang mencari korban,” jawabnya. Kami terbahak bersama.

Secair itu dia, membuatku akhirnya mengajak dia ke pertemuan akhir tahun dengan teman-teman penggemar komik. Aku kolektor karya-karya klasik meski tidak setua Pasquino all’Istmo di Suez karya Casimiro Teja. Hanya kusimpan Ciclo della Malesia buatan Guido Moroni Celsi dan Saturno contro la Terra ciptaan Federico Pedrocchi dan Giovanni Scolari karena erat hubungannya dengan Mussolini. Sudah lembap guntingan komik anak-anak Flippie Flink karya Clinge Doorenbos yang berseri di Java Bode.

Kami bersekian memiliki profesi yang berbeda satu sama lain. Para penggemar edisi Marvel dan DC terbaru menjadi pemikat yang mengumpulkan kami sebulan sekali. Ada yogi, dokter, pekerja grafis, sejumlah jurnalis, juga beberapa mahasiswa sastra dan sosial-politik. Di kafe-kafe terpencil, setiap kali berpindah kota: Groningen, Breda, Tiel, atau Maastricht. Akhir 2022, kami bersenda di tempat minum kopi Roosendaal, sebelum masing-masing menyampaikan resolusi. Setelah semua tenang, Ven bilang bahwa dia mendukung keinginanku.

Baca juga  Kambing

“Aku punya beberapa pilihan, mana yang paling menarik buatmu. Mengenalmu juga sebuah keberuntungan kalau tak disebut kebetulan belaka. Aku kurang bisa menulis, padahal sejak tiga tahun lalu ingin membuat novel untuk menampung semua pengalamanku.”

“Tentu kumpulan peristiwa menarik kalau kamu berniat menyimpan dalam bentuk buku.” Aku manggut-manggut tanpa menunjukkan hasrat mengetahui kisah-kisahnya. “Padahal bisa saja menggunakan ghost writer.”

“Nah, itu dia. Sebentar … apakah hantu bisa menulis?” Matanya tampak jenaka. Lalu kami tertawa. Aku tidak perlu menjelaskan, dia pasti tahu maksudku. “Bagaimana kalau aku memilihmu sebagai hantu?”

Eits! Apa yang kudengar? Aku menuliskan pengalaman, katakanlah … petualangannya?

Sejak awal aku mengenal Ven, dia menunjukkan keunikan. Seperti tukang kayu, dia selalu menyelipkan rokok di telinga kanan karena telinga kirinya tertutup rambut. Sisi kepala kanan selalu dicukur seperti seorang tentara yang patuh. Sehabis dia menyalakan rokok dan mengisapnya seperti pemadat bertemu ganja setelah berbulan-bulan puasa, kulihat kembali terpasang sebatang sigaret di telinga kanannya. Tatapanku selalu luput, kapan dia menaruhnya di situ. Gigi depannya mirip milik kelinci, lebih panjang dibanding gigi seri umumnya—sejumlah gadis berupaya keras memiliki ciri khas seperti itu—tetapi di mulut Ven kedua gigi itu seperti kapak tampak samping. Mula-mula kulihat aneh, tetapi setelah berulang-ulang memandangnya tertawa, menjadi terbiasa.

Seperti juga senja itu saat kami jauh di atas bukit, dia terkekeh. Mobil sudah diparkir di depan bangunan bergaya Gothic. Rumah itu masih tampak kukuh walaupun beberapa bidang ditumbuhi lumut dan tanaman bersulur yang merambat di berbagai tempat. Ven mendahului turun dari mobil setengah caravan, diakui sebagai warisan ayahnya yang selagi muda gemar berkelana dengan pacar-pacarnya, tetapi tidak seorang pun menjadi ibunya.

Aku menurunkan ransel yang menggembung karena, selain laptop, ada beberapa lembar pakaian ganti. Aku mengikuti Ven turun.

“Kita perlu mengucap salam dengan gaya masa kini saja. Walaupun rumah ini kosong, aku yakin banyak penghuninya,” Ven menjelaskan. Materi ucapannya cukup mengagetkan walau tidak menampakkan dia serius. Dia malahan sudah menyalakan rokok, sudah pula kulihat sebatang rokok menggantikan posisi di telinga kanannya.

“Seharusnya tidak mendadak seperti ini. Aku perlu latihan ….” Kalimat itu batal terucap mulutku. Seperti teringat pernyataan sastrawan Indonesia, Budi Darma, bahwa tidak diperlukan sastra madya. Itu menyinggung perasaanku sebagai penulis pop Negeri Kincir Angin yang ingin beranjak merambah novel-novel berkelas.

“Kamu yakin akan menulis di sini?” Ven membuka pintu “hanya” dengan meraba urat kayu yang mirip payudara di setentang dadanya. Hawa dari dalam berembus membawa bau nenas kelewat matang. Bergantian dengan cucian dalam rendaman cairan pemutih. Hei, apakah aku akan sanggup? “Mudah-mudahan lampu bisa menyala. Kami selalu membayar tagihan listriknya.”

Baca juga  Shalat Istisqa

“Tidak kulihat kabel listrik—”

“Semua tertanam di tanah,” Ven memotong. Dia menyalakan korek api. Kukira hendak mencari saklar karena memang di dalam rumah lebih gelap dibanding langit senja yang tampak dari jendela. Kemudian kulihat di dinding, terdapat lampu tempel dengan bejana kaca yang berisi cairan … merah.

“Mirip darah, ya? Tapi mestinya kamu sebagai penulis pernah melakukan riset bahwa darah golongan tertentu dapat menjadi bahan bakar. Apa golongan darahmu?”

“B negatif,” jawabku spontan.

“Nah, benar, itu yang paling bagus dan membuat nyala api lebih terang.”

“Aku baru tahu …,” ujarku ragu. Bulu halus di tengkuk, kalau memang ada, terasa menegak. Ven pemuda pemberani, pikirku kagum.

“Tapi kaubilang tadi ada aliran listrik ….”

“Jangan khawatir. Kita mesti berdamai dengan semua penghuni yang menggemari kegelapan. Lampu-lampu benderang membuat mereka gelisah. Menulislah di kala siang. Untuk laptop dan ponselmu, bisa diisi setrum di sini.” Ven menunjukkan beberapa lubang stopkontak.

“Kapan terakhir kamu tidur di sini?” Aku berharap dia akan menginap menemaniku.

“Mungkin akan berpuluh kali tidur di sini dalam beberapa tahun ke depan. Jadi, tidak bisa kujawab pertanyaanmu itu.” Kembali Ven terkekeh. Dalam temaram lampu minyak merah, kilau matanya membuatku jeri. Aku mulai curiga bahwa Ven bukan manusia biasa.

“Apakah sebaiknya kubatalkan niatku?” Pertanyaan itu juga gagal melompat dari mulutku. Kuikuti langkah Ven sembari menyalakan satu per satu lampu tempel di lorong.

“Rumah ini warisan nenekku untuk Ayah. Tetapi, seperti yang kuceritakan, Ayah hanya ingin punya rumah dengan sertifikat mobil.” Ven tertawa dengan sepasang sisi kapak di antara deretan gigi atasnya. Aku tidak membaca novel-novel vampir karena tidak suka. Sedikit heran, bagaimana mungkin gadis-gadis menggilai pemuda tampan yang kelak mengisap darahnya? Ven juga tampan, mirip para bintang film. Seharusnya banyak perempuan gandrung kepadanya.

Aku melamun sambil menimbang ragu. Ransel terasa semakin berat bukan karena beban, melainkan oleh cemas dan takut. Sampai juga kami pada deretan kamar. Tiga pintu kami lewati.

“Dengar, ini ada beberapa kamar. Boleh pilih satu, asalkan bukan kamar besar itu. Di sana banyak barang milik ibuku, juga koleksi harmonikanya. Ibuku akan bermain harmonika bila kangen Ayah.”

Untuk memastikan dan mengingatkan aku, Ven mendorong pintunya. Dari celah yang melebar, terlihat banyak buku serupa perpustakaan kecil. Dari kamar meruap sayup aroma black noir. Harum maskulin yang membuat gairahku bangkit.

“Bagaimana aku mendapatkan makanan dan minuman? Aku tak membekal banyak, hanya untuk dua harian,” kataku.

Tempatnya yang jauh dari peradaban membuatku mesti berpikir ulang. Kuingat dalam setengah jam perjalanan terakhir, tidak ada kendaraan umum. Nah, kecuali Ven juga akan tinggal bersamaku. Mobilnya bisa kami gunakan sesekali turun ke kota.

Baca juga  Kopiah Hitam Bapak

“Nanti kamu akan terbiasa tidak makan,” ujar Ven. Aku tidak menemukan pandangan bercanda di matanya. “Bukankah kamu sedang mencari pengalaman di luar kebiasaan?”

Penulis juga manusia. “Aku butuh makan, Ven. Bisa minum kopi berlebihan atau merokok tak berhenti sepertimu. Setidaknya ada biskuit atau roti tahan lama untukku saban hari.”

“Sebetulnya di pekarangan sekitar rumah banyak pohon buah tanpa kenal musim. Ada apel, pir, lemon, plum, arbei, labu, asalkan berani mengusik sarang ular dan unggas liar. Kamu perlu berlatih lempar pisau untuk memburu mereka.”

“Astaga, Ven …. Mungkin aku semakin mengenalmu, tetapi mengapa kamu makin terasa asing?”

Ven berbalik dan memegang kedua pundakku seperti seorang kakak yang meyakinkan adiknya bahwa semua akan baik-baik saja. “Dengar, sejak awal aku senang bertemu denganmu. Lalu aku memilihmu sebagai hantu. Jangan membuatku kecewa!”

“Sejak usia 18 tahun, berarti 18 tahun yang lalu, aku menulis sebagaimana lazimnya penulis. Sementara ada kawanku sambil menyelam di kedalaman 20 meter menulis puisi dengan pensil di papan melamin. Dalam dua bulan, dia menghasilkan satu buku puisi bawah laut. Aku senang mendengar kabar yang masih angan-angan itu.” Kuhela napas seakan-akan menarik beban 2 ton dengan kedua lenganku. “Kamu akan duduk bercerita dan aku mencatatnya?”

“Nah! Selagi belum ada ikatan apa pun dengan orang lain, gunakan kebebasanmu untuk bertualang habis-habisan. Menulislah dengan keadaan yang sama sekali berbeda. Menulislah sebagaimana hantu! Mula-mula tentu harus mendengarkan seluruh kisahku.” Ven memegang kedua pundakku lagi. Ia tersenyum penuh arti meskipun aku tidak mampu mengartikannya. “Di balik bukit ini ada dinding berusia 4.000 tahun. Kita mulai dari situ.”

Seharusnya aku sedikit lega. Sepanjang dia menyampaikan pengalamannya, aku masih berdua dengannya. Namun, seperti yang dikatakannya, aku kemudian terbiasa tidak makan apa pun. Aku begitu terpesona oleh kisah-kisahnya yang hampir seluruhnya tidak masuk akal. Bertahun-tahun aku tekun menulis dengan keyakinan: itu akan menjadi novel luar biasa.

Satu hal yang membuat aku sangat kecewa adalah ketika pada suatu senja pintu rumah-kosong-harga-mati yang kami huni itu dibuka oleh seorang pemuda bergigi sepasang kapak miring yang dipanggil Ven oleh pemuda yang tatapannya dipenuhi rasa takut. ***

.

.

Jakarta, 22 Januari 2023

Kurnia Effendi, menulis sejak 1978. Telah menerbitkan 25 buku beraneka genre. Tinggal dan bergiat di Jakarta.

.
Rumah Kosong Harga Mati. Rumah Kosong Harga Mati. Rumah Kosong Harga Mati.

Loading

Average rating 2.8 / 5. Vote count: 6

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!