Cerpen, Fuad Zawatri, Kedaulatan Rakyat

Geger Kerbau Pak Danu

Geger Kerbau Pak Danu - Cerpen Fuad Zawatri

Geger Kerbau Pak Danu ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

2.9
(7)

Cerpen Fuad Zawatri (Kedaulatan Rakyat, 17 Maret 2023)

DESA Gardusewu geger. Banyak warga yang sudah berkumpul di halaman dan sekitar Balai Desa. Hari itu kerbau Pak Danu akan disidangkan. Orang-orang ramai membicarakan ulah kerbau milik pensiunan tentara itu. Persidangan itu untuk menghakimi kerbau Pak Danu yang telah mengamuk tiga hari yang lalu. Kerbau itu sudah mengobrak-abrik kebun buah dan sebagian garasi mobil Pak Lurah Murkanto. Beberapa kebun warga lain juga menjadi korban amukan kerbau tersebut, tetapi tidak separah yang terjadi di rumah Pak Lurah. Akan tetapi, kenapa harus kerbau yang dihakimi?

Warga Desa Gardusewu merasa senang mengetahui adanya persidangan itu. Tetapi, sebagian yang lain sangat menyayangkan akan keputusan itu. Mereka beranggapan kalau sebenarnya yang harus disalahkan adalah Pak Danu, pemiliknya. Kenapa tiba-tiba kerbau Pak Danu mengamuk, seperti kerbau gila? Padahal, selama ini kerbaunya tidak pernah menganggu orang dan lingkungan.

“Mengapa hanya kerbau yang disalahkan?” tanya salah seorang warga yang berkacamata.

“Kenapa Pak Danu tidak ikut diperiksa?” sahut yang lain.

“Harusnya juga dicari penyebabnya dulu. Kenapa tiba-tiba kerbau Pak Danu mengamuk?” Yang berpeci miring tak mau kalah menanggapi.

Pak Danu mendengar percakapan mereka terdiam dan tertegun. Bagaimana semua ini bisa terjadi? Kenapa dengan hewan yang sudah hampir setahun bersamanya tiba-tiba seperti marah. Mengamuk tanpa terkendali. Kalau karena kelaparan, ia yakin tidak. Karena Pak Danu dua sampai tiga kali sehari memberi makan kerbaunya. Ia pun tak memperlakukan kasar dan keras. Selama ini kerbaunya lebih banyak berada di kandangnya. Kerbaunya menarik bajak di sawah bisa dihitung dengan jari dalam setahun. Lebih sering Pak Danu memanjakan hewan itu.

Baca juga  Ujian Pertama Seorang Dai

Dan pada siang hari itu, kerbau Pak Danu sudah di tengah-tengah pekarangan samping Kantor Balai Desa. Hewan yang berbadan gemuk, kuat, dan bertanduk keras itu dihadirkan sebagai tertuduh. Yang namanya hewan, ia tidak memahami dan mengerti apa yang sedang terjadi dengan dirinya. Apalagi berekspresi. Mana ada dan bisa hewan menunjukkan ekspresi yang bisa dibaca manusia. Namun, siapa tahu, apa yang dirasakan oleh kerbau seperti perasaan orang yang sedang menjadi sasaran pelampiasan kemarahan. Bukankah kerbau juga makhluk Tuhan yang juga jelas dikaruniai perasaan? Seandainya ia dapat berbicara, tentu kerbau itu akan mengungkapkan apa saja yang dirasakannya.

Sayang kerbau tidak bisa berbicara, tidak bisa curhat ataupun mengadu. Ia hanya bisa mendengus berulang kali. Sepertinya, kerbau itu sangat gelisah dan mungkin juga ketakutan. Beberapa orang menganggapnya karena ia sedih dan malu. Sebagian yang lain melihatnya, kalau kerbau Pak Danu itu marah dan jengkel karena harus diposisikan sebagai tertuduh. Tetapi, itu semua tidak ada yang tahu pasti apa yang dipikirkan dan dirasakan kerbau itu.

***

Di kamarnya senyum Roki tertahan. Rasa puas dan senang yang tadinya memenuhi dadanya, tiba-tiba terasa menyesakkan. Perasaan takut dan panik mulai menyusupi dadanya. Bagaimana kalau Ayah tahu, mengamuknya kerbau Pak Danu itu karena ulahnya, usik batin Roki. Kerbau milik Pak Danu, ayah dari gadis yang ia cintai itu seperti kerbau gila. Menerjang dan mengobrak-abrik apa saja yang ada di depannya atau yang menghalanginya. Sama gilanya Roki terhadap Jamilah, perawan tercantik di desanya, putri Pak Danu. Dasar! Kerbau tak tahu aturan! Aaghh! Roki merutuk kerbau itu atau sebenarnya mengutuk diri sendiri?

Baca juga  Resep Sambal Rahasia

Kenapa kau menolak cintaku, Jamilah? Mengapa kamu abaikan rasa sayangku? Apa sih kekuranganku? Pertanyaan-pertanyan muncul dalam benak Roki. Roki ingin membalas sakit hatinya lewat kerbau ayah gadis itu. Ia masukkan ramuan tertentu ke mulut hewan itu supaya ia mengamuk kepada pemiliknya atau merusak lingkungan desa. Sudah pasti, hewan itu dan pemiliknya akan dituduh sebagai biang keonaran. Namun, apa yang terjadi? Kerbau itu malah mengamuk dan memorakporandakan kebun buah dan garasi rumah bapaknya sendiri.

Roki kini merasa sedih dan masih termangu. Apa yang telah dilakukannya demi gadis tercintanya? Siapa seharusnya yang disalahkan? Kerbau Pak Danu atau anak gadisnya? Ah, jelas bukan Jamilah. Sederet pertanyaan kesal menggoda dan menghampiri pikiran Roki. Bukankah seharusnya mencintai itu tidak boleh menyalahkan dan menyakiti? Ya, jelas dan benar. Roki mulai sadar, dirinya tidak boleh bertahan terus kalau ia tidak merasa bersalah dalam kasus tersebut. ***

.

.

Kutawis, awal ‘23

*) Fuad Zawatri adalah nama pena dari Fuad Sulistyono, pernah “mampir” di Fakultas Sastra UGM, kini menjadi pendidik di sekolah swasta Kabupaten Purbalingga.

.
Geger Kerbau Pak Danu. Geger Kerbau Pak Danu.

Loading

Average rating 2.9 / 5. Vote count: 7

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!