Cerpen, Indarka PP, Suara Merdeka

Pencari Cahaya

Pencari Cahaya - Cerpen Indarka PP

Pencari Cahaya ilustrasi Suara Merdeka

3.3
(4)

Cerpen Indarka PP (Suara Merdeka, 05 Maret 2023)

AWAN gelap yang berarak-arakan sepanjang pagi hingga siang berakhir pecah pada sore harinya. Tanah yang belum kering betul sisa hujan kemarin, kini bertambah basah. Keadaan demikianlah yang membuatku ingin segera keluar dari tempat pengap ini.

Menjelang malam, ketika hujan mereda, aku dan sekawanan lainnya menyusun jalur sebagai pintu utama. Saat sudah berhasil muncul di permukaan tanah, aku mulai terbang dan berputar-putar girang di udara. Aku merasa senang karena kedua sayapku bisa mengepak-ngepak bebas. Sesekali setitik air menghujam sayap tipisku, membuat segalanya kian menggembirakan.

Setelah puas dengan perayaan kecil ini, aku pun gegas menyusul kawan-kawanku yang sudah berhambur menjauh. Menurut kesepakatan, kami akan mengarah ke tempat-tempat yang mana terdapat banyak cahaya.

Dalam waktu yang tak terbilang lama, kami tiba di suatu tempat dengan cahaya yang begitu terang. Kami berpencar. Dan entah mengapa, aku memilih menuju ke sebuah bangunan yang menurutku bercahaya paling terang di antara bangunan lain. Bentuk bangunan itu pun terbilang unik, karena dikelilingi oleh menara-menara tinggi yang menjulang ke langit.

Begitu masuk, kudapati ruangan luas, di sekitar dindingnya terdapat hiasan yang cukup menakjubkan. Oh tidak hanya itu, bahkan aku juga melihat sekumpulan orang sedang menghadap ke arah yang sama, memeragakan gerakan-gerakan senada. Di antara mereka, kusaksikan ada semacam penyekat yang membagi mereka menjadi dua kelompok berlainan: laki-laki dan perempuan. Dari semua yang tertangkap oleh pengelihatanku, yang cukup menarik adalah keberadaan seorang laki-laki dengan ciri berjubah putih bersih, mengenakan penutup kepala, serta berkalung selembar kain di sekujur tengkuknya, tegap berdiri di bagian depan sekali.

Seraya melayangkan tubuh di dekat sumber cahaya, sesekali aku mencuri pandang perihal apa yang orang-orang ini lakukan. Setiap kali laki-laki yang paling depan bergerak, pastilah orang-orang di belakangnya meniru dengan saksama. Hingga akhirnya laki-laki itu membalikkan badan, menghadap para pengikutnya—begitulah kini aku menyebut mereka. Kemudian ia mulai menyampaikan banyak hal dengan pelan dan tenang, disertai lantunan-lantunan syair. Pengikutnya pun serentak menandaskan dengan ucapan, “Aamiin,” dan, “Aamiin,” dan sekali lagi, “Amiin.”

Baca juga  Memendam Luka di Kebun

Di tengah kesungguhanku memerhatikan tabiat unik ini, kawan-kawanku pun berduyun-duyun datang menyusul. Seketika, orang-orang di bawahku mengalihkan perhatian ke arah kami.

“Laronnya pada keluar, ya,” ucap seorang dari mereka.

“Lampunya dimatikan saja, biar tidak mengotori,” sergah yang lain.

Mula-mula aku tidak mengerti maksud perkataan itu. Akan tetapi ketika sadar bahwa satu per satu sayap mulai tercerabut dari tubuh kawan-kawanku, aku jadi menyadarinya. Beruntung sekali sayapku masih terjaga, yang mana membuatku tetap mampu berterbangan di sekitar cahaya.

Percakapan terus berlangsung di antara orang-orang. Di sela-sela itu, tiba-tiba saja pendengaranku mendenging tajam. Sambil mengerjap, laki-laki yang paling depan tadi menarik perhatianku lantaran terlihat sibuk meraih saku jubahnya. Ya, dari sanalah suara berasal. Sebuah benda asing dipegangnya barang sebentar, lalu dimasukkan kembali ke tempat asal.

Tak lama, sekumpulan orang itu bangkit dan meninggalkan ruangan megah ini. Maka tinggallah laki-laki berjubah putih seorang diri. Ia bersihkan sayap-sayap yang berserakan di lantai. Ketika selesai, ia menekan sesuatu yang menempel di dinding. Dengan begitu, cahaya-cahaya pun raib. Gelap menyelimuti bangunan ini.

Aku dan kawan-kawanku—yang tersisa—memutuskan bergeser mencari suaka lain. Kami kembali berpencar. Banyak cahaya terpancar dari rumah-rumah. Saking banyaknya, aku sempat limbung hendak menuju ke mana. Namun hal demikian tak berlangsung lama, karena setelah kuperhatikan, dalam jarak sekian kepakkan sayap, terdapat pendar cahaya yang terangnya nyaris serupa dengan ruangan megah yang baru saja kutinggalkan. Maka gesitlah aku terbang mendekat.

Belum lama aku menikmati kehangatan dari cahaya di rumah ini, lagi-lagi kawan-kawanku datang menyusul, membuat suasana riuh dan kacau. Kami berebut posisi terbaik: sedekat mungkin dengan cahaya. Namun keributan kami tak berlangsung lama. Tampaknya pemilik rumah telah sadar akan keberadaan kami. Sebab, dalam hitungan lima kepakan sayap, cahaya malah dipadamkan.

Baca juga  Keroncong Pembunuhan

Kejadian ini lantas membuatku heran. Setiap aku dan kawan-kawanku datang, orang-orang buru-buru menyembunyikan cahayanya. Semenjijikkan itukah kami di hadapan mereka?

Tak ada alasan lain, aku harus mencari cahaya lagi. Namun kali ini aku tidak ingin ikut bersama kawan-kawanku. Aku tak mau kejadian sebelumnya terulang. Aku terbang menjauh, sampai akhirnya tiba di sebuah rumah. Di rumah inilah aku akan mendapatkan ketenangan serta keleluasaan. Demi menyingkat waktu, aku lantas masuk melalui lubang sempit yang kutemukan di atas jendela.

Aku baru saja masuk di sebuah ruangan kecil yang di dalamnya ada seorang perempuan. Dalam pandanganku, ia tengah asyik-masyuk memegangi sebuah benda asing yang belum kuketahui namanya. Ah, aku tak begitu peduli akan hal itu. Aku lebih tertarik dengan pancaran cahaya. Meski tak seterang cahaya dari dua tempat yang kusinggahi tadi, bagiku ini sudah cukup.

Aku berputar-putar riang. Sesekali hinggap dan berjalan menyusuri dinding, lalu terbang lagi, dan lagi. Kendati sudah lumayan lama aku berada di ruangan ini, perempuan di bawahku tampak tak terganggu.

Di tengah kegembiraanku menikmati kehangatan, tiba-tiba terdengar suara dari balik jendela. Perempuan di bawahku buru-buru bangkit, lalu mendekati sumber suara. Seorang laki-laki masuk dengan penuh kehati-hatian, terlihat dari cara ia melewati jendela seperti mahkluk melata. Dalam waktu singkat, si perempuan gegas menutup kembali pintu jendela itu.

Kedua orang di bawahku kini saling berhadapan. Mereka bertaut pandang, lalu berpelukan. Sesaat kemudian bibir mereka berpagut satu sama lain. Semakin lama, tampak semakin ganas. Barulah ketika adegan adu bibir usai, aku dapat melihat siapa laki-laki itu sebenarnya. Tak lain ialah laki-laki berjubah putih dari ruangan megah yang tadi sempat kusinggahi.

Laki-laki itu meraih tubuh perempuan di hadapannya, membopong, dan membaringkannya di ranjang. Seperti tergesa untuk menuntaskan banyak hal yang tertahan, ia lantas melepas pakaian hingga seluruh penutup di tubuh wanita itu tanggal. Kemudian laki-laki itu mengarahkan pandang ke kiri dan ke kanan, menyapu segala sudut-sudut ruangan. Tatapannya terhenti. Ia lantas bangkit. Tangannya meraba dinding. Dan, klik, cahaya lenyap. Ruangan kecil ini disergap gelap.

Baca juga  Mengganti Nama dengan Mesin Waktu

Aku benar-benar tak habis pikir. Meski datang seorang sendiri sekali pun, tetap saja membikin laki-laki sialan itu memadamkan cahaya. Selain menjijikkan, rupanya kehadiranku juga dinilai sebagai pengganggu.

Di tengah rasa jengkel yang bergelayut pada tubuhku, aku mendapati sorot cahaya yang menyelinap dari celah di atas pintu. Gegas aku melewati celah itu, dan menemukan ruangan besar yang bercahaya justru lebih terang.

Aku melayang-layang demi menebus kekesalan. Tanpa kusadari, ternyata di bawahku ada seorang laki-laki yang terduduk di sebuah kursi roda. Saat melihatnya hanya mematung dan tak berbuat apa-apa, aku berpikir laki-laki itu tak bakal membuatku terganggu, begitu pula sebaliknya.

Setelah lama berpusing-pusing di udara, aku pun hinggap sejenak. Selang beberapa waktu, aku mulai sadar kalau yang kuhinggapi ini bukanlah dinding, melainkan sebuah bingkai bergambar. Aku kembali terbang untuk mengamati secara jelas gambarnya. Kulihat dua orang sedang bersandingan dan bergandeng tangan. Laki-laki dan perempuan. Kuamati lebih jeli, rupanya laki-laki di gambar tersebut ialah orang yang sekarang duduk di kursi roda. Sedangkan si perempuan tak lain yang saat ini sedang berada di tempat singgahku sebelumnya.

Aku melanjutkan penerbanganku sekhidmat mungkin. Namun celaka bagiku, sayap-sayap ini mulai patah satu demi satu. Aku goyah. Tubuhku yang ringkih tersungkur tepat di paha laki-laki berkursi roda. Dengan sisa-sisa tenaga, aku mulai merayapi tubuh malangnya. ***

.

.

Indarka PP, lahir di Wonogiri, Jateng. Saat ini bermukim di Mamuju (Sulbar). Menulis buku “Penumpasan” (Sirus Media, 2021), dan bergiat di Komunitas Kamar Kata.

.
Pencari Cahaya. Pencari Cahaya. Pencari Cahaya. Pencari Cahaya. Pencari Cahaya.

Loading

Average rating 3.3 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!