Cerpen, Jawa Pos, Raudal Tanjung Banua

Gema Takbir Bukit Tigapuluh

Gema Takbir Bukit Tigapuluh - Cerpen Raudal Tanjung Banua

Gema Takbir Bukit Tigapuluh ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

3.8
(4)

Cerpen Raudal Tanjung Banua (Jawa Pos, 29 April 2023)

LANGIT pengujung Ramadan terlihat bersih. Awan tipis menyisih persis di pucuk meranti. Daun-daunnya mengembang serupa atap. Sesekali olang mengepak di dahan paling tinggi. Di sana rajawali yang disucikan kaummu itu membangun singgasana.

Kautengadah, ingat surau kecilmu yang juga dinaungi sebatang meranti tua. Apa kabarnya bulan puasa begini? Tambah ramai atau makin sepi? Apa kabar kawan-kawanmu di surau kecil itu? Nofan, Dita, Ayu. Ketiganya pintar ngaji. Syamsudin yang lantang saat azan sehingga ia dipanggil Bilal Lantang. Atau Lian, sesekali beranikan diri jadi imam.

Kau sendiri didahulukan selangkah ditinggikan seranting. Itu kata Nofan dan Syam. Kaukira karena kau paling tua. Atau kau paling sering mengajak mereka ke surau. O, mungkin aku rajin sekolah, pikirmu lain waktu. Semua itu benar belaka.

Tapi ada yang tak langsung kaudengar. Di depan jemaah—saat kau tak ada—Wak Imam pernah bilang, pengetahuan agamamu bagus. “Anak itu bisa memimpin,” katanya. Seolah menemukan gaharu pilihan di hutan yang terancam.

Pakde Samin bahkan membawa filosofi Jawa menanggapi Wak Imam. Transmigran yang tinggal di dusun kalian itu sadar betul sulitnya dakwah di pedalaman. “Mudahan ia pulung bagi kampung, dan wangsit bagi sedulur,” katanya kalem.

Itulah tak heran, kau sering jadi imam bila Wak Imam sibuk di ladang. Sesekali kau diminta mengisi ceramah, bukan? Meski kau merasa malu bila ingat isi ceramahmu dulu.

Ah, kenangan itu terus menguntitmu. Sejak awal kau pergi, hingga saat kini kau kembali. Dari Air Molek kau naik ojek, dan turun di simpang. Lalu kaupilih jalan kaki, lewati jalan pintas, menghindar bertemu kenalan. Kau ingin lepas rindu dulu dengan amai.

Rasa tercium goreng ikan sungai yang gurih di kuali amai. Getas daun pucuk ubi dipiuh sambal belacan. Begitulah kalian duduk makan beralas tikar daun rumbai.

Hmm…. Kau tertegun. Ingat nasib dusun. Maka kaualihkan bayangan sedap nian itu dengan berpikir semoga tak semua tempat jadi kebun. Bukankah kampungmu penyanggah Taman Nasional Bukit Tigapuluh? Tempat orang Talang Mamak, puakmu, bertahan hidup. Mustahil terjamah sawit, bukan? Kau agak lega.

Itu pula yang dulu diyakini abahmu. Sawit tak akan masuk lebih jauh ke dusun terpencil dan huma kalian. Paling hanya sampai Belilas, di jalan lintas timur Sumatera, kata abah menenok jarak. Cukup jauh, sehingga ia picingkan sebelah mata.

Ketika akhirnya sawit muncul begitu cepat di batas luak (kampung) Talang Sungai Parit, seolah bibitnya ditembakkan begitu saja dari Belilas, abahmu sedikit tercekat. Apalagi orang kampung sendiri menebang pohon karetnya dan mengganti dengan sawit.

Namun abahmu masih berbesar hati. Itu hanya sekitar luak yang memang tak bisa mengelak dari kemajuan, katanya. Karet itu juga sudah pada tua, harga tak pernah naik.

***

Abahmu masih bisa terkekeh beri harap. Meski hutan dusun kalian masih aman, sejatinya warga mulai gelisah. Tapi setidaknya, tiap kali utusan perusahaan datang bertemu abahmu, Wak Imam dan Pakde, bicarakan sistem kebun, mereka tak percaya janji lahan plasma. Omong kosong. Malah pemilik lahan sering terusir.

Abahmu menghamburkan air sirih dari mulutnya. Mulut yang sebenarnya tak suka banyak berkata-kata. Orang perusahaan pergi menahan gerun hati. Sebaliknya di mata orang dusun abahmu semacam harimau adat. Garang menolak tuba dan jerat.

Baca juga  Jalan ke Surga

Tentu, karena abahmu adalah turunan batin, kepala kaum, yang disegani. Kau pun berhak jadi batin sebagaimana kakekmu. Seharusnya juga abahmu. Tapi ia menghilang ke Pekanbaru. Dan kembali setelah terpilih batin baru; Paman Umang. Seorang lajang (sebenarnya duda) karena istri yang baru dinikahinya lari bersama mandor kebun.

Kini kausadari, abahmu memberi isyarat tugas itu untukmu. Entah kapan. Lewat caranya mengenalkan silsilah dan menceritakan leluhur, si abah yakin, kelak kau akan memanggul tugas itu. Tak serupa ia yang menolak halus; pergi sejenak dan kembali dengan memilih jadi orang belakang layar.

Lebih dari itu, ia ingin kau sekolah meski adik-adikmu, Dartin dan Calvin, serta kawan seusiamu memilih behuma, berladang. Sebagian mencari damar ke hutan. Sekolah cocok buatmu, calon batin masa depan, itu juga isyarat yang tak perlu diucapkan abah.

Ingatkah kau waktu kakekmu masih hidup? Waktu itu kau sering dititip abah untuk mengikuti kegiatan kakek sebagai batin. Menghadiri ritual begawai (pernikahan), turun tanah (kematian), dan ritual-ritual lain yang membuat jiwamu terikat pada adat.

Salah satu ritual yang kausukai adalah saat Lebaran: Menjelang Rajo. Pada hari baik bulan baik itu pak batin, pak dukun, pak balian, kumantan, penghulu, dan para katuha berkumpul. Berdoa. Bakar menyan, baca mantra. Seluruh kampung bersukaria melepas kalian pergi sebagai utusan ke istana Raja Indragiri.

Kalian bawa hadiah dan persembahan hasil bumi. Madu hutan dan madu pahit batang pelawan. Jernang, telur ikan, daging rusa dan kijang. Buah-buah ranum segar. Padi ladang yang terbaik. Dulu, kata kakek, moyang kalian menghilir Sungai Indragiri naik rakit kayu kulim. Berlabuh di tepian Masjid Sultan Salehudin. Kini kalian berangkat naik mobil.

Di istana bertiang tinggi kalian disambut Raja. Saling bermaafan. Ia tetap berwibawa meski zaman berubah. Hampir separo wilayahnya kini jadi kebun sawit. Tinggal sedikit hutan Bukit Tigapuluh tempat kaummu hidup. Itu pun digasak. Kabarnya Raja sudah bicarakan dengan banyak pihak, meski nyatanya buka lahan jalan terus.

***

Seolah tak terasa, kebun sawit meluas sampai ke tepi luak. Bahkan dusun-dusun terjauh. Tinggal dusunmu belum terjamah. Tapi kalian terkepung. Abahmu habis waktu mengurus ini-itu mengamankan hutan ulayat.

Kelelahan dan rasa putus asa membuat abahmu jatuh sakit. Dari pondok huma ia digotong pulang ke dusun. Pak Dukun yang masih kerabatmu membacai mantra. Mata abahmu mendelik. Panas. Ada isyarat ia sampaikan, seolah menunjuk garis dan batas. Tak lama, abahmu menutup mata selama-lamanya.

Kau baru masuk SMA di Molek. Nyaris sekolahmu putus. Untung Yayasan Mandiri lekas membantu. Mereka ajak kau masuk pesantren ke Jawa. Keluargamu setuju, kecuali Paman Umang. Sayang ia kerabat jauh, tak bisa campur tangan. Meski kau paling dekat dengannya. Lagi pula pihak yayasan pandai benar meyakinkan keluarga besarmu.

Sejak itulah kautinggalkan dusun. Bertahun-tahun. Tiap kali kaunyatakan kangen kampung, amai dan adik semua, pengurus yayasan selalu punya cara mencegah. Belum saatnya, kata mereka. Tak ada sinyal. Kau harus pandai. Begitu selalu, dan kau pun abai.

Ditambah Covid-19 yang menghalangi mudik—jadi alasan tangguh yayasan—tak terasa empat kali Lebaran kau tak pulang. Bang Toyib, guyon kalian di pondok.

Baca juga  Mata Hijau Anjing Danau

Tapi Lebaran ini tak bisa lagi. Kau tak terbendung. Madrasahmu tamat. Kau telah minta restu guru-gurumu dengan hormat. Hanya pengurus yayasan masih gondok. Mereka habis alasan melarang kau pulang. Kau diberi tiket pesawat. Dari Pekanbaru, naik oto travel paling pagi, kau bertolak ke Air Molek. Lalu cari ojek ke pedalaman.

Begitulah kini kau berjalan. Di batas dusun, di balik gerumbul semak liar kaudengar deru. Kauhenti sejenak. Kaukuakkan semak, dan tampaklah alat-alat berat bekerja bagai menggasing tanah. Astaga! Kau ngilu serasa tubuh sendiri sedang digasing.

Kata guru ngajimu dulu, Bu Rahima, manusia tercipta dari tanah, maka ia tak asing dengan apa pun yang tiba. Hanya akan merana kalau yang tiba adalah tuba. Guru asal Pangean yang mencintai anak-anak Talang Mamak itu tak segan-segan menyebut sawit, penyebab rasa sakit; buldoser, segala baja, sebagai tuba!

“Rul! Chairul?” sesuara memanggilmu di tepi sungai. Ujung tangkai pancingnya seolah menggores matahari petang yang memerah.

“Bilal!” kau mendekat. Kaulihat kembunya tak terisi setengah.

Kalian berjabat tangan. Erat. Empat tahun bukan waktu yang singkat. Kalian lalu bercerita sambil jalan, seperti sungai mengalir lamban.

“Susah cari ikan. Sungai kian dangkal, rawa kering. Bukan soal kemarau atau hujan, Rul. Tapi air terisap akar sawit,” Bilal terus bicara. “Kaulihat, perusahaan sudah sampai batas dusun. Untung kau cepat pulang.”

Kau menerawang. Kuik-kuik olang. Berpusar di langit petang.

***

Kau disambut amai yang juga baru tiba dari ladang. Ia histeris, lalu terisak-isak. Si anak hilang kembali pulang! Kenapa susah sekali kau dikontak dan kau pun tak pernah kontak kami? Lebih pelosok mana pondokmu daripada kita di sini? Amai menceracau.

Dari amai, kautahu, tiap kali nelepon, pengurus yayasan selalu bilang kau sedang belajar. Terakhir mereka bilang, aturan pondok melarang santri terhubung kampung supaya fokus. Kami putus asa, kata amai. Kau terdiam, yakin adanya permainan.

Azan Magrib di radio transistor. Kalian berbuka. Dartin hidangkan sedikit ikan pemberian Bilal. Lumayan pengobat kangen.

Dari adikmu itu kaudapat kabar bahwa Paman Umang sudah menikah dengan amai. Sekarang ia dalam perjalanan pulang dari ladang. Perasaanmu campur aduk.

“Kau pulang, Rul?” pas suap terakhir, Paman Umang datang. Ia cuci kaki di penutu. Kau tersintak. Orang yang dulu kauakrabi kini berubah sosok lain tegak di pintu.

“I-Iya,” kau kikuk, batal menambah nasi. Hatimu tak menentu.

Paman Umang duduk di sampingmu. Amai mengambilkan pinggan buatnya.

“Kau sudah tahu dari amai, atau adik-adik, kan? Begitulah. Paman harus dampingi kalian. Sejak kau pergi, paman merasa tak enak. Kautahu? Yayasan itu dibuat sendiri oleh perusahaan. Mereka incar anak-anak dusun sambil mengincar tanahnya. Jika anak-anak diungsikan, negosiasi lebih mudah.” Paman membuka modus.

“Itu yang terjadi,” ia mulai lagi. “Seperti kaualami sendiri. Kau dihalangi pulang, kan? Sebelum ulayat kaummu mereka kuasai!”

“Tapi belum terlambat! Selama ini paman bertahan. Bukan dendam pada seorang mandor. Ini soal hak! Besok, sesuai kesepakatan, tiga hari setelah Lebaran, perwakilan warga akan bertemu orang perusahaan. Karena kebetulan kau sudah pulang, kaulah yang harus mewakili kami.” Tugas dititahkan Paman Batin yang kini jadi bapak sambungmu.

***

Apakah kau menyesal telah pergi? Tidak. Kau pernah baca buku penyair Riau. Kita beri bahasa dan minyak ke Jakarta, tapi Jakarta tak beri kite ape-ape, tulisnya. Tapi kau juga ingat penyair Latin menulis: Spanyol-Portugis mengambil emas kami; maka kami ambil pula emas mereka, bahasa. Persis kau dipermainkan yayasan. Tapi ilmu yang kaudapatkan mengalahkan segala permainan itu! Dari situ kau lalu bertanya kabar surau.

Baca juga  Kucing

“Sejak abang pergi, surau sepi. Tarawih terseok-seok. Lalu terhenti pertengahan Ramadan. Wak Imam sakit. Bang Lian sibuk jadi sopir truk,” Calvin berkabar.

“Dan tak akan ada takbir!” sahut amai masygul.

Malam itu juga kau ke surau. Kausuruh Calvin menjemput Syamsudin. Kausetel speaker yang lama tak terpakai. Lalu kauminta sang Bilal kumandangkan azan. Masih lantang. Para jemaah, terutama kawan-kawanmu, terkejut haru menjumpaimu.

Sepekan sisa Ramadan kaumanfaatkan betul di surau. Bukan hanya Tarawih. Tak kalah penting membahas cara menghadapi perusahaan sawit. Kalian sepakat minta pendamping dari lembaga swadaya dan advokasi hukum probono.

Kalian sempat panas membahas apakah lembaga swadaya masih bisa dipercaya? Kami trauma atas apa yang kauterima, kata Dita. Ya, sambung Ayu; bayangkan tim CSR ternyata berkedok yayasan!

Syukurlah kalian tak yakin semua lembaga swadaya begitu. Ada Mantiko Law Office di Air Molek. Dulu kau kerap singgah di kantornya yang punya ruang baca. Ada pula lembaga studi Perpatih Kultur. Keduanya siap dampingi kalian. Pers dikoordinasikan pengelola Adatpedia, seorang lelaki berjanggut.

Bahkan tim advokasi tersebut sengaja ikut berlebaran di dusunmu. Maklum jadwal sangat mepet. Begitu rombongan Menjelang Rajo bertolak ke istana raja di Rengat, kalian juga akan berangkat ke kantor camat Rakit Kulim bertemu orang perusahaan.

Berkahnya, di luar dugaan. Inilah Lebaran paling semarak di dusunmu. Surau dicat seperti baru. Laki-laki berjanggut, laki-laki bertopi laken, mbak-mbak pendamping yang bersemangat, dan sejumlah lainnya ikut memenuhi surau. Jemaah meluber ke halaman.

Kau sendiri, atas restu Wak Imam yang baru sembuh, memimpin salat Id. Lalu kau naik mimbar dengan wajah berseri. Kau berkhotbah tentang hak dan yang batil. Tentang hidup bersebati menegakkan hablum minal ’alam.

Dari atas mimbar, sayup kaudengar suara ribut dari arah hutan. Jemaah pun jelas mendengar. Kemudian ada orang berlari mengabarkan: perusahaan sawit telah merangsek lahan, menebangi pohon bahkan kebun karet warga!

Celaka! Kaupercepat khotbah. Akankah kauperintah jemaahmu yang berbahagia itu untuk menghadang, saat kemenangan perang sebulan penuh sedang mereka rayakan? Berapa korbankah? Tidak. Kau terguncang.

Kautahu, perang paling besar melawan nafsu sendiri. Tapi nafsukah ini, Tuhan, saat mesin menderu, segala baja, bagai induk tuba, mengepung kaummu?

Maka kauangkat tangan ke langit. Sebagai santri, fasih kaubaca ayat-ayat perlawanan. Jemaah serentak menyambut. Bukan bersalaman. Tapi dengan tangan terkepal. Sarung, sajadah, berkibaran menuju batas dusun.

Allahuakbar, Allahuakbar, Walilahilhamd. Maju! Serbu! Merdeka! Gema takbir bercampur yel-yel, bergemuruh padu, nun di lambung Bukit Tigapuluh. ***

.

.

Indragiri-Jogja, Januari-Maret 2023

Raudal Tanjung Banua. Buku terbarunya, Cerita-Cerita Kecil yang Sedih dan Menakjubkan.

.
Gema Takbir Bukit Tigapuluh. Gema Takbir Bukit Tigapuluh. Gema Takbir Bukit Tigapuluh. Gema Takbir Bukit Tigapuluh.

Loading

Average rating 3.8 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!