Cerpen, Solopos, Yogi Dwi Pradana

Kliwon

Kliwon - Cerpen Yogi Dwi Pradana

Kliwon ilustrasi Hengki Irawan/Solopos

3.8
(5)

Cerpen Yogi Dwi Pradana (Solopos, 18-19 Maret 2023)

“SETELAH pengajian di masjid selesai, kita mulai ya, Sayang.”

“Ya.”

Suara ceramah sudah tak terdengar. Jarak rumah Klucur dengan masjid cukup jauh. Namun, suara toa masjid cukup terdengar sampai rumah Klucur.

“Sudah selesai.”

“Belum.”

“Belum apa?”

“Tunggu sampai orang-orang benar-benar sudah sampai rumah. Nanti, Pak Toyib, Bu Kusnan akan lewat jalan samping rumah kita.”

“Biar saja.”

“Aku malu. Kita masih….”

“Halah. Tak usah malu, meskipun kita masih sepasang pengantin baru, tapi, itu sudah bukan aib, bukan zina, Sayang.”

***

“Mas, mau ke mana?”

“Seperti biasa, Sayang.”

“Halah. Kamu itu apa enggak bisa beneran berhenti sabung ayam? Kasihan ayamnya, Mas.”

“Sayangku…. Aku sudah sangat lama bermain ayam. Bahkan, sebelum aku mengenalmu aku juga sudah bermain ayam. Kau juga mencoba memaklumi hobiku bukan?”

“Terserah kamu saja lah, Mas. Sudah capai aku ngasih tahu kamu.”

***

“Klucur datang. Klucur datang.”

“Iya. Mari sini, Cur. Keluarkan ayam yang kau bawa. Ini ada lawan. Banyak. Tinggal pilih.”

“Halah. Aku baru saja datang, belum turun dari motor sudah kalian buru-buru saja. Sebentar.”

Di sebuah tanah kosong, kiri dan kanan ada pohon jati. Daun-daun gugur berserakan, berubah menjadi cokelat. Di situ sudah tersedia arena kotak yang disusun dari pasangan kayu-kayu kokoh berbentuk persegi. Ada kursi-kursi dari bambu yang disusun bertingkat. Orang-orang sibuk memperhatikan ayam-ayam yang berada di dalam kurungan.

Klucur menaruh ayamnya di dalam sebuah kurungan berbentuk persegi juga. Masih kosong beberapa kurungan.

Suara kokok ayam jago saling bersahutan. Ayam-ayam saling menunjukkan kelebihan masing-masing. Ada ayam yang berjalan tegak, ada ayam yang memperlihatkan tatapan mata tajam, ada ayam yang mengancam dengan jalu lancip, dan berbagai variasi ayam yang berada di arena persegi dalam kurungan masing-masing.

Baca juga  Pencuri Mayat

***

“Mas Klucur, ini ayam Anda sudah dapat lawan. Sekarang, tinggal Anda dengan beliau menentukan berapa taruhan yang akan dipasang?”

“Baik, Pak Ketut.”

“Bagaimana jika kita taruhan depan 600 ribu rupiah, taruhan luar 3 juta rupiah?”

“Ya. Boleh.”

“Baik, jika sudah ada kesepakatan, uang silakan digandeng di tempat saya.”

Klucur mengeluarkan uang dari kantong plastik hitam. Entah berapa jumlah uang yang ada di kantong plastik tersebut.

Tapi, setelah mengeluarkan uang sesuai dengan nominal taruhan depan yang telah disepakati, masih ada cukup uang di kantong plastik milik Klucur. Itu semua akan dibuat berjaga-jaga untuk taruhan luar.

***

“Ngapain pulang? Enggak tidur di arena saja?”

“Hahaha. Kamu kenapa, Sayangku? Dari tadi kok marah-marah saja sih? Masih kurang tadi malam?”

“Halah.”

“Itu juga ayam penuh luka-luka, berdarah-darah. Coba, Mas, kamu pikir jika kamu diadu dengan orang lain, apa kamu mau?”

“Hmm. Bagaimana ya?”

“Bagaimana? Hah?”

“Ah kamu. Sudahlah. Aku mau masuk dulu. Mau ambil obat buat ayam tercintaku.”

***

Klucur meletakkan kantong plastik hitam di atas kasur. Saat itu, Klucur sedang mandi. Karena seharian tadi berada di arena ayam, istri Klucur penasaran. Dia membuka kantung plastik itu untuk mencari tahu apa isinya. Astaga. Istri Klucur kaget melihat isi yang ada di dalam kantong plastik.

“Mas, habis ngrampok bank ya kamu?”

“Hadeh. Hadeh. Hadeh.”

“Dapat dari mana kamu uang sebanyak ini? Ini setara dengan gajimu dua bulan.”

“Ya jelas. Itu semua kudapat dari Si Kliwon.”

Astagfirullah, Mas. Siapa lagi itu Si Kliwon. Dukun dari mana? Atau siapa dia?”

“Loh. Loh. Jelas ayam kesayanganku, Sayang.”

Baca juga  Travelogue

“Mas, aku enggak mau dikasih nafkah dari uang seperti itu!”

“Loh. Loh. Aku juga enggak akan ngasih kamu uang itu.”

“Terus?”

“Ya kamu ambil saja sesuai kebutuhan itu di dompet dalam almari kita. Itu uang dari gajianku. Aku juga selalu memberikan uang gajianku, semua kepadamu bukan, Sayang?”

“Hmm, terserah, Mas.”

***

“Sayang?”

“Hmm?”

“Halah. Halah. Masih saja cuek.”

“Kenapa?”

“Apakah kamu tahu?”

“Tahu apa?”

“Tadi malam itu kan malam Jumat Kliwon.”

“Ya, tahu, setiap malam itu ada pengajian rutin di masjid.”

“Ya, kamu cerdas, Sayang.”

“Lalu?”

“Sayang, percaya atau tidak percaya, Si Kliwon itu ayam mistis.”

“Ayam lagi. Ayam terus. Tidur sama ayam saja sana kamu, Mas.”

“Sayang, Si Kliwon itu benar-benar ayam mistis. Bukan sembarang ayam. Si Kliwon sudah menang tujuh kali. Dan, itu mengeluarkan Si Kliwon tidak boleh sembarang. Ada syarat dan kebiasaan dari pemilik sebelumnya.”

“Halah. Apa memang syarat dari pemilik sebelumnya?”

“Pertama, Si Kliwon harus keluar ketika pasaran Kliwon. Kedua, harus melihat ke arah mana ketika Si Kliwon tidur pada malam hari, misalnya kepala Si Kliwon ke arah barat, sebisa mungkin kita bawa Si Kliwon ke arena yang sejalan dengan barat. Ketiga, jika sudah punya istri, usahakan memberikan jatah istri ketika malam Kliwon tersebut.”

“Halah. Gila. Percaya saja kamu sama hal begituan.”

“Sayang…. Ini serius. Bermain ayam itu tidak sembarangan.”

“Halah. Terserah.”

***

Sudah dua minggu. Istri Klucur akhir-akhir ini mulai banyak ribut, cemberut, mempermasalahkan hal-hal yang sepele.

“Sayang?”

“….”

“Sayangku?”

“….”

“Ada apa?”

“Pikir saja sendiri.”

“Aku salah apa, Sayang?”

“Pikir saja sendiri.”

“Sepertinya aku juga sudah melakukan yang terbaik. Aku selalu pulang. Aku selalu bekerja. Aku selalu memikirkan jatah uang untuk keluarga kita. Aku juga tidak main perempuan. Lalu, apa salahku, Sayang?”

Baca juga  Lembaran Baru

“Pikir saja sendiri.”

“Sayang, aku bingung.”

“Kapan kamu terakhir kali melakukan itu kepadaku?”

“Itu apa, Sayang?”

“Pikir saja sendiri.”

“Oh ya, aku tahu…. Kau ingin, Sayang?”

“….”

“Sayang…. Tunggu dulu…. Kita akan melakukan itu besok tepat malam Kliwon…. Esok harinya, aku akan membawa Si Kliwon berangkat ke arena juga…. Sabar, Sayang.”

“Kamu sudah gila. Gila. Yang ada di pikiranmu hanya Si Kliwon saja. Sekarang, kau cepat keluar dari kamar. Tidur di luar. Jauh-jauh dariku.”

“Sayang….”

“Keluar!”

***

“Sayang?”

“Hmm?”

“Kita mulai sejak sore saja ya?”

“Hmm.”

“Baiklah.”

Semenjak perdebatan terakhir itu, kini Klucur dan istrinya melakukan hubungan intim setiap malam Kliwon ketika Si Kliwon akan dibawa bertarung oleh Klucur ke arena. Namun, suatu saat jika Si Kliwon sudah tidak tarung atau mati, bagaimana Istri Klucur akan menunggu waktu untuk melakukan percintaan itu dengan suaminya? ***

.

.

Bantul, 11 Januari 2023

Yogi Dwi Pradana, mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Negeri Yogyakarta. Aktif di Komunitas Lampu Tidurmu. Karyanya pernah dimuat di beberapa media cetak dan daring, serta memenangi perlombaan menulis karya sastra. Dapat disapa melalui akun Instagram @yogidwipradana.

.

.

Loading

Average rating 3.8 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!