Cerpen, Jimmy Anggara, Kompas

Setelah 69 Tahun Menunggu Godot

Setelah 69 Tahun Menunggu Godot - Cerpen Jimmy Anggara

Setelah 69 Tahun Menunggu Godot ilustrasi Diyanto/Kompas

3
(7)

Cerpen Jimmy Anggara (Kompas, 14 Mei 2023)

AGUS Tromol adalah lulusan sekolah teater dan bercita-cita ingin menjadi aktor terkenal Indonesia. Namun, dalam 10 tahun kariernya sebagai aktor, Agus Tromol selalu berperan sebagai pemain figuran. Dia pernah bermain dalam film berlatar zaman Kerajaan Majapahit, di mana sebagai anggota pasukan Bhre Wirabhumi, dalam Perang Paregreg, dia ditombak dua kali dan mati di tempat. Adegan itu memakan waktu tidak sampai 8 detik. Di film lain, yang berlatar zaman perang kemerdekaan, dia berperan sebagai tentara rakyat yang ditangkap Belanda, dimasukkan ke dalam penjara, lalu tidak muncul lagi selama sisa film.

Agus Tromol menyadari bahwa tampangnya tak tampan-tampan amat. Tak seperti Rano Karno atau Robby Sugara, misalnya. Namun, dia yakin, tampang tak selalu menjamin kesuksesan, terutama dalam film. Sebab, banyak aktor hebat yang tampangnya biasa-biasa saja bisa terkenal. Dia mengambil contoh, Jack Maland, yang hampir selalu bermain sebagai tokoh antagonis.

Temannya, Dedy Roban, berusaha menyadarkan Agus Tromol dari ambisinya yang terlalu tinggi. Dedy Roban mengatakan bahwa aktor-aktor zaman sekarang hampir tak pernah ada yang lulusan sekolah teater. Mereka diajak bermain film semata karena tampang mereka yang tampan dan cantik. Industri film lebih mementingkan tampilan luar dibandingkan dengan talenta.

“Sehebat apa pun aktingmu, kalau tampangmu mirip tapir, kamu tak akan berhasil,” kata Dedy Roban suatu kali. Bukan berarti tampang Agus Tromol mirip tapir, tetapi begitulah cara Dedy Roban menyadarkan Agus Tromol, yang sudah menjadi temannya sejak di sekolah teater. (Tak seperti Agus Tromol, setelah lulus kuliah Dedy Roban membuka warung soto ayam di dekat rumah mertuanya di Bekasi—anaknya sudah empat).

Agus Tromol sebenarnya memiliki tampang yang unik. Cocok untuk berperan sebagai tokoh antagonis. Misalnya, sebagai bos penjahat yang menculik putri satu-satunya dari pengusaha terigu asal Semarang. Begitulah yang dikatakan Dedy Roban kepadanya suatu kali. Tapi tawaran bermain film sebagai tokoh antagonis seperti di atas tak pernah datang mengetuk pintunya. Kenyataan ini selalu berhasil membuat semangatnya merosot, seperti celana yang kebesaran.

Agus Tromol sempat beberapa kali mengutarakan niatnya untuk mengundurkan diri dari dunia film, dan banting setir membuka usaha sablon. Ayahnya sudah bersedia meminjamkannya modal. Tapi Agus Tromol tak pernah berhasil membujuk dirinya untuk meninggalkan dunia akting. Dia yakin bahwa dirinya memiliki talenta. Dan ingin agar seluruh dunia melihat dan menyaksikan bagaimana talenta bekerja.

Selama kuliah, dia pernah memainkan bermacam naskah. Dari naskah Anton Chekhov (misalnya monolog Racun Tembakau) hingga naskah yang lebih modern, misalnya yang berjudul Biduanita Botak karya Eugene Ionesco. Jadi, sejak kuliah, dia memang sudah disiapkan untuk bermain dengan beragam karakter. Dan, setelah mengalami perenungan yang lama dan mendalam, Agus Tromol yakin, peran yang cocok untuknya adalah sebagai tokoh antagonis, bukan yang lain. Sebab, setiap kali menatap wajahnya di cermin, dia selalu melihat air muka seorang penjahat yang kejam dan tak berperikemanusiaan.

Baca juga  Catatan Musim Buah

Setelah film terakhirnya selesai (di mana dia berperan sebagai tukang ojek yang dipukuli preman pasar karena menggoda seorang tukang sayur), Agus Tromol mulai rajin menghubungi teman-temannya, menanyakan apakah di rumah produksi mereka ada lowongan untuk menjadi aktor antagonis. Tak satu pun yang membalas pesannya.

***

Agus Tromol tinggal di sebuah kamar indekos di daerah pinggiran Jakarta Pusat. Kamarnya hanya berisi satu meja, satu lemari pakaian, satu lampu belajar, satu kursi, satu cermin, dan satu tempat tidur. Hari Minggu itu, Agus Tromol duduk di meja dan secara iseng membuka lacinya lalu mengambil beberapa kliping naskah yang pernah dia mainkan saat kuliah dulu. Secara acak, tangannya menarik naskah monolog Racun Tembakau.

Membaca kalimat pertama naskah itu, semangatnya segera muncul, dan dia pun berdiri di depan cermin dan mulai berakting. Pada kalimat kedua semangatnya luntur, seperti warna celana jins murahan. Dia duduk kembali, memasukkan naskah itu ke dalam laci, mengambil sebatang rokok dari atas meja, lalu menyalakannya. Selama beberapa waktu dia duduk merokok dan berpikir-pikir.

Tapi, karena Agus Tromol bukan seorang genius, pikirannya tak sampai ke mana pun. Tiba-tiba Agus Tromol merasa hampa. Apa yang harus kulakukan? Apakah hidupku akan begini terus? Selalu menjadi pemain figuran dengan bayaran pas-pasan? Kapan hidupku bakal berubah? Apakah aku harus meninggalkan dunia akting dan terjun ke bisnis sablon saja?

Berpikir membuat perutnya lapar. Agus Tromol bergerak ke dapur (di rumah indekos itu ada dapur umum yang bisa digunakan bersama-sama) dan memasak sebutir telur. Dengan satu telur goreng dan sedikit nasi, Agus Tromol mengisi perutnya.

Saat sedang duduk sambil merokok selesai makan itulah, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Agus Tromol terkejut. Dia tak mengenal nomor itu. Dengan penasaran dia mengangkatnya. Di seberang muncul suara seseorang yang mengaku dari sebuah bank, mengatakan bahwa Agus Tromol mendapatkan undian berhadiah. Agus Tromol memang bukan genius, tapi dia tahu bahwa yang menelepon itu jelas penipu. “Namaku Bento. Rumah real estat. Mobilku banyak, harta berlimpah. Orang memanggilku bos eksekutif, tokoh papan atas, atas segalanya, asyik!” Setelah menyanyikan potongan lirik lagu “Bento”, Agus Tromol langsung mematikan ponselnya. Sisa hari Minggu itu dia habiskan dengan tidur panjang, melewatkan makan siang dan baru terbangun saat jam makan malam.

Baca juga  Prof Pogob

***

Empat hari kemudian, saat Agus Tromol sedang duduk dan merokok sehabis makan siang, datang panggilan telepon dari teman perempuannya, Nina Arsad. Nina Arsad adalah teman kuliah satu angkatan, sekarang bekerja di sebuah rumah produksi. Nina Arsad menawari Agus Tromol untuk berperan dalam sebuah FTV. Kisahnya tentang seorang suami yang istrinya berselingkuh dengan bos pabrik peniti. Agus Tromol akan berperan sebagai bos pabrik peniti. Peran antagonis. Agus Tromol senang bukan kepalang. “Mau!” katanya, tanpa sadar berteriak di ponsel. Agus Tromol diminta untuk datang ke rumah produksi keesokan harinya.

Saat melihat tampilan Agus Tromol yang lusuh dan berambut panjang hingga sepinggang, sutradara meminta Agus Tromol untuk memotong pendek rambutnya. “Tak pernah ada bos di mana pun yang rambutnya seperti perempuan,” kata sutradara.

Agus Tromol menjadi masygul. Rambut panjangnya adalah salah satu dari sedikit kebanggaan yang ada pada dirinya. Dia sudah hidup cukup lama bersama rambut panjangnya yang sepinggang itu, dalam keadaan suka dan duka, sehingga berpisah darinya, baginya seperti berpisah dari kekasih tersayang. Di saat yang sama, tawaran untuk bermain di FTV ini merupakan kesempatan yang tak ingin dia lewatkan. Akhirnya Agus Tromol berkata kepada sutradara bahwa dia mau berpikir-pikir dahulu. Dengan menghela napas panjang, sutradara mengizinkan. Agus Tromol diberi waktu tiga hari untuk membuat keputusan.

Di kamarnya, Agus Tromol berdiri di depan cermin, memandangi rambutnya yang sepinggang. Dia sudah hidup bersama rambut panjangnya itu selama bertahun-tahun dan sekarang sutradara ingin supaya rambut kesayangannya itu dipotong. Dia harus mengambil keputusan yang berat. Tapi, setelah mempertimbangkan masak-masak, Agus Tromol akhirnya memutuskan untuk mengikuti permintaan sutradara. Bagaimanapun, kesempatan langka tidak boleh dilewatkan. Sementara rambut bisa kembali memanjang.

Di hari ketiga, Agus Tromol pergi ke salon pangkas rambut dan meminta tukang cukur untuk membabat habis rambutnya. Agus Tromol memandang sedih potongan-potongan rambutnya yang berserakan di lantai. Pada saat yang sama, rasa gembira meletup juga di hatinya. Dia akan bermain di FTV sebagai pemeran antagonis!

Keesokan harinya, dengan rambut pendek, dan hati berbunga-bunga, Agus Tromol datang ke rumah produksi untuk menemui sutradara. Dia sudah siap untuk memberikan akting terbaiknya.

Baca juga  Sorban di Leher Perempuan Malam

Tapi, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak: Nina Arsad menjelaskan bahwa sutradara mengalami kecelakaan di jalan tol. Dia menyetir dalam keadaan mabuk. Mobilnya ditabrak truk pasir hingga penyok. Sutradara langsung dilarikan ke rumah sakit. Lalu, yang paling menyedihkan Agus Tromol adalah FTV yang akan dibintanginya itu diundur jadwal shooting-nya hingga waktu yang tak dapat ditentukan. Bahkan, ada kemungkinan FTV tersebut batal diproduksi. Pengorbanan rambut panjang sia-sia sudah! Ada campuran rasa sedih dan marah dalam hati Agus Tromol. Jika tahu akan begini, tentu dia tak akan mau memangkas rambutnya.

Agus Tromol meminta Nina Arsad untuk mengantarkannya ke rumah sakit.

Setiba di rumah sakit, Agus Tromol dan Nina Arsad masuk ke ruangan tempat sutradara dirawat. Sutradara terbaring di ranjang dengan seluruh tubuh dibalut gips—kecuali mata, lubang hidung, dan mulut. Kaki kirinya terangkat ke atas membentuk sudut 45 derajat dengan ditopang oleh semacam tali.

“Sutradara mabuk, ya?” kata Agus Tromol sambil memencet-mencet kaki yang dibalut gips dan terangkat 45 derajat. Sutradara terdengar mengerang.

“Mabuk-mabukan, ya?” kata Agus Tromol sambil memencet-mencet lagi dengan lebih keras. Sutradara mengerang. “Itu kaki yang patah!”

“Oh, ini kaki yang patah?” Agus Tromol memencet-mencet lagi kaki yang patah itu. Lalu, ditepuk-tepuknya seperti menepuk kasur dengan sapu. Sutradara mengerang, “Aaarghhh….”

Dari suaranya, bisa dibayangkan kesakitan luar biasa yang dialami sutradara. Tapi itu belum seberapa. Agus Tromol masih belum puas. “Suster! Dokter! Ada orang gila! Tolooong!” Sutradara berteriak.

Nina Arsad berkata, “Gus, ayo kita pergi sebelum ditangkap!” Tindakan terakhir Agus Tromol adalah berkata, “Ini untuk rambut kesayanganku!”, lalu memukul kaki kiri sutradara dengan keras sekali hingga tali penopangnya putus. Erangan keras yang memilukan dari tenggorokan sutradara membuat Agus Tromol tergelak puas. Dia berlari ke luar rumah sakit sambil tertawa-tawa. ***

.

.

Jimmy Anggara bekerja sebagai penerjemah lepas. Tinggal di Jakarta. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di Kompas, Media Indonesia, Detik.com, dan di majalah sastra dan gaya hidup Majas.

Diyanto, pelukis, penata artistik teater, tinggal di Bandung.

.
Setelah 69 Tahun Menunggu Godot. Setelah 69 Tahun Menunggu Godot. Setelah 69 Tahun Menunggu Godot. Setelah 69 Tahun Menunggu Godot.

Loading

Average rating 3 / 5. Vote count: 7

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!