Cerpen, Jawa Pos, Sasti Gotama

Sima

Sima - Cerpen Sasti Gotama

Sima ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

4.1
(11)

Cerpen Sasti Gotama (Jawa Pos, 15 April 2023)

Kadiri, 1895

DITEMBAK karabijn di dada, dicambuk sampai mampus, ditebas kelewang tajam: Roemina telah membayangkan ribuan cara kematian, tetapi tak pernah terpikir olehnya dia akan berakhir sebagai selilit di sela-sela taring sima.

Begitu menatap sosok loreng itu, Roemina ingin lari, tetapi tubuhnya mendadak lunglai hingga dia jatuh terduduk. Sesaat dia lupa cara bernapas. Bebauan bunga kopi dan sisa hujan petang tadi melintas begitu saja di ujung hidungnya tanpa sempat terhirup aromanya. Telinganya dijejali bunyi ranting-ranting patah, telapak tangannya digelitik keringat dingin, dan bulu-bulu kuduknya setegak ilalang.

“Jangan makan aku,” bisik Roemina.

Sepasang mata kuning itu melindap. Ia menggeleng. Aku tak akan memakanmu. Aku cuma kucing. Aku tak memangsa daging segar.

Roemina ternganga. Walau harimau itu tak membuka mulut, Roemina bisa mendengar gema suara itu di kepalanya.

Sejak kecil aku hanya diberi nasi yang dicampur ikan pindang. Perempuan tua yang memeliharaku meyakinkanku bahwa aku hanyalah kucing hutan. Jika aku mengaum, dia akan melibasku dengan rotan. Dia berkata, aku hanya pantas mengeong seperti kucing-kucingnya yang lain. Dia mengikat leherku dengan rantai. Tapi, pagi ini perempuan itu mati dan aku pun lari.

Sosok itu semakin mendekat hingga Roemina bisa merasakan dengusannya di dahi. Lalu dia merasakan sesuatu yang hangat membasahi kebaya putih dan jarit truntumnya. Setetes, dua tetes, lalu menderas. Sosok itu oleng, lalu tumbang dengan suara berdebum di dekat terompah Roemina.

Roemina menyibak bulu-bulu kusam di bagian leher. Dia meringis melihat rantai besi panjang yang melingkari leher harimau itu. Namun, hatinya lebih teriris ketika melihat luka menganga di baliknya. Sepertinya luka itu tercipta ketika sang harimau memaksakan diri menarik rantai dari dinding.

Roemina berbalik ke rumah gedong dan memanggil para bujang untuk mengikir kalung besi dan menggotong tubuh harimau itu ke gudang. Para bujang saling pandang dengan mata tak setuju, tetapi Nyai Roemina tentu tak menerima kata “tidak”. Jika nyai mengadu kepada Meneer Jan Jacob yang saat ini sedang melawat ke Amsterdam, habislah mereka.

Malam itu, Roemina tidak tidur. Dia menyeka luka-luka di leher harimau yang tak sadar itu dengan sapu tangan bersulam bunga ungu yang dulu diberikan oleh Genggong, mantan suaminya. Diam-diam dia memberi julukan harimau itu Sima, yang berarti harimau dalam bahasa Jawa. Kala membersihkan ekor Sima, tahulah Roemina bahwa Sima adalah seekor pejantan.

Saat Roemina terbangun, matahari sudah meraja di langit. Kepala Sima sudah tegak, tetapi ia tak mengusik Roemina yang tertidur di perutnya. Roeminta bergegas bangun, membersihkan tubuh yang pekat keringat, dan memerintahkan kepada salah satu bujang untuk mencarikannya empat ayam hidup.

Baca juga  Nelayan yang Malas Melepas Jala

“Makan!” ujar Roemina kepada Sima sambil melempar ayam-ayam hidup itu.

Sima menggeleng. Aku tak terbiasa makan sesuatu yang hidup. Beri aku nasi dan ikan pindang.

“Tidak, kamu hewan buas. Kelak kau akan kembali ke hutan. Kau tak akan menemukan nasi dan ikan pindang di hutan. Jika tak kaubiasakan, kau akan mati.”

Aku tak bisa.

Roemina mengangkat bahu. “Terserah. Aku telah berbaik hati menyediakan ayam hidup ini. Silakan kaupilih: makan atau mati.”

Roemina menutup sepasang pintu jati tua bergagang gelang dari luar, lalu menyandarkan tubuhnya di sana. Ayam-ayam berkotek gelisah di dalam, tetapi sesungguhnya kepala Roemina lebih riuh.

Dia teringat Genggong. Waktu melamarnya dulu dengan seuntai kalung dan empat sapu tangan bersulam bunga ungu, Genggong begitu manis menebar janji-janji: akan setia dan memberinya segala yang dibutuhkan saat berumah tangga asalkan Roemina berhenti bekerja sebagai kerani di kebun Nyonya Eduard. “Kau itu garwa, sigaring nyawa-ku. Aku tak ingin hatimu terbelah, jadilah milikku saja dengan hinggap di rumah,” ucapnya dalam bahasa krama yang membuat Roemina sesaat mengawang di atas tanah.

Nyatanya, belum genap tujuh tahun menikah, Genggong menyodorkan Roemina ke Meneer Jan Jacob, tuan tanah kebun tebu tempat dia bekerja. Padahal mereka sudah beranak dua. Dengan pandangan sendu dia berkata, “Ini demi kebaikanmu, Roemina. Aku berkorban perasaan agar kamu bisa hidup berkecukupan. Jan Jacob menginginkan seorang moentji [1] yang pandai. Kamu bisa baca tulis. Kamu bisa bahasa Belanda. Sedangkan denganku, seorang buruh perkebunan, kamu dan anak-anak kita akan menderita selamanya.” Malam itu, hati Roemina rontok dengan kata-kata. Dia berniat menyimpan sapu tangan bersulam ungu itu selamanya. Paling tidak itu niatnya sebelum dia tahu bahwa Genggong lari dengan sinden sintal asal Ngadiluwih beserta kalung maskawinnya tanpa membawa anak-anak mereka.

Nyatanya Meneer Jan Jacob hanya menginginkan gundik “bermulut kecil”, yang penurut, tidak banyak bicara, atau tidak pernah protes dengan statusnya. Dia tak menginginkan anak-anak Roemina dan memaksa Roemina menitipkan pada ibunya. Jika mengingat itu, Roemina ingin mengumpat. Laki-laki, entah Londo atau rakyat jelata, sama saja. Mereka ingin menjadikan perempuan kucing-kucing rumah yang jinak dan gampang diatur. Perempuan hanya berguna jika dia membuka lebar kedua pahanya dan meluncurkan makhluk baru dari lubang peranakannya; atau ketika dia menyeduh kopi dan merapikan sepatu lelakinya yang berlumuran lumpur di pojok ruang tamu; atau ketika dia mengucek kerah-kerah bernoda di tepi sumur sambil memikirkan keadilan bagi kaumnya yang serupa sepasukan laron di musim hujan: hanya terbang singkat, lalu ada baiknya bersembunyi di lubang-lubang gelap.

Baca juga  Wakyat

Roemina kadang ingin lari. Tapi dia punya apa? Dulu ketika masih bekerja di kebun Nyonya Eduard, dia bisa mendapat beberapa keping gulden setiap bulan. Sekarang pekerjaannya sudah digantikan orang lain. Lagi pula, lari dari Jan Jacob, mantan anggota marsose yang lihai menggunakan karabijn dan kelewang, bukanlah perkara mudah. Belum lagi desas-desus yang berembus perihal kasus di Deli. Seorang nyai yang masih belia disalib selama 12 jam dalam kondisi telanjang di bawah matahari yang berkobar ganas. Muara peranakannya diolesi cabai Spanyol superpedas. Roemina memejamkan mata erat sambil bergidik nyeri.

Tiba-tiba Roemina menyadari ruang di balik pintu telah hening. Apakah Sima sudah berhasil melibas empat ayam betina itu? Pelan-pelan Roemina membuka pintu ganda. Di dalam, Sima tengah duduk dengan anggun, sementara empat ayam betina itu bertengger di punggung Sima. Roemina memutar matanya, sedangkan Sima menyeringai sedih.

Aku tak tega, katanya. Malam itu, Roemina memberi Sima nasi dan ikan pindang.

Hari kedua Roemina mencoba berkompromi. Usai merawat luka Sima, dia tinggalkan dua ekor ayam yang telah disembelih para bujang. Sima melontarkan pandangan mohon belas kasih. Beri aku nasi dan ikan.

“Tidak lagi. Kamu Sima, bukan kucing, dan kamu hanya makan daging.”

Sampai keesokan harinya, ayam itu masih utuh dan membusuk. Roemina geram. Padahal kondisi Sima sudah begitu lemah. Bergegas dia masuk ke dalam rumah gedong, lalu kembali dengan membawa sebuah cermin bulat bergagang perak. Disodorkannya di hadapan Sima.

“Lihat! Kau harimau.” Dengan sebelah tangan Roemina mengangkat mulut Sima hingga terlihat taringnya yang tajam. “Lihat, ini untuk mengoyak daging, bukan nasi.” Roemina menunjuk ke kaki Sima, “Otot kaki untuk berlari kencang, melompat, menerkam mangsa.” Roemina menatap Sima tepat di mata. “Jangan percaya kata orang yang ingin membuatmu jadi kucing. Kamu Sima. Kamu pemangsa.”

Sima mencoba meraung, tetapi hanya terdengar ngeongan menyedihkan. “Lagi!” seru Roemina. Sima mencoba lagi, lagi, dan lagi, tetapi selalu gagal. Roemina mendengkus kesal. Dia masukkan lima ekor ayam hidup ke dalam gudang, lalu menguncinya dari luar. “Aku tak akan kembali sampai semua ayam itu bersarang di perutmu.”

Malam itu, dari dipan berselubung kelambu, Roemina mendengar kotekan ayam-ayam yang riuh, lalu sebuah auman menggelegar, lalu jeda panjang. Sunyi. Roemina tersenyum. Seekor Sima telah terlahir kembali.

Baca juga  Raksasa dan Sebatang Pohon dalam Kepalaku

Satu bulan setelahnya, saatnya perpisahan. Luka Sima telah menutup. Tubuhnya mulai berisi. Pandangannya tajam. Sebetulnya, Roemina ingin Sima tetap berada di dekatnya, tetapi Jan Jacob sebentar lagi kembali. Terlalu rumit jika Roemina harus menjelaskan kepadanya. Roemina pun telah menyuap para bujang dan rewang di rumah agar menggembok mulut mereka rapat-rapat. Ketika menuju rerimbunan hutan, beberapa kali Sima menengok ke belakang. Matanya ragu. Namun Roemina memberinya lambaian tangan. “Kamu bisa.” Sima mengangguk, melangkah, lalu tubuhnya ditelan dedaunan.

***

Mangsa kesebelas. Dhesta hapit lemah dalam penganggalan Saka. “Besok sore ada acara rampogan sima. Berdandanlah. Jangan bikin aku malu,” cetus Jan Jacob dalam bahasa Belanda saat makan malam. Roemina terkesiap. Dia ingin bertanya, tetapi lidahnya kelu. Namun tanpa dia lakukan itu, suaminya bercerita panjang lebar.

Seekor harimau jawa telah tertangkap. Diduga ia yang memangsa ternak para petani. Seorang jawara daerah Mbrang Kulon telah berhasil menangkapnya yang dibarter dengan 50 gulden. Tengah malam itu, Roemina berlutut dan berdoa agar itu bukan Sima.

Petang itu alun-alun di depan Kadipaten Kadiri telah tumpah ruah dengan manusia. Orang-orang berbondong-bondong ke arah paseban diiringi gending mongang. Para pembesar berdatangan. Gubernur jenderal duduk paling depan, sedang Roemina dan Jan Jacob di bagian belakang.

Tak lama beberapa orang membawa kandang besi. Tampak harimau jawa berputar-putar gelisah di dalamnya. Pintu jeruji dibuka oleh seorang gandek. Harimau itu keluar perlahan. Ia Sima.

Roemina merasa jantungnya anjlok ketika sorot mata Sima mampir ke matanya. Seperti dulu, dia bisa mendengar suara Sima bergaung di kepalanya.

Jangan khawatir. Aku bukan lagi kucing. Aku Sima.

Roemina merasa matanya basah ketika aba-aba diteriakkan. Dengan serentak, ratusan gladiator Jawa yang melingkari Sima menghunjamkan tombaknya seolah berlomba mengoyak sang harimau. Terdengar gelegar auman Sima. Semua penonton bersorak, tetapi tidak dengan Roemina. Jika Sima mati, dia pun mati.

Tiba-tiba salah satu gladiator tumbang, lalu Sima meloncat keluar kepungan. Ia berlari kencang yang membuat para penonton lari lintang pukang. Roemina sekali lagi mendengar gaung di kepalanya.

Roemina, kamu pun Sima. Lari! Lari!

Perlahan, Roemina beringsut ke belakang, lalu menghilang di kerumunan. ***

.

.

Catatan:

[1] moentji: perempuan pribumi yang menjadi gundik tentara Belanda

.

.

Sasti Gotama. Penulis buku Mengapa Tuhan Menciptakan Kucing Hitam? dan B.

.

.

Loading

Average rating 4.1 / 5. Vote count: 11

No votes so far! Be the first to rate this post.

1 Comment

  1. Anonymous

    Keren bangeeeet! Deep banget maknanya. Roemina sebenarnya adalah Sima

Leave a Reply

error: Content is protected !!