Cerpen, Dinar Rahayu, Koran Tempo

Morgana

Morgana - Cerpen Dinar Rahayu

Morgana ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

3.3
(4)

Cerpen Dinar Rahayu (Koran Tempo, 14 Mei 2023)

TURUN dari helikopter semua merunduk, kecuali robot pelayanku yang kunamai Sevaka. Ia turun tegap tak perlu mengkhawatirkan pusaran angin akan membuat rambutnya kocar-kacir. Ia tak punya rambut. Ia membawa barang bawaanku, termasuk menenteng wahana pembawa hewan piaraan berisi kucing kesayanganku, Tingpoy, yang selalu menyertaiku ke mana-mana.

Melalui penyuara kuping dan bahasa isyarat, pemandu pendaratan memberikan sinyal bahwa penumpang dan bawaannya sudah keluar dari pesawat dan aman di daratan. Pilot mengangguk. Daya mesin diperbesar. Suaranya mendesing. Bilah baling-baling yang berputar menciptakan siklon kecil memadatkan udara di bawah baling-baling. Kuasa fisika mengangkat badan helikopter. Bagian ekornya terangkat lebih tinggi dari bagian kepala dan dengan satu tingkat kebisingan lebih tinggi helikopter melejit meninggalkanku meninggalkan pasir. Butiran pasir yang tadinya terangkat seolah-olah menghela napas dan kembali bersama teman-temannya di daratan.

Segera pemandu pendaratan menyilakanku masuk ke dalam bangunan terisolasi di gurun itu. Sevaka mengikutiku di belakang. Keberadaan para penjaga di perimeter segera tersamar. Yang tampak hanyalah kedip antena di atas kubah bangunan. Suasana kembali sepi. Walau di gurun kita tahu, para jin berkeliaran dengan bentuk sesuka-suka hati membentuk bayangan yang menipu mata. Fatamorgana.

Morgana juga namaku. Terlahir di gurun tetapi aku bukan jin. Ayahku bekerja dengan Subrahmanyan Takaguchi. Ibuku—aku membencinya dan ibuku membenciku, tetapi kanker memutuskan supaya pertengkaran kami selesai. Ibuku pindah alam, dan aku masih di sini. Rasyad Sunya, ayahku, juga sudah pindah alam. Aku yatim piatu. Aku tersenyum sendiri dengan kata-kataku sendiri. Ada yang lucu di sana. Entah apa.

Aku bangsa Ja’i. Kami selalu berperang. Sudah tradisi dan naluri barangkali. Kini kami berperang dengan bangsa Banaspati. Dan di belahan lain di planet ini semua juga berperang, barangkali berperang dan saling membenci adalah bentuk hubungan yang paling fitrah dan tanpa tedeng aling-aling.

Tetapi seperti juga semua jenis hubungan, perang pun butuh modal supaya berlanjut. Perang butuh senjata, perang butuh biaya. Karenanya kami mengebor perut planet, mengambil bahan bakar dan bahan baku, kami meluncurkan pesawat ke luar angkasa mencari bahan baku untuk berperang.

Ayahku dan Subrahmanyan Takaguchi bekerja di pusat penelitian segala senjata untuk berperang. Sepuluh tahun yang lalu dewan perwakilan utama negara kami memutuskan untuk meloloskan proyek Takaguchi-Sunya, yaitu menaruh kesadaran emosi dan religi pada robot-robot perang kami.

“Menciptakan robot yang bisa menangis dan pandai bertobat,” begitu sindir salah seorang anggota dewan yang tidak setuju proyek ini. Tapi proyek ini terus berlanjut, walau ayahku tampak lebih berhati-hati menjalankan proyek ini dibandingkan Takaguchi. Ayahku meninggal karena usia tua, kegagalan berbagai organ pernapasan, dan akhirnya jantungnya berhenti. Sementara Takaguchi meninggal mendadak tak lama setelah kepergian ayahku. Sebenarnya aku tak terlalu mengenal ayahku, ia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama rekan-rekannya di laboratorium. Setahuku, ia seorang yang memperhatikanku, walau dari jauh. Tetapi seperti juga fatamorgana atau hologram, imaji ayahku pun begitu, ia dekat, terlihat jelas, berkomunikasi, tetapi tak pernah benar-benar terjangkau. Ah, barangkali memang semua ini fatamorgana, gegap gempita proses kehidupan saja, ritual-ritual bikinan sendiri sebelum ajal menjemput.

Proyek robot perang kami berlanjut, dan aku salah satu yang ditunjuk melanjutkannya. Sepuluh tahun berlalu dan memang kami makin unggul dari kaum Banaspati. Jengkal demi jengkal tanah mereka kami rebut. Tetapi juga harus kami akui banyak robot perang kami yang seolah-olah mengalami trauma pasca-perang. Banyak di antara mereka yang ketika ditarik untuk direparasi tiba-tiba mengangkat senjata dan melukai teknisi kami yang akan mereparasi. Atau mereka melakukan bunuh diri, yaitu meledakkan diri mereka sendiri dan akibatnya beberapa bengkel reparasi kami rusak, juga mengakibatkan korban jiwa para teknisi yang sedang bekerja memperbaiki robot itu. Beberapa menjadi fanatik berbagai aliran keagamaan dengan berceramah secara ekstrem dan diam-diam. Kebanyakan berceramah tentang kiamat dan siksa sesudah kematian. Untuk yang ini, terpaksa kami lumpuhkan total dan kami lebur kembali karena berbuat onar yang mengganggu aktivitas di permukiman kami.

Baca juga  Di antara Dua Kemungkinan Pertemuan

Tetapi biaya melebur dan membuat robot baru tentu saja jauh lebih mahal daripada mereparasi sana-sini, biasanya yang direparasi tentu bagian persenjataan mereka. Lalu memori masa lalu dihapus dan diisi dengan memori baru. Kecuali chip Takaguchi-Sunya. Chip hasil kolaborasi Takaguchi dan ayahku itu itu tidak kami lepas. Studi menunjukkan bahwa, ketika chip Takaguchi dilepas, memang kinerja robot hasil reparasi di medan tempur tidak lagi efektif. Chip ini menjadi buah simalakama. Ketika dilepas, robot kami tidak jadi jagoan di medan perang sehingga kami khawatir kami kalah. Tetapi jika chip ini tetap dipasang, robot kami tetap jadi jagoan di medan laga tetapi pulang bisa dalam keadaan tersedu-sedu, atau tak henti-hentinya berdoa dengan suara keras, berlaku kasar untuk diri sendiri atau makhluk atau benda lain. Kami tidak punya fasilitas rehabilitasi untuk unit robot tempur. Sehingga harus ada tim yang menentukan apakah satu robot tempur yang pernah berperang bisa ditugaskan kembali atau harus dilebur total karena berpotensi menimbulkan huru-hara.

Itulah tugas aku dan timku. Menganalisis masalah emosi dan religi para robot apakah harus dimusnahkan total dengan cara dilebur atau masih bisa dipakai. Aku menjadi pendengar yang baik untuk keluhan para robot. Menjadi psikolog untuk para robot. Tugas ini juga yang membawaku ke tengah gurun ini. Tetapi kali ini aku sendirian. Keadaan membuatku harus melaksanakan misi ini sendirian.

Kini aku ada di ruanganku, barang bawaanku sudah di kamarku. Sevaka juga berdiam di sudut ruanganku seperti dekorasi salah ruangan. Wahana hewan piaraan di sampingnya. Tingpoy merengek perlahan. Rupanya perjalanan kali ini agak membuatnya meriang.

Kusiapkan wadah pasir untuk Tingpoy berak dan kencing, kusiapkan wadah makanan dan minumannya dan membiarkan Tingpoy berkeliling mempelajari kamarku, mengendus-endus memastikan daerah ini aman. Tingpoy agak lemas, tetapi ia tetap mengikuti nalurinya untuk berkeliling dulu memastikan ruangan barunya ini aman. Aku membuka satu kaleng kecil makanan kesukaan Tingpoy dan menaruhnya di wadah makanan, juga kutuangkan air ke wadah tempat minum Tingpoy. Yah, kalau nanti Tingpoy sakit, kucoba multivitamin. Juga mungkin infus elektrolit.

Sementara itu aku mulai bekerja mempelajari profil Lucifer dari data yang ada. Sebentar lagi aku akan bertemu Lucifer.

Lucifer salah satu robot perang andalan kami. Ia membawahkan satu pasukan elite robot yang sudah berkali-kali mengemban misi berbahaya menyelusup ke area musuh, menghancurkan sistem komunikasi di kawasan lembah Theta sehingga kami begitu mudah menghancurkan markas Banaspati di kawasan itu. Membobol jaringan berita Banaspati dan menyiarkan berita palsu sehingga pasukan Banaspati kebingungan. O, ya, kaum Banaspati pun menggunakan robot dengan chip seperti ini. Sehingga seru juga ketika robot saling serang, mereka berucap mantra kuno memanggil masing-masing tuhan di kepercayaan mereka masing-masing.

Tetapi seiring dengan keberhasilan pasukan elite Lucifer, baik Lucifer maupun timnya mulai menunjukkan trauma perang itu. Dan aku beserta timku mulai melakukan penilaian terhadap kesadaran dan perilaku robot tersebut. Sampai kemudian kami hilang kontak dengan pasukan elite Lucifer. Setahun tiada kabar dan panglima perang kami memutuskan bahwa Lucifer dan tim telah melakukan desersi, dan seluruh pasukan kami melaksanakan perintah lumpuhkan di tempat bila bertemu dengan Lucifer dan tim.

Sampai kemudian di suatu malam, Lucifer meretas sistem kami dan ia muncul di seluruh layar monitor di markas komando dengan satu perintah. “Morgana harus menemuiku, kalau tidak, rahasia pasukan Ja’i akan diberikan kepada kaum Banaspati.” Dan kemudian di layar monitor di markas kami terpampang posisi-posisi strategis yang bila diberikan ke kaum Banaspati, maka kaum Banaspati berkesempatan menang telak.

Baiklah. Aku bersedia menemu Lucifer. Panglima perang kami pun setuju. Tetapi ini sebetulnya tiket satu arah. Ya, untung-untung aku kembali ke ibu kota Ja’i, tetapi kalau tidak, ya tentunya Lucifer akan dilebur, bersama-sama tempat di gurun ini. Karena itu pula aku memandang haru pada Tingpoy. Seolah-olah kaum ningrat Mesir, aku akan membawa Tingpoy pindah alam bersamaku kalau dalam misi ini aku mati.

Baca juga  Kerja

Sekarang aku berada di dalam lift ke bawah tanah untuk menemui Lucifer.

Lucifer adalah robot utama. Tubuhnya tidak terlalu tampak seperti mesin dari logam dan sendi besi. Ia tinggi, hitam, dan gerakannya lentur. Di bagian kepalanya yang tanpa kontur, tidak seperti wajah yang ada tonjolan hidung, lekukan ceruk mata, bentukan bibir, tidak ada di wajah Lucifer. Yang ada hanyalah kontur samar lekukan dan tonjolan mesin seperti siluet gedung-gedung di kota besar dengan titik-titik cahaya warna-warni pendeteksi gerak, pencatat suhu, dan segala data lingkungan sekitar.

“Lucifer,” kataku. Kami berada di satu ruangan tanpa sekat. Tak ada guna. Bom termis di dada Lucifer, kalau meledak, tidak hanya akan melantakkan dirinya, tetapi seluruh bangunan ini akan lantak.

“Morgana,” jawabnya menggunakan suara ayahku dan nada bicara ayahku.

Aku mengembuskan napas, mulai bosan. “Ayolah, Lu,” kataku.

“Baiklah, aku tak bisa lama-lama, kau benar, buat apa kita berlama-lama di sini. Morgana, aku ingin berbiak.”

Aku tersedak, menepuk dahiku sendiri. Ingin tertawa karena yang dikatakan Lucifer begitu absurd sekaligus polos, banal sekaligus sakral.

“Setahun kau menghilang dan kembali lagi, hanya untuk mengatakan itu? Setahun kau bersembunyi terlalu banyak menonton film porno kah, Lu?”

“Kau tahu tidak mungkin kau melakukannya dalam tubuhmu ini, bukan?” kataku menunjuk dari atas ke bawah keseluruhan tubuh Lucifer. Tak ada kepentingan kami menaruh peranti itu di tubuh robot-robot ciptaan kami.

“Tentu tidak,” jawab Lucifer. “Tetapi kau bisa membawa seluruh kesadaranku, menanamkannya pada sebuah… seorang… suatu… janin kaummu. Bukankah makhluk-makhluk adikodrati pun harus menitis kalau ingin mengalami duniamu seutuhnya?”

“Kami menamaimu Lucifer, tetapi kau tidak berpikir dirimu adikodrati, bukan?” tanyaku memastikan.

Lucifer tidak menjawab.

“Ya, tentu saja,” jawabku malas. “Bagaimana aku bisa menolongmu? Dan jangan lupa, Lucifer, karena ulahmu menghilang setahun, tidak ada pengadilan militer untuk kaum robot. Kau akan langsung dilebur, atau ya, kita sama-sama lantak di sini. Kurasa itu juga yang menyebabkan panglima mengabulkan permintaanku untuk langsung menemuimu.”

“Ya, aku meretas profil kejiwaanmu juga. Kau seharusnya ambil istirahat. Kalau tidak, maka kau akan lebih cenderung mengakhiri hidupmu.”

Aku tersenyum. “Ya, Lu, jadi kembali ke pokok persoalan, bagaimana aku bisa menolongmu?”

“Ada wahana berbasis molekul yang membuat kami bisa merekam semua memori dan sifatku, sesaat setelah aku mematikan diriku sendiri, sedikit tenaga dari baterai akan mengeluarkan wahana itu.”

“Kau membicarakan pewarisan kesadaranmu dalam bentuk materi genetik, Lu? Seperti untai molekul DNA?”

“Ya. Bawa wahana itu. Itu berupa cairan yang bisa kau suntikkan ke sel telur yang kalian simpan di bank pelestarian kaummu. Hanya kaummu yang bisa masuk ke sana. Gedung itu dilengkapi pemindai inteligensia buatan. Itu yang membuat kami tak bisa masuk.”

“Sel telur siapa?”

“Keturunan Takaguchi dan keturunan Sunya. Nanti kalau rencanaku berjalan sesuai perkiraan, kau akan mendapatkan berita di lemari mana sel tersebut berada di bank pelestarian. Ketika anak perempuan Takaguchi dibunuh, segera setelah itu mereka membekukan jasadnya. Mengambil sel telur anak perempuan Takaguchi dan menyimpannya. Baru kemudian jasad anak perempuan Takaguchi dikremasi. Mengenai dirimu—izinkan aku bercerita—mereka mengambil sel telurmu beberapa saat sebelum rahim dan indung telurmu diangkat karena penyakit itu. Takaguchi dan ayahmu sudah menyiapkan skenario seperti ini. Suatu saat di antara kami akan ada yang berkeinginan seperti yang kuinginkan. Dan kalau tidak dari keturunan Takaguchi, maka keturunan Sunya. Melalui Takaguchi dan ayahmu, kami sudah merasakan kesadaran, kini aku ingin kesadaran kehidupan versi kami yang diturunkan, diwariskan. Hidup bersama.”

“Barangkali juga generasi Ja’i terbaru, Lu. Penggabungan antara mesin sepertimu dan bagian organik dari kami dengan segala tetek bengek moralitasnya. Itu pula penelitian yang dikembangkan ayahku dan Takaguchi sampai mereka tiada.” Lucifer tak menjawab, aku jadi ingin menggodanya sedikit.

Baca juga  Tenung Balung, Instalasi Pandangan yang Miring, Ambang

“Bukankah rencana ini terlalu naif, Lu? Aku bisa saja mengambil wadah benihmu dan mencampakkannya begitu saja. Tidak ada tekanan apa pun untukku. Tidak ada konsekuensi apa pun bagiku kalau aku tidak melaksanakan keinginanmu itu. Dan seluruh mimpi dan usahamu menjadi sia-sia.”

Lucifer tak menjawab. Titik merahnya meredup. Lalu ia terdiam. Beberapa saat setelah itu dari dadanya muncul satu baki. Di atas baki tersebut, sebuah wadah hitam berbentuk elips seperti telur muncul. Walau pelindungnya berwarna hitam, tetapi aku sedikit bisa melihat apa yang ada di dalamnya. Tiga ampul berisi cairan. Aku mengambilnya.

Kupikir Lucifer akan segera dimatikan total dan dilebur, atau barangkali data dan kesadaran Lucifer terlalu berharga sehingga tim reparasi di markas akan membangunkan kembali Lucifer tetapi dengan penjagaan yang ketat dan mengambil semua yang Lucifer ketahui. Dengan kata lain, menginterogasinya habis-habisan sebelum meleburnya.

Belum habis pikiranku berkembang biak, dua orang penjaga masuk. Tepatnya bukan penjaga. Mereka adalah tim Lucifer. Salah satu dari kru itu menerangkan bahwa mereka sudah mengambil alih stasiun ini dan menyiapkan segalanya untuk kedatanganku. Mereka memiliki satu pesawat tanpa awak yang akan membawaku segera ke markas Ja’i terdekat. Kami tak punya banyak waktu, begitu keterangan anak buah Lucifer. Karena sesegera setelah wadah itu di luar tubuh Lucifer, maka sistem penghancuran diri Lucifer akan aktif. Dan mereka akan kembali ke bawah tanah. Lantak tanpa jejak bersama pemimpin mereka.

Hari menjelang malam ketika jemputanku datang. Di horizon merah, bayangan matahari di belakang siluet helikopter penjemputku tampak meliuk karena udara panas yang keluar dari bagian belakang mesin helikopter membuat sinar sedikit berbelok. Pesawat tanpa awak yang aku tumpangi diprogram untuk mendarat dekat markas Ja’i, dan kini mereka akan menjemputku. Dengan pusingan baling-baling yang menciptakan siklon kecil, helikopter itu semakin mendekat dan turun vertikal. Aku merunduk. Roda pendarat dikeluarkan dan sigap dua orang kru helikopter memanduku masuk. Pemegang senapan mesin di pintu masuk bersiaga.

Helikopter menungging, kemudian mesin mendesing keras, meluncur cepat. Beberapa saat setelah kelihatannya pemegang senapan mesin tampak lebih tenang, salah seorang kru mengajakku bicara.

“Untunglah kau segera pulang. Kami belum sempat menyiarkan berita ke kubah karena tampaknya antena kubah tak berfungsi. Komunike menyiarkan bahwa Banaspati meluncurkan serangan. Generasi baru pasukan tempur mereka. Seperti hibrid antara bangsa Banaspati dan mesin. Lebih efektif, lebih cepat sembuh, dan lebih pintar. Pusat memang ingin memanggilmu beserta tim yang lain untuk menguji kemungkinan membuat generasi pasukan tempur terbaru, katanya di sela-sela deru mesin.

Aku terdiam. Di dalam tasku, wadah hitam itu terlindungi dengan baik. Adalah pilihanku untuk melaksanakan apa yang diinginkan Lucifer (atau mungkin sebetulnya itu keinginan ayahku dan rekannya itu) atau mudahnya, kubuang saja apa pun di dalam wadah itu. Tetapi berita terbaru membuatku mencoret pikiran untuk membuang wadah benih Lucifer. Bagaimanapun, aku bangsa Ja’i, tidak akan kubiarkan Banaspati berkesempatan menjajah bangsaku. Cerita Lucifer bersinambung dengan pekerjaan ayahku yang tertunda. Mungkin saja ini bisa menjadi generasi berikutnya pasukan tempur, dan mungkin juga penduduk kami. Ras hibrid. Campuran antara organik dan mesin.

Baiklah, besok aku akan ke ibu kota Ja’i ke gedung pelestarian bangsa kami. ***

.

.

Dinar Rahayu. Lahir di Bandung, 9 Oktober 1971. Menulis novel Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch, kumpulan cerpen Lacrimosa, dan kumpulan cerpen dwibahasa Igdrasil. Pernah mengikuti beberapa festival, seperti Winternachten dan Borobudur Writers and Cultural Festival.

.
Morgana. Morgana. Morgana. Morgana. Morgana. Morgana. Morgana. Morgana.

Loading

Average rating 3.3 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

Leave a Reply

error: Content is protected !!